Pertemuan

1704 Kata
Lima kilometer lagi mobil yang dikemudikan Iron sampai di kediaman pribadi Nasima. Nayla duduk di depan kiri. Sejak keluar dari rumah dinas walikota ia tidak bicara sepatah kata pun.  Tadi ketika mampir di SPBU untuk mengisi bahan bakar, Nayla pergi ke toilet hanya untuk mencuci muka. Di sana ia mengalihkan perasaan gelisahnya dengan mendengarkan gemericik air dari keran washtaffle. Memang itu tidak mengurangi kegelisahannya tapi paling tidak Iron tidak mengetahuinya.  Hati Nayla berkecamuk. Perasaan bahagia karena akan bertemu dengan saudara kembarnya berpadu dengan perasaan gugup. Pertemuan nanti akan membuatnya sangat emosional dan mengharukan.  Selain hatinya sedang berkecamuk, pikiran Nayla juga melayang-layang tidak tentu arah. Ia memikirkan sikap apa yang harus ia lakukan nanti saat bertemu saudara kembarnya. Ia merasa yakin dirinya akan sangat canggung untuk memeluk seorang walikota. Namun menurutnya akan terasa aneh jika mereka hanya bersalaman saja.  Nayla juga bingung apa yang akan ia ucapkan nanti. Kalau bertanya kabar, menurutnya terkesan basa-basi karena mereka belum pernah kenal satu sama lain. Dalam pemikirannya, kosakata walikota pastilah intelek. Cara bicaranya juga santun dan menjujung tinggi etika. Nayla merasa tidak mampu untuk mengimbanginya. Ia hanya seorang gadis miskin yang terbiasa bicara dengan bahasa sehari-hari ala orang kampung. Membandingkan itu semua, membuatnya gelisah.  Sedikit banyak Nayla mengenal Nasima karena saudara kembarnya itu adalah seorang public figure. Sebelum menjadi walikota, Nasima adalah seorang tokoh muda yang menginspirasi banyak orang. Dari media, Nayla bisa menilai kalau Nasima adalah tipe perempuan lugas dan kritis. Gaya bicaranya tertata rapi. Setiap kata yang diucapkan cenderung formal.  Satu hal yang membuat Nayla merasa heran adalah, kenapa sejak dulu ia tidak merasa memiliki kemiripan wajah dengan Nasima. Ayahnya, tetangganya, teman sekolah, teman kerja, dan orang-orang di sekitarnya pun tidak pernah sekali pun mengatakan kalau dirinya mirip walikota.  Nayla terkesiap ketika Iron tiba-tiba berpindah lajur. Akibatnya kepalanya sedikit membentur kaca jendela.  "Bangke!" umpat Iron kesal. "Sedan di depan kita berhenti secara tiba-tiba. Untung aku siap, kalau enggak, p****t mobil itu pasti penyok. Bemper depan mobil ini sangat kuat."  Nayla melirik sedan di sebelahnya yang ia duga adalah mobil yang berhenti secara tiba-tiba tadi.  "Kamu nggak papa?" tanya Iron cemas.  Nayla hanya menggeleng. Ia sedang malas bicara.  "Syukurlah!" timpal Iron lega.  Suasana kembali sunyi. Nayla memandang keluar jendela.  Iron membiarkan Nayla hanyut dalam lamunannya. Ia tidak mau mengusiknya karena memahami perasaan gadis itu.  Ponsel Iron berdering. Muna meneleponnya.  Iron memasang handsfree ke telinga. "Ada apa, Muna?"  "Saya disuruh ibu buat menanyakan Pak Baeni sudah sampai di mana?"  "Sudah dekat, paling dua menit lagi sampai."  "Baik, nanti saya sampaikan sama ibu. Terima kasih, Pak."  "Iya."  Panggilan telepon berakhir. Iron menambah kecepatan mobilnya.  Seratus meter mendekati kediaman pribadi Nasima, Iron menyalakan sein kiri. Ia melambatkan laju mobilnya. Sampai di depan pintu gerbang ia berhenti.  Dua orang sekuriti langsung membuka pintu gerbang. Mobil pun masuk.  Hati Nayla berdebar. Ia menjadi gugup ketika Iron selesai memarkirkan mobil.  Sambil berusaha mengendalikan perasaan gugup, Nayla keluar dari mobil. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Ia mematung sambil menunggu Iron keluar dari mobil.  Nayla terkesiap ketika tahu-tahu Iron telah berdiri di dekatnya.  "Ayo masuk!" ajak Iron sambil melangkah menuju teras rumah.  Nayla mengekor Iron. Semakin mendekati teras, debaran dalam hatinya semakin sulit diredam.  Benak Nayla sibuk memikirkan rencana-rencana apa yang harus dilakukannya ketika bertemu walikota nanti, sampai-sampai ia tidak menyadari kalau di ambang pintu ayahnya telah berdiri menyambutnya.  "Nayla!" Mahdi menyongsong Nayla.  Nayla sangat bahagia bisa kembali bertemu ayahnya, terlebih lagi lelaki itu tampak lebih segar dari sebelumnya.  Nayla menghambur, memeluk ayahnya erat-erat. Sepasang ayah dan anak itu larut dalam haru, seolah mereka telah lama tidak bertemu.  "Kamu sehat?" tanya Mahdi.  "Sehat." Nayla melepas pelukannya. Ia menatap Mahdi. "Ayah juga sehat kan?"  "Seperti yang kamu lihat, ayah lebih baik ketimbang terakhir kali kamu lihat."  Nayla merasa lega. Itu sedikit mengurangi perasaan gugupnya.  Mahdi melirik Iron. "Pak Baeni sehat?"  Iron mengangguk sopan. "Alhamdulillah sehat, Pak."  "Ayo masuk!" Mahdi merangkul Nayla.  "Ih, ayah kayak yang punya rumah saja!" Nayla terkekeh.  Mahdi ikut terkekeh. Ia membimbing Nayla memasuki ruang tamu layaknya tuan rumah.  Mahdi dan Nayla duduk di sofa. Iron langsung memasuki ruang tengah.  Di ruang tengah Iron mendapati Nasima tengah melamun di atas kursi rodanya.  "Nayla sudah sampai, Bu!" lapor Iron.  Nayla mengangguk gugup. Ia memberi isyarat kepada Muna agar membawanya ke ruang tamu.  Muna mendorong kursi roda menuju ruang tamu. Iron melangkah di sebelahnya.  Memasuki ruang tamu, pandangan Nasima langsung tertambat kepada Nayla. Perasaannya bergejolak melihat sosok perempuan yang mirip dengan dirinya. Mata Nasima terasa panas, namun ia berusaha agar tidak menangis.  Berjarak lima langkah dari Nasima, Nayla berdiri. Perasaannya membuncah. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Yang terlintas dalam benaknya hanyalah ia harus menyongsong Nasima. Ia pun mendekati saudara kembarnya itu. Semakin mendekat, langkahnya semakin cepat.  Semua rencana yang tadi dipikirkan Nayla seketika sirna. Sekarang yang ada di benaknya hanyalah segera memeluk Nasima. Namun ketika sudah sampai di depan kursi roda, ia hanya bisa mematung.  "Nayla?" sapa Nasima. Matanya sembab.  Nayla mengangguk canggung. Jika tidak ingat bahwa di depannya adalah seorang walikota, ia pasti sudah memeluk Nasima sejak tadi.  Nasima bisa merasakan kecanggungan Nayla. Ia menurunkan kedua kaki. Demi ingin memeluk saudara kembar yang baru bertemu, ia mengabaikan rasa sakit akibat memaksakan diri berdiri.  Muna sigap, bermaksud membantu Nasima, namun buru-buru Iron mencegah.  Sekuat tenaga sambil menahan sakit luar biasa, Nasima berusaha berdiri. Setelah berjuang sekuat tenaga, akhirnya ia berhasil berdiri tegak.  Nayla kaget melihat Nasima berdiri. Reflek kedua tangannya terulur.  Nasima menyambut kedua uluran tangan Nayla. Karena memaksakan diri, tubuh Nayla terhuyung.  Dengan sigap Nayla menahan tubuh Nasima agar tidak jatuh, kemudian memeluknya erat-erat.  Tidak ada kata yang bisa terucap di antara kedua saudara kembar tersebut, hanya air mata yang saling bicara. Mereka hanyut dalam perasaan bahagia yang tidak terkira.  Nayla yang semula merasa canggung, kini ia sudah tidak peduli bahwa Nasima adalah seorang walikota. Perasaan canggung itu lebur dalam dekapan erat.  Nasima menangis sesenggukan. Usahanya mencari saudara kembarnya akhirnya berhasil. Bertahun-tahun ia mengorbankan waktu, tenaga, dan uang terbayar lunas sudah dengan pertemuan mengharukan ini.  Begitu bahagianya Nasima sehingga ia mengabaikan rasa sakit. Pasca operasi, ini adalah kali pertama ia mampu berdiri lama.  Iron dan Muna memandang haru momen pertemuan kedua saudara kembar yang telah terpisah sejak bayi itu. Sementara Mahdi hanya bisa mematung sambil menikmati perasaan bahagia yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Semua beban hidup yang ia tanggung serasa sirna seketika. Melihat Nayla bertemu dengan saudara kembarnya sebelum mati adalah cita-citanya dan sekarang sudah terwujud. "Kamu sehat?" tanya Nasima parau.  "Alhamdulillah sehat," jawab Nayla serak. "Gimana keadaan ibu sekarang?"  "Panggil nama saja. Kita adalah saudara kembar," pinta Nasima. Ia mengusap punggung Nayla dengan lembut.  Nayla tersenyum sambil menangis. "Nasima, terima kasih telah berjuang menemukanku. Aku pun dengan segala keterbatasan berusaha menemukanmu, begitupun ayah."  Nasima mengusap rambut Nayla penuh kasih. "Maukah kamu berbagi ayah denganku?"  "Tentu saja, jika kamu mau," jawab Nayla.  "Terima kasih, Nayla. Aku sangat bahagia. Aku menantikan saat-saat seperti ini." Nasima mempererat pelukannya seolah itu akan menjadi pelukan terakhir dalam hidupnya.  "Iya, aku juga." Kedua tangan Nayla menyangga punggung Nasima agar kuat berdiri. "Kamu mau duduk?"  Nasima mengangguk. "Iya, kita bisa melanjutkan pelukan nanti."  Nayla terkekeh sambil menangis. Ia melepas pelukannya dan membantu Nasima duduk kembali ke atas kursi roda.  Begitu duduk di atas kursi roda, Nasima menyeka air matanya. "Kita duduk di ruang keluarga saja."  "Oke," sahut Nayla. Ia mendorong kursi roda Nasima menuju ruang keluarga.  Muna dan Iron mengekor sepasang saudara kembar itu. Sedangkan Mahdi masih saja mematung di tempatnya. Ia masih ingin larut dalam kebahagiaan ini dengan menumpahkan semua air matanya.  ***  Sisca sedang fokus mendengar arahan ketua fraksi ketika Heri meneleponnya. Beruntung ponselnya dalam mode silent sehingga tidak megganggu acara rapat.  Sisca serba salah. Heri pasti akan melaporkan sesuatu yang penting, namun dalam situasi sekarang rasanya tidak etis kalau ia menjawab panggilan telepon.  Sisca bisa saja izin kepada pimpinan rapat untuk pura-pura ke toilet tapi ia merasa tidak enak karena ketua fraksi sedang memberikan pengarahan penting. Terpaksa ia menunggu sampai rapat berakhir.  Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirmya rapat berakhir. Sisca segera keluar ruangan bermaksud mencari tempat yang aman untuk menelepon Heri. Celakanya, di depan pintu Amando sedang berdiri menungunya.  "Sudah selesai rapatnya, Sayang?" tanya Amando.  Sisca menjadi gugup. "Eh, iya sudah."  "Habis ini kita makan siang yuk?" ajak Amando.  "Boleh!" timpal Sisca. Sambil mencari cara bagaimana bisa terlepas dari Amando sejenak, sampai ia selesai menelepon Heri.   "Mau makan di mana?" tanya Amando.  Alih-alih menjawab, pandangan Sisca berkeliling ke sekitar. Ia harus segera menelepon Heri tanpa didengar siapa pun, termasuk Heri.  Menangkap kegelisahan Sisca, Amando menjadi penasaran. "Kamu kenapa sih, Sayang?"  Nayla terkesiap. Buru-buru ia mengulas senyum. "Nggak papa. Aku cuman kebelet pipis."  Amando terkekeh. "Ya sudah sana ke toilet. Hehehe."  Tanpa membuang waktu Sisca menuju toilet. Ia berlagak sedang kebelet pipis.  Sampai di toilet ia segera menelepon Heri.  "Ada apa, Her?" tanya Sisca penasaran.  "Lapor, Bos!"  "Ada kabar apa?"  "Tadi saya sempat melihat seorang perempuan yang mirip dengan Nayla keluar dari toilet. Saya melihat ia masuk ke sebuah mobil sedan mewah, kemudian saya mengikutinya," cerita Heri.  "Kamu catat nomor polisinya nggak?" tanya Sisca.  "Catat, Bos, tapi setelah saya cek nomor polisi itu ternyata palsu."  "Sial!"  "Saya tempel terus itu mobil," lanjut Heri. "Saya menyalip mobil itu kemudian berhenti secara tiba-tiba. Tujuan saya agar mobil itu menabrak mobil saya. Dengan begitu orang-orang yang berada di mobil itu terpancing keluar. Saya ingin memastikan kalau Nayla berada di dalamnya."   "Terus?" Sisca berharap-harap cemas.  "Sayangnya mobil itu berhasil menghindari tabrakan. Mereka pindah lajur dan tancap gas. Sementara saya malah terjebak di antara dua truk. Saya kehilangan jejak, Bos."  "Bodoh!" maki Sisca kesal.  "Tapi saya sudah identifikasi ciri-ciri mobil itu. Sedan mewah seperti itu tidak banyak di kota ini, Bos."  Sisca mendengus. "Sedan mewah memang nggak banyak di kota ini tapi belum tentu mobil itu milik warga kota sini!"  "Maaf, Bos, saya akan cari identitas mobil itu."  "Kamu punya fotonya?"  "Ada, Bos," jawab Heri. "Saya juga merekam video."  "Kirimkan ke aku sekarang!"  "Baik, Bos."  Sisca mengakhiri panggilan telepon. Ia menunggu kiriman file foto dan video dari Heri.  Tidak lama kemudian Sisca mendapatkan kiriman foto dan video. Sayangnya belum sempat ia memeriksanya, ponselnya berdering. Amando meneleponnya.  "Sayang, aku tunggu kamu di lobi ya?" beritahu Amando.  "Iya, ini aku sudah selesai kok!" ujar Sisca.  Sisca menarik napas dalam-dalam, berharap foto dan video dari Heri akan memberinya petunjuk baru tentang keberadaan Nayla. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN