Gentala’s Pov
Hari ini aku ada janji dengan Opa di kafe kesukaan kami. Kafe tua yang sudah puluhan tahun berdiri. Dindingnya dipenuhi foto-foto tempo dulu, tempat duduknya terbuat dari jati tua yang berat, penuh dengan ukir-ukiran pada sandarannya. Seingat aku ini adalah kafe pertama yang Opa kenalkan padaku. Kami memiliki begitu banyak memori bersama di kafe ini. Kami biasanya akan branch bersama di kafe ini, minimal sebulan sekali, sesibuk apapun kami, kami harus menyempatkan diri. Dan tepat hari ini adalah jadwalku untuk bersama Opa.
Opa mungkin sudah sangat tua, tapi aku tidak pernah menggangapnya sebagai seorang Opa, aku menggangapnya lebih pada seorang ayah, dan sebenarnya memang itu yang tertulis pada surat adopsi, bahwa aku diangkat sebagai anaknya. Dia adalah laki-laki yang amat sangat aku sayangi lebih dari apapun, dan aku percaya begitupun dirinya. Hubungan kami tidak pernah terhalang karena tidak adanya hubungan darah. Aku mungkin hanya seorang anak ambilan, tetapi hubunganku dengan keluarga ini jauh dari sekedar hubungan darah, jauh dari sekadar hutang budi.
Aku menatap jam berkali-kali, sungguh jarang Opa terlambat, dia adalah manusia yang sangat tepat waktu, tapi entah kenapa hari ini dia belum muncul juga, mataku berkali-kali aku lemparkan pada pintu masuk kafe ini.
“Ting….Ting….Ting…” bunyi lonceng tanda seseorang baru masuk kedalam kafe, mataku serentak menatap pada pintu masuk, ah Opa sudah sampai, syukurlah. Dia melambaikan tangan sesaat kepada ku, dan aku membalas lambaiannya, tak berapa lama, dia sudah berada di hadapanku.
“What happen old man, this is the first time that you got late?” aku berdiri, menarik kursi untuk Opa.
“That okay son, just common traffic, uhukk…uhuk…” tubuhnya sedikit terguncang karena batuknya.
“Opa sudah ke rumah sakit?” tanyaku membantu membukakan long coat-nya.
“I am Okay son” Opa membalas dengan menepuk-nepuk lenganku.
“Batuknya semakin parah Opa, muka Opa pucat lho, yakin Opa gak papa”
“I am Okay, Okay!” Opa bersikukuh
“Okay, okay old man, take it easy. Aku sudah pesenin buat Opa black coffee with waffle kesukaan Opa”
“Thank you, son” Opa tersenyum, menarik sedikit kursinya mendekati meja.
“Opa tangannya dingin. Serius kalau Opa gak enak badan kita ke rumah sakit sekarang” Aku meremat tangannya, sebelum kembali ketempat dudukku.
“Shut up and eat your pancake son” mata Opa sengaja dipelototkan agar terlihat seram, cara yang selalu dia gunakan semenjak dulu dan aku membalasnya dengan tertawa.
“Opa, itu sudah sama sekali tidak menakutkan, aku sudah tua Opa, bukan anak laki-laki umur 11 tahun, yang takut dengan cara dipelototi”
“I know” Opa mengacak rambut bagian depanku, sembari tertawa dengan suaranya yang dalam.
“Love you too Papap” aku menariknya dan mencium tangannya, Papap adalah panggilan sayangku untuknya. See how lucky I am.
Kami berbincang banyak hal dari bisnis hingga keluarga, hingga akhirnya pesanan kami tiba.
“This is yours” Opa melemparkan cherry merah yang berada diatas waffle nya dan diberikan kepadaku. Opa tahu ketika kecil aku suka sekali cherry merah, dan sejak saat itu setiap kali dia melihat cherry merah dia akan menaruhnya ke piring atau gelasku.
“Thanks pap”
“Uhuk…Uhuk….Uhuuuuuuukkk”
“Pap” aku memberikan tissue yang berada di depanku, Opa mengganguk tanda terima kasih. Akan tetapi batuknya semakin menjadi-jadi. Untuk beberapa saat Opa seperti tidak dapat mengontrol batuknya, tangan tuanya yang gemetar membuat tissue yang Opa gunakan untuk menutup mulutnya terjatuh ke lantai. Apa yang aku lihat saat itu membuat ku benar-benar terkejut. Aku melihat bercak darah jelas pada tissue yang digunakan Opa. Aku mengambilnya dan menutupnya dengan tissue yang lain.
“Pap, what wrong!?”
“Nothing” dia menggeleng menjawab singkat, tanpa mau menatapku.
“Kita ke rumah sakit sekarang”
‘No”
“Sekarang!!!” Jawabku keras meninggi membuat orang-orang di sebelah menoleh padaku. Aku bergegas menuju kasir, dan segera menyelesaikan pembayaran. Aku menyeret Opa dan menarik long coat-nya dari sandaran kursi.
Segera pedal gas ku tancapkan dalam menuju rumah sakit yang biasa kami datangi untuk berobat, mengingat aku sudah cukup kenal dengan banyak dokter disana.
