Kritik Untuk Walikota

1572 Kata
Nayla tidak mengerti kenapa Asif menjemputnya menggunakan mobil plat merah. Yang lebih mengherankan lagi adalah mobil itu langsung menuju bagian belakang rumah, alih-alih memarkirnya di garasi atau di halaman depan.  Begitu turun dari mobil, Asif langsung mengajak Nayla masuk rumah melalui pintu belakang.  "Kenapa nggak melalui pintu depan?" tanya Nayla kepada Asif. Ia terus mengekor Asif yang berjalan cukup cepat melewati dapur.  Asif tersenyum. "Biar Pak Baeni saja yang menjelaskan."  Nayla mendengus. Semua anak buah Iron selalu saja menyembunyikan sesuatu darinya.  Nayla akhirnya sampai di ruang tamu. Ia kaget ketika di sana sudah ada Iron yang sedang sibuk dengan laptopnya.  "Selamat siang, Pak," ucap Asif kepada Iron. "Nona Nayla sudah datang."  Iron mengangguk sambil tetap fokus pada pekerjaannya.  "Silakan duduk, Nona." Asif mempersilakan.  Nayla duduk di sofa. "Terima kasih ya, Pak Asif?"  Asif mengangguk. "Sama-sama, Nona."  Iron menyudahi pekerjaannya. Ia menatap Asif. "Kamu balikin mobilnya ke kantor. Setelah itu jemput ibu pulang. Beliau mau menemui tamu di kediamannya."  "Baik, Pak. Kalau begitu saya pamit." Asif mengangguk hormat kepada Iron, kemudian berlalu dari ruang tamu.  "Kamu ada di sini?" tanya Nayla heran.  Iron menutup laptopnya. "Aku bisa kerja dari mana saja, tidak harus di kantor."  "Bukan itu yang kumaksud," sergah Nayla. "Bukannya kamu harus selalu mendampingi Nasima ya?"  Iron membetulkan posisi duduk. Punggungnya menyandar ke sofa. "Sudah kubilang, aku bisa kerja dari mana saja termasuk melindungi walikota. Aku bukan paspampres yang melekat kepada presiden."  Nayla mengerjap paham. "Jadi apa yang ingin kamu bahas?"  Iron menyilangkan kaki. "Di luar sana ada beberapa orang yang sedang mengawasi rumah ini. Aku yakin mereka ingin memastikan kalau kita berada di rumah ini."  Nayla masih belum mengerti. "Maksudnya?"  Iron mendesah. "Aku mendapat laporan dari ketua RT kalau ada orang yang bertanya siapa pemilik rumah ini. Itu indikasi kalau mereka ingin memastikan apakah aku dan kamu semalam ke sini atau enggak."  Nayla mulai paham. "Jadi kamu menyuruh Asif mengantarkanku ke sini hanya untuk menunjukkan kepada mereka kalau semalam kitalah yang berada di mobil yang mereka ikuti?"  Iron menembak Nayla menggunakan jari-jari tangan yang dibentuk dalam formasi pistol. "Betul sekali. Tapi selain itu aku memang ingin membahas sesuatu yang sangat penting dan rahasia sama kamu."  Nayla menjadi penasaran. "Soal apa?"  Iron bangkit dari duduk. "Sebaiknya kita duduk di teras sebentar biar mereka melihat kita." Ia beranjak menuju teras.  Mau tidak mau, Nayla mengikuti Iron menuju teras. Mereka duduk di kursi.  "Aku yakin mereka sekarang sedang memfoto kita atau mungkin merekam video ke arah kita," ujar Iron. "Kamu pura-pura saja nggak tahu. Jangan arahkan pandangan ke pintu gerbang."  Nayla mengerjap paham.  "Gimana perjalanannya tadi menggunakan mobil dinas?" tanya Iron.  "Biasa saja."  "Semoga mereka mengira kalau mobil dinas itu adalah tamuku," ucap Iron.  Nayla tidak melihat mobil lain selain mobil Iron yang dikemudikan Asif dini hari tadi. "Kamu sendiri ke sini pakai mobil apa?"  Iron tergelak tanpa suara. "Aku ke sini pakai mobil katering."  Nayla mengerjap. "Ribet juga ya ternyata?"  Iron mengedikkan bahu. "Seperti inilah resikonya bersinggungan dengan orang yang punya kekuatan."  Nayla sudah tidak sabar. "Sebenarnya kamu ingin membahas apa sih?"  "Soal itu kita akan membahasnya di dalam saja!"  Nayla membelalakkan mata kesal. "Tadi kamu minta aku ke teras. Sekarang kamu malah bilang akan membahasnya di dalam. Ngeselin sumpah!"  Alih-alih merespon kekesalan Nayla, Iron malah bangkit dari duduknya. Ia berjalan menuju pintu gerbang.  Nayla melihat Iron berbicara dengan sekuriti selama hampir dua menit. Setelah itu lelaki itu kembali ke hadapan Nayla.  "Aku menyuruh sekuriti untuk mengawasi area sekitar dan jangan lengah memantau CCTV," beritahu Iron.  Nayla mengerjap saja. Sejak bertemu Iron, ia merasakan hidupnya menjadi tampak ribet.  "Ayo kita kembali ke dalam!" Iron mengulurkan tangan kepada Nayla.  Nayla terlanjur sebal. Alih-alih menyambut uluran tangan Iron, ia berdiri dan meninggalkan lelaki itu menuju ruang tamu.  Iron terkekeh sendiri, menyadari kalau Nayla sedang sebal kepadanya.  Nayla duduk di sofa. Iron duduk di sebelah Nayla, tanpa jarak sama sekali.  "Jangan dekat-dekat!" Nayla beringsut, menjauh dari Iron.  "Oke!" Iron mengangkat kedua kaki dan meletakkannya ke atas meja.  Nayla bersedekap sambil mendongak ke langit-langit. Bukan karena sebal yang membuatnya menjauhi Iron, tapi ia merasa berdebar jika sedekat itu dengan Iron.  "Kita kan membahas sesuatu yang sangat serius," ujar Iron. "Aku berharap kamu mau menyikapinya dengan bijak apa pun yang akan aku sampaikan sama kamu."  Nayla menoleh, kemudian menambatkan pandangan ke vas bunga di atas meja.  "Seperti yang kamu tahu, Nasima akan menjalani operasi lanjutan di Singapura. Ia membutuhkan waktu setidaknya dua minggu untuk persiapan, operasi, dan pemulihan pasca operasi. Selama itu ia tidak bisa tampil di hadapan publik. Pekerjaannya sebagian akan diambil alih wakil walikota. Ia sendiri hanya akan mengerjakan sesuatu yang sifatnya pengambilan kebijakan saja."  Nayla serius mendengarkan ucapan Iron.  "Tapi ada beberapa tugas Nasima yang tidak bisa diwakilkan kepada wakil walikota atau ia kerjakan sendiri." Iron menggeser posisi duduk agar bisa berhadapan dengan Nayla. "Tugas itu berkaitan erat dengan situasi politik."  Nasima mengerjap tanda paham.  "Hal mendesak yang sedang beliau hadapi adalah soal pembebasan lahan," beritahu Iron. "Proyek itu sarat dengan isu politik. Lawan politik Nasima gencar sekali melakukan manuver yang tujuannya agar proyek itu mangkrak. Dengan begitu, mereka punya bahan untuk menyerang Nasima."  "Proyek pembangunan stadion baru?" tebak Nayla.  Iron mengangguk. "Iya, aku sempat menceritakannya sama kamu secara garis besarnya bukan?"  Nayla mengangguk. "Iya, terus?"  Iron menarik napas panjang. "Stadion itu tidak bisa dibangun jika pembebasan lahan belum mencapai seratus persen. Seharusnya akhir bulan ini targetnya stadion itu sudah mulai dalam tahap pembangunan."  "Apa sebab pembebasan lahannya belum mencapai seratus persen?" tanya Nayla.  "Ada sebelas pemilik lahan yang belum mau menjual tanahnya."  "Kenapa?"  "Ada yang memprovokasi mereka untuk menolak pembebasan lahan."  Nayla penasaran. "Siapa?"  Iron menggeleng pelan. "Belum tahu siapa, tapi yang pasti ada provokatornya."  "Pemilik lahan itu bersikeras menolak?"  Iron menarik napas dalam-dalam. Ia menghembuskannya perlahan. "Awalnya cuman dua orang yang keberatan dengan harga yang ditawarkan. Keduanya menginginkan harga lebih tinggi lagi. Beberapa hari kemudian bertambah sembilan orang yang tadinya setuju tiba-tiba berubah pikiran."  Nayla mengerrnyit. "Plin-plan!"  "Tahu-tahu mereka demo di depan balaikota, menolak menjual lahannya." Iron geram. "Nasima mengajak mereka berdialog tapi mereka menolak dan lebih memilih berorasi di luar. Aneh!"  Nayla menjadi terbawa emosi. "Mereka maunya apa sih?"  Iron mengedikkan bahu. "Kalau menurutku sih sebenarnya solusinya sederhana yaitu pendekatan dari hati ke hati."  "Terus kenapa itu nggak dilakukan?"  "Sudah, tapi mereka tetap menolak." Iron mendengus berat. "Seharusnya Nasima yang melakukannya sendiri. Mereka akan merasa dihargai jika walikota mau melakukannya."  "Nasima nggak mau?" tebak Nayla.  "Sebenarnya mau tapi keadaannya sedang tidak memungkinkan."  "Karena mau operasi?"  Iron menatap Nayla aneh. "Sepertinya kamu penasaran banget dengan sikap Nasima."  Nayla tersenyum. "Aku pengen tahu saja apa yang dilakukan walikota menyikapi penolakan pemilik lahan."  Iron menatap Nayla lekat-lekat. "Kamu kerja di sebuah media masa kan?"  "Iya, kenapa?" Nayla baliik bertanya. Ia tidak paham apa korelasi antara pekerjaan dirinya dengan Nasima.  "Pasti kamu banyak mendengar atau membaca berita tentang walikota bukan?"  Nayla mengangguk sambil mengerjap.  Iron mendekatkan wajah ke arah Nasima. "Menurutmu seperti apa sih gaya kemimpinan Nasima?"  Nayla terdiam.  "Seperti apa?" desak Iron.  "Kamu menanyakan pendapatku atau menanyakan pendapat orang yang kuketahui?  "Pendapatmu."  Nayla mengatupkan bibir. Ia berpikir, mencari kata yang tepat untuk menjawab.  "Apa pendapatmu?"  Nayla masih diam.  Iron menatap Nayla, sabar menunggu pendapat gadis itu.  Nayla menunduk. Ia menjadi ragu untuk mengemukakan pendapat. Nasima adalah saudara kenbarmya. Ia tidak tega mengkritiknya.  Iron menangkap keraguan Nayla. "Sampaikan saja. Aku nggak akan mengatakannya kepada Nasima."  Nayla melirik Iron. "Aku merasa sedang ghibah saudaraku sendiri."  Iron mendesah perlahan. "Ini bukan ghibah. Ini pembahasan untuk mencari solusi."  "Memangnya pendapatku berpengaruh?" Nayla merasa aneh. "Nggak mungkin kan?"  "Pengaruh!" Iron menjawab tegas.  Nayla terkekeh geli. "Masa?"  Iron mengangguk. "Sampaikan saja pendapatmu tentang gaya kepomipinan Nasima. Kita cari solusinya bersama."  "Kita?" Nayla terkekeh geli. "Aku ini siapa? Aneh kalau kamu mengajak aku mencari solusi untuk masalah berat yang sedang dihadapi walikota.  Iron mengacak rambutnya sendiri.  Nayla diam.  Suasana menjadi hening selama beberapa detik.  "Oke!" cetus Nayla mengalah. "Aku akan memberikan pendapat soal gaya kepemimpinan Nasima."  Iron merasa senang.  Nayla menatap Iron. "Nasima itu visioner, berani melawan arus, suka perubahan, terkenal bersih dan jujur, serta berkharisma."  "Itu sisi positifnya kan?" tanya Iron.  "Itu pendapatku secara keseluruhan!" ujar Nayla.  "Kamu nggak punya kritik?"  Nayla diam. Ia punya kritikan buat walikota tapi sejak dulu hanya ia pendam sendiri.  "Ayo berikan kritik!" desak Iron.  Nasima mendesah. "Baiklah!"  Iron menatap Nayla.  Nayla menunduk. "Secara umum Nasima sangat baik memimpin kota ini, cuman menurutku ia kurang dekat dengan warga. Ada kekakuan komunikasi antara seorang pemimpin dengan warganya."  Iron tersenyum girang.  Nayla merasa aneh dengan reaksi Iron. Tadinya ia pikir Iron akan terdiam mendengar ia mengkritik walikota, ternyata malah tampak senang.  "Kenapa tersenyum?"  Alih-alih menjawab, Iron malah balik bertanya. "Jadi apa yang harus dilakukan walikota?"  "Ia harus sering melihat ke bawah, mendengar pendapat, bahkan harus merasakannya," jawab Nayla.  "Nah itu solusinya!" timpal Iron. "Sekarang aku mau tanya satu lagi. Kamu harus menjawab dengan jujur."  Nayla mengedikkan bahu.  "Seandainya kamu ada di posisi Nasima, apa yang akan kamu lakukan menyikapi penolakan sebelas pemilik lahan itu?" tanya Iron.  Nayla terdiam sejenak. Setelah itu ia menatap Iron lekat-lekat. "Aku akan menemui mereka mereka satu per satu, tanpa pengawalan berlebihan, tanpa media, dan tanpa pihak lain yang tahu."  "Apa alasannya?" tanya Iron.  "Agar di antara aku sama mereka tidak ada jarak," jawab Nayla. "Nasima harus melakukan itu!"  Iron mengangguk-angguk. "Bagaimana kalau kamu saja yang melakukannya?"  Nayla terhenyak. Sejurus kemudian tertawa. "Aku harus menjadi walikota dulu agar bisa merealisasikannya."  Iron mengerjap. "Bagaimana kalau kamu menjadi walikota saja?"  Nayla tertawa geli. Memakai baju dinas walikota saja sudah membuat dirinya merasa aneh, apalagi menjabat? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN