Keesokan harinya, Damar merasa bosan dan memutuskan untuk pergi ke Lithon Group. Nessa terkejut melihat Damar datang ke perusahaan.
“Damar? Ada keperluan apa di sini?” tanya Nessa.
Damar tersenyum tipis dan menjawabnya, “Aku ingin mencari lowongan kerja.”
“Mencari lowongan kerja? Hahaha! Kamu ingin melamar kerja sebagai satpam? Aku ada kenalan di tim pengamanan. Kalau kamu meminta tolong padaku, aku bisa bantu merekomendasi kamu. Hahaha!”
Nessa tertawa bahak-bahak. Dia tidak menyangka Damar akan mencari pekerjaan di Lithon Group. Dia secara tidak sadar mengira Damar hanya pantas melakukan pekerjaan seorang satpam.
Damar hanya tersenyum. “Tidak perlu, aku sudah lolos wawancara.”
“Aku dengar departemen manajemen sedang memecat banyak staf akhir-akhir ini. Karyawan yang tidak berguna pasti akan dipecat. Aduh, mana orang yang bersamamu semalam? Apa dia sudah dipecat juga?”
“Kamu juga harus hati-hati,” Damar memperingatkan.
Wajah Nessa menjadi suram mendengarnya. Dia sama sekali tidak mempercayai omong kosong Damar. Meskipun dia telah lolos wawancara, tetapi dia hanya bisa menjadi satpam. Memangnya dia bisa tahu keputusan dari departemen manajemen?
Namun dia juga merasa sedikit aneh, kenapa rekan-rekan yang ikut karaoke kemarin tidak masuk hari ini?
Dia hendak bertanya padanya, tetapi Damar sudah pergi dengan jauh.
Dia menuding ke arah Damar sambil memaki, “Kamu jangan sombong! Aku akan membuatmu keluar dari perusahaan sekarang juga!”
***
Nessa tidak berpikir banyak. Kalaupun rekan-rekannya dipecat, itu bukan urusannya.
Dia segera mendatangi kantor supervisornya, Jali. Dia hendak memintanya mengeluarkan Damar dari perusahaan. Nessa merasa sangat senang kalau Damar langsung dipecat walaupun baru masuk.
Nessa mengetuk pintu kantor Jali.
“Masuk!”
Ketika Jali melihat wanita itu masuk, dia langsung memasang senyum nakal.
Jali menyukai Nessa karena dia adalah wanita tercantik di perusahaan ini. Tapi, Nessa tidak begitu menyukainya.
Awalnya Nessa merasa Jali adalah orang yang baik dan ingin berpacaran dengannya.
Apalagi sebagai supervisor, Jali mendapatkan gaji tahunan senilai 1 miliar. Dia termasuk pria yang berprestasi.
Tapi setelah Sisy berpacaran dengan Dimas, Nessa tidak menginginkan Jali lagi. Dia merasa dirinya juga mampu berpacaran dengan pria kaya seperti Dimas. Atau bahkan pria yang lebih kaya dari Dimas!
Jadi, Nessa tidak punya niat yang serius terhadap Jali, dia hanya ingin memanfaatkannya.
Nessa sudah mahir mengendalikan pria itu. Setelah menutup pintu, dia langsung berpura-pura lugu dan masuk dalam pelukannya.
“Kak Jali, ada orang yang jahat sama aku… Kamu harus bantu aku!” Nessa mengoceh manja.
Jali langsung merasa kesal. Dia memeluk Nessa dan bertanya, “Siapa? Berani-beraninya dia jahat sama kamu! Apa dia tidak takut denganku? Beri tahu aku. Aku akan membantumu sekarang juga!”
Nessa meneteskan air mata. “Si Damar yang pernah aku bilang. Dia bahkan melamar kerja di sini sebagai satpam. Pasti karena aku. Aku sangat takut dia akan melakukan sesuatu padaku setelah dia masuk kerja!”
Jali melotot. “Si s****h yang kamu bilang itu? Keterlaluan! Pria s****h itu benar-benar tidak tahu diri!”
Nessa sengaja merangkul lengannya dan menekan tubuhnya pada Jali. Dia merabanya dengan ambigu sehingga Jali tidak bisa berpikir jernih.
“Kak Jali, kamu harus mengusirnya dari perusahaan demi aku. Kalau kamu membantuku, malam ini aku mau menonton ‘film horor’ yang kamu bilang waktu itu bersama Kak Jali!”
Jali menjadi b*******h. Apa maksudnya menonton film bersama malam ini? Berarti Nessa bersedia berhubungan intim dengannya malam ini.
Melihat badan seksi Nessa, air liurnya pun hampir mengalir. Dia langsung bergegas. “Aku akan pergi mencari bos sekarang! Kamu tunggu aku di sini!”
Karena dia adalah anak dari Yudi, teman lamanya, maka dia punya cukup koneksi di perusahaan ini. Dia merasa sangat percaya diri.
Melihat Jali berlari mencari bosnya, Nessa menunjukkan senyuman remeh.
“Damar, kamu merasa dirimu hebat, kan? Aku mau lihat reaksimu setelah ini!”
Nessa juga telah merencanakan menonton film dengan Jali malam nanti. Dia tidak peduli jika harus tidur dengannya. Meskipun mereka berhubungan intim, bukan berarti Nessa bersedia menjadi pacarnya.
Dan kebetulan, dia bisa menggunakan taktik sempurnanya untuk memikat Jali dengan erat.
Ketika mencari Yudi, Jali sudah memikirkan apa yang akan terjadi malam ini. Dia sangat b*******h sehingga tidak bisa menahan kesabarannya. Dia sudah lama mengincar Nessa.
“Aku harus mengusir si Damar s****h ini dan mendapatkan hati Nessa!”
Setelah sampai di depan kantor Yudi, dia merapikan bajunya lalu mengetuk pintu.
“Masuk.” Yudi memanggil dari dalam.
Jali berjalan masuk ke dalam dan melihat Yudi sedang berbicara dengan seorang pria muda dengan pakaian sederhana.
Dia tidak berani menatap pria muda itu karena berarti orang itu adalah orang terhormat yang pantas berbicara dengan Yudi. Dia mengangguk dan menunjukkan kesopanan padanya.
Yudi senang ketika melihat Jali dating. Dia ingin memperkenalkannya kepada Damar. Karena mereka sama-sama adalah pemuda, mereka pasti punya banyak hal yang bisa menjadi topik pembicaraan. Kesempatan ini juga akan membantu masa depan Jali.
“Sini, Jali! Kebetulan sekali kamu datang. Aku mau memperkenalkan seseorang padamu. Ini—”
Jali malah memotong pembicaraannya. “Om Yudi, aku ingin melaporkan suatu hal yang penting.”
Yudi memandang Damar dengan sedikit canggung dan Damar mengangguk kepadanya.
Yudi adalah bos Lithon Group saat ini, jadi dia berhak mengetahui apa yang terjadi di perusahaan.
Yudi tersenyum dan bertanya, “Oh? Ada apa?”
Jali menjawab, “Om Yudi, jadi begini… Om tahu karyawanku yang namanya Nessa?”
Damar mengangkat alis. Nessa? Menarik sekali ...
“Sepupunya punya suami yang menyebalkan, dan pria itu sering mengganggunya.
“Dia bahkan datang ke perusahaan untuk melamar pekerjaan satpam di hari ini! Nessa khawatir pria ini akan melakukan sesuatu padanya dan memberikan dampak buruk pada perusahaan kita.
“Om Yudi! Kita tidak bisa membiarkan orang seperti ini kerja di perusahaan kita!”
Yudi tidak mengetahui kalau pria yang dibicarakan Jali adalah Damar. Dia takut reputasi perusahaan akan terganggu karena pria itu, jadi dia ingin menyelesaikan masalah ini.
“Oh? Siapa nama satpam itu? Cepat keluarkan dia dari perusahaan!”
Jali tersenyum dan menjawab, “Namanya Damar. Om Yudi tidak perlu pergi secara pribadi. Aku akan pergi memberi tahu pihak HRD.”
Jali hendak pergi dan memecatkan pria b******k yang bernama Damar itu. Tapi, Yudi segera menghentikannya.
“Tunggu sebentar! Kamu bilang siapa namanya?”
Jali tertegun. “Namanya Damar, Om!”
Jantung Yudi berdetak kencang. Dia menghujat Jali berkali-kali dalam hatinya. Dia merasa dia berada dalam masalah saat ini.
Sial! Kenapa orang itu harus Damar? Memecatnya sama saja dengan cari mati!
Yudi menoleh ke Damar sambil gemetaran, “Pak Damar, saya...”
Damar melambaikan tangannya. “Tidak berhubungan denganmu. Lagipula kamu juga tidak tahu tentang masalah ini.”
Yudi berterima kasih pada Damar. “Benar, Pak. Terima kasih, Pak Damar!”
Jali menjadi sedikit kebingungan. “Om Yudi?”
Wajah Yudi berubah galak. Dia tidak mengatakan apa-apa.
Damar tersenyum tipis sambil menatapnya. “Aku Damar yang kamu bilang itu.”
Bersambung