"Ayo kita ke cermin!" ajak Vee begitu selesai membantu Nayla mengenakan baju dinas walikota.
Meskipun malas, Nayla penasaran juga, seperti apa penampilannya sekarang setelah mengenakan baju dinas walikota.
Tadi ketika dirias dan disuruh mengenakan baju walikota, Nayla menduga dirinya menjadi semacam model. Jelas-jelas baju itu tidak mungkin ia pakai ke acara apa pun.
Sambil melangkah menuju cermin, Nayla menebak pasti Vee sedang diberi tugas untuk mengadakan baju dinas tersebut dan dirinya menjadi modelnya saja.
Sampai di depan cermin Nayla berhenti. Ia tertegun ketika mendapati penampilannya berubah drastis. Ia bahkan merasa seperti melihat orang lain dalam cermin.
Nayla meraba hijab yang menutupi kepalanya. Kain itu dimasukkan ke dalam baju dinas berwarna putih. Bagian bawahnya adalah rok panjang sampai menutupi mata kakinya.
Tanpa sadar, Nayla senyum-senyum sendiri melihat penampilannya dari dalam cermin. Semakin lama memandang cermin, semakin lama ia sadar kalau dirinya sangat mirip dengan ibu walikota. Senyumnya pun redup seketika, berubah pucat.
Vee menangkap perubahan mimik Nayla. Ia menjadi cemas. "Kenapa, Nona?"
Nayla menoleh. "Benarkah yang di cermin itu adalah aku, Vee?"
Vee mengangguk mantap. "Cermin tidak akan berdusta, Nona."
Nayla meraba wajahnya sendiri. Ia merasa sangat mirip dengan Nasima. Alih-alih merasa bangga, ia menjadi gelisah.
"Nona sangat cantik," puji Vee. Ia memutari bagian belakang Nayla.
Satu pertanyaan aneh baru saja mendarat dalam benak Nayla: apakah ibu walikota adalah saudara kembarnya?
"Enggak mungkin!" ucap Nayla lirih, menyangkal pertanyaannya sendiri.
Vee merasa cemas. "Apanya yang nggak mungkin, Nona?"
Nasima menoleh kepada Vee. "Vee, menurutmu apakah aku mirip dengan ibu walikota?"
Vee terdiam dengan ekspresi datar. Ia tidak berani menjawab jujur, meskipun mendadani Nayla agar mirip walikota adalah tugasnya. Sekarang ia bangga karena tugasnya berhasil dengan sempurna.
"Kenapa diam, Vee?" desak Nayla, meminta jawaban.
Vee mengangguk saja.
"Aku belum mendengar jawaban kamu, Vee!" Nayla menjadi tidak sabar.
Vee menelan ludah.
Nayla menggerakkan badan ke kanan dan ke kiri sambil menatap cermin. Ia semakin yakin kalau dirinya sangat mirip dengan Nasima, ibu walikota.
Benak Nayla dijejali berbagai pertanyaan-pertanyaan. Ia curiga Iron merencanakan sesuatu terhadapnya. Ia menduga pemuda itu terlibat sebuah konspirasi.
Nayla ingat, Iron pernah cerita kalau pemuda itu sudah sejak lama menyelidikinya, mencari tahu identitasnya. Itu membuat Nayla penasaran dan yakin pemuda itu merencanakan sesuatu. Ia pernah meminta penjelasan kepada Iron tetapi hingga sekarang belum mendapatkannya.
Sejak itu Nayla merasakan keanehan-keanehan. Iron mengajaknya ke rumah dinas walikota dan ayahnya diajak walikota ke kediaman pribadinya. Nayla menduga semua itu berkaitan dengan walikota.
Sekarang Nayla didandani mirip walikota. Itu membuatnya semakin curiga bahwa Iron dan walikota sedang merencanakan sesuatu kepadanya.
"Nona Nayla, mari kita ke ruangan sebelah!" ajak Vee.
Nayla terkesiap. Ia menatap Vee gamang. Pertanyaan-pertanyaan yang berjubel di benaknya ingin sekali ia lontarkan kepada perempuan gemuk itu tapi ia sadar Vee tidak akan mungkin mau menjawabnya.
"Mari, Nona!" Vee berjalan menuju sebuah pintu.
Dengan langkah gontai, Nayla mengekor Vee. Ketika Vee membuka pintu, saat itu Nayla tercengang ketika di dalam ruangan itu beberapa orang memusatkan pandangan ke arahnya. Ia menghitung ada tiga lelaki di sana, salah satu di antaranya adalah Iron yang sedang duduk di sofa sambil menyilangkan kaki. Dua orang lainnya berdiri di sisi sebelah kanan Iron.
Pucat wajah Nayla ketika sadar, kedua orang yang berdiri di sisi sebelah kanan Iron sedang mengarahkan kamera kepadanya. Satu orang tampak merekam video dan satunya fokus memotretnya.
Iron berdiri sambil terus mendaratkan pandangannya ke arah Nayla. "Silakan masuk, Nayla!"
Nayla masih mematung di ambang pintu. Ia merasa kesal kepada Iron.
"Apa maksud semua ini?" hardik Nayla kepada Iron.
Iron mendekati Nayla.
Nayla mengarahkan telapak tangannya kepada Iron. "Stop! Jangan mendekatiku!"
Iron berhenti melangkah. Ia memaklumi kekesalan Nayla.
Nayla menghunus tatapan tajam kepada kedua orang yang sedang fokus mengarahkan kamera kepadanya. "Kenapa kalian merekam tanpa seizinku?"
"Mereka aku yang nyuruh," bela Iron menjelaskan.
"Sekarang suruh mereka untuk menghentikan pekerjaannya!" suruh Nayla marah kepada Iron.
Iron memberi isyarat kepada kedua orang itu untuk menghentikan pekerjaannya. Keduanya menuruti perintah Iron.
"Aku memang berhutang banyak sama kamu!" tunjuk Nayla kepada Iron. "Tapi ingat, kamu juga hutang penjelasan kepadaku!"
Iron mengangguk. Gesturnya mengisyaratkan agar Nayla bersikap tenang. "Baik, aku memang akan menjelaskannya sekarang. Silakan duduk!"
Nayla masih dikuasai amarah. "Sambil berdiri juga bisa!"
Iron mendekati Nayla. Ia meraih pergelangan tangan Nayla lalu menariknya dengan lembut. "Mari kita bicarakan di dalam!"
Ajaib, meskipun marah, Nayla tetap saja menuruti Iron.
Iron membimbing Nayla duduk di sofa. Ia duduk di sebelah Nayla.
"Biarkan kami berdua saja di sini!" ucap Iron kepada semua yang berada di ruangan itu. "Kalian boleh beristirahat!"
Vee dan kedua kamerawan meninggalkan ruangan. Sekarang tinggal Iron dan Nayla yang saling diam.
"Aku minta maaf atas semuanya," ucap Iron lirih. Ia menatap Nayla. "Vee dan kedua kamerawan itu hanya menjalankan tugas dariku."
Nayla membalas tatapan Iron dengan sorot marah. "Jangan bertele-tele!"
Iron mengangguk. "Baiklah, aku akan menceritakan semuanya secara kronologis."
Nayla diam, tidak sabar menunggu Iron mulai bercerita.
"Empat tahun lalu, ibu walikota membentuk staf khusus pribadi. Itu adalah staf di luar pemerintahan resmi. Tugasnya mirip dengan staf pribadi hanya saja ada satu tambahan tugas khusus yang bersifat rahasia." Iron membuka ceritanya.
Nayla ingin bertanya perihal rahasia yang dimaksud Iron tapi ia mengurungkannya karena yakin pemuda itu akan menjelaskannya.
"Tugas khusus itu adalah mencari saudara kembar walikota," lanjut Iron. Ia menatap Nayla, menunggu reaksi gadis itu.
Nayla mengerjap. Ia mulai curiga jangan-jangan dirinya adalah kembaran walikota. Namun ia tidak ingin buru-buru menyimpulkan. Ia harus mendengarkan cerita Iron secara utuh.
"Sebelum tugas itu dibebankan kepadaku, beliau sudah mencari saudara kembarnya sejak sembilan tahun lalu, saat beliau masih kuliah," ujar Iron melanjutkan. "Namun usaha beliau belum membuahkan hasil."
Nayla membetulkan posisi duduk agar bisa leluasa menatap wajah Iron.
"Begitu dipercaya untuk mengemban tugas itu, aku langsung membentuk tim khusus. Di dalamnya ada pengacara, detektif, sampai ahli IT. Dengan kekuasaan yang beliau miliki, tim kami mudah untuk mendapatkan data-data kependudukan, bukan hanya di kota ini tapi juga kota-kota lain."
Nayla semakin tidak sabar karena menurutnya Iron terlalu berbelit-belit. "Jadi apa hasil kerja tim kamu?"
Iron tersenyum tipis. Ia memaklumi ketidaksabaran Nayla. "Kami menemukan banyak fakta dan menganalisanya satu per satu. Kami tidak mau gegabah, harus teliti dan yang pasti terkonsep."
Nayla mendengus, semakin susah mengendalikan kesabarannya.
"Sampai akhirnya aku menemukan sebuah postingan di sebuah situs jejaring sosial. Postingan itu sudah cukup lama sekitar dua belas tahun lalu." Iron menarik napas dalam-dalam sambil terus memperhatikan ekspresi Nayla. "Dalam postingan itu ada curhatan seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang nggak kenal lelah untuk mencari keberadaan saudara kembarnya."
Nayla terbelalak. Hatinya membuncah. Ia sangat yakin itu adalah postingannya yang ia unggah dua belas tahun lalu ketika dirinya berusia tujuh belas tahun. Isi postingannya pun sama, yaitu curhatan tentang dirinya yang tidak kenal lelah untuk terus mencari keberadaan saudara kembarnya.
"Apa nama akunnya?" tanya Nayla memastikan. Ia berharap-harap cemas.
Iron menatap Nayla lekat-lekat. "Nama akunnya adalah Nayla Berlian."
Seketika Nayla mematung, menatap Iron dengan perasaan membuncah. Meskipun ada beberapa nama akun Nayla Berlian tetapi ia yakin yang dimaksud Iron adalah akun miliknya. Keyakinannya itu berdasarkan atas kesamaan waktu, isi postingan, dan usia dirinya ketika itu. Lagipula sekarang ia sadar wajahnya sangat mirip dengan walikota.
"Bisa kamu tunjukkan postingan yang kamu maksud itu, Iron?" Perasaan Nayla semakin bergejolak.
Iron mengambil sebuah kertas dari atas meja. Kertas yang dilaminating itu berukuran A4. Ia menyerahkannya kepada Nayla.
Dengan tangan gemetar, Nayla menerima kertas dari Iron. Tanpa harus melihatnya secara teliti pun, ia tahu kertas itu berisi gambar tangkapan layar postingan pada sebuah situs jejaring sosial miliknya.
Nayla menoleh kepada Iron. Tempo detak jantungnya menjadi lebih cepat dari sebelumnya. "Jadi pemilik akun ini adalah saudara kembar walikota?"
Iron mengerjap. "Saat menemukan postingan itu, aku memiliki keyakinan hanya sekitar enam puluh persen saja karena foto profil akun itu tidak begitu mirip dengan foto walikota ketika beliau berusia tujuh belas tahun."
Hati Nayla berdebar tidak menentu. Ketika ia merasa yakin dirinya adalah saudara kembar walikota, Iron justru mengaku kalau pemuda itu hanya memiliki keyakinan enam puluh persen saja. Perasaannya seperti sedang ditarik ulur.
"Kemudian aku meminta seorang ahli telematika untuk membandingkan dua foto pemilik akun tersebut dengan foto walikota ketika berusia tujuh belas tahun."
Nayla mengerjap. Sebelum didandani Vee dengan baju walikota, ia memang merasa tidak mirip dengan walikota. Penampilan mereka jauh berbeda. Nayla tidak berhijab. Rambutnya pendek. Badannya sedikit lebih kurus. Sedangkan walikota berhijab. Kulitnya tampak lebih bersih karena terawat.
Nayla yakin ketika dirinya berusia tujuh belas tahun, penampilannya dengan walikota pun pasti tampak berbeda. Sehingga ia memaklumi jika Iron memiliki keyakinan hanya enam puluh persen saja.
Sekarang, pertanyaan besar dalam hati Nayla adalah apakah dirinya saudara kembar walikota atau hanya memiliki kemiripan saja?
"Pakar telematika membandingkan kedua foto saat kalian masih berusia tujuh belas tahun. Berdasarkan lekuk wajah, bentuk rahang, dan kemiripan hidung serta mata, mereka menyimpulkan kalau kalian memiliki kemiripan sekitar sembilan puluh lima persen," kenang Iron. "Mereka bahkan membuat sebuah rekayasa foto, di mana walikota berpenampilan seperti kamu dan kamu berpenampilan seperti walikota. Hasilnya keduanya sangat mirip."
Nayla menarik napas dalam-dalam. Hatinya semakin membuncah. Ia ingin sekali segera menemukan saudara kembarnya tapi ia merasa belum siap menerima fakta seandainya dirinya adalah saudara kembar walikota. Ia tidak mengerti kenapa bisa demikian. Ia menduga barangkali karena latar belakang kehidupan dan status sosialnya berbeda jauh dengan walikota.
Iron melanjutkan. "Beranjak dari kesimpulan para ahli telematika, aku memfokuskan untuk mencari tahu identitas kamu sambil tetap membuka kemungkinan-kemungkinan lain. Itu tidak terlalu sulit karena aku bisa dengan mudah mencari data kependudukanmu."
Hati Nayla semakin membuncah. Ia menatap Iron dengan minim kedip.
"Waktu tahu bahwa nama ayah dan ibumu sama persis dengan walikota, aku semakin yakin kalau kalian saudara kandung," ujar Iron. "Tanggal kelahiran kalian juga sama. Itu membuatku semakin yakin kalau kalian adalah saudara kembar."
Nayla tercengang. Ia berdebar tidak menentu. "Nama ayah dan ibuku sama persis dengan walikota?"
Iron mengangguk, "Berdasarkan data kependudukan dan kemiripan wajah, aku yakin kalian adalah saudara kembar."
Nayla mematung. Bibirnya bergerak-gerak. Badannya bergetar. Hatinya bergejolak hebat. Setelah bertahun-tahun ia mencari saudara kembarnya, kini ia mendapatkan keterangan dari Iron bahwa walikota adalah saudara kembarnya.
Tanpa sadar, air mata Nayla menetes. "Kamu nggak bercanda kan?"
Iron menggeleng tegas. "Aku dan tim bekerja keras dan sangat hati-hati. Fakta mengatakan kalau kamu dan walikota adalah saudara kembar!"