Iron dan Nayla sampai di depan kamar nomor 99.
Iron mengacungkan cardlock kepada Nayla. "Ini namanya cardlock. Kita akan menggunakannya untuk membuka pintu. Aku akan ajarkan caranya. Kamu perhatikan baik-baik bagaimana aku membuka pintu ini. Nggak sulit kok!"
Nayla mengangguk. "Oke."
Iron menunjuk sebuah kotak yang berada di bawah daun pintu. "Ini namanya kotak sensor. Aku akan mengetukkan cardlock ke sana. Perhatikan baik-baik." Iron mengetukkan cardlock pada kotak sensor. Terdengar bunyi, bersamaan dengan lampu sensor menyala biru.
Nayla memperhatikan apa yang dilakukan Iron dengan seksama. Tadinya ia menduga kalau pintu kamar akan dibuka menggunakan anak kunci.
"Coba sekarang kamu putar daun pintu ke bawah!" pinta Iron.
Nayla mengerjap gugup. Ia melakukan seperti yang dipinta Iron. Pintu kamar pun terbuka. Seketika ia merasa senang bukan main. Ini adalah pengalaman pertamanya membuka pintu kamar hotel.
"Ayo masuk!" ajak Iron.
Nayla masuk, diikuti Iron. Ruangan kamar masih gelap.
"Selain untuk membuka pintu, cardlock juga berfungsi untuk menyalakan lampu," beritahu Iron. "Sekarang kita cari kotak sensornya. Biasanya terletak di samping saklar lampu di dekat pintu."
Tidak sulit bagi Iron menemukan kotak sensor tersebut karena ia sudah terbiasa menginap di hotel. Namun ia perlu menunjukkan cara menyalakan lampu kepada Nayla.
"Kamu coba nyalakan senter menggunakan ponselmu!" pinta Iron. "Arahkan ke dinding yang aku tunjuk!"
Nayla menyalakan lampu senter dari ponsel. Ia mengarahkannya ke dinding yang ditunjuk Iron.
"Nah ini kotak sensornya," tunjuk Iron. Ia menyerahkan cardlock kepada Nayla. "Coba kamu letakkan cardlock itu ke kotak sensor ini."
"Oke." Nayla mendekat. Ia meletakkan cardlock ke kotak sensor. Seketika lampu-lampu di dalam kamar menyala.
Nayla mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kamar. Matanya berbinar kagum dengan kemewahannya.
Menurut Nayla, ruangan ini terlalu besar untuk disebut sebagai kamar. Luasnya hampir sama dengan luas rumahnya.
Tanpa sadar ia melangkah menuju kasur. Ia mengusap-usap spreinya yang halus dan lembut.
"Kamu beristirahatlah. Aku akan menjagamu dari luar, Sekitar jam tiga nanti aku ajak kamu pulang, jadi kamu sudah harus siap sebelum aku datang," ucap Iron. "Saranku jangan keluar-keluar kamar kecuali aku yang minta."
Nayla menoleh. "Kamu akan tidur di mana?"
"Kamu nggak perlu tahu!" Iron berjalan menuju pintu.
"Iron!" panggil Nayla spontan.
Iron menoleh.
Nayla kelabakan sendiri karena ia sebenarnya tidak tahu kenapa tadi memanggil lelaki itu.
"Ada apa?" tanya Iron.
"Terima kasih ya?" Akhirnya itu yang keluar dari mulut Nayla.
Iron mengerjap saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia membalikkan badan, kemudian meninggalkan kamar.
Iron menelusuri lorong. Di ujung, ia berpapasan dengan dua orang yang gerak-geriknya mencurigakan. Kedua orang itu adalah Heri dan anak buahnya.
Meskipun curiga kalau kedua orang itu adalah yang menguntitnya, tapi Iron berlagak santai, seolah tidak mewaspadai mereka.
Iron terus berjalan menuju lift. Ia yakin Nayla akan aman di kamarnya, selama gadis itu tetap berada di kamarnya.
Iron masuk lift. Sambil menunggu sampai di lantai dasar, otaknya bekerja keras, memikirkan rencana selanjutnya.
Begitu keluar lift, Iron langsung menuju parkiran sambil memesan taksi online. Sampai parkiran, ia masuk mobil dan mengambil pisau lipat dari dalam dasbor. Kemudian ia mencari mobil yang tadi membuntutinya tadi.
Iron masih mengingat ciri-ciri mobil itu dan nomor polisinya, sehingga ia mudah saja menemukannya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, memastikan tidak ada orang yang sedang memperhatikan ke arahnya.
Iron hafal benar letak CCTV di area parkir. Itu membuatnya mudah mencari posisi yang ideal agar tidak terekam kamera pengawas tersebut.
Iron menunduk di dekat roda depan kiri mobil penguntit. Ia menusuk ban tersebut menggunakan pisau belati. Wusshhsshh! Angin keluar. Desisannya terdengar cukup nyaring hingga radius puluhan meter.
Iron segera bangkit dari jongkok. Ia menyingkir dan menyelinap di antara mobil-mobil yang terparkir, kemudian meninggalkan area hotel.
Iron berdiri di dekat pos sekuriti. Tidak lama kemudian taksi online yang ia pesan datang.
"Dengan Pak Baeni?" tanya sopir taksi online.
"Iya," jawab Iron sambil membuka pintu taksi.
Di dalam taksi, Iron langsung menyelonjorkan kaki. Ia sudah mengantuk sejak tadi tapi baru sekarang merasakannya. Ia menguap sambil menggeliatkan badan.
"Bapak biasanya online sampai jam berapa?" tanya Iron kepada pengemudi.
"Nggak mesti, Pak," jawab pengemudi. "Kalau sudah dapet banyak, jam dua dini hari sudah pulang. Kalau sepi ya sampai subuh."
"Memangnya bapak mulai dari jam berapa?"
"Nggak mesti juga, Pak, tapi seringnya mulai sehabis maghrib."
Iron memandang pengemudi melaui spion yang tergantung di ruang kabin depan. "Kalau saya pesan secara offline bisa?"
"Kalau pas lagi nggak lagi mengantar penumpang, bisa pak."
"Kalau begitu besok sekitar jam tiga saya pesan secara offline saja. Saya bayar tiga kali lipat," ujar Iron.
Pengemudi melirik Iron melalui spion dalam. Ia menghafal wajah penumpangnya itu.
"Bapak nggak usah takut, saya bukan orang jahat!" ujar Iron.
Pengemudi tersenyum. "Saya percaya, Pak."
"Nanti kalau sudah sampai tujuan, kita bertukar nomor ponsel!" ajak Iron.
"Siap, Pak."
***
Demi agar targetnya tidak lepas, Heri memesan kamar yang masih satu lantai dengan kamar Nayla.
Heri dan anak buahnya gantian berjaga di lobi. Jika Nayla dan Iron keluar dari hotel, mereka akan mengetahuinya. Mereka tidak mau gagal, karena jika itu terjadi nasib mereka di ujung tanduk. Sisca tidak mau memberi toleransi lagi kepada mereka.
Pukul 03:05 wib. Sekarang giliran Heri berjaga di lobi. Seorang sekuriti mendekatinya.
"Selamat pagi, Bapak!" sapa sekuriti ramah.
Heri yang tengah asyik mendengarkan lagu melalui headset terkesiap. Ia mengecilkan volume musiknya.
"Mohon maaf mengganggu kenyamanan bapak," ujar sekuriti.
Sadar sedang diajak bicara sekuriti, Heri melepas headset. "Nggak kok!"
"Mohon maaf, saya perhatikan bapak dan teman bapak sejak tadi bergantian duduk di sini. Kalau bapak butuh sesuatu bisa langsung disampaikan kepada manager kami," ujar sekuriti. Sebenarnya ia hanya ingin tahu kenapa ada dua tamu hotel yang bergantian duduk di lobi.
"Iya, Pak, terima kasih," timpal Heri. Ia membetulkan posisi duduk. "Sebenarnya kami sedang janjian dengan seorang rekan untuk bertemu di lobi ini. Terakhir kali kami berkomunikasi, katanya baterai beliau hampir habis. Sejak itu kami tidak bisa berkomunikasi lagi, sehingga kami memutuskan untuk gantian menunggu di sini."
Sekuriti mengangguk-angguk. "Semoga perjalanan beliau lancar sampai di sini."
Heri mengangguk. "Semoga saja."
"Kalau begitu saya kembali ke pos," ujar sekuriti.
"Silakan!"
"Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini." Sekuriti mengangguk.
"Santai saja!"
Sekuriti berlalu dari hadapan Heri.
Heri menyadari kalau kegiatannya di lobi ini terlihat aneh. Ia memaklumi apa yang dilakukan sekuriti. Ia pun kembali memasang headset dan mendengarkan musik.
Musik yang sedang didengarkan Heri terdengar melankolis, membuatnya mengantuk. Matanya terasa berat untuk ia paksakan terbuka. Buru-buru ia mengganti lagu yang lebih mengunggah semangat.
Sejatinya Heri butuh istirahat, sehingga musik cadas yang didengarnya tidak berbuat banyak untuk membuatnya tetap terjaga. Perlahan matanya terpejam.
Heri tertidur selama beberapa menit. Ia terkesiap ketika kaget akibat kepalanya terhuyung ke kiri.
Buru-buru, Heri melirik jam dinding yang berada di lobi. Sekarang pukul 03:11 wib. Ia menyesal karena ketiduran selama beberapa menit.
Heri panik, takut targetnya lepas. Ia segera menelepon anak buahnya. Ia punya ide yang lebih baik.
"Halo, kamu ke lobi sekarang," suruh Heri.
"Siap, Bos!" jawab anak buah Heri sambil menguap.
"Bawa kontak mobil dan semua barang-barang kita!"
"Memangnya kita mau ke mana?"
"Sudah, nggak usah banyak nanya, nanti aku jelaskan!"
"Oke, Bos!"
Heri melepas headsetnya. Ia berdiri sambil meregangkan otot-ototnya agar tidak mengantuk. Tidak hanya itu, ia mencuci muka di washtaffle dekat lobi. Saat ia kembali ke kursinya, tiba-tiba ia melihat Iron sedang lewat di depannya, berjalan tergesa menuju lift.
Heri segera menelepon anak buahnya.
"Kamu sampai mana?" tanya Heri gugup.
"Baru keluar lift!" jawab anak buah Heri. "Pas aku keluar tadi, Iron masuk lift, Bos!"
"Iya aku tahu!" ujar Heri. "Kamu langsung ke parkiran. Panasi mesinnya dulu, terus cari tempat parkir ideal agar mudah keluarnya. Jangan lupa titipkan cardlock ke resepsionis!"
"Siap, Bos!"
Tidak lama kemudian anak buah Heri muncul. Ia menitipkan cardlock ke resepsionis. Sambil begegas menuju parkiran, ia mengacungkan jempol ke arah Heri.
Heri membalas acungan jempol anak buahnya. Ia duduk di lobi sambil menunggu apa sebenarnya yang akan dilakukan Iron. Apakah akan check out, membawa pulang Nayla ataukah masih tinggal di kamar.
Sementara itu Iron baru saja keluar dari lift. Ia langsung menuju kamar nomor 99. Di depan kamar tersebut, ia menelepon Nayla.
"Aku ada di depan pintu," beritahu Iron.
"Iya, aku sudah menunggumu sejak tadi."
Pintu kamar terbuka. Iron segera masuk kamar dan menutupnya kembali.
"Dua orang suruhan Sisca ada di bawah. Satu ada di lobi dan satunya lagi tadi papasan di depan pintu lift lantai bawah," beritahu Iron.
Nayla menatap Iron cemas. "Apa yang akan kita lakukan?"
Iron menyentuh sepasang bahu Nayla. "Kamu akan aman bersamaku. Kita akan check out sekarang lalu pulang."
"Mereka akan mengikuti kita lagi?" Nayla tidak bisa menyembunyikan cemasnya.
Kedua telapak tangan Iron berpindah dari bahu ke sepasang pipi Nayla. "Kamu percaya sama aku kan?"
Nayla mengangguk.
"Kalau begitu degarkan aku!" Iron tersenyum sambil menatap Nayla lekat-lekat. "Kamu akan aku antar ke rumah Nasima dengan aman. Nanti kita keluar seolah nggak tahu keberadaan mereka. Santai saja, nggak usah gugup."
Nayla mengangguk.
"Kamu hebat!" puji Iron sambil melepas telapak tangannya dari pipi Nayla.
Nayla mengusap pipi yang tadi disentuh Iron. Jika tidak sedang cemas, pasti ia berdebar disentuh dan ditatap Iron.
Iron menggandeng Nayla menuju pintu. Ia mengambil cardlock, kemudian mengajak Nayla keluar. Setelah mengunci pintu, mereka berjalan menuju lift.
Pada saat yang bersamaan, di parkiran anak buah Heri baru saja masuk ke mobilnya. Ia menyalakan mesin. Setelah merasa mesin sudah cukup panas, ia mengatretkan mobil, bermaksud mencari lokasi parkir yang lebih ideal.
Baru mundur dua meter, anak buah Heri merasakan badan mobilnya bergoyang. Ia curiga jangan-jangan bannya ada yang kempes. Maka ia segera turun untuk memeriksanya.
"Sial!" umpat anak buah Heri ketika sadar kalau salah satu ban mobilnya kehabisan angin. Ia berjongkok, memeriksanya. Ia menemukan sebuah bekas tusukan pada ban.
Anak buah Heri segera menelepon bosnya.
"Halo, sial, Bos!"
"Sial kenapa?"
"Ban depan kiri kempes. Ada bekas tusukan di sana."
"Sial!" umpat Heri. Ia yakin itu dilakukan Iron. Maka itu sambil tetap menelepon, ia berlari menuju parkiran. Ia ingin membalasnya. "Cepet ganti ban serep!"
"Iya, Bos."
Anak buah Heri segera mengambil dongrak, kunci roda, dan menyiapka ban serep dari bagasi. Sambil mengeluh ia mendongkrak bagian depan kiri mobil bosnya.
"Nggak usah ngeluh!' hardik Heri begitu sampai di dekat mobilnya. Ia berjalan tergesa melewati anak buahnya menuju mobil milik Iron.
"Bukannya bantuin malah pergi!" gerutu anak buah Heri. Ia melepas mur roda satu per satu.
Setelah roda itu lepas, ia menggantinya dengan roda serep.
Wusshhsshh! Terdengar suara angin keluar dari dalam ban. Heri baru saja menusuk ban depan kiri mobil Iron. Ia merasa senang karena sudah berhasil membalas dendam. Ia pun menuju mobilnya.
Heri membantu anak buahnya memasang roda serep. Mereka senang karena mobil sudah siap jalan sebelum Iron dan Nayla datang.
"Itu mereka!" tunjuk Heri kepada Iron dan Nayla yang sedang berjalan menuju parkiran.
Heri dan anak buahnya segera masuk mobil. Mereka memindahkan mobil ke area yang lebih ideal.
"Mereka ke mana, Bos?" Anak buah Heri celingukan, kehilangan jejak Iron dan Nayla.
"Tenang aja, Iron pasti lagi mengganti roda serep. Hehehe!" Heri merasa puas. Ia mencolek lengan anak buahnya. "Coba kamu intip!"
"Oke!" Anak buah Heri turun dari mobil. Ia mengendap-endap, mendekati mobil Iron. Ia bersembunyi dari balik sebuah mobil. Ia melihat Iron tampak sedang kepayahan mengganti roda.
Anak buah Iron kembali ke mobil Heri.
"Bener, Bos. Iron lagi mengganti roda," lapor anak buah Heri.
"Sudah selesai?" tanya Heri.
"Tadi sih kulihat tinggal mengencangkan mur rodanya saja."
"Kalau begitu kita bersiap."
"Iya, Bos."
Heri melihat mobil Iron bergerak. Ia segera mengikutinya. Beruntung jalanan lengang, itu memudahkannya untuk terus menjaga jarak tanpa takut akan kehilangan jejak.
Sepanjang perjalanan, mobil Iron tidak banyak melakukan manuver, seolah tidak sadar sedang diikuti. Satu sisi Heri merasa senang, tapi di sisi lain ia merasa khawatir.
Menurut logika Heri, tidak mungkin Iron tidak sadar sedang diikuti. Ban mobil miliknya ditusuk pisau. Itu bukti kalau Iron sudah tahu mobil mana yang mengikutinya.
Mobil Iron berhenti di depan sebuah rumah. Tidak lama kemudian pintu gerbang rumah tersebut terbuka. Mobil itu pun masuk.
Heri memfoto rumah tersebut. Ia akan melaporkannya kepada Sisca nanti selepas subuh.
Berjarak lima kilometer dari tempat itu, di dalam sebuah taksi online, Nayla tertidur dengan kepala menyandar bahu Iron. Ia masih mengantuk.
Iron tersenyum senang, bukan hanya karena berhasil mengecoh dua orang penguntitnya, tapi juga karena bisa sedekat ini dengan Nayla.