Chapter 2 – An Agreement

837 Kata
Gentala’s Pov   “Gentala, bagaimana keadaan Opa?” Joelle berteriak dari kejauhan. Aku membalasnya dengan melambaikan tanganku, sembari menunggu dia mendekat. “Not good Joelle.., kapan kamu sampai di Jakarta, kenapa gak ngabarin biar aku jemput?”   “Kapan aku sampai itu gak penting, pertanyaan aku kenapa kamu baru katakan sekarang!!” matanya menatapku tajam, penuh dengan amarah. Toh dia selalu marah padaku. “Maaf Opa meminta ku untuk merahasiakkannya dari mu” “Dan kamu mendengarkannya!!!, Apa kamu tidak paham bahwa aku butuh tau hal seperti ini. kamu harusnya ingat bahwa aku adalah cucu kandung Opa. Dan kamu hanya anak angkatnya, yang berarti aku lebih berhak tahu dibanding kamu!!” Joelle melanjutkan, kata-katanya memang bisa amat sangat menyakitkan, tapi itulah Joelle. “Sorry Joe, I just do what Opa told me” “i***t!” dia memakiku, lalu beranjak pergi meninggalkanku, menuju ruang rawat Opa.   Aku menarik nafas panjang, menatap taman hijau rumah sakit tempat Opa dirawat. Sudah lima bulan waktu berjalan semenjak aku mengentahui kondisi Opa. Aku menghubungi semua dokter dan teman-teman untuk mendapatkan referensi terbaik mengenai pengobatan Opa. Tapi semua itu seperti sia-sia, Opa selalu punya banyak alasan jika aku memintanya untuk serius pada pengobatannya, jawabannya hanya satu “Jangan buat Oma mu menunggu Opa terlalu lama”   “Tuan anda dipanggil kakek Baskoro untuk bisa ke ruangan” Bima supir Opa, memintaku untuk masuk ke ruang rawat Opa. “Ok” aku mengangguk, menarik nafas sekali lagi dan mengikuti Bima dari belakang.   Memasuki ruang rawat Opa, aku bisa mendengar isak tangis Joelle. “Opa gak papa sayang, jangan menangis seperti itu. Tangis kamu malah buat Opa semakin sedih” aku mendengar suara lirih Opa, mencoba menenangkan satu-satunya cucu kesayangannya. “Kenapa Joelle baru tau sekarang Opa, kenapa?. Kenapa Opa lebih milih memberitahu Gentala yang bukan siapa-siapa kita ketimbang cerita sama Joelle.” “Karena Opa gak mau seperti ini.” Opa mengarahkan kedua tangannya kepada wajah Joe yang menangis. “Opa gak suka sekali liat Joelle nagis seperti ini. Cucu Opa gak boleh sedih, Opa akan lakukan semua untuk buat Joelle bahagia.” “Kalau begitu Opa harus sembuh” “Joelle, Opa sudah cukup berjalan di dunia ini, Opa kangen Oma Maria. Joelle gak kasihan Opa dan Oma sudah terpisah sangat lama? Sekarang Joelle sudah besar, bisa menjaga diri sendiri, kasian Oma di surga sendiri Joelle.” Kata-kata Opa seolah-olah menjelaskan kepada seorang anak kecil. Perlakuan Opa ke Joelle tidak pernah berubah sejak aku bertemu Joelle sembilas belas tahun yang lalu hingga kini, Joelle cucu semata wayang.   “Opa minta kalian berdua kumpul disini, didepan notaris dan pengacara kepercayaan Opa karena ada yang ingin Opa sampaikan” kata-kata Opa membuat aku dan Joelle saling bertatap mata. “keadaan Opa dari hari ke hari tidak semakin membaik, karena itu ada yang harus segera Opa sampaikan sekarang.” “Apa Opa?” Joelle beringsut dari sisi Opa dan mulai memeluk Opa dan mencium tangannya. ”Jangan berkata yang tidak-tidak Opa, Joelle ingin Opa sembuh” “Joelle kamu satu-satunya Sunaryo yang tersisa jika Opa sudah pergi, Opa memiliki satu permintaan untukmu” “Maksud Opa?” “Opa ingin kamu menikah dengan Gentala. Dia orang kepercayaan Opa, Opa sendiri yang membesarkannya. Opa akan tenang jika kamu bersamanya, dia akan menjagamu dengan baik” Opa menatapku dalam ketika mengatakan ini kepada Joelle, dan sungguh hal ini seperti petir di siang hari bagiku, aku tidak bisa membayangkan betapa buruknya hal itu terdengar di telinga Joelle.   “Opaa! Opa jangan memperlakukan Joelle seperti anak kecil, Joelle mampu mencari pasangan yang baik tanpa campur tangan Opa” aku bisa melihat perubahan ekspresi Joelle yang awalnya sedih menjadi frustasi.   “Kau satu-satunya harta Opa Joelle, Opa hanya akan tentang jika Gentala yang menjagamu. Gentala berjanjilah untuk ku jika kamu akan menjaga Joelle apapun yang terjadi.” Jeda yang begitu lama, sungguh aku tidak bersiap untuk pertanyaan ini. “Gentala!!, kamu berjanji untuk menjaga Sunaryo sebagai keluargamu kan?!” aku menhela nafasku, menarik kepalaku bersender kebelakang untuk sesaat. “Gentala!! Apa kamu dengar Opa?!”   “Ya Opa, aku berjanji untuk menjaga keluarga ini.” Jawabku menatap mata Opa.   “Tidak denganku Opa” Joelle serentak berdiri menatapku dengan tatapan marah, entah apa yang ada dipikirannya.   “Apa itu berarti kamu bersedia kehilangan hakmu, dan hanya mendapatkan sepuluh persen dari total kepemilikian Opa?, jika iya pengacara dan notaris bisa mencatatnya disini.”   “Apa? Bagaimana maksud Opa?”   “jika kalian menikah, kalian mendapatkan masing-masing 50 persen dari total warisan Opa. Tetapi jika kalian menolak, atau salah seseorang dari kalian menceraikan pasangan yang lain maka hak pasangan yang mengusulkan perceraian atau menolak hanya akan mendapatkan 10 persen, dan sisanya akan diberikan ke pasangan yang diceraikan atau yang ditolak. Dan jika kalian memutuskan untuk tidak menikah, maka tidak ada seorang pun yang akan mendapatkan sepeserpun warisan dari Opa. Jadi apa kamu siap berdiri dengan kakimu sendiri Joelle?” Suara Opa yang awalnya merayu dan berusahaan menenangkan Joe, kini berubah datar, menjelaskan segala konsekuensi bagi kami.   “Opa gak punya hak buat maksa Joelle seperti ini” bersamaan dengan itu, suara Joelle pun mulai melunak.   “Opa gak memaksa Joelle sama sekali, Opa hanya memberi pilihan, Joelle yang memutuskan.” Mendengar hal ini, aku hanya bisa menghembuskan nafasku. Apapun keputusannya, ketika aku melangkah masuk kedalam rumah ini, aku memang sudah bersumpah untuk menjaga keluarga ini. Walaupun jika harus kehilangan Hara, entah kenapa pada saat seperti ini, pikiranku malah melayang berpikir tentang Hara.   “Do you like it now adopted child?” matanya merah memendam amarah, aku hanya menatapnya sembari mengerutkan bibirku, dia bukan satu-satunya korban batinku. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN