Nayla duduk malas di depan cermin. Jika bukan karena Vee memohon, ia pasti akan menolak dirias.
"Siapa yang menyuruh kamu, Vee?" Nayla melirk Vee melalui cermin.
"Tuan Iron," jawab Vee sambil memasang bandana kain untuk menahan poni.
"Siapa yang menyuruh Iron?" Nayla menoleh kepada Vee.
"Kalau itu saya tidak tahu. Saya bekerja atas intruksi Tuan Iron." Vee merapikan bandana. "Mohon jangan banyak bergerak."
Nayla kembali menatap cermin. "Iron disuruh ibu walikota bukan?"
Melalui cermin Vee tersenyum kepada Nayla. "Maaf, saya nggak tahu, Nona."
Nayla sebenarnya malas dirias tapi jika ia menolak, ia khawatir Vee akan kena marah Iron.
Nayla mendengus pasrah. "Kamu juga pasti nggak tahu kan kenapa aku dirias malam hari?"
Vee mengangguk bohong. Ia tahu tujuan merias Nayla malam ini, tapi ia tidak mungkin berkata jujur karena Iron melarangnya untuk banyak bicara selain soal yang menyangkut teknis pekerjaannya.
Vee menuangkan milk cleanser dari botol ke telapak tangan kirinya. Dengan menggunakan jari-jari tangan kanan, ia mengoleskan s**u pembersih tersebut ke beberapa titik pada wajah Nayla, kemudian meratakannya.
"Apa tuanmu itu mau mengajakku ke sebuah acara?" tebak Nayla.
"Enggak, Nona," jawab Vee sambil terus meratakan s**u pembersih ke seluruh wajah Nayla.
Nayla melirik Vee melalui cermin. "Jadi aku nggak akan ke mana-mana?"
"Enggak, nona akan tetap berada di sini sampai besok pagi." Vee memperhatikan wajah Nayla, memastikan seluruh wajah Nayla telah dibersihkan secara merata.
Nayla mendengus. "Kalau nggak akan ke mana-mana, kenapa aku dirias?"
Vee menggeleng. "Biar Tuan Iron yang menjelaskannya kepada Nona Nayla."
Nayla mengeluh dalam hati karena semua orang sepertinya sedang berkonspirasi untuk 'melakukan sesuatu' kepadanya.
Tidak mau terpojok oleh pertanyaan-pertanyaan Nayla, Vee segera mengalihkan topik. "s**u pembersih ini mengandung ekstrak lemon, cocok untuk kulit wajah nona yang berminyak."
Nayla tahu Vee sedang mengalihkan pembicaraan. Meskipun merasa sebal, ia tetap memakluminya karena tahu perempuan gemuk itu hanya menjalankan tugasnya.
"Memangnya apa faedahnya?" tanya Nayla basa-basi.
"Untuk mencegah timbulnya jerawat," jawab Vee. "Selain untuk membersihkan wajah tentunya."
Nayla mengerjap paham.
Vee mencuci wajah Nayla menggunakan facial foam. Nayla pasrah saja dengan apa yang dilakukan perempuan gemuk itu.
"Nona boleh memejamkan mata," ujar Vee. Ia mengeringkan wajah Nayla menggunakan handuk lembut secara merata.
"Sudah?" tanya Nayla berharap setelah wajahnya bersih semuanya akan selesai.
Vee memperhatikan wajah Nayla teliti. "Itu baru langkah awal, Nona."
Nayla mendengus. "Sampai kapan?"
Vee tersenyum, memaklumi kegelisahan Nayla. "Sampai nona mencoba sebuah baju."
"Astaga, aku bisa ketiduran di kursi ini!" keluh Nayla.
Lagi-lagi Vee hanya merespon dengan senyum. Dalam hati ia bersyukur karena meskipun Nayla tampak tidak nyaman, tapi tetap kooperatif.
Nayla mendongak sambil memasang wajah protes kepada Vee. "Sekarang apa lagi?"
"Moisturizer!" jawab Vee.
"Apa lagi itu?" desah Nayla, membayangkan wajahnya akan kembali menjadi bahan mainan Vee.
"Moisturizer itu untuk menjaga wajah tetap lembab, agar make up bisa melekat sempurna."
Nayla melirik Vee, protes. "Jadi make up-nya masih lama?"
"Enggak juga, hanya membutuhkan waktu beberapa saat saja," jawab Vee agar Nayla merasa tenang.
Nayla berpikir 'beberapa saat' yang dimaksud Vee pastilah lama. Sungguhpun begitu ia pasrah saja.
"Setelah make up, aku harus makai gaun apa?" tanya Nayla penasaran.
"Nanti Nona Nayla juga tahu," ujar Vee diplomatis.
"Pasti sangat perempuan bukan?" keluh Nayla.
Vee hanya menjawab dengan senyum.
Nayla mendesah panjang. "Ya sudah lanjutkan tugasmu. Aku nurut aja sampai semuanya selesai. Aku juga kan nggak tahu soal merias."
"Baik, Nona!" sahut Vee merasa lega.
Sebenarnya Nayla tahu langkah-langkah dalam merias wajah. Beberapa kali ia pernah melakukannya sendiri berdasarkan tutorial Youtube. Semuanya membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Dalam hati ia mengeluh kenapa dirinya bisa setomboy ini. Sejak kecil ia tidak terbiasa menggunakan rok atau baju perempuan pada umumnya. Ia lebih nyaman mengenakan kaos yang dipadukan celana jeans. Untuk acara resmi pun ia jarang sekali mengenakan gaun.
Ketika teman-teman sebayanya begitu memperhatikan penampilan, Nayla santai-santai saja. Ia tetap merasa percaya diri dengan gaya tomboynya.
Nayla pernah berusaha mengurangi penampilan tomboynya dengan belajar mengenakan baju-baju perempuan. Ia juga belajar menggunakan make up. Semua ia lakukan karena menuruti Amando. Demi cintanya kepada lelaki itu ia rela mengubah kebiasaan.
Usaha Nayla mengubah penampilan agar lebih feminin bisa dibilang berhasil. Meskipun itu membuatnya merasa kurang nyaman, tapi ia mulai paham bagaimana seharusnya perempuan berpenampilan. Ia juga paham cara menggunakan make up.
Sedikit demi sedikit Nayla bisa menerima perubahan diri dan kebiasaan hidupnya. Ia bahkan sempat berpikir tidak ada salahnya dirinya menjadi feminin. Ia belajar keras untuk itu. Sayangnya, ekspektasi Amando terlalu tinggi. Lelaki itu tidak sabar dan menuntut dirinya berubah drastis. Sehingga ia yang sedang belajar menjadi lebih feminin terpaksa harus patah semangat ketika lelaki itu tiba-tiba memutuskan cinta secara sepihak.
Mulai malam ini Nayla bertekad untuk menumbuhkan kembali usahanya untuk menjadi perempuan feminin. Ia ingin menunjukkan kepada Amando bahwa dirinya bisa menjadi 'perempuan'. Sehingga meskipun awalnya ia malas dirias, lama-lama ia mulai bersemangat.
Nayla ingin Amando menyesal telah memutuskannya hanya karena dirinya tomboy. Dengan bantuan Vee, ia akan berusaha keras untuk mengubah penampilannya agar lebih cantik dan feminin. Maka itu, ia menurut saja ketika Vee memintanya begini dan begitu.
Sambil menahan bosan dan berusaha sabar, Nayla pasrah saja dengan apa yang dilakukan Vee selanjutnya, mulai dari primer, foundatation, concealer, contour, bedak, eyeshadow, eyeliner, maskara, blush on, lipstik, sampai menggambar alis.
Nayla menarik napas lega ketika Vee memberitahunya bahwa proses make up sudah selesai. Ia tidak tahu sudah berapa jam duduk di depan cermin, yang ia rasakan adalah seolah waktu berjalan melambat.
Sambil berdiri di depan Nayla, Vee memperhatikan wajah gadis itu secara seksama. Ia tersenyum puas.
"Sengaja saya menghalangi cermin agar Nona merasa 'surprise' dengan wajah Nona yang sekarang," ujar Vee.
Nayla penasaran. "Memangnya seperti apa wajahku sekarang, Vee?"
"Nona sangat cantik!" puji Vee sambil menggeser badannya.
Serta merta Nayla kaget melihat wajahnya yang sekarang. Seolah ia sedang menatap orang lain, bukan dirinya.
Nayla tersenyum puas sekaligus merasa aneh. "Kamu apain wajahku, Vee?"
"Make over!" ujar Vee sambil melepas banda. Ia membelai-belai rambut Nayla.
Nayla menoleh cemas. "Kamu akan mendadani rambutku juga?"
Vee menggeleng pelan. "Enggak, Nona."
Nayla menyisir rambut lurus pendeknya menggunakan jari-jari tangan. "Tapi rambut ini nggak matching sama make up-nya, Vee."
Vee memperhatikan rambut Nayla. "Rambut Nona sangat lembut dan lurus. Saya punya ide untuk membuatnya lebih bagus lagi, tapi enggak sekarang."
Nayla menarik napas lega. "Syukurlah." Ia tersenyum puas melihat perubahan wajahnya di cermin. Ia merasa jauh lebih cantik dan anggun dari sebelumnya.
Vee membiarkan Nayla menikmati hasil riasannya. Ia membereskan peralatan make up-nya.
Nayla beranjak dari kursi. Ia melirik Vee. "Jadi gaun seperti apa yang ingin kamu pakaikan kepadaku, Vee?"
"Mari ikut saya," ajak Vee. Ia berjalan menuju ruang sebelah.
Nayla mengekor Vee menuju sebuah ruangan yang mirip dengan butik. Banyak sekali baju dan gaun yang tergantung rapi.
Nayla menyentuh sebuah gamis yang ia tebak harganya pasti sangat mahal. Ia hanya tersenyum saja karena merasa akan tampak lucu jika mengenakannya. Ia beralih ke gaun lain. Semua yang ada di sana tidak ada yang membuatnya antusias.
"Nona Nayla akan mencoba baju ini!' Vee menunjukkan satu setel baju dan rok.
Nayla menoleh ke arah Vee. Ia mengernyit heran melihat baju yang ditunjukkan perempuan gemuk itu. Tadinya ia mengira akan diminta mengenakan gaun yang anggun, ternyata bukan.
"Itu seragam polwan?" tebak Nayla. Ia merasa pernah melihat orang mengenakan baju seperti itu, tapi lupa di mana dan kapan.
Vee mengerjap sopan kepada Nayla. "Ini adalah salah satu baju dinas walikota."
Nayla membelalakan mata. "Serius?"
Vee mengangguk mantap. "Anda mau mencobanya sekarang?"
Nayla terkekeh geli. Ia mengira Vee sedang bercanda. "Buat apa?"
"Coba saja dulu, Nona!'
Melihat ekspresi serius Vee, Nayla sadar kalau perempuan gemuk itu tidak sedang bercanda.
Nayla mendekati Vee. Ia menatap teduh perempuan gemuk itu dengan ekspresi meminta dimengerti. "Vee, aku sudah beberapa kali berkompromi dengan perasaan tidak nyaman hanya demi agar kamu enggak dimarahi Iron, tapi aku rasa kali adalah giliranmu untuk mengerti perasaanku. Bagaimana, kamu bisa kan?"
Vee menatap Nayla serba salah.
Kedua telapa tangan Nayla menyentuh sepasang bahu Vee. "Aku nggak akan mempersulit posisimu. Aku akan memakai baju itu tapi kali ini tolong jelaskan alasannya."
Vee mematung bimbang. Satu sisi ia memahami kegelisahan Nayla tapi di sisi lain ia terbentur amanat dari Iron agar tidak memberi penjelasan di luar wewenangnya.
Melihat Vee bimbang, Nayla mendengus, sebal kepada situasi ini. "Satu kalimat saja, beri penjelasan logis kenapa aku harus memakai baju itu?"
Vee menelan ludah, posisinya semakin sulit.
Nayla mengambil jalan tengah. "Begini saja, aku akan tunggu tuanmu itu menjelaskannya, baru aku akan memakainya. Kapan ia kembali ke sini?"
"Kalau Nona Nayla belum memakai baju ini ketika Tuan Iron datang, aku bisa kena masalah." Vee menunduk gelisah.
Nayla menatap Vee simpati. Ia selalu tidak tega kepada perempuan itu. Akhirnya ia harus kembali mengalah seperti sebelum-sebelumnya. Lagipula ia merasa tidak ada salahnya mengenakan baju itu.
"Baiklah!" ujar Nayla tanpa bisa menyembunyikan perasaan sebal. "Lakukan saja apa yang menjadi tugasmu."
Wajah Vee seketika berubah semringah, seolah ia baru saja terlepas dari himpitan.
Meskipun sebal tapi ada sebuncah rasa dalam hati Nayla yang ia tidak mengerti kenapa bisa begitu. Ia mengambil satu kesimpulan, ternyata kadang bahagia tercipta dari sebuah pengorbanan kecil untuk membuat orang lain tersenyum.