#33 “Karena saya suka sama Mas.” BOCAH GILA!! Aku menepis tangan Aura di wajahku, lalu menempeleng kepalanya. Aura menjerit kesakitan. Dia benar-benar butuh dihajar, pikirku. Terlalu banyak mengonsumsi makanan manis telah membuat fungsi otaknya bekerja nggak normal. “Lo apa-apaan ngomong begitu?” seruku penuh kekesalan. Sekarang amarahku berganti sasaran. “Mil, gue nggak bisa membiarkan lo terus bertengkar buat menutup-nutupi perasaan gua,” kata Aura dengan wajah hampir menangis. Alisku menukik, heran pada lakon yang tengah dimainkan Aura. “Lo jangan ngaco deh,” sentakku. “Milla, gue nggak bisa membiarkan lo bertengkar sama...” Aura melirik Derek sesaat, lalu menutup wajahnya. “Mas, tolong jangan marah dan menuduh Milla yang aneh-aneh. Ini semua dilakukan Milla karena saya,” lanj

