Peluk Haru

1915 Kata
Sebuah sedan mewah melaju sedang di jalan raya. Suasana pagi di hari minggu ini membuat lalu lintas lengang.  Amando melirik Sisca sambil tetap fokus pada kemudi. "Jadi kapan kita akan bertunangan?"  Sisca mengerjap manja. "Duh nggak sabaran banget. Hehehe!"  Amando terkekeh. Ia sebenarnya tidak begitu peduli kapan acara pertunangannya dengan Sisca akan dilangsungkan selagi Ferdy terus memperjuangkannya untuk menjadi kandidat walikota.  "Kupikir kamu sama papi sudah membicarakan soal pertunangan," ujar Sisca.  "Belum sih!" timpal Amando sambil tetap memfokuskan pandangan ke depan.  "Kalau aku sih pengennya kita bertunangan secepatnya," ujar Sisca. Wajah riangnya berubah kusut. "Kalau kelamaan, aku takut kamu berubah pikiran!"  Amando melirik Sisca. "Nggak mungkinlah!"  Sisca melengos. "Siapa tahu!"  Amando sadar Sisca sedang mencari perhatiannya. "Sayang, aku juga ingin secepatnya, tapi kuperhatikan kamu sibuk terus. Padahal aku ingin membahas tanggal pertunangan kita."  Sisca sebenarnya tidak sibuk-sibuk amat. Jabatannya sebagai wakil ketua dewan pimpinan cabang sebuah partai tidak begitu menyibukannya. Kalau selama ini ia tampak sibuk itu karena ia sedang merencanakan untuk membalas dendam kepada Nayla.  "Bagaimana kalau kita bahas sekarang?" ujar Amando pura-pura semangat.  "Duh, Sayang, kamu kan tahu sekarang aku harus ke hotel. Ada rapat internal fraksi yang sangat urgent," dalih Sisca.  Amando memasang wajah kecewa, padahal ia merasa senang. "Memangnya sepenting apa sih sampai hari minggu harus rapat?"  Sisca melirik Amando, bimbang apakah akan menjelaskannya atau tidak. Meskipun Amando adalah calon tunangannya tapi bagaimanapun juga lelaki itu orang luar fraksi.  Sisca dan Amando sama-sama pengurus partai level cabang. Sisca menjabat sebagai salah satu wakil ketua, sedangkan Amando adalah sekretaris DPC. Pada pemilihan legislatif kemarin, Sisca terpilih sebagai legislatif, sedangkan Amando ketika itu tidak mencalonkan diri.  "Aku kan kandidat tunggal walikota dari partai kita, masa aku nggak boleh tahu?" dalih Amando, membujuk Sisca. "Lagi pula aku kan pengurus partai juga."  "Bukannya nggak boleh tahu," bantah Sisca, "cuman aku malas saja membahas persoalan pembebasan lahan yang menurutku terlalu buang-buang energi."  Amando mengernyit. Ia sengaja memancing. "Ada apa dengan pembebasan lahan?"  Sisca mendengus, menyalahkan diri sendiri yang telah keceplosan.  "Oh aku tahu!" ujar Amando sambil terkekeh. "Pasti itu berkaitan dengan kasus demonstrasi di depan balaikota beberapa hari lalu bukan?"  Terlanjur keceplosan, Sisca mengangguk sebagai respon bahwa tebakan Amando benar.  "Papi kamu sudah cerita sama aku soal demo itu," ujar Amando. Ia mengurangi kecepatan menjelang lampu merah.  Sisca mengerjap kaget. "Memangnya papi cerita apa?"  Amando menghentikan mobilnya karena lampu sedang merah. Ia menarik tuas rem tangan. "Lebih tepatnya pembekalan dari Pak Sekjen kepada seorang kandidat tunggal pilihan Ibu Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai."  "Pembekalan?"  Amando mengangguk. "Papi kamu mengajakku untuk menemui ketua umum. Sebelum itu terjadi beliau memberikan pembekalan apa saja yang harus kuketahui tentang kebijakan partai."  Sisca penasaran. "Terus?"  Amando menatap Sisca. "Selain membahas gambaran program kerja yang akan disampaikan saat kampanye nanti, beliau juga menjelaskan isu besar yang sedang terjadi di kota ini. Salah satunya adalah persoalan pembebasan lahan."  Sebagai pengurus cabang, Sisca sebenarnya merasa tersinggung karena pengurus pusat sering tidak melibatkan kepengurusan cabang. Namun karena yang melakukan itu adalah papinya sendiri, ia tidak bisa berbuat apa-apa.   "Jadi apa yang kamu ketahui soal isu besar di kota ini?" tanya Sisca.  "Banyak, mulai dari banjir yang masih menggenangi beberapa titik sampai soal pembebasan lahan yang tidak kunjung selesai," jawab Amando menjelaskan. "Tapi papi kamu lebih menyoroti kepada persoalan yang kusebutkan terakhir itu."  Sisca mengerjap. Persoalan itu juga yang akan dibahas pada rapat pagi ini. Mereka sedang merencanakan manuver terbaru. Hanya saja ia belum mau menceritakannya kepada Amando.  "Projek pembangunan stadion bertaraf internasional yang digagas walikota itu sangat fenomenal untuk ukuran kota kecil. Keberhasilannya menggandeng pihak swasta mendapatkan pujian dari pemerhati olahraga terutama insan persepakbolaan." Amando beropini. "Papi kamu juga mengakui kalau Nasima sangat piawai dalam hal lobi-lobi dengan pihak swasta. Jika proyek itu berhasil tepat waktu maka popularitas Nasima akan semakin naik, bukan hanya di kota ini tapi juga nasional. Itu preseden buruk buat partai kita."  "Buruk juga buat kamu," sergah Sisca setengah bercanda. "Kalau elektabitas Nasima naik, kamu akan kesulitan mengalahkannya nanti."  "Kekalahanku adalah kekalahan partai juga!" dengus Amando. "Maka itu kita harus melakukan manuver politik yang cantik. Aku perhatikan beberapa anggota fraksi kita sering mengeluarkan statement yang tampak banget mencari-cari kesalahan walikota."  Sisca menjadi sebal atas ucapan Amando. "Nggak usah ikut campur urusan fraksi. Kami tahu apa yang harus dilakukan."  Amando tergelak. "Oke, maaf kalau ucapanku terkesan mencampuri urusan fraksi. Aku hanya ingin kita memainkan manuver yang cantik. Bikin framing seolah-olah walikota gagal. Istilahnya lempar batu sembunyi tangan."  Sisca mendengus. "Lampunya hijau tuh!"  Amando melirik traffict light. Lampu sudah hijau sejak beberapa detik lalu. Ia pun melajukan kembali mobilnya.  "Kami dari fraksi sudah melakukan itu sejak dilantik. Kamu saja yang terlalu asyik tebar pesona di media sosial sehingga kudet," hardik Sisca. "Demo di depan balaikota itu kami yang menggerakkan."  Amando mengangguk sambil fokus mengemudi. "Iya, aku tahu itu. Kalian juga mengahsud sebelas pemilik tanah agar tidak mau menjual tanahnya untuk proyek pembangunan stadion bukan?"  Sisca melengos. "Kamu pasti tahu itu dari papiku bukan?"  "Iya memang," jawab Amando enteng. "Kalian sangat rapi melakukannya. Salut!'  Sisca menoleh sambil tersenyum masam.  "Biar kutebak, sekarang kalian akan mengadakan rapat untuk membahas soal itu bukan?" tebak Amando.  "Aku kan tadi sudah bilang," gerutu Sisca.  Amando terkekeh. Ia melirik spion. Setelah memastikan di belakangnya tidak ada kendaraan, tba-tiba ia mengerem secara tiba-tiba. Ciittt!  Kepala Sisca terdorong ke depan. Beruntung ia mengenakan sabuk pengaman dengan benar, sehingga tidak mengalami sesuatu yang serius.  "Astaga, Amando!" Sisca kesal karena kaget. Jantungnya serasa mau copot.  Amando cengar-cengir. "Maaf, aku cuman mau mengatakan sesuatu sama kamu."  Sisca mendengus. Napasnya tidak teratur. "Kamu kan bisa mengatakannya sambil jalan!"  Amando melepas sabuk pengaman. Ia mendekati Sisca. Bibirnya menyentuh telinga calon tunangannya itu. Ia berbisik. "Kamu masih tetap cantik meskipun sedang marah."  Kemarahan Sisca luntur seketika mendengar gombalan Amando. Ia membuang muka ke samping untuk menyembunyikan rona merah pipinya.  "Kalau kukatakan itu sambil jalan, pasti kurang romantis," dalih Amando. Ia memakai sabuk pengamannya kembali.  "Yang tadi juga nggak ada romantis-romantisnya sama sekali!" hardik Sisca pura-pura masih marah.  Amando mengedikkan bahu. Ia kembali melajukan mobilnya.  "Nanti malam nonton yuk?" ajak Amando agar Sisca berhenti marah.  Sisca bersedekap, memasang mimik sebal. Ia ingin Amando berjuang lebih keras dalam memancing senyumnya.  "Aku punya dua tiket," beritahu Amando.  "Kamu tahu kan aku nggak begitu hobi nonton film," ujar Sisca.  Amando tersenyum geli melihat muka cemberut Sisca. "Aku tahu kamu nggak begitu hobi nonton film."  Nayla menoleh. "Terus kenapa kamu ngajak aku nonton?"  Alih-alih menjawab, Amando membuka laci dasbor menggunakan tangan kiri. Ia mengambil dua lembar tiket dan menyerahkannya kepada Sisca. "Aku mau ngajak kamu nonton pertandingan sepakbola!"  Sisca memeriksa tiket dari Amando. Seketika senyumnya merekah. Ia memang menggemari sepakbola. Ia tahu nanti malam ada pertandingan level Asia antara klub sepakbola kebanggaan kota dengan salah satu klub besar dari Vietnam.  Tiket pertandingan tersebut hanya bisa dibeli secara online. Sayangnya Sisca gagal mendapatkannya. "Kok kamu bisa dapetin tiketnya? VVIP pula!"  Amando merasa lega melihat senyum Sisca. "Demi kamu aku bisa melakukan apa saja."  Senyum Sisca semakin merekah. Yang membuatnya semakin bangga adalah karena ia tahu Amando tidak begitu hobi menonton pertandingan sepakbola tapi rela berjuang mendapatkan tiket pertandingan sepakbola untuknya. ***  Dari ruang keluarga, Nasima melihat Mahdi tampak sedang duduk di kursi taman. Ia memberi isyarat kepada Muna untuk membawanya menuju lelaki itu.  Melihat kedatangan Nasima, Mahdi bangkit dari duduknya. Ia bermaksud menyongsong walikota.  "Biar saya yang ke sana saja, Pak!" ujar Nasima, mencegah Mahdi.  Mahdi tersenyum mengangguk. "Baik, Bu."  "Di sini saja, Muna," pinta Nasima.  Muna mengunci kursi roda Nasima.  "Mana mapnya?" tanya Nasima kepada Muna.  Muna memberikan map kepada Nasima.  Nasima menatap Muna. "Saya ingin berdua saja dengan Pak Mahdi."  Muna tanggap. "Baik, Bu. Kalau begitu saya tunggu di ruang tamu."  Sepeninggal Muna, Nasima beralih menatap Mahdi sambil mengembangkan senyum. "Silakan duduk kembali, Pak."  "Terima kasih, Bu." Mahdi duduk.  "Semoga semalam bapak tidur nyenyak," ucap Nasima.  Mahdi tersenyum sambil menahan debaran. Mengingat kejadian semalam membuatnya merasa bersalah.  "Semalam saya kebangun," ujar Mahdi. "Karena nggak bisa tidur lagi, saya keluar kamar. Di ruang tengah saya mendengar ibu sedang mengobrol dengan tamu. Mohon maaf kalau saya sempat mendengar obrolan tersebut."  Nasima tersenyum bijak. "Santai saja, Pak."  Mimik Mahdi mengekspresikan perasaan bersalah. "Tapi saya merasa tidak sopan."  "Nggak papa, Pak Mahdi," tukas Nasima, berusaha agar Mahdi berhenti merasa bersalah. "Tidak ada hal yang rahasia dari obrolan kami semalam. Lagipula saya percaya bapak enggak berniat untuk menguping."  Mahdi tersenyum lega.  "Maaf, tadi saya nggak bisa menemani Pak Mahdi sarapan," ujar Nasima.  "Nggak papa, Bu," tukas Mahdi. "Saya di sini hanya merepotkan ibu saja."  "Nggak merepotkan kok, Pak. Justru saya merasa senang. Kehadiran bapak di sini menumbuhkan semangat baru bagi saya." Nasima berkata jujur.  Mahdi menangkap kejujuran atas pengakuan Nasima. Hanya saja ia masih belum mengerti kenapa walikota memperlakukannya dengan baik, padahal ia bukan siapa-siapa.  Nasima mengusap map di pangkuannya. Pagi ini ia ingin memberitahukan sesuatu yang sangat penting kepada Mahdi.  "Pak Mahdi, saya sudah berjanji kepada bapak untuk mencari saudara kembar Nayla." Nasima menatap Mahdi teduh. Emosinya mulai bergejolak. "Perlu saya beritahukan kepada bapak bahwa sebenarnya saudara kembar Nayla pun sudah sangat lama mencari keberadaan Nayla."  Mahdi terperangah. "Benarkah?"  Nasima mengangguk. "Ia telah berusaha keras selama bertahun-tahun, seperti yang bapak lakukan."  Firasat Mahdi berkata bahwa Nasima telah bertemu dengan saudara kembar Nayla. Serta merta ia berharap walikota akan segera memberitahunya sebuah kabar bahagia.  "Sebelumnya saya mau tanya sama bapak." Nasima menatap Mahdi, memperhatikan perubahan mimik lelaki itu.  Mahdi berdebar-debar. "Silakan, Bu!"  Nasima menunduk sejenak, sebelum akhirnya kembali menatap Mahdi. "Apakah nama ayah kandung Nayla adalah Suhail?"  Debaran hati Mahdi semakin menjadi. "Iya benar, Bu."  "Dan ibu kandung Nayla adalah Laura?" Nasima memastikan.  Mahdi mengangguk sambil berusaha mengendalikan debaran hatinya. "Benar, Bu!"  Nasima tersenyum lega. Sebenarnya ia sudah tahu semuanya. Ia bertanya kepada Mahdi hanya untuk memastikan.  "Ibu mengetahui keberadaan mereka?" Mahdi berharap-harap cemas.  Nasima menggeleng dengan ekspresi penyesalan. "Belum, Pak. Saya sudah berusaha mencari tahu keberadaan mereka, tapi hingga sekarang belum berhasil.  Mahdi sedikit kecewa, tapi itu hal biasa baginya. Bertahun-tahun ia mencari keberadaan orang tua dan saudara kembar Nayla tapi belum berhasil.  Nasima berdeham, sekadar cara melonggarkan tenggorokannya. "Terus terang saya sudah tahu siapa sudara kembar Nayla."  Debaran Mahdi semakin sulit diredam. Hatinya membuncah, mendapatkan kabar bahagia ini.   Nasima menatap Mahdi bimbang. Ia mengetahui riwayat kesehatan Mahdi. Ia khawatir kabar bahagia yang akan disampaikannya akan mempengaruhi tensi darah lelaki itu.  "Jadi ibu pernah bertemu dengan saudara kembar Nayla?" tanya Mahdi berharap-harap cemas.  Nasima tersenyum gamang. "Saya akan memberitahukannya kepada bapak, tapi apa bapak siap mendengarnya? Terus terang saya mencemaskan itu akan mempengaruhi kondisi kesehatan bapak."  Mahdi menggeleng. "Saya nggak papa, Bu. Saya siap mendengarnya sekarang."  Nasima menarik napas dalam-dalam. Ia memberikan map kepada Mahdi. "Dalam map ini ada sebuah akte kelahiran saudara kembar Nayla."  Dengan tangan gemetar, Mahdi menerima map dari Nasima. Dibukanya map tersebut dengan hati bergejolak. Ia mengambil selembar akte yang sudah dilaminating. Pandangannya langsung tertuju ke sebuah nama yang tercetak tebal: Nasima Hanu.  Seketika Mahdi menoleh kepada Nasima dengan sorot tidak percaya. "B-bukankah N-nasima Hanu adalah nama lengkap ibu?"  Mata Nasima haru terasa panas dan sembab. Ia mengangguk sambil berusaha menahan gejolak dalam hati. "Iya, itu nama saya, Pak!"  Mahdi mematung, menatap Nasima nyaris tanpa kedip. Selembar akte di tangannya melayang, jatuh menghempas ke tanah.  Buliran bening di mata Nasima pecah, mengalir, membasahi pipi. "Sayalah saudara kembar Nayla, Pak."  Mahdi memejamkan mata bahagia sekaligus tidak menyangka kalau walikota ternyata adalah saudara kembar Nayla. Ia memungut akte dari tanah. Ia berdiri kemudian mendekati Nasima.  Nasima mengusap air mata di pipi. "Izinkan saya memeluk bapak!"  Mahdi memeluk Nasima canggung. Segala perasaan yang bergejolak di hati mereka luruh dalam pelukan yang sangat mengharukan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN