"Fakta mengatakan kalau kamu dan walikota adalah saudara kembar!"
Sontak Nayla menangis sesenggukan. Tidak ada kata yang bisa melukiskan betapa hatinya campur aduk. Ia sangat bahagia berhasil mengetahui siapa saudara kembarnya. Namun ia juga merasa gelisah karena fakta itu akan mengubah kehidupannya nanti. Ia yang terbiasa hidup miskin bersama ayah angkatnya, sekarang tiba-tiba memiliki saudara kembar seorang walikota, kaya dan terkenal.
Iron menggeser badannya lebih dekat kepada Nayla. Lengan kanannya merengkuh bahu gadis itu dan membenamkan wajah ke dadanya.
Suasana ruangan menjadi hening, hanya terdengar isak tangis Nayla dan detak jam lonceng klasik.
"Aku akan mempertemukanmu dengan walikota saat kamu merasa siap," ujar Iron. Ia mengusap hijab Nayla lembut.
Nayla melepaskan kepala dari rengkuhan Iron. Ia menyeka air matanya menggunakan ibu jari.
"Sebenarnya, ibu walikota ingin menemuimu sepuluh hari lalu," beritahu Iron. "Sebelum itu aku melakukan persiapan dulu dengan memantau situasi keamanan lingkungan rumah dan tempat kerjamu. Aku juga mengutus beberapa orang untuk melindungimu dan ayahmu dari kejauhan."
Meskipun berkali-kali menyekanya, air mata Nayla terus mengalir. Hatinya masih bergejolak.
"Sayangnya rencana ibu walikota terpaksa ditunda karena ada masalah besar yang harus beliau atasi," beritahu Iron. "Selain itu tanpa diduga beliau mengalami kecelakaan saat sedang bersepeda di area rumah dinas. Beliau sempat menjalani operasi dan masih harus menjalani operasi lanjutan di Singapura. Besoknya setelah operasi, aku mendengar laporan kalau kamu tersangkut kasus."
"Jadi karena itulah kamu membebaskanku?" tanya Nayla parau. "Karena aku adalah saudara kembar walikota?"
"Kamu bebas bukan karena ada campur tangan walikota," tegas Iron, "tapi karena kamu memang tidak terbukti bersalah."
Nayla merasa lega. Ia menyeka air di hidungnya menggunakan tisu. "Tapi kamu menolong ayahku dan membiayai pengobatan beliau atas perintah walikota bukan?"
Iron tersenyum. "Ibu walikota menganggap kalau ayah angkatmu berarti ayahnya juga. Beliau menyuruhku agar memberikan pelayanan terbaik."
Nayla tersenyum haru. Air matanya kembali mengalir.
"Ibu walikota pernah bilang kepadaku bahwa ia sangat berterima kasih kepada Pak Mahdi yang telah merawat dan membesarkan saudara kembarnya. Itulah kenapa akhirnya beliau mengundang ayahmu ke kediaman pribadi beliau."
"Apa ayahku sudah tahu kalau ibu walikota dan aku adalah saudara kembar?" tanya Nayla.
"Aku belum tahu soal itu. Yang pasti ibu walikota sendiri yang akan memberitahukannya kepada ayahmu."
Nayla membayangkan, ayahnya pasti sangat kaget setelah diberitahu walikota.
"Ibu walikota belum menginformasikan apa-apa soal itu," ujar Iron. "Aku menduga sampai saat ini beliau belum memberitahu ayahmu, karena kalau sudah pasti beliau menginformasikannya kepadaku."
"Aku takut," ucap Nayla cemas. Ia meremas roknya sendiri.
"Takut kenapa?"
Nayla menunduk. "Ayah mengidap hipertensi. Aku takut saat mengetahui fakta itu beliau akan kaget dan mempengaruhi tensi darahnya."
Iron tersenyum, berusaha menenangkan hati Nayla. "Ibu walikota sudah mengetahui riwayat kesehatan ayahmu. Aku yakin beliau akan mencari waktu yang tepat dan menjelaskannya dengan baik kepada ayahmu."
"Semoga saja," sahut Nayla berharap.
Iron mengangguk. "Aamiin."
Nayla melirik jam dinding. Sekarang pukul 09:11 wib. Pada jam segini, biasanya ia sudah merasa mengantuk, tapi tidak untuk kali ini. Hatinya masih terus bergejolak.
Nayla tidak tahu harus bersikap apa ketika nanti bertemu dengan walikota. Ia merasa pasti nanti akan sangat canggung.
"Aku akan menyuruh Vee untuk membersihkan make up dan membantumu mengganti baju," ujar Iron.
Nayla tersenyum geli. "Jadi malam-malam begini aku didandani dengan baju dinas walikota karena kamu ingin melihat semirip apa aku dengan walikota?"
Iron mengangguk. Sebenarnya selain seperti yang diduga Nayla, ia punya alasan lain yang belum saatnya ia sampaikan kepada Nayla.
"Silakan beristirahat. Besok pagi aku akan mengantarmu ke kediaman pribadi ibu walikota," ucap Iron.
Hati Nayla kembali membuncah. Ia berdebar, menantikan saat-saat bertemu dengan walikota.
***
Mahdi terbangun. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih. Ia merasa kaget dan bingung kenapa berada di kamar yang sangat asing. Masih dalam posisi terbaring, matanya beredar ke sekeliling ruangan. Sekarang ia baru ingat kalau dirinya sedang berada di kediaman pribadi walikota.
Mahdi bangkit. Disingkapnya selimut dan tiba-tiba teringat kepada Nayla. Itu membuatnya gelisah.
Mahdi melirik jam dinding. Tujuh belas menit lagi jam sebelas malam. Pagi masih sangat lama, padahal ia merasa akan sulit untuk memejamkan matanya kembali.
Menanggung perasaan tidak tenang karena mencemaskan Nayla, Mahdi beringsut ke tepi kasur. Ia turun ke lantai. Meskipun tidak tahu akan ke mana, ia berjalan meninggalkan tempat tidurnya.
Mahdi keluar kamar. Suasana rumah sangat sepi. Ia melangkah menuju bagian depan rumah. Baginya itu lebih baik ketimbang berada di dalam kamar.
Semakin mendekati ruang tamu, sayup-sayup ia mendengar suara. Ia menduga ada lebih dari satu orang sedang ngobrol di ruang tamu.
Kepala Mahdi sedikit pusing setelah berjalan beberapa meter. Ia tidak mau memaksakan diri. Sehingga ia memilih untuk duduk di sebuah kursi.
Dari posisi duduknya, Mahdi bisa menangkap pembicaraan yang sedang berlangsung di ruang tamu. Ia tidak bermaksud untuk menguping. Ia hanya butuh istirahat sejenak sebab kalau sekarang ia paksakan berjalan takutnya akan jatuh seperti kejadian seminggu lalu di rumahnya.
Mahdi heran kenapa selarut malam ini masih ada orang bertamu, namun setelah sadar bahwa Nasima adalah seorang walikota, ia pun memaklumi.
"Saya menduga para pemilik tanah itu dihasut, Bu. Seperti ada yang mengarahkan mereka untuk menolak menjual tanahnya."
Mahdi menduga suara lelaki itu adalah tamu Nasima.
"Anda punya buktinya, Pak Arhan?" tanya Nasima.
"Orang saya menemukan beberapa fakta, di antaranya mereka, para pemilik tanah itu pernah berkumpul di salah satu rumah warga. Di depan rumah itu ada dua mobil. Kuat dugaan kalau pemilik mobil-mobil itu adalah orang luar yang sedang menghasud para pemilik tanah."
"Jadi total ada berapa penilik tanah yang menolak menjual tanahnya?" tanya walikota.
"Ada sebelas orang, Bu," jawab Arhan. Ia adalah orang yang bertanggung jawab atas pembebasan lahan warga. "Semuanya kompak menolak menjual tanahnya."
"Beberapa hari lalu mereka masih mau menjual tanahnya meskipun mengajukan harga yang tidak masuk akal," sergah Nasima kesal.
"Benar, Bu. Perubahan sikap mereka yang secara tiba-tiba itu salah satu indikasi kuat kalau ada aktor di balik itu."
Suasana hening beberapa saat. Mahdi berniat untuk beranjak dari tempat duduknya dan kembali ke kamar. Ia merasa tidak enak karena secara tidak sengaja telah menguping pembicaraan orang lain.
"Apa yang Anda lakukan untuk merespon sikap mereka?" tanya Nasima.
"Saya mencoba melakukan pendekatan secara personal. Saya datangi satu per satu rumah mereka. Herannya ketika saya temui face to face, mereka tidak setegas ketika saat berkumpul. Kesempatan itu saya pergunakan untuk membujuk dan memberi pemahaman tentang manfaat proyek pemerintah kota yang akan kita kerjakan."
"Lalu hasilnya apa?"
"Dua dari sebelas orang itu membuka peluang negosiasi."
"Sikap dua orang itu kok berubah-ubah terus?" Walikota terdengar kesal.
Mahdi mengurungkan untuk beranjak dari tempat duduknya. Ia penasaran dengan apa yang sedang terjadi.
"Memang, Bu, tapi itu celah bagi kita untuk terus berupaya meyakinkan mereka," ujar Arhan.
"Anda bilang kedua orang itu membuka negosiasi?" tanya walikota. "Negosiasi apa lagi yang mereka inginkan? Harga?"
"Mereka belum mengajukan harga lagi, tapi paling tidak kita punya kesempatan untuk meyakinkan mereka," ujar Arhan. "Saya optimis mereka mau dengan penawaran kita jika ibu sendiri yang berdialog langsung kepada mereka."
"Tapi saya harus menjalani operasi di Singapura, Pak Arhan!"
"Mungkin setelah ibu menjalani operasi."
Terdengar Nasima mendesah. "Operasi saya hingga pemulihan akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Para pesaing politik saya pasti akan menggunakan kesempatan itu untuk terus bermanuver. Kita harus bergerak cepat. Tolong jangan menunggu saya punya kesempatan. Anda harus mencari cara agar semuanya segera selesai."
"Baik, Bu!"
"Saya bisa saja menunda jadwal operasinya," ujar Nasima. "Hanya saja dokter menyarankan agar operasinya sesuai jadwal. Saya merasa dilema, Pak Arhan."
"Saya akan coba mengatasi sendiri dulu, Bu. Mohon pengarahannya!"
"Bagaimana kalau Anda undang mereka makan siang di balaikota?" usul Nasima. "Biar nanti saya mendengar dan bicara sama mereka."
"Saya sudah mencoba memikirkan rencana tersebut, tapi para pemilik lahan itu bersikap jual mahal. Intinya rencana itu akan sulit direalisasikan dalam waktu dekat ini," dalih Arhan. "Mereka terkoordinasi dengan baik."
Terdengar Nasima mendengus.
Mahdi merasa bersalah karena menguping. Ia berusaha bangkit dari kursi. Meskipun kepalanya terasa pusing, ia memaksakan diri.
Sedikit kepayahan, Mahdi meninggalkan kursi. Ia berniat kembali ke kamarnya.
Mahdi berpapasan dengan Muna yang tampak kaget melihat dirinya.
"Pak Mahdi?" Muna buru-buru mendekati Mahdi, bermaksud membantu lelaki itu.
"Saya kebangun dan nggak bisa tidur lagi," ujar Mahdi.
"Bapak mau ke mana?" tanya Muna.
"Mau balik ke kamar."
"Saya bantu ya, Pak?"
Mahdi menggeleng pelan. "Tidak usah. Saya bisa berjalan sendiri."
"Atau mungkin bapak membutuhkan teh atau s**u hangat?" Muna menawarkan. "Saya akan buatkan."
Mahdi tersenyum. "Teh hangat nggak papa kalau nggak merepotkan."
"Sama sekali nggak merepotkan kok, Pak."
"Terima kasih ya?"
Muna mengangguk. "Sama-sama. Bapak silakan menunggu di kamar, biar nanti saya antarkan."
Mahdi mengangguk senang. Ia melanjutkan jalan menuju kamar. Muna mengekornya, memastikan Mahdi baik-baik saja.
Sampai di depan pintu Mahdi menoleh kepada Muna. "Ada kabar dari anak saya?"
"Nona Nayla belum memberi kabar tapi Pak Baeni mengonfirmasikan kalau beliau akan mengantarkan putri bapak ke sini besok pagi."
Mahdi menarik napas lega. Ia merasa tenang. "Nanti ketuk saja pintunya ya?"
"Baik, Pak, kalau begitu saya ke dapur dulu," pamit Muna.
"Sekali lagi terima kasih ya?"
Muna mengangguk. "Sama-sama, Pak."
Mahdi membuka pintu dan masuk ke kamar dengan perasaan lebih baik dari sebelumnya.