Bercerai
“Tante Via, ini pesanan Tante,” kata Damar dengan canggung.
Dia tidak pernah mengira bahwa pelanggan terakhirnya adalah tetangganya sendiri.
Via mengambil pesanannya dengan sinis dan berkata, “Oh, Damar, kebetulan sekali kamu yang mengantar. Sepertinya kamu satu-satunya orang di sini yang jadi kurir. Iya, kan? Hahaha!”
Damar hanya tersenyum tipis tanpa menjawab.
Tiba-tiba Via berteriak, “Lho, kok minyaknya berantakan begini sih? Damar! Kamu ini gimana, sih?!”
Via melemparkan bungkus makanan itu ke Damar. “Aku tidak peduli. Aku akan beri bintang dan penilaian yang buruk!
“Duh! Percuma kamu kerja seperti ini. kerjamu saja tidak becus. Pantas saja kamu selalu dipandang rendah!”
Damar membersihkan minyak dan bekas makanan yang menempel di bajunya. Belum sempat Damar memberikan penjelasan, Via sudah membanting pintu. Benar saja, satu menit kemudian Damar mendapatkan rating buruk. Alhasil gajinya hilang 300 ribu.
Damar mengepalkan tinjunya karena marah. Semua itu bukan salah Damar!
Damar adalah seorang pemuda yang diangkat menjadi menantu oleh Adrian Raharjo. Awalnya, Adrian Raharjo menyelamatkan Damar yang terluka parah tahun lalu. Kemudian, dia menjodohkan putrinya dengan Damar.
Sayangnya, Adrian meninggal satu bulan setelah pernikahan Damar dan putrinya, Sisy Raharjo.
Meski hari-harinya melelahkan, Damar masih bersyukur dengan kehidupannya. Setidaknya dia masih memiliki tempat untuk pulang.
Damar selalu bekerja setiap hari. Dia kerja sebagai kurir antar makanan di siang hari. Saat malam hari, Damar bekerja sebagai satpam. Dia hanya dapat tidur lima jam setiap harinya.
Setelah kematian ayah mertuanya, ibu mertuanya Amelia Putri Sitara membeli sebuah mobil RV dengan uang muka 400 juta serta harus membayar cicilan rumah yang mereka tempati. Total cicilan masih kurang 2 miliar.
Setiap bulan Damar harus membayar uang cicilan sebesar 20 juta.
Tapi Damar rela bekerja keras demi Sisy. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana Sisy selalu merawatnya dengan sabar dan telaten saat saat dirinya masih terluka.
Damar mengeluarkan kunci rumah dan pulang.
Betapa terkejutnya Damar saat kunci miliknya tidak dapat membuka pintu. Sudah dia coba beberapa kali pun, pintu rumahnya masih tidak bisa dibuka.
Damar mengerutkan kening dan mencoba mengetuk pintu.
Ibu mertuanya membuka pintu.
“Bu, kenapa pintunya tidak bisa dibuka, ya? Padahal aku sudah coba beberapa kali pakai kunci yang biasa,” kata Damar sambil tersenyum.
Amelia menjawab dengan ringan, “Oh. Aku ganti kuncinya.”
Damar tidak bertanya lebih lanjut dan hendak masuk ke dalam rumah, “Oh, begitu. Kalau begitu nanti tolong beri aku kunci yang bar—”
Tak disangka, Amelia mendorong Damar yang hendak masuk ke dalam rumah. “Tidak bisa. Mulai sekarang, kamu sudah tidak perlu masuk ke rumah ini.”
Damar tertegun dan masih tetap mencoba tersenyum pada ibu mertuanya. “Maksudnya, Bu? Ini, kan rumahku juga.”
Amelia mendengus dingin, wajahnya berubah menjadi sinis. “Diam! Aku bukan ibumu! Ini juga bukan rumahmu! Kamu tidak pantas ada di sini!
“Sisy sedang menyiapkan surat cerai. Dia akan menceraikanmu dalam dua hari! Jadi kamu sudah tidak ada hubungannya lagi dengan kami. Pergi!”
Damar bingung dan juga terkejut, “A-apa? Cerai? Sisy akan menceraikan aku? Kenapa? Tidak mungkin!”
Amelia kembali mendelik dengan tajam. “Damar, kamu tidak benar-benar berpikir kalau kamu itu layak jadi suami Sisy, kan?
“Putriku anak baik-baik. Menurutmu seorang kurir makanan sepertimu layak untuk Sisy? Kamu masih tanya kenapa? Kamu tidak sadar diri?” kata Amelia.
“Kecuali kalau kamu bisa mendapatkan 20 juta lebih per bulan. Tapi mana mungkin orang sepertimu bisa dapat uang sebanyak itu!”
Damar yang sudah terpancing dengan kata-kata Amelia pun melawan. “Bu, tapi aku juga punya hak atas rumah dan mobil. Aku yang membayar cicilannya setiap bulan!”
