Takjub

1447 Kata
Nayla merasa heran kenapa Iron mengajaknya masuk ke rumah dinas walikota melalui jalan rahasia. Mobil mereka terparkir di depan sebuah bangunan mirip pos satpam. Situasi di area tersebut sangat sepi, namun ia melihat banyak kamera pengawas yang ditempatkan di beberapa titik.  Setelah turun dari mobil, Iron langsung menarik tangan Nayla, memasuki bangunan tersebut. Mereka menuruni anak tangga menuju sebuah ruangan bawah tanah.  Sampai di sebuah ruangan bawah tanah berukuran 5x5, Nayla melepaskan tangan Iron. "Sebenarnya kita mau ke mana sih?"  Iron menggamit lengan Nayla agar berjalan ke sebuah pintu lift. "Aku kan sudah bilang kita akan ke rumah dinas walikota."  Meskipun merasa bingung, Nayla menurut saja dirinya digandeng menuju pintu lift.  Iron menggesekkan sebuah kartu seukuran ATM ke sebuah alat mirip EDC. Pintu lift langsung terbuka.  "Ayo masuk!" ajak Iron.  Nayla menatap ruangan lift ragu.  "Aku nggak akan mencelakakanmu!" hardik Iron sambil melangkah ke dalam lift.  Nayla ragu bukan karena tidak mempercayai Iron tapi karena ia bingung akan diajak ke mana.  Karena kelamaan, Iron menarik tangan Nayla. Gadis itu pun masuk lift dengan sedikit terhuyung.  "Maaf, bukan bermaksud kasar. Pintu akan segera menutup otomatis," dalih Iron menjelaskan.  Benar saja. Pintu lift tertutup otomatis.  Iron mengacungkan kartu ke arah Nayla. "Hanya dengan ini, lift itu bisa terbuka. Aku sudah berada di dalam. Kalau kamu masih berada di luar saat pintu itu menutup, maka kamu akan sendirian di luar sana."  Nayla berusaha mempercayai Iron, meskipun dalam hati merasa sebal akibat tangannya ditarik Iron tadi.  Kurang dari dua menit lift berhenti. Iron menggesekkan kartu di tangannya ke sebuah panel.  Pintu terbuka otomatis. Nayla takjub ketika menyaksikan di hadapannya tampak sebuah taman yang sangat asri. Ada banyak jenis bunga dan tanaman yang tertata dengan rapi. Di pusat taman ada sebuah air mancur yang bisa membentuk berbagai formasi.  Iron tidak mau merusak suasana hati Nayla. Ia membiarkan gadis itu mematung penuh ketakjuban.  Nayla melangkah, keluar dari lift. Pandangannya terus berkeliling, menikmati indahnya taman.  Iron keluar dari lift. Ia menunggu Nayla sampai merasa puas dalam menikmati taman.  "Kita berada di lantai berapa?"  "Ini rooftop," jelas Iron.  Nayla berjalan sambil terus memperhatikan pemandangan di sekitarnya. Iron mengekor, membiarkan gadis itu hanyut dalam ketakjuban.  Rooftop ini cukup luas. Di sebelah taman ada sebuah helikopter yang sedang terparkir di atas sebuah tanda berbentuk 'H'.  Nayla mendekati helikopter dan mengelilinginya. Sesekali tangannya mengusap badan helikopter dengan penuh ketakjuban. Seumur-umur, baru kali ini ia menyentuh helikopter.  "Kapan-kapan, aku akan mengajakmu menjelajahi angkasa kota dengan helikopter itu!" ujar Iron.  Nayla menoleh setengah tidak percaya. "Memangnya ini helikopter siapa?"  Iron hanya tersenyum, tanpa menjawab sepatah kata pun atas pertanyaan Nayla.  Nayla sebenarnya sebal kepada Iron karena mengabaikan pertanyaannya, namun ia berusaha sabar. Ia tidak mau suasana hatinya rusak hanya gara-gara sikap pemuda itu.  Nayla melanjutkan langkahnya. Kali ini ia tertarik kepada beberapa set meja kursi yang di atasnya tertutup payung besar. Ia membayangkan betapa indahnya seandainya duduk di sana pada malam hari, menikmati secangkir kopi sambil menyaksikan bintang-bintang dan rembulan.  Iron melirik arloji pada pergelangan tangannya. Sejam lagi ia ada acara. Ia harus segera menyelesaikan urusan dengan Nayla. Ia menelepon Vee.  "Kamu di mana, Vee?" tanya Iron.  "Saya sudah ready, Tuan!" jawab Vee.  "Bagus!" Iron mengakhiri panggilan teleponnya.  "Sekarang kita mau ke mana?" tanya Nayla setelah puas menikmati pemandangan yang berada di rooftop ini.  Alih-alih menjawab, Iron meninggalkan Nayla menuju sebuah ruangan yang dindingnya dipenuhi kaca.  Perasaan senang Nayla berubah menjadi sebal karena sikap Iron. Ia berjalan cepat, menyusul pemuda itu.  "Telinga kamu bermasalah ya?" Nayla mengatur napas sambil melirik sebal kepada Iron.  Iron membuka pintu kaca dengan cara menggesernya. Ia menoleh kepada Nayla. "Tadi kamu tanya kita akan ke mana bukan?"  Nayla melengos, masih sebal.  "Nah ini jawabannya!" ujar Iron. Ia memasuki ruangan tersebut.  Nayla ikut masuk. Lagi-lagi ia dibuat takjub dengan banyaknya jenis anggrek yang tergantung pada plafon.  Vee tergopoh menyambut Iron dan Nayla. "Selamat datang Tuan Iron dan Nona Nayla!"  Nayla menoleh ke arah Vee, kaget karena perempuan gemuk itu selalu berada di mana-mana.  Vee mendekati Nayla. "Mari ikut saya, Nona Nayla."  Nayla melirik Iron bingung.  "Ikuti saja, Vee. Ia akan mengurus semua keperluanmu!" ujar Iron.  Nayla menggeleng. "Aku pengen ketemu ayah!"  Iron memegang bahu Nayla. "Ayahmu baik-baik saja. Beliau sekarang sedang di rumah bosku. Besok aku antar kamu ke sana."  "Tapi aku ingin ketemu ayah!" Nayla bersikeras. Ia mengkhawatirkan ayahnya.  Iron mendesah sambil mengangguk. "Oke, aku tahu kamu mengkhawatirkan ayahmu. Biar kamu merasa tenang, silakan telepon kontak bernama 'Muna' dalam ponselmu. Ia adalah asisten pribadi bosku. Bilang padanya kamu ingin bicara dengan ayahmu."  Nayla mendengus karena belum bisa bertemu ayahnya. Meskipun demikian, ia masih bisa berbicara dengan ayahnya itu.  Nayla mengambil ponsel dari saku celana. Ia mencari kontak bernama 'Muna'. Setelah menemukannya, ia segera menelepon asisten bos Iron tersebut.  Panggilan telepon Nayla langsung terjawab.  "Selamat sore, Nona Nayla. Saya Muna. Ada yang bisa saya bantu?"  "Mbak, aku ingin bicara dengan Pak Mahdi, ayahku." Nayla langsung ke tujuan.  "Baik, mohon ditunggu sebentar," pinta Muna.  "Sebentar, Mbak!" cegah Nayla. "Mmhh, saya mau tanya sesuatu."  "Nona Nayla mau tanya apa?"  "Mmhh, boleh tahu siapa bos kamu?"  "M-maaf, Nona tanya siapa bos saya?" Muna bingung karena ia tidak terbiasa memanggil Nasima dengan sebutan 'Bos'.  Nayla menangkap kebingungan dari ucapan Muna. "Iya, bos atau atasan kamu."  "Atasan saya adalah Pak Baeni, Nona."  Nayla menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Ia melirik Iron yang sedang berdiri di dekatnya. "Pak Baeni bilang kamu adalah asisten bos beliau. Jadi kalau boleh tahu siapa bos Pak Baeni?"  Iron mendengus, mendengar Nayla bertanya perihal bosnya kepada Muna.  "Pak Baeni bekerja sebagai kepala staf pribadi walikota." Muna menjelaskan.  Nayla mengerjap sambil melirik Iron. "Jadi bisa disebut kalau bos Pak Baeni adalah ibu walikota?"  "Benar, Nona."  Sekarang Nayla menemukan benang merah antara kenapa dirinya sekarang berada di rumah dinas walikota dan ayahnya berada di rumah kediaman walikota. Hanya saja ia masih belum mengerti kenapa walikota begitu baik hati membantunya dan ayahnya.  "Mohon maaf, kalau tidak ada lagi yang ingin nona tanyakan, saya akan sambungkan nona dengan Pak Mahdi," ujar Muna.  "Iya, tolong sambungkan dengan ayah saya," timpal Nayla.  "Baik, mohon ditunggu sebentar," pinta Muna.  Sambil menunggu, Nayla melirik Iron. Yang dilirik melengos.  "Halo, Nona Nayla. Silakan bicara dengan Pak Mahdi...." ucap Muna.  "Halo Nayla." Mahdi mengambil alih ponsel Muna.  Perasaan lega langsung memenuhi hati Nayla setelah mendengar suara ayahnya. "Ayah baik-baik saja kan?"  "Ayah baik-baik saja," jawab Mahdi riang. "Kamu sehat kan?"  "Sehat, Ayah."  "Ayah tadi diajak jalan-jalan sama ibu walikota," beritahu Mahdi bangga. "Sekarang ayah sedang beristirahat di kediaman pribadi beliau."  Nayla terkekeh bahagia sekaligus heran. "Kok bisa?"  "Ayah juga merasa heran kenapa bisa begitu," timpal Mahdi. "Tadi ayah sudah mengutarakan keheranan kepada beliau."  "Terus apa kata beliau?"  "Beliau bilang katanya beliau melakukan itu sebagai bentuk ungkapan terima kasih."  Nayla menjadi bingung. "Terima kasih untuk apa?"  "Ayah belum tahu tapi beliau berjanji akan menjelaskannya nanti," beritahu Mahdi.  "Begitu ya?" Nayla merasa lega karena tidak lama rasa penasarannya akan terjawab. "Oh iya, aku curiga sesuatu?"  "Curiga apa?"  Nayla melirik Iron. "Sepertinya yang membiayai pengobatan ayah adalah ibu walikota."  "Kenapa kamu curiga begitu?"  "Pak Baeni adalah kepala staf pribadi walikota. Aku menduga semua yang dilakukannya atas suruhan bosnya itu."  "Begitu ya?"  "Iya, coba ayah tanyakan kepada ibu walikota. Sampaikan terima kasih kepada beliau."  "Iya, nanti ayah akan sampaikan."  Iron menatap Nayla sambil terus menguping gadis itu.  "Sekarang kamu di mana?" tanya Mahdi.  "Aku sekarang ada di rumah dinas walikota."  "Lho padahal tadi siang ayah ada di sana." Mahdi terkekeh.  "Aku baru sampai beberapa menit lalu."  "Ya sudah, kamu baik-baik ya di sana. Jangan bertingkah aneh." Mahdi memberi nasehat.  "Iya, ayah juga baik-baik di sana ya?"  "Iya."  "Besok aku akan menemui ayah di sana," beritahu Nayla.  "Syukurlah," ucap Mahdi merasa bahagia.  "Sudah dulu ya, Yah. Nggak enak kalau kelamaan," ujar Nayla. "Sekarang kasihkan ponselnya kepada Muna. Aku mau bicara kepadanya."  "Iya." Mahdi memberikan ponsel kepada Muna. "Anak saya mau bicara kepada Mbak Muna."  Muna mengambil alih ponsel dari tangan Mahdi. "Halo, Nona Nayla."  "Halo, Mbak Muna, terima kasih ya," ucap Nayla.  "Sama-sama, Nona."  "Tolong titip ayah saya ya, Mbak?"  "Iya, Nona. Saya akan pastikan ayah nona baik-baik saja."  "Sekali lagi terima kasih," ucap Nayla.  "Iya, Nona."  Panggilan telepon berakhir. Nayla memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celananya.  Iron mendekati Nayla. "Bagaimana, sudah merasa lega kan?"  Nayla mengangguk. Ia beranikan diri menatap Iron. "Terima kasih, Pak Baeni."  Iron mendengus sebal. "Sudah kubilang, panggil aku 'Iron' saja!"  Nayla tersenyum puas melihat wajah sebal Iron.  "Aku ada pekerjaan lain. Kalau kamu perlu sesuatu, jangan ragu sampaikan sama Vee," ujar Iron.  Nayla mengerjap. "Oke."  Vee mendekati Nayla. "Mari saya antar Nona ke kamar."  Nayla menoleh. "Sebentar!" Ia ingin melihat kepergian Iron.  Iron menatap Nayla sejenak sebelum akhirnya berlalu dari hadapan Nayla.  Nayla memandangi punggung Iron yang terus bergerak menjauh. Ada perasan aneh sedang menggelisahkan hatinya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN