Lelah malam ini, aku enggak menyangka sama sekali bukankalau Tan-Lee masih mengingatku dengan baik. Bahkan setelah pulang kantor tadi tanpa basa-basi mereka mengajakku makan malam bersama. Suasana yang hangat, pesta selamat datang yang bisa di bilang sangat luar biasa.
Tan-Lee masih mengenalku dengan baik, dia meledekku dengan sebutan gadis Indonesia. Apa ini? Kenapa ada surat? Aku membungkukkan badanku dan mengambil sepucuk surat yang ada di sela-sela pintu apartemen ku.
Bowi, lagi-lagi Bowi mulai mengganggu ku. Apakah mama dan papa memberi tahu dia jika aku kembali ke Jepang? Atau seperti yang aku khawatir kan kemarin, dia bisa menebak jika aku kembali ke sini.
Aku melempar kan sepucuk surat yang aku terima itu, aku malas membacanya, dan aku sudah cukup lelah malam ini. Aku menghidupkan lampu tidur di sebelah tempat tidur ku. Dan aku menghidupkan pemanas agar ruangan terasa lebih hangat. Aku mencoba memejamkan mataku sejenak, walau aku belum mengganti baju kantorku. Aku terbayang masa-masa dengan Bowi saat kami masih kuliah dulu.
Dengan terpaksa aku bangun dari tempat tidurku, akhirnya aku pun membuka surat yang Bowi kirimkan kepadaku. Aku merobeknya dengan sedikit kasar, dan jatuh lah sebuah foto, foto? Ternyata foto saat pertama kami dekat saat SMA. Tidak ada apa2 lagi di dalam surat itu hanya ada tulisan di balik foto kami. 05 Desember 2015- Desember 2023, Ann baik2 di sana ya, aku yakin kamu adalah jodoh yang Allah kirimkan untukku. Dan aku yakin, suatu saat nanti kamu akan menjadi kado terindah untukku saat kamu kembali.
Persetan, enggak akan aku percaya dengan semua kata-kata yang penuh gombal ini. Aku membalikkan foto kami, untuk sekian menit aku memandang foto itu...dan dengan senang hati aku menaruh nya ke dalam buku agenda yang berada di loker meja sisi tempat tidurku. Ayoo Anne, lupakan Bowi, lupakan juga Nadia sepupu mu yang tega merebut tunanganmu itu.
Aku menikmati malam ini dengan menonton film drama Jepang lewat internet. Aku bergegas ke dapur untuk membuat semangkuk ramen rasa jamur kesukaanku. Berusaha melupakan kenangan bersama Bowi, walau enggak di ungkiri bayang-bayang Bowi selalu hadir mengganggu jika sepi dan senggang begini. Malam semakin larut tapi aku masih enggak bisa tidur juga.
Sebulan kemudian
“An-san, kochira ga ansan ni hanadesu.”
(Nona anne, ini ada bunga untuk nona)
Bunga, siapa yang mengirimkan bunga untukku. Oh ada kartu ucapannya Ganbatte seikō shite ne An (selamat bekerja dan sukses Anne), siapa yang kirim bunga ini untuk aku. Ya sudah lah aku simpan saja di pojok meja kerjaku.
“An, shigoto wa dōdesu ka? Ryūchō? Kore made nanika mondai wa arimashita ka?”
(Ann, bagaimana dengan pekerjaanmu? Lancar? Apa ada kendala selama ini?)
“Mada anzen ni seigyo sa rete imasu, sensei, ikutsu ka no shōgai ga arimasuga, kokode wa tomodachi ga takusan tasukete kuremashita.”
(Masih aman terkendali pak, ada sedikit kendala tapi teman-teman banyak membantuku di sini).
“Wakatta, soredewa ī yo, kyō no gogo wa issho ni ranchi o tabemashou, An.”
(Bagus, baiklah kalau begitu, nanti siang kita makan siang berdua ya Ann)
“Issho ni ranchi shimasu ka?”
(makan siang berdua?)
“Moshi yoroshikereba, daijōbudesu.”
(Kalau keberatan tidak apa-apa)
“Ā,-sōde wa arimasen, sensei, wakarimashita.”
(Oh bukan begitu pak, baiklah)
“Ok...”
Ada apa pak Tan-Lee mengajakku makan siang bareng? Ah, mungkin hanya mengajak teman lama? Apa salah nya sih Ann. Aku bergegas mengambil berkas-berkas pekerjaanku, Alhamdulillah laporan harian ku sudah selesai aku harus meletakan nya di atas meja tuan Liem- Soek.
***
Aku bergegas masuk ke mobil Tan-Lee, kakak kelas ku ini tersenyum manis padaku. Duh Anne, jangan terlalu mendramatisi keadaan dan GR deh. Ingat dia Cuma bos kamu, mungkin saja hanya ingin traktir makan, atau ada masalah pekerjaan yang ingin di obrolkan lebih santai.
“Jā nani ga sukina no? Rāmen? Soretomo fāsutofūdo?”
(Kamu suka maka apa? Ramen? Atau makanan cepat saji?)
“Anata ga nani o erande mo kankei arimasen, tabemono ga harārudearu kagiri, watashi wa Isuramu kyōtonanode sore o erabimasu.”
(Terserah apa yang bapak pilihkan saya ikut, asalkan makanan itu halal, karna saya seorang muslim)
“Yoshi, nipponshoku resutoran ni ikou, sushi ka rāmen o erande ageru.”
(Baiklah, kita ke restoran jepang ya, aku akan pilihkan kamu beberapa macam susi atau ramen).
“Ok, I like it.”
Tan-Lee memutar lagu-lagu love story’. Dia sangat tenang mengemudikan mobilnya melaju ke sebuah restoran Jepang. Sungguh aroma tubuh Tan-Lee sangat menggoda, seorang laki-laki Asia yang cukup tampan, tinggi, rapih dan harum. Apalagi di dalam mobil. Ya Allah Anne, stop memikirkan hal yang tidak penting, dan jangan tergoda dengan Tan-Lee.
“Tōchaku shimashita, ojōsan,-sha kara orite kudasai.”
(Sudah sampai nona, silahkan turun dari mobilku)
Aku hanya tersenyum membalas ucapan Tan-Lee, dan bergegas membuka pintu mobil.
“Kono basho ga sukidesu ka? Kono resutoran ni wa ikutsu ka no tokubetsu menyū ga arimasu.”
(Kamu suka dengan tempat ini? rumah makan ini memiliki beberapa menu spesial)
“Wakarimashita, tameshite mitai to omoimasu.”
(Baiklah, aku ingin mencobanya)
Tan-Lee ternyata dia bos dan teman yang baik untukku.