Damar menoleh dan mendapati kalau suara itu adalah milik sepupu Sisy, Nessa Raharjo.
Ada juga beberapa orang di belakangnya, sepertinya mereka hendak pergi ke karaoke.
Dan Nessa, Damar tidak memiliki kesan yang baik dengannya.
Perempuan ini persis seperti Amelia tapi versi lebih muda.
Sangat sombong dan hanya keluar cacian dari mulutnya.
Nessa tersenyum sinis dan berkata, “Loh, bukankah harusnya sekarang kamu kerja di tempat karaoke? Kenapa kamu disini?”
“Kalau tidak buru-buru kerja, apa kamu bisa bayar tagihan bulanan itu? Hahaha!”
Teman-teman di belakang Nessa juga ikut tertawa.
“Nessa, apa dia suami sepupumu yang biasa kamu bicarakan? Dia ganteng loh!”
“Tidak peduli setampan apa wajahmu, kalau tidak bisa hidup bergelimang harta buat apa!”
“Benar, kamu harus siap-siap makan batu kalau hidup dengannya! Eh tapi tadi Nessa bilang kalau dia sudah diceraikan oleh sepupunya kan?”
“Hahaha! Kasihan sekali!”
Mereka semua tertawa karena menikmati hinaan pada Damar.
Damar mengangkat alisnya dengan heran, apa yang salah dengan otak orang-orang ini?
Damar sama sekali tidak pernah menyinggung ataupun membuat masalah dengan mereka, tapi kenapa mereka dengan santainya menghina Damar seperti ini?
Damar berkata dengan ringan, “Lalu apa hubungannya denganmu?”
Nessa terkekeh melihat keberanian Damar menjawabnya, “Tidak ada, aku hanya ingin melihat lelaki yang dibuang oleh Sisy!”
“Eh apa kamu tahu siapa lelaki yang jadi kekasih baru Sisy? Namanya Dimas! Duh, aku kasihan sekali padamu. Kalau dilihat, kamu seperti kotoran ayam yang menempel di ban mobil Dimas!”
“Aduh, jauh sekali seperti langit dan bumi!”
“Gajimu sebulan itu sama dengan uang jajan yang Dimas berikan untuk Sisy!”
“Sisy benar-benar bersyukur bisa lepas ikatan denganmu! Bahkan harusnya dia menceraikanmu lebih awal!”
Kata Nessa lalu kembali tertawa dengan teman-temannya.
Padahal tadi Damar sudah mempermalukan Dimas dan Sisy, tapi sekarang Nessa malah menjunjung tinggi Dimas.
Jelas sekali otak Nessa yang kosong dan hanya punya mulut kotor seperti babi.
Nessa melihat Damar yang hanya tersenyum dan tidak menjawab pun berkata, “Hey s****n, apa yang lucu!”
“Siapa kamu berani menertawakan kami!”
“Tukang antar makanan dan seorang penjaga keamanan saja bertingkah!”
Damar memang sensitif saat ada orang yang merendahkan pekerjaan yang dia lakukan. Damar bertanya dengan melipat tangannya di d**a, “Oh, kenapa? Apakah pekerjaanmu lebih mulia dari aku?”
Nessa tertawa diikuti teman-temannya, “Lithon Group, kamu tahu?”
“Apa kamu pikir semua orang sama denganmu? Kamu hanya melakukan pekerjaan yang menggunakan fisik tanpa kualifikasi pendidikan yang tinggi dan IQ!”
“Mengirimkan makanan itu kelas bawah, jauh dari aku.”
Mata Nessa melihat Damar dengan tajam, “Damar, Damar, meskipun kita sama-sama digaji orang tapi aku kerja jauh lebih enak, hanya duduk di kantor dan tidak perlu panas-panasan setiap hari!”
“Tidak perlu melakukan dua pekerjaan dalam sehari!”
Damar mengingat nama perusahaan tempat Nessa bekerja, Lithon Group!
“Hati-hati, kalau terlalu jumawa kamu bisa kehilangan hal yang kamu banggakan…” gumam Damar.
Mereka kembali menyerang Damar dengan lidah tajam mereka, lalu melirik jam dan mendesak Nessa agar tidak membuang waktu dan pergi secepatnya.
Nessa memandang Damar dengan jijik, “Damar, kamu harus segera pergi dan bekerja. Kalau tidak kamu bisa dipecat, lalu darimana kamu akan dapat uang! Hahaha!”
“Duh, aku belum pernah melihat orang sesial kamu. sudah cerai tapi masih harus melunasi cicilan rumah dan mobil! hahaha! Bodoh, bodoh!”
“Kalau kamu seperti ini terus, miskin terus, mana ada perempuan yang menyukaimu!”
Noviana yang dari tadi sudah menahan diri akhirnya tidak tahan. Dia sudah terlalu kesal mendengar ucapan orang-orang sok kaya ini.
Noviana meraih lengan Damar dan berkata dengan penuh percaya diri, “Siapa bilang tidak ada perempuan yang menyukai Damar! Ada aku!”
Begitu Noviana Mengatakan hal ini, semua orang menatap mereka berdua dengan tidak percaya. Siapa saja yang tidak buta dapat melihat betapa cantiknya Noviana!
Nessa adalah perempuan tercantik di perusahaan tempat mereka bekerja, tapi dibandingkan dengan Noviana, jelas tidak ada apa-apanya.
Setelah melihat reaksi Nessa dan teman-temannya yang tampak ciut, Noviana menarik Damar untuk pergi.
Nessa menghentakkan kaki dengan kesal dan memberikan u*****n untuk Noviana.
Damar mengikuti Noviana sampai kerumahnya, sebuah rumah kontrak yang bersih dan sederhana.
Damar berkata pada Noviana dengan wajah penuh syukur, “Kak, sekali lagi aku sangat berterimakasih padamu.”
Noviana menggelengkan kepala dan menjawab, “Ini tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan bantuanmu tadi.”
“Maaf kalau sempit, anggap rumah sendiri!”
Damar menggelengkan kepala dan tersenyum senang, “Tidak, aku merasa seperti dirumah yang nyaman.”
Damar mengatakan hal yang memang dia rasakan, dibandingkan kembali ke rumah Amelia, rumah Noviana terasa lebih nyaman.
“Bisa saja kamu. Tapi ini hanya rumah kontrakan, suatu saat nanti aku akan beli rumah sendiri!” kata Noviana optimis.
Damar merasa sedikit aneh. Noviana memiliki gaji 300 juta setahun. Belum lagi bonus dan tips dari tamu.
Harusnya gaji Noviana sudah cukup untuk dia menabung dan membeli rumah, tapi dilihat dari kondisi rumah kontrakannya, Noviana terlihat kekurangan.
Tiba-tiba, entah karena suasana yang mendukung atau apa, Noviana mulai menceritakan beban yang selama ini berada di pundaknya.
“Ayahku sakit dan membutuhkan uang 5 miliar untuk biaya operasi. aku juga punya adik yang masih sekolah, aku harus membiayainya.”
“Itulah alasanku memilih pekerjaan di tempat karaoke karena gajinya cukup banyak…”
Sebenarnya Noviana lulusan perguruan tinggi dari universitas bergengsi. Tapi bekerja di perusahaan tidak selalu memiliki gaji yang besar, apalagi kalau seorang karyawan baru. Jadi dia lebih memilih bekerja di tempat karaoke.
Membicarakan hal ini, Noviana tampak sedih dan berkata, “Aku tidak tahu apa aku masih bisa bekerja di karaoke setelah kejadian tadi.”
“Tidak perlu khawatir, kamu tidak perlu kerja disana. Kak, ayo kita cari kerja yang lain, aku akan membantumu. Gajinya lebih tinggi dari tempat karaoke dan tidak berbahaya seperti tadi,” kata Damar.
Damar memutuskan untuk membantu Noviana, bagaimanapun Noviana sudah berani menceritakan masalah yang dia hadapi. Apalagi Noviana tidak hanya sekali atau dua kali mendapatkan pelecehan seperti ini.
Noviana tersenyum dan menganggap Damar hanya menenangkannya, “Sudah berhenti bicara omong kosong. Tunggu sebentar, aku akan masak mie instan untukmu!”
Setelah berbicara, Noviana langsung bergegas menuju ke dapur.
Damar yang melihat Noviana sudah sibuk berkutat di dapur itu segera mengambil ponsel dan menelepon Nidya.