Sudah hampir seminggu Mahdi tidak keluar kamar. Sebelum dirawat selama tiga hari di rumah sakit, ia sudah terbaring lemah di dalam kamarnya selama tiga hari. Sekalinya keluar kamar, ia jalan-jalan menggunakan mobil sedan mewah bersama walikota.
Nasima dan Mahdi duduk di jok belakang. Muna duduk di sebelah Asif. Mereka keluar dari rumah dinas walikota dengan pengawalan ketat kepolisian.
Mahdi memandang kosong keluar jendela. Ingatannya melayang ke masa lalu. Dulu ia pernah merasakan enaknya berada dalam mobil mahal, meskipun tak semewah mobil yang sedang ia tumpangi. Saat itu ia masih menjadi pengusaha kecil sukses yang memiliki lebih dari satu mobil.
Masih jelas dalam benak Mahdi kenangan dua puluh empat tahun silam. Ketika itu ia mengajak Nayla berkeliling kota agar tidak rewel karena terus menanyakan ibunya yang baru meninggal sebulan sebelumnya. Sambil menyetir, ia berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah. Ia yang waktu itu sedang terpuruk akibat kehilangan istri tercinta dan memiliki banyak hutang hingga hampir tiga puluh juta, berusaha tampak baik-baik saja di depan anaknya.
Usahanya mengalihkan pikiran Nayla dari ibunya berhasil. Anak angkatnya itu sangat senang diajak keliling kota. Sepanjang jalan Nayla begitu ceriwis hingga akhirnya ketiduran.
Itu adalah kenangan terakhir Mahdi merasakan indahnya berkendara mobil pribadi bersama Nayla. Begitu mereka sampai ke rumah, dua orang debt collecter telah menunggu. Mahdi menunggak kredit bank selama setahun. Ia tidak memiliki uang untuk membayar tagihan dan terpaksa menjual mobilnya.
"Pak Mahdi mau minum?" Nasima menyodorkan sebotol air mineral kepada Mahdi.
Mahdi terkesiap. Buru-buru ia menerima botol air mineral sambil berusaha mengembangkan senyum. "Terima kasih, Bu."
"Maaf kalau boleh tahu, apa kegiatan bapak sehari-hari?" tanya Nasima.
"Saya berjualan es cendol di pasar," jawab Mahdi. "Tapi beberapa minggu terakhir ini saya tidak bisa jualan karena sakit."
Nasima menunjukkan sikap empati. "Saya turut prihatin."
Mahdi tersenyum. "Terima kasih, Bu, tapi sekarang sudah sehat. Saya harus berterima kasih kepada Pak Baeni yang telah membawa saya ke rumah sakit dan menanggung semua biayanya."
Nasima mengangguk sambil tersenyum bahagia. Sengaja ia tidak memberitahu Mahdi bahwa sebenarnya ia yang menanggung semua biaya pengobatan lelaki itu.
"Saya tidak mengenal Pak Baeni tapi beliau begitu tulus membantu saya. Beliau sunguh berhati mulia," puji Mahdi terharu.
Nasima mengangguk, merespon ucapan Mahdi.
"Kata seorang tenaga medis, Pak Baeni adalah bos anak saya," ujar Mahdi.
Nasima mengerjap. Ia memaklumi ketidaktahuan Mahdi. Ia memang tidak mau Mahdi dan Nayla tahu bahwa dirinya yang membantu mereka.
"Bapak punya berapa anak?" Nasima sebenarnya sudah tahu. Ia hanya ingin mendengar sendiri dari Mahdi.
"Satu, sekarang usianya dua puluh sembilan tahun."
"Laki apa perempuan?"
"Perempuan."
Nasima mengangguk. "Sama dengan saya dong."
Mahdi mengangguk. "Iya."
"Ingin sekali saya bertemu dengan anak Pak Mahdi." Hati Nayla membuncah saat mengatakan itu.
Mahdi tersenyum. "Jika ibu berkenan, saya akan perkenalkan anak saya dengan ibu."
Nasima mematung, menatap Mahdi sambil berusaha menetralisir perasaannya yang terus membuncah.
"Boleh tahu siapa namanya, Pak Mahdi?" tanya Nasima.
"Namanya Nayla," jawab Mahdi. "Lengkapnya Nayla Berlian."
"Nama yang cantik," timpal Nasima. "Bapak pandai sekali memberi nama yang indah."
Mahdi tersenyum. Nama itu bukan dirinya yang memberikan. Saat mengadopsi Nayla, nama itu sudah tercetak dalam akta kelahiran.
"Nayla pasti secantik namanya," ujar Nasima.
Lagi-lagi Mahdi hanya tersenyum, merespon ucapan Nasima.
Suasana di dalam mobil menjadi hening. Nayla sibuk menetralisir buncahan dalam hati. Sementara Mahdi sedang dilanda keheranan.
Mahdi merasa heran kenapa dirinya dipindahkan dari rumah sakit ke sebuah kamar di dalam rumah dinas walikota. Bukan hanya itu saja, ia juga merasa heran kenapa walikota mengajaknya jalan-jalan menggunakan mobil mewah. Menurut logikanya, tidak mungkin semua itu tanpa alasan.
Mahdi ingin sekali mengutarakan perihal tersebut kepada Nasima tapi ia merasa itu tidak sopan kalau ia lakukan. Terpaksa ia memendam kehenanannya tersebut.
Mobil melaju kencang membelah jalan utama kota dengan pengawalan ketat dari kepolisian. Suasana terus hening karena tidak ada satu pun yang bersuara.
Keheningan pecah ketika ponsel Muna berdering. Ada panggilan telepon dari Iron.
Muna menjawab panggilan telepon tersebut. "Halo, Pak Baeni!"
"Kamu berada di mana?" tanya Iron.
"Saya bersama ibu sedang dalam perjalanan menuju rumah pribadi beliau," jawab Muna.
"Aku mau bicara sama ibu," ujar Iron.
"Baik, tunggu sebentar." Muna menoleh ke arah Nasima.
"Siapa?" tanya Nasima memastikan. Ia sudah bisa menebak Iron ingin bicara kepadanya.
"Pak Baeni, Bu!"
Nasima memberi isyarat agar Muna memberikan ponsel kepadanya.
"Silakan, Bu!" Muna memutar setengah badan. Ia menyerahkan ponsel kepada Nasima.
"Ada apa, Iron?" tanya Nasima.
"Nayla siap bertemu ibu," beritahu Iron. "Saya menunggu arahan selanjutmya dari ibu."
Nasima melirik Mahdi yang sejak tadi memandang keluar jendela. "Besok pagi kamu antar dia ke rumah pribadiku. Sekarang kamu ajak dia ke rumah dinas. Biarkan malam ini dia menginap di sana."
"Baik, Bu!"
Nasima mengembalikan ponsel kepada Muna. Selepasnya, ia melirik Mahdi yang tampak khusyuk melihat pemandangan luar.
Nasima buru-buru mengulas senyum ketika Mahdi secara tiba-tiba melirik ke arahnya.
"Semoga Pak Mahdi menikmati perjalanan ini," ucap Nayla.
Mahdi mengangguk sambil mengulas senyum. "Saya sangat menikmatinya, Bu. Jujur ini momen yang barangkali tidak akan bisa saya lupakan."
"Syukurlah," timpal Nasima. "Saya ingin mengajak bapak ke kediaman saya."
Wajah Mahdi semringah, meskipun dalam hati ia semakin merasa heran.
Dari wajah Mahdi, Nasima menangkap ada sesuatu yang sedang mengganjal di hati lelaki itu. "Pak Mahdi nggak keberatan kan?"
Buru-buru Mahdi menggeleng. "Tentu saja saya sangat merasa tersanjung."
Nasima tersenyum lega.
Mahdi menunduk. "Hanya saja, terus terang saya merasa heran dengan situasi ini."
Nasima mengerjap. "Kalau boleh tahu heran kenapa ya, Pak?"
Mahdi menatap Nasima bimbang. "Ibu adalah seorang walikota yang pasti sangat sibuk, tetapi masih sempat mengajak saya jalan-jalan, bahkan mengajak saya mengunjungi kediaman ibu."
Pipi Nasima bersemu merah. Ia sedikit kelabakan untuk menjawabnya. Namun ia adalah seorang walikota yang sudah terbiasa menghadapi segala situsi. "Ini adalah bentuk ungkapan terima kasih saya kepada bapak."
Mahdi terhenyak. Ia merasa tidak pernah memberi kontribusi apa pun yang sekiranya layak membuat Nasima berterima kasih padanya.
Nasima menangkap keterkejutan pada wajah Mahdi. "Saya akan jelaskan nanti setelah kita sampai di rumah, Pak."
Mahdi mengangguk senang karena perasaan heran dalam hatinya akan terjawab.
***
Untuk kesekian kalinya Sisca menonton rekaman video pada ponsel yang ia dapatkan dari Nayla. Darahnya mendidih mengingat kejadian itu.
Sisca masih tidak habis pikir kenapa tadi siang ia bisa terjebak dalam permainan Nayla. Tadinya ia pikir rencananya akan berhasil karena sudah menyiapkannya dengan matang. Sayangnya, situasi menjadi berbalik menyudutkannya.
Satu-satunya yang membuat Sisca sedikit lega adalah ponsel berisi rekaman video itu berhasil ia dapatkan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika rekaman video itu jatuh ke media.
"Sayang!"
Sisca buru-buru menyenbunyikan ponsel ke dalam laci meja ketika menyadari kedatangan ayahnya.
"Papi ngagetin aja!" Sisca merajuk manja. "Papi kok nggak mengetuk pintu dulu sih?"
Ferdy mengernyit. "Papi mengetuk pintu berkali-kali tapi nggak ada sahutan. Ya sudah papi langsung masuk saja."
Sisca bangkit dari duduk. "Kita mgobrol di sana saja, Pi!"
Ferdy mengangguk. Ia menuju ke sofa dan duduk sambil menyilangkan kaki. Sisca menyusul, duduk di sebelahnya.
"Papi kok tumben ke sini?" Sisca menggerai rambutnya ke belakang. "Mana nggak ngabarin dulu pula!"
Ferdy terkekeh. "Nggak dateng salah, dateng malah tambah salah."
"Ih, Papi, siapa yang menyalahkan!" sanggah Sisca manja.
Kekehan Ferdy semakin menjadi. "Mami kangen sama kamu katanya."
Sisca cemberut. Ia merasa sebal. "Mami mah cuman kangen sama Eropa. Ia lebih sering mengunjungi Inggris, Perancis, Jerman, dan belanja barang-barang branded ketimbang mengunjungi anak semata wayangnya yang terdampar di kota menyebalkan ini."
Ferdy mengusap rambut Sisca lembut. "Mami kan ke Eropa dalam rangka perjalanan dinas, Sayang."
Penjelasan Ferdy belum sanggup mengurangi perasaan sebal dalam hati Sisca.
"Jangan cemberut begitu dong!" bujuk Ferdy. "Papi ke sini karena mau mengabarkan berita gembira."
Sisca mengerjap senang. "Serius?"
"Serius dong!" Ferdy meyakinkan Sisca.
Sisca penasaran. "Apa kabar gembiranya?"
Ferdy tersenyum penuh arti. "Coba tebak?"
Sisca kembali cemberut. "Ih, Papi nggak asyik, pakai acara main tebak-tebakan segala!"
Ferdy tertawa melihat wajah lucu anak semata wayangnya itu.
"Ayo buruan!" Sisca semakin penasaran.
Ferdy menghela napas senang. Senyumnya terkembang. "Papi sudah berhasil meyakinkan ketua umum bahwa Amando, calon tunanganmu itu paling layak untuk dicalonkan sebagai walikota dari partai kita."
Spontan Sisca terkejut senang. Wajahnya semringah. "Serius, Pi?"
Ferdy mengangguk. Senyumnya terus terkembang. Ia bahagia melihat anaknya senang.
"Tapi bukannya pengurus cabang sudah punya nama lain ya?" ujar Sisca heran.
"Kalau ketua umum sudah menentukan, pengurus cabang bisa apa?" Ferdy terkekeh.
Sisca masih belum merasa senang sepenuhnya. "Tapi elektablitas Amando belum begitu banyak."
Ferdy mengacak rambut Sisca. "Masih ada waktu untuk mendongkrak elektabikitas Amando. Lagipula incumbent juga elektabilitasnya perlahan terus merosot."
Sisca mulai tenang mendengar penjelasan ayahnya. Ia segera memeluk Ferdy. "Papi hebat. Aku semakin sayang sama papi."
Ferdy tersenyum bahagia. Apa pun akan ia lakukan demi anak semata wayangnya.