Dewa akhirnya menyetujui apa yang diinginkan oleh Jingga. Hanya sebatas pacar pura-pura di depan Biru. Tentu saja saat Aurora juga ada di sana juga.
Sebelumnya, memang Dewa sempat menolak karena akan banyak orang yang takkan setuju dengan apa yang Jingga mau. Baik itu Mama Jingga ataupun Chiko.
“Gue mohon sama lo. Demi gue,” mohon Jingga pada Dewa yang saat ini tengah meminum minuman yang ia pesan beberapa menit yang lalu.
“Memangnya ada apa sebenarnya?” tanya Dewa mengernyitkan keningnya heran.
Dengar, Dewa malas sekali membantu orang untuk sandiwara. Selain tidak nyaman, ini bukan sifat Dewa yang sebenarnya. Dewa seolah diminta untuk hal yang bukan keinginannya dan rasanya itu memang tidak enak.
“Gue nggak bisa ngomong alasan ini ke lo sekarang. Butuh waktu.”
“Gue juga butuh waktu buat mikirin ini,” sahut Dewa lagi.
“Wa, ini mepet.”
“Lo pikir gampang buat iyain apa yang sebenarnya enggak gue tahu apa tujuannya?”
“Tapi ini benar-benar penting bagi gue.”
“Terus?” tanya Dewa santainya.
“Ya, lo harus bantu gue.”
Menoleh ke arah Jingga namun tak berbicara barang sepatah pun. Dewa suka heran dengan Jingga yang sikapnya tak bisa ditebak dan kadang begitu aneh seperti sekarang.
“Ya gue bisa aja bantu lo. Asal...” Dewa menggantungkan ucapannya. “Lo kasih tahu gue apa penyebabnya.”
Jingga berdecak. Sudah dibilang kalau belum siap untuk menjawab malah maksa seperti sekarang.
“Gue kan udah bilang sama lo. Gue butuh waktu, tapi gue janji bakal kasih tahu lo termasuk sama Chiko juga,” timpal Jingga. Menatap ke arah Dewa lalu meminum minumannya.
“Iya itu terserah lo. Pilihan dan jawaban ada di lo.”
Jingga masih berpikir keras untuk ini. Dewa tidak bisa menerima permintaan Jingga begitu saja. Terkadang gadis ini benar-benar tak bisa ia tebak.
“Tapi lo janji kan mau bantu gue apapun itu alasan gue?” tanya Jingga memastikan.
“Iya, tergantung. Asal itu masih masuk di akal.”
“Ish!” decak Jingga. “Itu namanya mencari kesempatan dalam kesempitan.”
“Ya, memang.”
“Dewa!” desis Jingga. “Gue butuh banget bantuan lo sekarang.”
Dewa menghela napas panjang. “Ya, lo bisa kasih tahu gue alasan lo itu.”
“Oke.”
Meski sedikit ragu, namun Jingga yakin alasannya akan diterima oleh Dewa tanpa pikir panjang. Dewa tahu dirinya adalah orang yang selalu menampakkan dirinya baik-baik saja meski itu hanya sebuah kebohongan saja.
“Jadi... kemarin gue bilang sama Biru kalau gue udah punya pacar.”
“Emangnya lo ada pacar? Perasaan lo jomlo deh,” potong Dewa sembari terkekeh.
Jingga mencak-mencak. Belum selesai jelasin sudah dipotong saja itu benar-benar tidak enak.
“Bisa tidak lo diem dulu? Gue belum selesai ngomong!”
Dewa akhirnya mengangguk. “Oke, silakan jelaskan.”
“Jadi gue mikirnya kalau gue bilang kayak gitu ke Biru siapa tahu Biru gak jauhin pacarnya karena gue. Lo tahu kan segimananya Biru cari gue? Dia bahkan udah jauhi Aurora demi gue.”
“Terus?”
“Dan bener aja, setelah gue bilang kayak gitu, Biru minta kenalin pacar gue ke dia. Dan ya–gue gak ada pilihan lain selain Lo yang harus bantu gue.”
Ah, gila. Dewa seolah menjadi tameng Jingga. Tapi kasihan juga kalau Aurora harus tersakiti hanya karena kehadiran Jingga lebih berarti daripada cewek itu. Dia tidak tahu apa-apa jadi pastinya Aurora akan merasa kebingungan setelah ini.
“Harus banget gue emangnya?” tanya Dewa lagi. “Kenapa nggak lo minta tolong ke Chiko?’
“Chiko udah bilang kalau kami bersahabat ke Biru.”
Ah iya. Malam itu Chiko menjelaskan semuanya pada Biru dan bukannya marah malah Biru terlihat biasa saja. Ah, memangnya di siapa? Sepenting inikah Jingga bagi Biru?
Dengan pemikiran singkatnya, Dewa akhirnya menerima tawaran itu dengan syarat hanya di depan teman-teman kelas mereka, Aurora termasuk Biru.
“Oke, gue setuju.”
***
“Ga, gue mau bilang sesuatu sama lo.”
Biru ada di depan kelas Jingga namun dia sendirian. Tidak ada tanda-tanda ada Aurora di radar Biru. Apakah Biru mengusirnya?
“Gue sibuk. Nanti aja.”
“Tapi ini penting banget, Ga!” ujar Biru. Mencekal tangan Jingga sedikit keras.
Jingga tidak suka cowok kasar, bahkan dia membenci cowok seperti itu. Kebenciannya pada cowok kasar sudah diketahui oleh Chiko makanya cowok kasar seperti Chiko pasi meredam emosinya jika bersama Jingga. Salut sebenarnya namun tetap saja dia malas pada Chiko yang kadang gampang emosian hanya dengan sekali pancingan.
“Gue nggak suka cowok kasar.” Menatap sinis ke arah Biru. Menarik tanngannya dari cengkraman Biru. “Lepasin gue!”
Biru tersentak. Ah, iya, Jingga gadis lembut pantas saja dia tidak suka cowok seperti dirinya terlalu kasar, cuek dan bengis sepertinya. Hanya Aurora yang tahan padanya tidak ada yang lain.
Jingga masuk ke dalam kelas tanpa menghiraukan Biru lagi yang masih menatapnya penuh dengan perasaan bersalah.
“Ga, gue minta maaf!” Biru setengah berteriak namun tak dihiraukan oleh Jingga.
“s**l!”
Biru menendang beberapa vas bunga depan kelas Jingga sebagai pelampiasan. Dia merasa bodoh sekali. Hanya demi Jingga mendengarkannya, bisa ada di dekatnya, dia bisa bersikap kasar seperti ini. Kebodohan seperti apa ini?
Sial. Kenapa dia tak bisa mengontrol dirinya lebih baik?dia bukan Aurora yang akan terima-terima saja jika Biru bersikap kasar.
“Ada yang patah karena ditolak Jingga ternyata di sini.”
Cibiran dari seseorang membuat Biru menoleh ke belakang. Ternyata itu Dewa. Sepupu Chiko-musuhnya.
Ah ya, musuh terbesar Biru adalah Chiko dan entah kenapa Chiko bisa kenal Jingga apalagi sangat terlihat dekat dengan Jingga. Dia kalah dari Chiko dan dia tidak mau menerima itu. Apalagi semenjak Mama Jingga menyuruh Biru untuk menjaga anaknya mampu membuat Biru semakin yakin kalau Jingga tak baik-baik saja selama ini.
“Lo?”
“Ini gue, Dewa. Lo melupakan gue setelah semalam?” tanya Dewa dengan bibirnya terlihat terangkat menyeringai. “Gue menang.”
“Menang?” tanya Biru mengernyit.
“Iya. Lo belum tahu?”
“Tahu soal apa lagi?” sebal Biru. “Gue merasa nggak punya kekalahan dari lo.”
“Sombong sekali lo,” cibir Dewa. “Tapi ada satu hal yang membuat lo kalah dari gue.”
Biru mengernyit. “Apa?”
“Hati Jingga.”
Apa katanya? Hati Jingga?
***