Babak pertama pertandingan sepakbola antara klub kebanggan kota ini dengan salah satu tim dari Vietnam baru saja selesai. Selama menunggu babak kedua dimulai, Sisca menggunakan kesempatan itu untuk pergi ke toilet.
Sisca menelepon Heri.
"Her, di tribun VVIP ada Nayla sedang bersama Pak Baeni," beritahu Sisca.
"Siapa itu Pak Baeni?" tanya Heri. Ia memang tidak mengenal Iron.
"Pak Baeni adalah kepala staf khusus walikota. Ia adalah orang kepercayaan Ibu Nasima." Sisca menjelaskan. "Aku yakin Pak Baeni adalah orang yang membebaskan dan melindungi Nayla."
"Lalu apa yang harus kulakukan, Bos?"
"Kamu ke stadion sekarang. Tunggu di pintu keluar tribun VVIP. Begitu melihat Nayla keluar, kamu ikuti mereka."
"Baik, Bos," ucap Heri. "Tapi saya tidak tahu seperti apa wajah Pak Baeni."
Sisca mendengus. "Nanti aku kirimkan fotonya. Kamu bawa orang-orangmu ke sini segera dan ikuti mereka. Jangan sampai mereka lolos lagi."
"Siap, Bos."
"Cari tahu Nayla tinggal di mana dan apa kaitannya dengan Pak Baeni."
"Oke, Bos."
"Ingat ya, jangan sampai kamu gagal lagi!"
"Siap, Bos!"
"Awas kalau gagal!"
Sisca mengakhiri panggilan teleponnya. Ia mencari foto Pak Baeni dalam galeri. Setelah menemukannya, ia mengirimkannya kepada Heri.
Sisca memasukkan ponsel ke dalam tas lalu kembali ke tribun VVIP.
"Belum mulai?" tanya Sisca kepada Amando.
Amando menggeleng. Perasaannya tidak nyaman sejak melihat Nayla tadi. Sepanjang pertandingan pada babak pertama, pikirannya dijejali bermacam pertanyaan. Ia merasa penasaran kepada lelaki yang bersama Nayla. Ia tidak terima mantan kekasihnya itu jalan bersama lelaki lain. Meskipun sudah putus dan sekarang menjalin hubungan dengan Sisca, tetapi ia tetap saja merasa cemburu.
Menurut logika Amando, lelaki yang bersama Nayla pastilah bukan orang sembarangan karena bisa membeli tiket VVIP.
Tidak mudah mendapatkan tiket VVIP. Jumlahnya terbatas karena sebagian besar diperuntukkan untuk para pejabat dan undangan. Sehingga meskipun memiliki banyak uang, belum tentu semua orang bisa mendapatkan tiketnya.
"Kamu mau minum, Sayang?" tanya Sisca.
Lagi-lagi Amando hanya menggeleng. Sikapnya itu menbuat Sisca kesal. Gadis itu yakin kalau Amando sedang memikirkan Nayla.
"Kamu kok diam saja sih sejak tadi?" gerutu Sisca manja.
Amando tersenyum malas. "Mungkin karena aku nggak terbiasa menonton pertandingan sepakbola."
Sisca mengangguk, pura-pura percaya, padahal ia yakin Amando berbohong.
"Kita pindah saja yuk?" ajak Amando.
Sisca keberatan. "Pindah ke mana? Kita nggak bisa sembarangan pindah kursi karena semua tiket memiliki nomor kursi."
"Di belakang ada dua kursi kosong. Pemiliknya sudah pulang sejak tadi," beritahu Amando.
Sisca mendengus. "Bisa saja mereka ke toilet dan bakal kembali lagi ke kursinya."
Amando tidak mau berdebat. Ia mengalah saja.
Sisca tahu Amando kecewa. Ia menjadi tidak enak hati. Daripada sumpek melihat Amando diam, terpaksa ia harus menuruti lelaki itu. Setelah ia pikir-pikir, ada untungnya juga kalau pindah ke belakang. Dengan begitu ia bisa leluasa mengawasi Nayla. Ia akan tahu jika gadis itu meninggalkan kursinya.
"Oke!" ucap Sisca kepada Amando. "Kalau itu bisa membuatmu nyaman, kita pindah saja ke belakang."
Amando merasa lega. "Terima kasih, Sayang!"
Sisca mengangguk sebal. Ia mengulurkan tangan ke arah Amando. "Tapi jangan cemberut ya?"
Amando tersenyum. Ia menarik tangan Sisca. "Mana bisa aku cemberut sama kamu?"
Amando dan Sisca pindah ke belakang. Kalau tadi mereka berada di depan Nayla dan Iron, kini mereka di belakangnya.
Nayla tahu Amando dan Sisca pindah ke belakang tapi ia pura-pura tidak tahu.
"Lima menit lagi babak kedua dimulai," beritahu Iron.
Selagi Amando dan Sisca berada di belakangnya, Nayla menggunakan kesempatan ini untuk memanas-manasi Amando.
"Kok tahu?" tanya Nayla sambil menyandarkan kepala ke bahu Iron.
Iron kaget dengan sikap Nayla. "Waktu istirahatnya kan lima belas menit. Sekarang sudah jalan sepuluh menit. Jadi tersisa lima menit kan?"
"Kalkulatior kamu hebat!" puji Nayla bercanda.
Iron tertawa. "Kamu capek ya?"
"Iya, kamu nggak keberatan kan kalau aku pinjam bahumu?" tanya Nayla sambil sekuat hati berusaha menghalau perasan malu.
"Tentu saja enggak keberatan. Ada tarifnya tapi."
"Memang berapa tarifnya?"
"Lima milyar."
"Hehehe, murah amat?"
Iron terkekeh. "Itu karena aku sudah mendiskonnya hingga 99%."
"Tetep masih murah."
"Memangnya kamu punya uang sebanyak itu?"
"Enggak."
"Lalu kenapa bisa komentar murah?"
"Kalau bahumu remuk, apakah uang lima milyar cukup buat mereparasinya atau buat membelinya yang baru?" tanya Nayla diplomatis.
"Belum tentu sih!"
"Nah iya kan?"
Iron terkekeh. Ia salut dengan kepintaran Nayla. "Aku bisa meminjamkan lenganku kalau kamu mau?"
"Serius?" Nayla merasa geli kepada dirinya sendiri yang rela malu demi bisa memanas-manasi Amando.
"Serius dong!"
"Ya sudah, kalau begitu pinjamkan lenganmu!"
Iron melingkarkan lengan ke bahu Nayla. Ia merasa aneh dengan sikap gadis itu yang tiba-tiba manja kepadanya.
Sebenarnya Iron merasa tertarik kepada Nayla sejak lama, jauh sebelum mereka bertemu. Ia tidak tahu apakah itu bisa disebut naksir atau tidak. Yang pasti ia merasa kagum dengan perjuangan gadis itu dalam mencari nafkah demi menghidupi diri dan ayahnya.
Lebih dari setahun Iron menyelidiki Nayla, membuatnya mengetahui kehidupan sehari-hari gadis itu. Yang pasti di matanya, Nayla memang cantik. Posturnya tinggi dan langsing berisi. Menurutnya, Nayla pantas menjadi seorang bintang model.
"Tangan kamu kok bergetar?" tanya Nayla.
Iron terkesiap. "Oh iya?"
"Iya. Badanmu juga gemetar."
"Mungkin karena pengaruh sorak-sorai penonton," dalih Iron.
"Kirain karena kamu grogi," canda Nayla.
Iron tertawa. Tanpa sadar tangannya mengelus rambut Nayla.
"Bahumu terlalu ketinggian. Leherku pegal," ujar Nayla. Ia memiliki ide lain yang menurutnya akan lebih membuat hati Amando semakin panas.
"Terus aku harus bagaimana?" tanya Iron.
"Pinjami aku dadamu!" pinta Nayla sambil menahan malu.
"Oke!" Iron merengkuh bahu Nayla semakin dalam, hingga kepala gadis itu terbenam ke dadamya.
"Kamu boleh memelukku!" ujar Nayla.
Dengan canggung, Iron memeluk erat Nayla. Ia masih belum mengerti dengan sikap manja gadis itu. Meskipun begitu ia menikmatinya. Seumur-umur, baru kali ini ia memeluk seorang gadis selain Nasima yang memang adalah saudara angkatnya.
Di belakang mereka, Amando memandang Nayla dan Iron dengan perasaan cemburu. Sementara itu Sisca merasa kesal karena tahu kalau Amando sedang cemburu melihat kemesraan Nayla dengan lelaki lain.
***
Melalui spion, Iron melihat sebuah mobil sedan tampak mengikutinya sejak tadi. Untuk memastikannya, ia menambah kecepatan. Mobil di belakangnya ikut menambah kecepatan. Ia pun mencoba berjalan lambat, mobil itu ikut melambat. Sehingga ia pun merasa yakin kalau ia dan Nayla sedang dibuntuti.
Iron berusaha tenang. Ia memutuskan untuk tidak memberitahukan situasi ini kepada Nayla agar gadis itu tidak panik.
"Iron, maaf ya kalau tadi sikapku aneh sama kamu," ucap Nayla.
Iron berlagak bingung. "Aneh kenapa ya? Perasaan biasa-biasa saja tuh."
Nayla sebal melihat lagak Iron. "Tadi itu aku akting saja, nggak beneran pengen manja-manja sama kamu."
Iron pura-pura kaget. "Oh jadi kamu tadi itu lagi pengen manja-manja sama aku?"
Nayla mendengus. "Kamu paham bahasa manusia nggak sih?"
Iron mengerjap. "Paham."
"Ya seharusnya kamu paham dong maksud ucapanku!" Nayla menjadi kesal.
"Tapi kamu kan bukan manusia!"
Nayla membelalakkan mata.
Iron mengedikkan bahu. "Maaf kalau aku terlalu terus terang. Kejujuran memang kadang terasa pahit, tapi aku harus katakan kalau kamu memang bukan manusia, melainkan bidadari."
Nayla melengos sambil menahan senyum. "Nggak lucu!"
Iron mengira Nayla kesal. Ia membiarkannya saja. Ia lebih fokus memperhatikan spion. Mobil sedan itu masih terus mengikutinya.
"Aku heran sama Nasima!" ujar Nayla tanpa memandang Iron.
"Heran kenapa?"
Nayla menoleh. "Ya heran saja, kenapa Nasima bisa tahan ketemu kamu terus sejak kecil."
Iron menoleh. "Memangnya aku kenapa?"
"Nyebelin!"
Iron mengangguk. "Memang."
"Dih bangga!" gerutu Nayla.
Iron lebih sibuk mengamati mobil di belakangnya melalui spion ketimbang meladeni gerutuan Nayla.
Rasa sebal membuat Nayla kehilangan mood untuk menjelaskan kenapa tadi di stadion berpura-pura mesra kepada Iron.
Iron melirik Nayla yang tampak sedang sebal. "Jadi sebenarnya tadi kamu manja-manja sama aku itu karena suatu alasan?"
Nayla mendesah gemas. Pada saat ia kehilangan mood untuk menjelaskan, sekarang Iron malah mengungkitnya lagi.
"Kamu cuman akting?" cecar Iron.
Nayla diam.
"Terus kenapa harus akting?" selidik Iron. "Kamu sedang ingin manas-manasin siapa?"
Nayla menoleh. "Amando, mantanku."
Iron mengerjap. "Amando menonton sepakbola?"
"Iya sama Sisca."
"Kok aku nggak lihat Sisca ya?" ujar Iron.
Nayla mendengus. "Amando juga nggak lihat?"
"Aku nggak kenal Amando," ujar Iron bohong. Ia merasa kesal kepada lelaki itu yang sudah menyakiti hati Nayla.
"Serius?" Nayla merasa heran.
"Iya."
"Amando sekarang lagi naik daun lho!" beritahu Nayla. "Balihonya ada di mana-mana."
"Nggak kenal!"
Nayla tidak mempercayai pengakuan Iron. "Aku tahu kamu bohong soal tidak mengenal Amando."
Alih-alih menyanggah tuduhan Nayla, Iron kembali melirik spion, mengawasi mobil di belakangnya.
Iron punya ide. "Nay, lebih baik malam ini kita menginap di hotel."
Nayla kaget. "Nggak mau!"
"Harus mau," ujar Iron santai.
Nayla mendelik. "Jangan macam-macam sama aku!"
Iron tidak menanggapi Nayla. Ia menyalakan sein kiri. Dua ratus meter di depannya ada sebuah hotel. Ia akan mengajak Nayla menginap di sana.
Mobil memasuki area hotel. Iron langsung memarkirkan mobilnya. Ia melihat mobil yang sejak tadi menguntitmya itu juga ikut parkir.
Tadinya Nayla pikir Iron hanya bercanda soal menginap di hotel. "Ternyata beneran?"
Iron melepas sabuk pengaman. Ia menatap Nayla. "Sejak keluar stadion, aku merasa kita sedang dikuntit. Sengaja tadi aku nggak ngasih tahu kamu biar nggak panik."
Nayla mengernyit. "Lalu kenapa kita harus ke hotel?"
"Aku curiga mereka ada kaitannya dengan Sisca," ujar Iron. "Jika benar, pasti mereka ingin tahu di mana sekarang kamu tinggal. Maka itu aku mengajakmu ke hotel."
Nayla mempercayai Iron, hanya saja ia tidak setuju kalau mereka menginap di hotel. "Tapi kenapa harus ke hotel? Kamu kan bisa ajak aku ke tempat lain."
"Karena paling enak menginap di hotel." Iron membuka pintu mobil. "Ayo bersenang-senang!"
Nayla ingin menolak tapi ia tidak berdaya. Kalau ia pergi dari sini ke suatu tempat, pasti penguntit itu akan terus mengikutinya. Terpaksa ia menuruti Iron.
Nayla percaya Iron tidak akan berbuat macam-macam kepadanya. Itu membuatnya sedikit tenang.
"Ayo!" Iron melingkarkan lengan ke bahu Nayla.
Nayla pasrah saja agar semuanya tampak normal. Ia yakin penguntit itu sedang mengawasi mereka.
Iron dan Nayla menuju ke resepsionis. Sampai di sana ia disambut dengan ramah.
"Selamat datang di Cielo Hotel!" Seorang petugas resepsionis mengangguk ramah.
"Masih ada suite room?" tanya Iron tanpa basa-basi.
"Ada, Pak. Untuk berapa orang?"
"Dua orang satu kamar," jawab Iron.
Nayla terbelalak. Meskipun cemas tapi ia masih mempercayai Iron.
"Baik, Bapak, masih tersisa dua kamar. Bapak mau pilih yang mana?"
"Yang mana saja asal suite room!"
"Baik, Bapak, kalau begitu saya pilihkan kamar nomor 99."
Iron mengangguk. Ia menyerahkan kartu debit dan KTP kepada petugas resepsionis.
Setelah selesai menginput data, petugas resepsionis memberikan kartu pintu kepada Iron. "Silakan, ini cardlock-nya, Pak."
"Terima kasih,"
"Sama-sama, Bapak dan Ibu. Semoga istirahatnya menyenangkan."
Iron menggandeng Nayla menuju kamar nomor 99. Berjarak belasan meter dari resepsionis, Heri dan dua rekannya sedang mengawasi Iron dan Nayla dari balik pot besar yang berada di lobi.