Aku menemui Altez di sore hari di sebuah kafe nggak jauh dari kompleks Kemuning, tempat tinggalku. Altez duduk di sebuah sofa tunggal agak jauh dari pintu masuk. Meski letak kafe ini dekat rumahku, baru kali ini aku datang ke sini. Aura me-blacklist kafe ini dalam daftar wisata lidah kami setelah mendengar cerita Sari, tetangga kami, yang minum segelas jus mahal. Aura berteriak histeris menyebutkan harga segelas jus itu yang aku akui harganya memang mengejutkan, tapi suasana kafe ini nggak becanda. Aku serasa masuk ke sebuah taman bunga baik di dalam dan di area luarnya. "Aku lama?" tanyaku begitu duduk di seberangnya. "Nggak masalah. Kamu cantik." Dia memanjangan tangannya dan mengelus pipiku lembut. "Sudah kangen, ya?" godaku. Aku menarik tangannya dan menggenggam tangannya menggunaka

