#31

1166 Kata

#31 Mata Aura nyaris lepas karena terlalu lama memelototi kartu di tangannya. Aku rebut kartu itu dan segera memasukkannya dalam dompet. “Yang mulia Milla, hamba memberikan penghormatan pada kekuasaan Anda,” tutur Aura ngaco. Tangannya menangkup di depan muka. Aku mendengkus, merasa salah telah bercerita padanya. “Nggak usah lebay,” hardikku sembari mendorong piring berisi aneka cake. Aura mengangkat garpunya. “Lo benar-benar hebat, Cemil. Om Gula ada di bawah kaki lo. Satu kali minta dan...” Aura menusuk cake cokelat penuh gaya. “Lo langsung memegang seluruh isi dompetnya.” “Gue hanya memegang kartunya. Dia bisa saja memblokir kartu-kartu ini,” elakku. “Tetap saja, lo juara. Pengalaman pertama lo main sama om dan lo mendapatkan apa yang nggak berani diharapkan cewek lain.” Aku hany

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN