Janji Nasima

1556 Kata
Selama hidup, ini adalah makan malam paling mengesankan bagi Mahdi. Ia dijamu walikota layaknya tamu penting.  Sebuah meja bundar yang bagian tengahnya bisa diputar membuat Mahdi takjub. Tangannya tidak perlu menjangkau tempat yang sulit setiap kali mengambil lauk yang diinginkannya. Ia hanya perlu menggeser bagian tengah meja tersebut.  Begitu mewah dan banyak sekali varian menu yang terhidang membuat Mahdi bingung. Akhirnya ia hanya memilih ayam bakar, lalapan dan sambal. Menu itu ia pilih karena tidak mengandung santan. Minggu lalu kolesterolnya tinggi dan asam uratnya kambuh. Sehingga ia merasa harus bijak memilih makanan.  Tidak banyak obrolan berat selama Mahdi dan Nasima menyantap hidangan makan malam. Nasima lebih banyak bercerita tentang kecelakaan kecil yang membuat kaki kanannya cidera.  Tujuh hari lalu, Nasima mengalami kecelakaan ketika sedang sepedaan di area rumah dinas walikota. Sepedanya ambruk karena membentur pagar besi. Itu terjadi karena Nasima banyak melamun, memikirkan setumpuk persoalan berat yang sedang dihadapinya, membuatnya tidak bisa konsentrasi.  Akibat kecelakaan tersebut, Nasima mengalami cidera pada bagian paha. Ia menjalani operasi di Gerard Hospital. Namun ia masih harus menjalani operasi lanjutan. Dokter menyarankan dirinya harus menggunakan kruk penyangga atau kursi roda untuk berjalan.  Nasima sudah mencoba menggunakan kruk penyangga tapi ia merasa kesakitan setiap kali berjalan. Akhirnya ia menggunakan kursi roda.  Sejak itu Nasima belum pernah tampil di hadapan publik, bekerja hanya dari kantor saja. Ia juga terpaksa menunda acara kunjungan-kunjungan yang sudah terjadwal sebelumnya.  Nasima menceritakan semua itu kepada Mahdi layaknya seorang anak yang sedang berkeluh kesah kepada orang tuanya. Sudah sangat lama ia tidak merasakan kehangatan orang tua. Meskipun Mahdi adalah orang yang baru dikenalnya tetapi ia merasa lelaki itu orang yang penuh kasih. Ia hampir pernah menjadi anaknya Mahdi.  Selepas makan malam, Nasima mengajak Mahdi bersantai di ruang keluarga.  "Selain kepada staf pribadi dan dokter, saya baru menceritakan peristiwa kecelakaan itu kepada Pak Mahdi," beritahu Nasima.  Mahdi tersenyum haru. "Saya merasa tersanjung."  "Sebenarnya saya masih harus menjalani operasi lanjutan," beritahu Nasima. "Rencananya minggu depan di Gerard Hospital, tapi dokter pribadi saya menyarankan lebih baik saya menjalaninya di Singapura."  Mahdi mengangguk, mendengar penuturan Nasima dengan antusias.  "Itu membuat saya harus meninggalkan pekerjaan minimal selama dua minggu." Nasima mendesah berat. "Itu sangat berat buat saya."  "Ibu seorang pekerja keras. Barangkali itu yang membuat ibu merasa berat harus meninggalkan pekerjaan," ujar Mahdi.  Nasima tersenyum sedih. "Kalau tugas-tugas pemerintahan masih bisa dikendalikan wakil saya. Saya percaya kepada beliau. Yang membuat saya cemas adalah persoalan politik yang sedang memanas menjelang pemilihan walikota tahun depan."  Mahdi tidak begitu mengerti persoalan politik, tapi ia memahami kegelisahan Nasima.  "Saya harus tetap tampil di hadapan publik. Apalagi sekarang saya sedang dihadapkan pada masalah pembebasan lahan yang nggak kelar-kelar," keluh Nasima. "Persoalan itu sebenarnya sederhana. Manuver politik lawanlah yang membuatnya menjadi rumit."  Mahdi mencoba mencerna maksud ucapan Nasima. Meskipun ia hanya orang miskin tetapi ia pernah merasakan bangku kuliah. Sehingga ia bisa menangkap kegelisahan Nasima.  "Lawan politik saya sangat gencar menggiring opini bahwa projek pembebasan lahan itu bermasalah. Mereka menghasut segelintir pemilik tanah yang belum menyepakati harga untuk menolak. Kalau situasinya begini terus maka proyek yang seharusnya berjalan menjadi tersendat dan mereka akan semakin giat menciptakan framing kalau saya gagal menjadi walikota. Bukan hanya saya saja yang kena dampaknya tapi masyarakat pada umumnya."  "Saya memahami kegelisahan ibu," timpal Mahdi.  "Terima kasih, Pak," ucap Nasima. "Intinya saya harus tetap tampil di publik."  Mahdi mengangguk paham.  Nasima mengusap wajah menggunakan kedua telapak tangan. "Seandainya kedua orang tua saya masih hidup, pasti saya tidak segelisah ini."  Mahdi menatap Nasima penuh empati.  Nasima tersenyum dengan perasaan tidak enak hati. "Maaf saya curhat terus sejak tadi."  Mahdi tersenyum bijak. "Tidak apa-apa, Bu. Saya siap menjadi pendengar jika ibu berkenan."  "Bapak sangat baik," puji Nasima. "Beruntung sekali Nayla memiliki ayah sebaik Pak Mahdi."  Mahdi menunduk, merasa risih dipuji Nasima. "Saya hanya seorang ayah kebanyakan. Bahkan saya selalu merasa belum bisa membahagiakan anak saya."  "Bapak merendah," timpal Nasima.  Mahdi terkekeh. Ia menjadi salah tingkah.  "Sejujurnya, saya membutuhkan bantuan bapak," ucap Nasima berhati-hati.  Mahdi mengerjap kaget. "Apa yang bisa saya bantu untuk ibu?"  Nasima mematung sejenak. Ia berpikir, mencari kata yang tepat. "Tapi sebelum saya mengatakannya, sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada bapak."  Mahdi menjadi teringat pada janji Nasima tadi sore di mobil. "Terima kasih untuk apa ya, Bu? Jujur saja saya merasa belum pernah melakukan sesuatu untuk ibu. Justru ibu yang sudah banyak membantu saya."  "Bantuan saya belumlah seberapa dibanding dengan apa yang telah bapak lakukan," ucap Nasima.  Mahdi menjadi bingung.  "Bapak pasti bingung maksud saya bukan?" tebak Nasima.  Reflek Mahdi mengangguk.  "Boleh saya bertanya beberapa hal yang sangat privasi kepada bapak?"  Tanpa berpikir panjang Mahdi mengangguk. "Silakan, Bu."  Nasima menarik napas panjang. "Apakah Nayla anak kandung bapak?"  Mahdi mematung, tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu. Ia merasa itu adalah hal pribadi, namun ia tidak sampai hati jika menolak menjawabnya. Sehingga demi apa yang telah Nasima berikan kepadanya, ia dengan ikhlas akan menjawabnya.  Mahdi menarik napas panjang, kemudian melepaskannya perlahan. "Sebenarnya Nayla adalah anak angkat. Saya mengadopsinya dari sebuah panti asuhan ketika ia masih berusia dua tahun."  Nasima menatap Mahdi lekat-lekat. Perasaannya mulai bergejolak. "Anak berusia dua tahun berada di panti asuhan. Apa bapak tahu latar belakangnya sehingga Nayla bisa sampai di panti asuhan tersebut?"  Mahdi menggeleng dengan ekspresi menyesal. "Salah satu pengurus hanya cerita kalau Nayla dan saudara kembarnya dititipkan ke panti oleh petugas dari dinas sosial sejak usianya baru seminggu. Ceritanya, ibu bayi kembar itu melahirkan mereka di sebuah rumah sakit. Dua hari setelah persalinan itu ibunya meninggalkan kedua bayi tersebut."  Sepasang mata Nasima sembab. "Mereka anak kembar?"  Mahdi mengangguk. "Benar, Bu. Waktu tahu mereka adalah saudara kembar, saya langsung mengutarakan kepada pengurus panti bahwa saya akan mengadopsi keduanya. Namun sayangnya status saudara kembar Nayla sudah diadopsi orang lain."  Nasima menarik tisu dari boks. Ia menggunakannya untuk menyeka air matanya yang belum sempat jatuh.  "Sebenarnya saya tidak tega memisahkan mereka, tapi di samping saudara kembar Nayla sudah diadopsi orang lain, juga istri saya hanya menginginkan Nayla," dalih Mahdi mengenang peristiwa waktu itu.  Nasima mengangguk paham. "Apa Nayla tahu kalau ia bukan anak kandung bapak dan memiliki saudara kembar?"  Mahdi mengangguk. "Sejak awal saya sudah memberitahunya."  "Bagaimana reaksi Nayla ketika mengetahui itu?"  Sepasang mata Mahdi berkaca-kaca. "Waktu kecil, Nayla tidak banyak bertanya soal siapa orang tuanya dan di mana saudara kembarnya. Namun begitu remaja, ia berusaha mencari tahu."  Nasima mematung. Air matanya mengalir, tidak kuat menahan gejolak dalam hati.  "Saya sudah berusaha dan sampai sekarang pun terus berusaha mencari tahu identitas orang tua kandung dan saudara kembar Nayla. Sayangnya belum berhasil. Itu membuat saya merasa bersalah. Saya sering menyalahkan diri sendiri, kenapa tidak melakukannya sejak dulu waktu panti asuhan itu masih ada."  "Pak Mahdi tidak bersalah. Justru menurut saya, bapak telah berjasa mengadopsi Nayla," hibur Nasima.  "Nayla pun mengatakan kepada saya seperti itu," tukas Mahdi. Air matanya terus mengalir. "Tapi saya tetap merasa bersalah."  Nasima mengangguk. "Saya memahami kegelisahan bapak."  Mahdi mengusap bekas air mata di kedua pipinya. "Saya tidak pernah menyerah untuk terus mencari tahu identitas kedua orang tua Nayla dan mencari keberadaan saudara kembarnya. Saya akan melakukan apa pun demi itu. Sebelum mati, saya ingin menyaksikan Nayla tersenyum bahagia karena bertemu dengan saudara kembarnya."  "Semangat, Pak Mahdi." Nasima menyungging senyum tulus sebagai bentuk menyemangati.  Mahdi terkekeh sambil menangis. "Semangat saya sangat besar tapi apa daya fisik saya sudah semakin lemah. Kondisi ekonomi juga membuat saya sulit melakukan banyak hal."  Nasima memutar roda kursinya lebih mendekat kepada Mahdi. "Boleh saya memegang tangan bapak?"  Mahdi terhenyak. Bukan berarti ia tidak mau tangannya dipegang Nasima, ia hanya merasa canggung diperlakukan seperti itu oleh seorang walikota.  "Kalau bapak nggak berkenan juga nggak papa," ujar Nasima. "Saya hanya ingin menguatkan hati bapak."  Mahdi tersenyum. "Ibu sangat baik. Saya sangat terharu dan tersanjung atas semua kebaikan ibu."  Nasima tersenyum. "Saya sudah menganggap Pak Mahdi seperti ayah sendiri."  Mahdi kembali menangis terharu. "Terima kasih, Bu."  "Saya mohon jangan memanggil 'Bu'. Panggil nama saja," pinta Nasima.  Mahdii menggeleng pelan. "Kalau memanggil nama, berarti saya kurang ajar."  Nasima mendesah pelan. Ia memahami maksud Mahdi. Ia pun tidak mau memaksakan diri.  "Nasib saya sama dengan Nayla," ujar Nasima. "Bedanya Nayla memiliki ayah yang hebat seperti bapak."  Mahdi mengerjap bingung.  Nasima tersenyum pedih. Ingatannya melayang ke masa lalu. "Saya juga berasal dari panti asuhan dan tidak tahu siapa kedua orang tua saya. Saya diadopsi sepasang suami istri yang kerap kali bertengkar. Waktu saya SMP, mereka berpisah. Saya ikut ayah karena ibu angkat saya menikah lagi dengan pria lain."  Mahdi terhenyak, tidak menyangka kalau Nasima berasal dari panti asuhan.  "Waktu SMA, ayah angkat saya meninggal karena sakit," kenang Nasima. "Selanjutnya saya tinggal bersama paman, adik dari ayah angkat saya. Berkat beliau saya bisa menjadi seperti sekarang ini."  Mahdi tersenyum. "Luar biasa ayah dan paman ibu."  Nasima mengangguk sepakat. "Meskipun saya bukan darah daging mereka, tapi mereka menyayangi saya setulus hati. Itulah kenapa saya selalu mengagumi orang-orang seperti Pak Mahdi."  Mahdi mengangguk penuh rasa syukur.  Nasima menatap Mahdi. "Saya berjanji akan bantu bapak untuk mempertemukan Nayla dengan saudara kembarnya."  Mahdi menatap Nasima penuh haru. "Ibu sangat baik kepada saya. Saya tidak tahu bagaimana caranya untuk berterima kasih."  "Saya akan tepati janji tersebut," ucap Nasima mantap. "Dan itu bukan seperti janji ketika saya kampanye pada pemilihan walikota."  Mahdi terkekeh mendengar kalimat terakhir Nasima. "Saya percaya kepada ibu. Jika nanti Nayla akhirnya bisa bertemu dengan saudara kembarnya berkat ibu, saya akan melakukan apa saja untuk membalas budi kepada ibu."  Nasima mengulas senyum sambil menahan gejolak dalam hati. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN