Selepas sarapan, Nayla diajak Iron duduk di teras.
"Kenapa sih tadi kita pakai taksi online?" tanya Nayla memastikan kalau dugaannya benar. Ia menduga kalau Iron ingin melepaskan diri dari kedua orang yang membuntuti mereka.
Iron hanya melirik Nayla sekilas, kemudian menyeruput kopinya.
Nayla mendengus sebal. "Kamu nggak pernah sarapan ya kalau pagi?"
Iron meletakkan cangkir kopi ke atas meja. Ia manatap Nayla. "Aku harus menjawab pertanyaanmu yang mana dulu nih?"
Nayla melengos. Jawaban atas kedua pertanyaan yang tadi ia ajukan kepada Iron tidak terlalu penting. Meskipun sedikit penasaran, tapi tadi ia hanya basa-basi saja.
"Sepertinya aku harus menjawab pertanyaan kedua dulu yang tidak membutuhkan banyak penjelasan," ujar Iron.
"Terserah kamu sajalah!" Nayla sudah malas mendengarnya.
"Setiap pagi aku selalu sarapan kok," ujar Iron sebagai jawaban atas pertanyaan kedua Nayla. "Sarapanku adalah kopi. Udah itu aja."
Nayla sebenarnya ingin menasehati Iron tentang pentingnya sarapan yang benar, tapi ia sudah terlanjur kehilangan mood.
"Untuk pertanyaan pertama, aku akan jawab setelah aku menyeruput kopi ini." Iron menyeruput kopinya. Begitu menikmatinya hingga ia mendesah, "ahh, nikmaatt!"
Nayla pura-pura tidak memperhatikan Iron.
Iron meletakkan cangkir kopi ke atas meja. "Waktu aku meninggalkan kamarmu, aku sempat berpapasan dengan dua orang yang mencurigakan. Aku menduga mereka adalah orang yang membuntuti kita sejak keluar dari stadion. Feeling-ku berkata, mereka akan menginap di hotel itu dan siap membuntuti kita kapan dan ke mana saja kita pergi."
Nayla juga menduga hal yang sama dengan Iron. Ia yakin kedua orang itu adalah anak buah Sisca.
"Aku yakin mereka tidak ingin mencelakakan kita, hanya menguntit saja, ingin tahu di mana kamu sekarang berada," ujar Iron. "Sepertinya mereka anak buah Sisca, atau mungkin juga Amando."
Nayla menggeleng, merasa perlu untuk menyanggah. "Menurutku nggak mungkin Amando terkait dengan kedua orang itu."
"Kenapa?"
"Karena Amando sudah nggak mau lagi berurusan denganku," dalih Nayla. "Justru ia menginginkan agar aku nggak lagi muncul di dalam kehidupannya, agar ia bisa tenang bersama Sisca."
"Tapi bisa saja Amando ingin menyelidiki siapa lelaki yang bersamamu bukan?"
Nayla mendesah berat. "Amando memang jahat mutusin aku secara sepihak demi mengejar perempuan lain, tapi aku yakin ia nggak akan membuang waktu hanya untuk mencari tahu bagaimana kehidupanku setelah ia tinggalkan."
Iron mengerjap. "Tampaknya kamu sangat mengenal Amando dengan baik."
Nayla melengos. "Sebaiknya stop membahas soal Amando!"
Iron mengangguk. "Iya, lebih baik kita membahas soal kedua orang yang membuntuti kita itu."
Nayla diam. Perasaannya menjadi tidak nyaman setelah tadi sempat membaha soal Amando.
"Sebelum meninggalkan hotel, aku lebih dulu mengempesi salah satu ban mobil mereka." Iron melanjutkan ceritanya. "Aku sengaja meninggalkan mobilku di parkiran agar mereka mengira aku tidak pergi jauh, padahal semalam aku tidur di rumah Nasima."
"Kamu pulang naik apa?" tanya Nayla penasaran.
"Pakai taksi online."
Nayla mengangguk. Jawaban Iron sesuai dengan dugaanya.
"Dengan taksi online yang sama, aku kembali ke hotel dengan mengajak serta Asif. Aku meminta pengemudi taksi online itu untuk standbye di parkiran dengan tetap menyalakan mesin mobilnya. Sementara Asif aku suruh standbye di dalam mobilku."
Nayla mulai tertarik dengan cerita Iron.
"Begitu sampai di hotel, aku melihat salah satu dari mereka sedang berada di lobi. Aku juga berpapasan dengan satunya lagi. Itu membuatku semakin yakin, mereka akan menguntit saat kita meninggalkan hotel," kenang Iron. "Tampaknya mereka tahu kalau aku yang mengempesi ban mobil mereka. Mereka balas mengempesi ban mobilku."
"Setelah kamu memintaku masuk ke taksi online, kupikir kamu akan membawa mobilmu," ujar Nayla.
"Asif memberitahuku bahwa ban mobilku kempes satu. Terpaksa aku mengganti rodanya dulu dengan roda serep. Kalau aku menyuruh Asif, mereka akan tahu kalau aku mengajak orang lain lagi."
Nayla terkekeh. "Pantesan begitu balik ke taksi, kamu berkeringat. Hehehe."
Iron tersenyum geli mengingat kejadian itu. "Pas aku kembali ke taksi online, untungnya mereka nggak tahu."
"Kamu yakin mereka nggak tahu?"
"Nyatanya pas taksi online jalan, mereka diam saja. Mereka nggak mengikuti kita kan?" Iron tersenyum bangga karena berhasil mengecoh mereka.
"Jadi mereka mengikuti mobilmu yang dikemudikan Asif?"
Iron mengerjap. "Asif bilang ia diikuti sebuah mobil. Dari ciri-ciri yang ia sebutkan, sudah jelas kedua orang itu mengikuti mobilku yang dikemudikan Asif."
Nayla tersenyum kagum atas kepintaran Iron. "Jadi sebenarnya Asif pergi ke mana?"
"Asif aku suruh membawa mobil ke rumahku. Tujuannya agar kedua orang itu mengira kalau kamu tinggal di rumahku." Iron menjelaskan.
Nayla mengernyit cemas. "Nanti mereka mengira aku tinggal serumah denganmu dong!l?"
"Memangnya kenapa?" Iron balik bertanya.
Wajah Nayla menyiratkan keberatan. "Nanti kita dianggap kumpul kebo!"
"Ya nggak papa dong!"
Sepasang mata Nayla terbelalak.
Iron memahami kecemasam Nayla. "Kan yang kumpul kebo, bukan kita."
"Nggak lucu!"
Iron tertawa.
Nayla menjadi sebal, namun karena Iron tertawa, rasa sebalnya menjadi teralihkan. Ini kali pertama ia melihat lelaki itu tertawa, padahal biasanya senyum saja pelit.
"Menurutku, tujuan mereka hanya ingin tahu di mana kamu tinggal. Itu pasti atas suruhan Sisca." Iron merasa yakin. "Dengan mengetahui keberadaanmu, Sisca bisa membuat rencana baru untuk menyakitimu."
Nayla mendengus. "Aku nggak habis pikir sama Sisca. Kenapa sih ia pengen banget menyakitiku? Padahal sudah kukatakan padanya, aku nggak mungkin lagi kembali kepada Amando."
Iron menatap Nayla. "Sisca bisa merasakan kalau kamu dan Amando masih saling mencintai."
Nayla tersenyum masam. "Sok tahu!"
Iron tergelak. "Jangankan Sisca, aku saja bisa merasakan kalau kamu masih belum bisa move on dari Amando."
Nayla mengernyit. "Itu hanya perasaanmu saja!"
Iron menggeleng sambil mengambil cangkir dari atas meja. "Kamu bersikap pura-pura manja kepadaku dengan tujuan untuk memanas-manasi Amando. Itu salah satu indikasi kalau kamu belum move on."
Nayla tertawa sumbang. "Sudut pandangmu sempit!"
Iron menyeruput kopinya yang sudah mendingin. Setelah itu ia meletakkannya ke atas meja. "Sudut pandangku mungkin sempit tapi kamu tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari dirimu sendiri."
Ucapan Iron menohok hati Nayla. Ia mengakui, meskipun sudah tidak peduli lagi kepada Amando tapi ia kadang ia masih mengingat kenangan bersama lelaki itu.
"Sisca menganggap kamu sebagai ancaman!" Iron mengingatkan Nayla. "Jadi kamu harus berhati-hati."
Nayla mengatupkan bibir, tidak menyangka masalahnya akan menjadi runyam. Tadinya ia pikir, setelah putus dengan Amando, semuanya akan selesai dan ia akan berusaha melupakannya. Ternyata, persoalannya menjadi panjang karena Sisca menganggap dirinya sebagai ancaman.
Iron menyentuh bahu Nayla. "Tapi kamu nggak usah khawatir. Kamu dan ayahmu akan aman. Kami akan melindungimu dan mencegah Sisca untuk berbuat jahat kepada kalian."
Nayla mengangguk. "Terima kasih ya?"
Iron mengerjap. Ia melirik arloji pada pergelangan tangannya. "Sepuluh menit lagi jam delapan. Aku harus menemani ibu ke kantor."
"Nasima ke kantornya jam delapan?" tanya Nayla.
"Biasanya kalau hari senin, ibu sudah siap untuk menjadi inspektur upacara. Tapi hari ini tugas itu digantikan pak wakil walikota, sehingga ibu ke kantornya agak siangan."
Nayla mengangguk tanda paham.
Iron bangkit dari kursinya. "Nanti jam istirahat siang, Asif akan menjemputmu. Ada hal penting yang harus kita bahas."
"Penting?" Nayla penasaran.
"Iya, nanti kamu juga tahu." Iron berlalu dari hadapan Nayla.
***
Sisca memeriksa foto-foto dan video kiriman dari Heri yang berisi penampakkan sebuah rumah. Orang kepercayaannya itu juga melaporkan hasil tugasnya membuntuti Nayla dan Iron sejak dari stadion hingga ke sebuah rumah.
Sisca merasa tidak asing dengan penampakkan rumah tersebut. Hanya saja Heri belum menjelaskan rumah itu milik siapa.
Untuk memastikannya, Sisca menelepon Heri.
"Halo, Her!" Sisca langsung menaikkan intonasinya. "Kamu sudah selidiki apa belum itu rumah siapa?"
"Sedang saya pastikan, Bos," ujar Heri.
"Lama amat!" hardik Sisca. "Kamu kan bisa nanya-nanya ke orang-orang sekitar!"
"Orang sekitar nggak ada yang tahu rumah itu milik siapa karena jarang dikunjungi pemiliknya," beritahu Heri. "Cuman ada salah satu orang yang mengatakan kalau rumah itu milik orang kepercayaan walikota. Sayangnya orang itu nggak tahu namanya."
"Kenapa nggak bertanya ke ketua RT saja?" Sisca menyalahkan.
"Ini saya di rumah ketua RT. Beliau sedang ada rapat di kelurahan. Saya sedang menunggu beliau pulang," ujar Heri. "Sambil menunggu, saya coba tanya-tanya ke ibu RT. Beliau bilang Pak Baeni pernah menemui ketua RT untuk mengurus administrasi."
Sisca sedikit lega. "Kalau begitu tunggu sampai ketua RT pulang. Kamu harus pastikan kalau rumah itu milik Pak Baeni."
"Iya, Bos."
"Kalau rumah itu jarang dikunjungi pemiliknya ada kemungkinan itu hanya rumah kedua, ketiga, dan seterusnya. Itu artinya itu bukan kediaman sehari-hari."
"Iya, Bos."
"Tapi kamu yakin mobil Iron masuk ke rumah itu?"
"Iya, Bos," jawab Heri. "Mobilnya masih ada di garasi. Anak buah saya masih mengawasi rumah itu."
"Sejak masuk, mobil itu pernah keluar lagi?"
"Belum, Bos!"
"Aneh!" ujar Sisca. "Memangnya Iron nggak kerja?"
"Nah itu juga yang membuat saya heran," timpal Heri.
Sisca curiga, jangan-jangan Heri terkecoh. Untuk memastikannya ia menelepon salah satu temannya yang menjabat sebagai seorang kepala dinas di pemerintahan kota.
"Selamat pagi, Pak," sapa Sisca ramah.
"Selamat pagi, Bu Sisca."
"Maaf kalau saya mengganggu waktu bapak," ujar Sisca, memperdengarkan suara seolah merasa tidak enak hati.
"Enggak, Bu, kebetulan saya baru selesai mengikuti upacara bendera. Ada apa ya, Bu?"
"Mmhh, saya mendapat kabar kalau ibu walikota sedang sakit. Apa benar begitu?"
"Kabarnya begitu, Bu."
"Kalau boleh saya tahu, apa beliau hadir pada upacara bendera di balaikota?" tanya Sisca hati-hati agar tidak mengundang kecurigaan.
"Sedianya ibu walikota yang menjadi inspektur upacara, tapi beliau tidak tampak hadir."
"Tapi beliau ke kantor kan, Pak?" tanya Sisca basa-basi saja. "Saya mau ke kantor beliau rencananya."
"Soal itu saya tidak tahu. Barangkali ibu bisa menanyakannya ke Pak Baeni."
"Nah itu masalahnya, Pak. Pak Baeni sulit dihubungi. Apa beliau tampak berada di balaikota?"
"Sejauh ini saya belum melihat kehadiran Pak Baeni."
"Oh ya sudah, biar nanti saya coba hubungi beliau lagi," ujar Sisca. "Terima kasih atas informasinya, Pak."
"Iya, Bu, sama-sama."
Panggilan telepon berakhir.
'Kalau Pak Baeni belum muncul di balaikota, berarti ada kemungkinan masih berada di rumah itu,' gumam Sisca.