Aku terbangun dalam pelukan Altez. Nyamannya, pikirku. Setelah semalaman kami memuaskan diri dengan ciuman dan sentuhan yang tak kunjung usai, kami sepakat untuk tidur. Aku yang mengusulkan dan Altez mengiyakan dengan wajah sengsara. Dia pria yang sopan dan manis. Jelas terlihat bahwa Altez nggak akan memaksaku membuka kaki. Aku menggesekan pipi pada lengan Altez yang menjadi bantalku. Hangat otot telanjangnya menyentuhku, menimbulkan perasaan damai. Aku juga merasa senang menemukan lengan kiri Altez melingkar di perutku. Seolah-olah aku begitu terlindungi, begitu aman, dan dipuja. Aku menikmati pemandangan d**a telanjangnya. Altez telah memutuskan tidur dengan jubah mandi adalah kesengsaraan. Kemudian, dia meminta izinku hanya mengenakan celana dalam dan tetap boleh tidur di ranjang ber