Amelia menyipitkan mata. “s****n! Ngomong apa kamu ini! Kamu bayar karena namamu yang tertulis sebagai peminjam. Kalau kamu tidak bayar cicilannya, ya kamu yang dipenjara!
“Dan ingat, mobil itu atas nama Sisy! Aku tidak ingin buang-buang waktu lagi. Aku akan telepon saat surat cerainya sudah selesai!”
Setelah berbicara, Amelia membanting pintu dengan keras.
Damar mengepalkan tinjunya erat-erat, menatap pintu rumah itu dengan lekat.
Dia sudah memberikan segalanya untuk keluarga ini, tapi pada akhirnya dia malah kehilangan segalanya. Dan dia masih harus membayar cicilan KPR dan kredit mobil?!
Damar sudah menganggap Sisy sebagai seseorang yang berharga dalam hidupnya. Tapi Sisy memilih menceraikannya!
Dia tidak bisa menerima hal ini begitu saja!
Setidaknya, apa alasannya?
Kenapa!
Apakah hanya karena Damar tidak memiliki uang?
Damar menghela napas, berbalik, dan pergi dari halaman rumah lamanya. Dia berjalan menyusuri jalanan kompleks, mengikuti ke mana pun kakinya ingin pergi. Beberapa saat setelah Damar berjalan, ada sekelompok orang dibelakangnya.
Damar tidak tahu apa yang mereka inginkan. Perempuan yang berdiri paling depan berkata, “Tidak mungkin! Zero… akhirnya Anda kembali!”
Damar menoleh dengan linglung. “Hah? Kamu bicara denganku?”
Melihat reaksi Damar, perempuan yang berpakaian hitam itu tidak bisa berkata-kata untuk sesaat.
Dia melihat Damar yang kulitnya berubah gelap karena terbakar matahari, dahinya yang penuh keringat sebesar biji jagung, wajahnya yang terlihat lesu, dan matanya yang berkaca-kaca.
“Pak Damar, saya Night Watcher Third. Anda adalah kartu truf Night Watcher dan prajurit terkuat kami. Anda tidak perlu khawatir, semua yang saya katakan barusan itu sungguh-sungguh!
“Tapi setelah misi tiga tahun lalu, Anda menghilang. Anda terluka sangat parah setelah misi itu dan hilang ingatan.”
Setelah berbicara, dia menyerahkan kartu nama kepada Damar.
Perempuan ini bernama Nidya Dewari. Dia adalah Night Watcher Third. Dia tidak pernah sekalipun bertemu dengan Damar setelah tiga tahun lalu.
Sekarang, saat akhirnya dia bertemu dengan Damar, dia sangat terkejut mendapati Damar yang hilang ingatan.
Salah satu peluru terkuat Night Watcher akhirnya ditemukan. Tentu saja Nidya senang!
Damar membolak-balik kartu nama itu dan menyimpannya di kantong celananya. Dia menyeka keringat dengan kaos yang dia pakai. Memang apa yang dikatakan perempuan ini cukup masuk akal, Damar memang tidak mengingat kejadian sebelum tiga tahun yang lalu.
Tapi mengenai dirinya sebagai kartu truf Night Watcher, dia sama sekali tidak percaya.
Damar menggelengkan kepalanya. “Anda pikir saya tidak cukup menderita? Apa Anda ingin mempermainkan saya? Saya tidak punya waktu untuk membicarakan hal tidak masuk akal seperti ini.”
Nidya meraih tangan Damar dan berkata, “Pak Damar, ikutlah dengan saya. Saya punya cara untuk mengembalikan ingatan Anda!
“Ayo, tinggalkan tempat ini dan kembalikan ingatan Anda. Anda akan kembali menjadi bintang.”
Damar menolak dengan tegas, “Tidak perlu! Pergi! Kalau tidak, jangan salahkan saya karena bersikap kasar!”
Raut khawatir terlukis di wajah Nidya. Dia tetap mencoba membujuk Damar. “Apa Anda masih tidak sadar? Sekarang Anda hanya hidup untuk mencari uang!
“Anda punya apa? Kenapa saya harus repot-repot menipu Anda yang tidak punya apa-apa?
“Sekarang peluang sudah di depan mata. Anda bisa punya banyak uang tanpa harus bekerja banting tulang seperti ini. Anda pasti mau, kan?”
Damar tersipu. Apa yang dikatakan Nidya memang benar, tapi dia masih sulit untuk percaya. Bagaimana mungkin dia tiba-tiba menjadi Night Watcher Zero yang katanya kartu truf itu?
Damar menjawab dengan marah, “Kalau begitu, beri aku satu miliar sebagai bukti!”
Nidya langsung memberikan sebuah kartu. “Ini kartu ATM yang dulu sering Anda pakai. Kata sandinya 000000. Isinya kurang lebih 10 triliun.”
Damar dengan cepat mengambil kartu itu dan memeriksa bagian belakangnya. Kartu itu berpola awan dan naga di sudut kanan atas. “Kartu ini… berisi 10 triliun?”
“Benar, tapi Anda harus berjanji satu hal dengan saya!”
Bersambung