Selepas makan siang bersama, Nasima mengajak Nayla dan Mahdi bersantai di ruang keluarga.
Iron yang merasa bukan bagian keluarga Mahdi, bermaksud menyingkir, tetapi Nasima memintanya nimbrung bersama mereka.
Mereka duduk di sofa mengitari sebuah meja yang di atasnya terhidang berbagia macam buah-buahan segar dan makanan ringan.
"Pak Baeni ini adalah orang kepercayaan saya. Ia tidak memiliki jam kerja, selalu siap menjalankan tugas dari saya." Nasima memperkenalkan Iron kepada Mahdi dan Nasima.
Iron mengangguk ramah kepada Mahdi dan Nayla.
"Kalau Nayla, saya yakin pasti sudah mengenalnya bukan?" Nasima mengerjap kepada Nayla.
Nayla tersipu. "Iya, aku sudah kenal, tapi bukan sebagai Iron, melainkan Pak Baeni."
"Iron itu nama panggilan khusus dariku," beritahu Nasima. "Nama lengkapnya Baeni Khaeroni."
Nayla melirik Iron sekilas. Ada desiran halus yang masih ia rasakan meskipun sekarang pandangannya beralih kepada Nasima.
Nayla sudah terkesima kepada Iron sejak pertama kali bertemu. Wajah lelaki itu tampan. Meskipun jarang tersenyum tapi ia merasa lelaki itu memiliki kharisma. Sayangnya, sikap Iron sering menyebalkan. Itu membuatnya malas berurusan dengan lelaki itu.
"Iron adalah anak dari paman angkatku." Nasima menatap Nayla dan Mahdi bergantian. "Sejak kecil kami selalu bersama. Sikapnya kadang menyebalkan tetapi ia adalah seorang yang sangat peduli kepada siapa pun."
"Iron punya panggilan khusus sama kamu?" tanya Nayla penasaran.
"Punya dong," sahut Nasima. Ia melirik Iron. "Iron memanggilku dengan sebutan ibu."
Iron terkekeh sendiri.
Nayla penasaran. "Kenapa begitu?"
Nasima tersenyum mengenang masa kecil. "Waktu kecil aku sangat cerewet seperti ibunya. Makanya ia meledekku dengan sebutan ibu."
Mahdi angkat bicara. Ia penasaran. "Jadi kalau Pak Baeni memanggil 'ibu' itu karena sudah terbiasa sejak kecil atau memang panggilan hormat kepada walikota?"
"Biar Pak Baeni saja yang menjawab," ujar Nasima sambil mengerling kepada Iron. Ia memberi penekanan ketika menyebut 'Pak Baeni'.
Iron terkekeh. "Aslinya karena sudah terbiasa sejak kecil tapi orang lain mengira itu panggilan hormat seorang bawahan kepada atasannya."
Nayla menimpali. "Sebenarnya aku masih canggung memanggil nama dan menyebut 'kamu' sama walikota."
"Yah, aku maklum, Nay. Kita baru ketemu. Satu sama lain juga belum saling mengenal," timpal Nasima. "Nanti juga terbiasa."
"Cepat atau lambat kalau kalian sering bertemu seperti ini, pasti kalian akan merasakan serunya berantem antara saudara kandung." Iron mengerjap kepada Nasima dan Nayla secara bergantian. "Itu keniscayaan, nggak bisa dihindari, harus dihadapi dan diselesaikan."
Nasima terkekeh. Ia melirik Mahdi. "Tenang saja, kan ada ayah."
Mahdi mengangguk. "Nayla nggak pernah berantem sama saudaranya karena sejak kecil sendiri. Jadi bisa dibilang saya nggak punya pengalaman untuk melerai anak berantem."
Semua yang ada di ruangan itu tertawa mendengar seloroh Mahdi.
Iron menatap Nayla. "Tenang saja, Nay, aku pasti akan kasih tips bagaimana cara menghadapi ibu."
Nasima mengernyit sebal. "Nggak boleh, itu curang namanya. Nayla harus mengenalku sendiri."
Nayla tersenyum senang. Kegelisahannya bahwa suasana akan kaku bersama Nasima terbantahkan sekarang. Nasima ternyata bisa cair juga. Sedikit demi sedikit, perasaan canggungnya menjadi luntur.
"Kamu belum menikah, Nay?" tanya Nasima berusaha agar lebih akrab kepada saudara kembarnya itu.
Nayla menggeleng tersipu.
"Sudah punya pacar?" tanya Nasima sambil melirik Iron.
Nayla menjadi sedih. "Pernah punya pacar tapi sekarang sudah putus."
Nasima bersimpati. "Aku turut prihatin."
Nayla mengangguk.
Dari cara Nasima meliriknya, Iron mencium gelagat kalau Nasima ingin menjodoh-jodohkan dirinya dengan Nayla. Buru-buru ia mengalihkannya ke topik lain. Ia mengambil irisan buah naga dari atas piring. "Buah naga ini sangat enak."
"Lebih enak lagi dinikmati bersama pasangan," timpal Nasima menyindir Iron.
Iron pura-pura tidak mendengar. Ia memasukkan irisan buah naga ke dalam mulut. "Mmhh, tuh kan enak banget."
Nasima menoleh kepada Iron. "Masa?"
Iron mengangguk sambil mengunyah.
"Terus yang nggak enak itu apa?" pancing Nasima.
Iron menelan kunyahannya. "Yang nggak enak adalah buah naga yang sudah busuk."
Nasima bersemangat untuk mencecar Iron. "Lebih nggak enak mana dengan menjomblo selama tiga puluh tahun?"
Iron tahu dirinya sedang diledek. "Aku pikir semua yang ada di sini adalah jomblo. Jadi nggak usah menyindir dah!"
Nasima tertawa sambil menutupi mulut menggunakan telapak tangan. "Jangan samakan kamu dengan kami semua. Kami sudah pernah punya pasangan, sedangkan kamu sama sekali belum pernah."
Iron mati kutu. Sejak dulu ia malas berdebat dengan Nasima karena selalu kalah.
"Memangnya kamu jomblo juga?" tanya Nayla kepada Nasima. Selepasnya ia merasa menyesal sudah menamyakannya karena takut menyinggung perasaan.
Nasima mengangguk "Aku dan suamiku menikah di usia muda. Kami sama-sama berusia dua puluh dua tahun waktu itu dan baru selesai menyelesaikan skripsi. Mungkin karena kami hanya bermodal saling cinta tapi nggak cukup bijak menyikapi setiap kali diterpa masalah, sehingga kami kerap kali gagal untuk saling memahami."
Nayla menatap Nasima penuh penyesalan. "Maaf, aku sudah menanyakan itu."
Nasima tersenyum. "Nggak papa, Nay. Kamu perlu tahu masa laluku juga."
Nayla merasa sedikit lega.
"Usia pernikahan kami hanya berusia kurang dari tiga tahun," lanjut Nasima. "Akhirnya kami sepakat untuk hidup sendiri-sendiri. Mantan suamiku itu sekarang sudah menikah dan punya anak. Semantara aku lebih memilih untuk berkarir."
Nayla meraih pergelangan tangan Nasima. "Kamu hebat, Nasima."
Nasima menoleh. "Hebat kenapa?"
Nayla meremas jemari Nasima. "Kamu berhasil melewati masa-masa sulit dan akhirnya sukses menjadi walikota."
Nasima membalas senyum Nayla. "Dibilang hebat, enggak juga, karena selama setahun itu aku sulit keluar dari tekanan. Aku banyak menangis dan melamun. Kalaupun akhirnya aku berhasil, itu nggak terlepas dari peran Iron."
Semua mata memusatkan pandangan kepada Iron. Nayla dan Mahdi menjadi penasaran.
Iron menjadi risih. "Kenapa aku disebut-sebut?"
"Iron selalu ada setiap kali aku butuh tempat berbagi. Ia mau melakukan apa saja asal aku berhenti bersedih," kenang Nasima. "Ia bahkan rela tidak punya waktu untuk pacaran karena selalu menemaniku melewati masa-masa sulit."
"Karena aku memang nggak laku saja!" Iron merendah.
"Ih, enggak juga. Banyak cewek yang suka sama kamu tapi kamu pura-pura nggak tahu," sanggah Nasima. Ia menghitung jari-jari tangan sambil mengingat-ingat sesuatu. "Ada Lola, Irin, Sofia, Yanti, Umayah, terus belakangan ada Dina sama Naruto!"
Iron mengernyit. "Siapa Naruto?"
Nasima tertawa. "Itu lho, cewek bermata sipit yang ngefans banget sama Naruto. Siapa ya namanya?"
"Tauk!" Iron kembali mengambil irisan buah naga. Ia mulai tidak nyaman menjadi bahan obrolan.
"Cobalah membuka hati. Kamu nggak mungkin menjomblo seumur hidup!" saran Nasima.
"Cerewet!" gerutu Iron sambil melirik Nasima sebal.
Mahdi, Nayla, dan Nasima kompak tertawa melihat wajah sebal Iron.
Iron mengalihkan topik. "Nanti malam ada pertandingan sepakbola, kesebelasan kota kita melawan tim dari Vietnam."
Nasima mendesah. "Seharusnya aku bisa hadir di stadion buat menyemangati tim kita."
"Ibu nggak bisa datang?" tanya Iron.
Nasima menggeleng sedih. "Kamu saja yang datang."
"Kedatanganku nggak ada pengaruhnya di sana. Aku ini siapa?" ujar Iron. Ia berharap Nasima bisa datang agar tim sepakbola kota ini memiliki semangat lebih.
"Kamu bisa mengajak Nayla." Nasima mengerjap.
Spontan Iron menatap Nayla. Nayla menjadi salah tingkah.
"Mereka membutuhkan ibu!" bujuk Iron.
Nasima diam, membenarkan ucapan Iron. Hanya saja kondisinya sedang tidak fit, apalagi ia tergantung kursi roda.
"Kamu sudah dikenal tim kesebelasan kita," ujar Nasima kepada Iron. "Kehadiranmu pasti akan memberi semangat lebih kepada mereka."
Iron menggeleng. "Mereka akan lebih bersemangat kalau ibu yang hadir."
Nayla menunduk sedih. "Tapi aku nggak bisa, Ron."
Meskipun kecewa, Iron memahami kondisi Nasima. "Pak wakil walikota bisa datang kan?"
Nasima menggeleng. "Beliau sedang ke Jakarta menemui menteri dalam negeri."
"Padahal pertandingan itu akan disiarkan langsung televisi nasional," sesal Iron. "Kehadiran ibu di sana bisa memberikan efek positif kepada warga. Kita butuh dukungan warga dalam proyek pembangunan stadion baru."
"Aku tahu itu," timpal Nasima. "Kalau kondisinya memungkinkan, aku pasti datang."
Iron menarik napas panjang. "Ya sudah nggak udah dipaksakan."
"Kamu saja yang datang!" Nasima mengerjap penuh harap.
"Aku memang selalu datang setiap kali tim kita bertanding," sergah Iron.
"Kamu datang sebagai wakilku!" tegas Nasima. "Kamu harus duduk di tribun VVIP."
Iron menggeleng. "Nggak asyik di sana. Aku nggak bisa teriak-teriak."
Nasima menatap Iron penuh permohonan. "Please, ajak Nayla sekalian."
Iron mendengus. Sejak dulu ia tidak pernah mampu berkata 'tidak' kepada Nasima. Ia selalu memenuhi permintaan saudara angkatnya itu.
Nasima menoleh kepada Nayla. "Kamu suka sepakbola?"
Nayla mengerjap. "Kalau nonton suka, tapi kalau main nggak bisa."
"Nah, kebetulan ada dua tiket VVIP. Kamu bisa menonton pertandingannya nanti malam. Kamu mau kan menemani Iron?" Nasima mengerjap penuh harap.
Nayla menatap Nasima bimbang. Satu sisi ia merasa senang bisa menonton sepakbola secara langsung di stadion dengan kelas VVIP, tapi satu sisi ia merasa risih harus menemani Iron. Bukannya ia tidak mau bersama Iron, tapi hatinya selalu berdebar tidak menentu setiap berada dekat lelaki itu.
"Aku tetap berangkat misal Nayla nggak mau," ujar Iron.
Nasima memegang tangan Nayla. "Kamu mau kan?"
Nayla merasa tidak enak hati untuk menolak. Terpaksa ia mengangguk. "Aku harus izin dulu sama ayah."
"Ayah mengizinkan," ujar Mahdi kepada Nayla.
Nasima merasa senang. Sudah lama ia ingin mencarikan Iron kekasih. Ia merasa lelaki itu cocok jika berpasangan dengan Nayla.
***
Sisca menggamit lengan Amando manja. Mereka menapaki anak tangga menuju tribun VVIP.
"Sejak kapan kamu suka sepakbola, Sayang?" pancing Sisca. Ia tahu Amando tidak begitu antusias sama sepakbola.
Amando mencubit hidung Sisca. "Sejak tahu kamu menggemari sepakbola."
"Masa?"
Amando mengangguk bohong. Sebenarnya ia malas menonton pertandingan sepakbola. Namun ia ingin menyenangkan hati Sisca demi ambisi politiknya.
Sejak dulu, Amando tidak pernah menyukai Sisca. Bahkan ketika gadis itu menembaknya, ia sempat menolak. Sekarang ia pura-pura mengejar Sisca sekadar cara agar bisa meraih hati Ferdy.
Amando paham benar, Ferdy akan melakukan apa saja demi membahagiakan anak semata wayangnya. Sehingga ia yang sebelumnya malas bertemu Sisca justru akhirnya menembak gadis itu.
Baru jadian sebulan dengan Sisca, Amando sudah langsung mendekati Ferdy. Kepada Ferdy ia mengutarkan niat untuk melamar Sisca.
Ferdy tahu sejak dulu Sisca menginginkan Amando. Sehingga ia merasa bahagia ketika mendengar Amando ingin melamar anak semata wayangnya itu. Ia bukan hanya merestui, tapi juga memberi perhatian lebih kepada Amando.
Amando tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan pendekatan yang cerdik, ia akhirnya berhasil membuat Ferdy berniat menjadikannya kandidat walikota.
Posisi Ferdy sebagai sekjen partai, membuatnya mudah meyakinkan ketua umum. Amando akhirnya mendapatkan restu dari ketua umum partai untuk maju dalam pencalonan walikota mendatang.
"Belok kanan, Sayang!" beritahu Sisca, menunjukkan arah menuju tribun VVIP.
Amando dan Sisca berbelok kanan, menuju tribun VVIP. Keduanya tampak sangat mesra, mengundang perhatian dari para penonton lain.
Sampai di tribun VVIP, tiba-tiba langkah Amando terhenti. Pandangannya tertambat kepada sesosok perempuan yang pernah menghiasi hari-harinya: Nayla.
Amando tidak menyangka akan bertemu Nayla di sini. Ia merasa heran kenapa mantan kekasihnya itu bisa berada di tribun VVIP yang tiketnya lebih mahal ketimbang gaji gadis itu.
Nayla tampak sedang mengobrol dengan seorang lelaki berpostur tinggi tegap. Amando yakin, lelaki itulah yang mengajak Nayla.
Amando menelan ludah. Ia cemburu melihat Nayla bersama lelaki lain. Meskipun mereka sudah putus, tapi ia masih mencintai mantan kekasihnya itu.
"Kenapa berhenti, Sayang?" Sisca merasa heran.
Sisca melihat Amando tampak kaget memandang seseorang. Ia mengikuti arah pandangan calon tunangannya tersebut. Sontak ia terbelalak, melihat sosok Nayla.
Di depan Amando, selama ini Sisca berperan seolah-olah tidak pernah mengenal Nayla. Sehingga meskipun hatinya terbakar cemburu, ia berusaha sekuat hati untuk bersikap biasa-biasa saja.
"Sayang, kok berhenti sih?" Sisca menggamit lengan Amando lebih erat. "Ayo cari kursi kita!"
Amando terkesiap. "Eh, iya, ayo!" Ia meneruskan langkah.
Semakin mendekati Nayla, Sisca semakin menunjukkan kemesraannya. Ia bersikap seolah tidak mengetahui keberadaan Nayla.
Sisca tahu kursi mereka sudah terlewati, tapi ia terus saja berjalan lewat di depan Nayla.
Persis ketika berjalan di depan kursi Nayla, Amando membuang muka agar terkesan tidak mengetahui keberadaan gadis itu. Pada saat yang bersamaan, Sisca semakin menunjukkan kemesraannya dengan Amando.
Pada saat Sisca dan Amando lewat di depannya, sebenarnya Nayla tidak menyadari keberadaan mereka. Gadis itu terlalu fokus mendengar ucapan Iron yang sedang memberitahunya bahwa walikota sedang membangun stadion baru bertaraf internasional.
"Rencananya stadion baru itu berkapasitas lima puluh ribu penonton," beritahu Iron kepada Nayla. "Sayangnya proyek itu terkendala pembebasan lahan."
"Kenapa bisa begitu?" tanya Nayla menyayangkan.
"Masih ada beberapa pemilik lahan yang menolak harga yang diajukan pemerintah kota," jelas Iron.
"Terus apa yang dilakukan pemerintah kota?" tanya Nayla.
"Mereka terus melakukan pendekatan kepada para pemilik lahan."
Nayla mengangguk, mendukung rencana pemerintah kota. Ia mengalihkan pandangan dari Iron ke lapangan. Seketika ia terbelalak, melihat Amando dan Sisca sedang lewat di depannya.
Hati Nayla mendidih melihat mereka. Bukan saja karena ia cemburu tapi juga ia sangat marah kepada Sisca yang pernah memfitnahnya sampai ia masuk sel tahanan.
Tahu kalau Nayla sedang memeperhatikannya, Sisca semakin menunjukkan kemesraannya dengan Amando. Tadi ia pura-pura kelewatan kemudian putar arah kembali agar bisa bolak-balik melewati Nayla.