#34 Altez menyambutku dengan senyuman lebar ketika aku tiba di lobi apartemennya. Aku nggak menyangka ada kebetulan semacam ini. kami bertemu di sini. Aku langsung merangkul lengannya di saat dia membawa dua kantong plastik besar berwarna putih. “Jalanan macet?” tanya Altez. “Ya,” jawabku lesu. “Untung saja aku naik taksi, bukan ojek atau kendaraan umum lainnya.” “Sebaiknya selalu naik taksi. Kalau bukan hari libur, aku pasti meminta sopirku yang menjemput kamu.” Altez mulai berjalan ke lift. Aku mengikuti. “Kadang aku berharap apartemen kamu berada di daerah yang dekat dengan rumahku jadi, jarak bukan lagi masalah. Kapan pun aku mau ke sana, aku bisa ke sana.” “Kamu mau aku pindah apartemen?” Altez mengangkat alisnya. “Maunya begitu, tapi aku nggak bisa egois. Ya, kan?” aku melempa