Aku melakukan pendaftaran dan sesaat kami langsung bergegas menuju dokter spesialis paru-paru Opa biasa berkunjung. Sedari tadi Opa hanya diam tidak sedikitpun berusaha mengajakku bicara. Aku tahu ada sesuatu disini, ada hal yang Opa tidak ceritakan kepada ku.
“Bapak Baskoro Sunaryo, silahkan masuk” seorang suster muda mempersilahkan kami masuk untuk bertemu dr. Ricardo.
“Halo dok” sapaku sesaat bertatap muka dengannya.
“Halo” dokter Ricardo berdiri dan memberi salam kepada ku, dan terhenti ketika Opa memberinya salam.
“Bapak Baskoro Sunaryo” dr. Ricardo mengulang nama Opa
“Dok, Opa saya batuk berdarah siang ini ketika kami makan bersama” aku menunjukan bukti darah yang menempel pada tissue yang aku pungut ketika di kafe. Dokter Ricardo hanya menatapku sesaat lalu mengalihkan matanya kepada Opa, tanpa mengatakan apapun, sembari membuka lembaran medical record Opa.
“Mungkin Kakekmu ingin menceritakan sesuatu padamu Gentala” doter Ricardo malah membuat pernyataan yang membuatku semakin binggung. Untuk sesaat ada jeda diantara kami semua, aku mengarahkan wajahku kepada Opa, menunggu sesuatu keluar dari mulutnya.
“I am sorry son, Opa-mu menang lotree enam bulan yang lalu, Opa di diagnosa kanker paru-paru, stadium akhir…” jawab Opa tertunduk lesu. Kata-katanya membuat ku seperti terkena serangan jantung. No, not my Papap!!
Sepanjang perjalanan pulang aku hanya diam, aku marah karena Opa tidak pernah sedikitpun bercerita mengenai sakitnya kepadaku, aku kecewa, aku sedih, aku marah, semua perasaan buruk bercampur menjadi satu.
“Apa Joelle tau mengenai sakit Opa?” tanyaku singkat, masih terus menatap jalan.
“Tidak” jawab Opa singkat
“Lalu siapa yang sudah Opa kasih tahu?”
“Tidak ada” jawabnya singkat.
“Kenapa?” tanya ku kembali.
“Karena Opa sudah punya kamu, Opa percayakan keluarga ini padamu. Sekarang waktunya Opa bertemu Oma Maria.” Kata-kata Papap seperti meremas hatiku, aku menepikan mobilku di jalan layang yang kosong. Mataku sudah penuh dengan air mata, aku memeluk Papap.
“Jangan Papap, kita masih bisa melakukan banyak hal, jangan menyerah.” Balasku, akan tetapi Opa langsung mendorongku pelan kebelakang.
“Siapa yang bilang Opa menyerah, Opa tidak pernah menyerah dalam hidup, dan kamupun tidak. Opa hanya sudah siap. Opa sudah menyiapkan kamu, dan kamu pun sudah siap sekarang. Opa rindu Oma, sekarang waktunya Opa pulang. Omamu di surga sudah terlalu lama menunggu, Opa tidak bisa membuatnya menunggu lebih lama lagi. Jadi tolong, angkat kepalamu, iklaskan Papapmu ini.” Opa tersenyum penuh arti, sembari menghapus air mataku.
“Do you know how much I love you old man?”
“Yes, and I love you as much as I love my own son.” Mendengarkan kata-kata ini seperti seseorang sedang menarik jantungku dengan paksa dari rongga dadaku. Papap satu-satunya yang aku punya, tidak ada yang lain, dan sekarang dia meninggalkan begitu banyak beban di pundakku.
“I cannot do this Opa”
“Sure, you can, I trust you, and always trust you Gentala my son” Opa memelukku semakin kencang, dan mengelus pundakku. “This is your time now, bawa nama Sunaryo untuk Papap ya. Papap mohon” Opa menarik wajahku dan sekali lagi menghapus air mataku yang sudah memenuhi wajah.
“and remember boy don’t cry”
__________________________________________
Joelle’s POV
*One nightclub at Los Angeles
Suara bising musik membuat aku tidak bisa mendengar apa pun yang dikatakan Jenny, sehingga aku mendekatkan wajahku padanya.
“What?” mataku melotot aku sudah paham gelagatnya.
“Let’s move to pub” pintanya berteriak, diatara dentuman suara music.
“Why?” aku menggunakan isyarat dengan bibir tanpa bersuara.
“Too crowded, I never like this place, too packed”
“I hate come to nightclub with you Jenny, always complain about anything!”
“Please” Jenny menarik tanganku, aku benar-benar kesal dengan wanita ini.
Aku harusnya tidak pernah mengajak Jenny, teman satu apartementku untuk ke club. Dia tidak pernah cocok dengan suasana bising, berkebalikan denganku, bahwa aku tidak bisa melewatkan satu minggupun tanpa mengunjungi club, kenapa? Karena aku suka suasana riuh musik, berdansa dengan semua, melepas semua penat, dan bertemu begitu banyak orang, I love night life.