Tawa Nayla berhenti ketika meyadari Iron sama sekali tidak ikut tertawa. Lelaki itu menatapnya serius, tanpa senyum sama sekali.
"Apa aku tampak bercanda?" Iron terus menatap Nayla dengan mimik serius.
Nayla risih ditatap Iron seperti itu. "Ekspresi kamu memang nggak bercanda tapi lucu saja kalau aku menanggapinya secara serius."
"Lucunya di mana?" Iron bersedekap. Ia ingin menunjukkan keseriusannya.
"Ya lucu dong." Nayla menjadi salah tingkah. "Anak kecil juga tahu untuk menjadi walikota harus melalui mekanisme yang legal, nggak bisa main tunjuk seenaknya atau mengklaim sepihak."
"Tapi aku bisa menjadikanmu walikota jika kamu mau!" Mimik Iron lebih serius dari sebelumnya.
Hati Nayla tertawa karena menganggap ucapan Iron lucu dan mustahil, tapi melihat mimik serius lelaki itu membuatnya hanya bisa mematung.
"Memangnya kamu siapa, mau menjadikan orang sebagai walikota?" Nayla memberanikan diri membalas tatapan Iron.
Iron memaklumi reaksi Nayla. Ia sadar ucapannya memang terdengar tidak masuk akal. Ia harus menjelaskannya secara utuh agar gadis itu tidak salah paham.
"Jadi begini, Nay!" Iron mengangkat kedua kaki ke atas sofa. Ia bersila menghadap Nayla. "Aku kehabisan cara untuk membantu Nasima. Ia harus melakukan dua hal penting dalam waktu yang bersamaan. Operasinya di Singapura tidak bisa ditunda. Sangat beresiko kalau ia tidak melakukannya. Di sisi lain, ia tidak bisa lari dari masalah besar soal kasus penolakan sebelas pemilik tanah. Ia harus mengatasinya sendiri."
Sambil tetap fokus mendengar, Nayla beringsut menjauh dari Iron karena lelaki itu sangat dekat dengan dirinya.
"Nasima tidak mungkin melakukan dua hal itu secara bersamaan," ujar Iron, berusaha meyakinkan Nayla. "Setelah meminta pertimbangan dari berbagai pihak, Nasima terpaksa memilih melakukan operasi di Singapura. Persoalan pembebasan lahan itu ia serahkan penuh kepada penanggungjawabnya, yaitu Pak Arhan. Namun resikonya, negosiasi dengan sebelas pemilik lahan itu akan deadlock."
Nayla menarik napas panjang. Ia bersimpati kepada Nasima yang sedang dihadapkan pada dua pilihan sulit.
"Nasima sudah memilih. Meskipun begitu ia tidak membiarkan begitu saja mega proyeknya dijegal lawan politiknya. Ia sedang menyiapkan dua skenario jika sebelas pemilik lahan itu menolak. Tapi kedua opsi itu membutuhkan biaya banyak dan beresiko dijegal lagi."
"Dua opsi?"
Iron mengerjap. "Opsi pertama adalah merevisi site plan."
Nayla menilai opsi itu sangat logis.
"Tanah yang dimiliki sebelas orang itu adalah akses menuju stadion. Posisinya sangat strategis karena dekat dengan jalan raya," jelas Iron. "Jika pemiliknya menolak menjual tanahnya, maka Nasima mencari akses lain. Sayangnya jika opsi ini dipilih maka anggaran pembebasan lahan akan membengkak karena aksesnya harus memutar. Itu membutuhkan banyak lahan."
"Kalau akses menuju stadion diubah, apa nggak akan mengubah posisi pintu utama?" tanya Nayla.
"Sudah pasti, tapi itu nggak masalah karena hanya merevisi posisi pintu utama saja," jawab Iron. "Yang menjadi masalah adalah anggaran proyek dipastikan akan membengkak. Selain itu ada kemungkinan pemilik lahannya akan diprovokasi lagi untuk menolak menjual lahannya."
"Sebelum diprovokasi, pemilik lahan itu harus didekati dulu. Pastikan mereka mau menjual tanahnya," saran Nayla.
"Benar!" timpal Iron. "Sayangnya Nasima sepertinya kurang yakin opsi ini akan berhasil."
"Kenapa?"
"Ada indikasi para pemilik lahan itu juga sudah dihasut agar menolak menjual lahannya." Iron mendengus berat.
"Memangnya Nasima sudah mendekati mereka?"
"Belum sih."
"Terus opsi kedua apa?"
Iron mendesah panjang. "Opsi kedua adalah menunda proyek ini sampai Nasima siap."
"Itu akan menjadi kabar baik buat lawan politik Nasima," keluh Nayla. "Reputasi Nasima bisa jatuh."
"Benar!" Iron menurunkan kedua kaki dari sofa. Ia berselonjor ke bawah meja. Kepalanya menyandar pada sofa. "Karena itulah aku mengusulkan sebuah hal gila kepada Nasima."
Nayla mengernyit. "Hal gila?"
Alih-alih menjawab, Iron memejamkan mata. "Tapi Nasima menolak usulanku itu."
Nayla penasaran. "Memangnya kamu mengusulkan apa?"
Iron diam. Badannya tidak bergerak, seperti orang tidur.
Nayla menjadi kesal. "Kamu sebenarnya ingin membahas sesuatu atau hanya ingin aku mendengarkanmu saja sih?"
Iron masih diam.
Nayla mendengus sebal. Ia beranjak dari duduk dan meninggalkan Iron menuju ruang tengah. Ia duduk di sofa dan menyalakan televisi.
Tidak ada acara televisi yang menarik perhatian Nayla karena suasana hatinya sedang tidak enak gara-gara Iron.
Saat Nayla sedang memencet-mencet tombol remot, tahu-tahu Iron sudah duduk di dekat Nayla.
"Maaf, pikiranku sedang kacau," ucap Iron lirih.
Nayla tidak merespon. Ia lebih memilih menambah volume suara televisi.
"Kamu lucu kalau sedang ngambek," ujar Iron, memancing reaksi Nayla.
Nayla mematikan televisi. Ia menoleh kesal. "Aku kesal tapi nggak ngambek!"
Iron mengangguk. "Kalau begitu kita lanjutkan lagi."
Mood Nayla sudah turun drastis. Ia malas melanjutkannya.
"Demi Nasima, please!" bujuk Iron. "Demi kota ini juga."
Nayla meletakkan remot ke atas meja. Ia menoleh sadis. "Kalau mau lanjut, sebaiknya kamu belajar dulu cara menghargai lawan bicaramu!"
"Oke, maafkan aku!" Iron menyungging senyum.
Nayla melengos. Meskipun sebal, ia tetap berdebar mendapatkan senyuman dari Iron.
"Tadi kamu menanyakan apa usulanku sama Nasima kan?"
Nayla menoleh, menatap Iron datar. "Sejujurnya aku sudah nggak tertarik lagi mendengar jawabanmu."
"Iya, aku mengerti."
"Kamu boleh menjadi orang paling menyebalkan sedunia, aku nggak peduli." Nayla menunjukkan sikap tegas. "Aku kesal bukan karena sikapmu sama aku, tapi karena kamu memintaku melanjutkan pembahasan itu demi Nasima dan demi kota ini, sementara kamu sendiri tidak menunjukkan sikap bahwa kamu melakukan itu demi Nasima dan kota ini."
"Iya, aku minta maaf," ucap Iron pelan.
"Belum lima menit duduk di sini saja kamu sudah meminta maaf sebanyak tiga kali!" gerutu Nayla. "Kamu pikir dengan meminta maaf, rasa kesalku akan lenyap begitu saja?"
Baru kali ini Iron melihat Nayla setegas itu. "Aku mengaku salah. Aku menunggu kata maafmu."
"Sudahlah, lanjutkan pembahasan kita mumpung aku masih mau mendengarkanmu!" Nayla menarik napas dalam-dalam. Perasaannya sedikit lega setelah mengungkapkan kekesalannya.
Suasana menjadi kaku. Iron menunggu saat yang tepat untuk kembali melanjutkan pembahasan. Sementara Nayla berusaha memahami kalau pikiran Iron sedang kacau.
"Sehari setelah dokter menyarankan Nasima untuk melakukan operasi lanjutan di Singapura, aku mengusulkan agar ada seseorang yang berperan menggantikannya untuk tampil di publik."
Nayla mendengarkan cerita Iron, berusaha agar seantusias sebelumnya.
Iron melirik Nayla hati-hati. "Maksudnya peran pengganti adalah ada seorang yang menggantikan sosoknya sebagai walikota, bukan mengambil alih tugasnya. Jadi semua tetap dalam kendalinya, meskipun bukan ia yang melakukannya."
Nayla bingung. "Aku belum paham maksud kamu."
"Misalnya begini." Iron membetulkan posisi duduk agar lebih enak. "Nasima berada di Singapura, sementara saat yang bersamaan ia harus menemui para pemilik lahan itu. Nah, ia membutuhkan seseorang yang mirip dengannya untuk menemui pemilik lahan tersebut."
Spontan Nayla tercengang. Mendengar kata 'mirip' ia langsung curiga bahwa yang dimaksudkan Iron adalah dirinya.
Iron menangkap kekagetan pada wajah Nayla. "Kuharap kamu mau mendengarkannya dulu sampai selesai."
Nayla terlanjur tidak tenang karena sangat yakin dirinya akan dilibatkan pada rencana yang Iron usulkan kepada Nasima tersebut. Sunguhpun demikian ia akan menundengarkan dulu penjelasan Iron sampai selesai.
"Nasima tanya, siapa orang yang akan menjadi pemeran pengganti?" kenang Iron. Ia melirik Nasima sekilas. "Aku jawab orang itu adalah kamu, Nay."
Nayla mendengus. Meskipun sudah menduga, ia tetap saja kaget sekaligus merasa keberatan.
"Nasima langsung menolak. Alasannya adalah ia nggak mau membohongi warganya, juga karena ia nggak mau menyusahkanmu."
Nayla merasa lega atas sikap penolakan Nasima. "Bukankah waktu itu kamu belum bertemu denganku?"
"Memang!" timpal Iron, "tetapi aku sudah menyelidiki kehidupanmu selama berbulan-bulan. Aku yakin sekali publik nggak akan sadar kalau itu peran pengganti karena kalian sangat mirip. Sepertinya kalian kembar identik."
"Huft!" desah Nayla. Ia tidak habis pikir, bisa-bisanya Iron mengusulkan kepada walikota hal gila itu. "Jadi Nasima menolak kan?"
"Awalnya menolak!"
Nayla terbelalak.
"Sampai saat ini memang Nasima menolak, tetapi beberapa kali ia menanyakan usulanku itu," ujar Iron. "Semakin ke sini, sepertinya ia mulai mempertimbangkannya."
"Itu hanya dugaanmu saja!" sergah Nayla, berharap Nasima akan tetap menolak.
"Nasima menolak karena takut kamu berpikiran kalau ia mencarimu hanya karena ingin memanfaatkanmu saja." Iron menatap Nayla teduh. "Padahal usahanya mencari kamu itu sama sekali nggak ada kaitannya dengan usulanku itu."
Nayla memejamkan mata. Sekarang ia menjadi gelisah membayangkan seandainya nanti Nasima menyetujui usulan Iron.
"Sebenarnya aku juga nggak yakin kalau kamu akan mau. Aku juga yakin kalau Nasima akan menolak." Iron menyentuh telapak tangan Nayla lembut. "Aku nggak bermaksud memanfaatkanmu. Aku kehabisan akal waktu itu. Usulan itu kusampaikan sama Nasima secara spontan."
"Spontan, tapi setelah itu kamu memikirkan rencananya dengan matang bukan?" tebak Nayla. Ia melepaskan telapak tangannya dari sentuhan Iron.
"Iya, memang," Iron mengakui. "Tapi aku hanya merencanakannya sebatas kamu menemui para pemilik lahan itu sampai mereka mau menjual tanahnya saja. Setelah itu selesai."
Nayla tetap merasa keberatan. Ia tidak pernah berbohong, apalagi membohongi banyak orang.
Nayla menatap Iron kesal. "Jadi karena itulah kamu membuatku berhutang budi dengan membebaskanku dan merawat ayahku?"
Iron sudah menduga Nayla akan berkata begitu. Ia harus meluruskannya. "Nay, aku hanya bercanda soal itu. Aku nggak pernah menganggap itu semua sebagai hutang. Aku melakukannya atas perintah Nasima untuk melindungimu dan ayahmu."
Nayla membuang wajah ke samping.
"Sungguh, Nay. Aku hanya bercanda saja waktu itu."
Nayla menoleh kesal. "Tapi aku memang berhutang budi sama kamu."
Iron menggeleng dengan ekspresi memohon. "Jangan berpikiran seperti itu."
"Aku akan membayarnya. Tenang saja!" Nayla bersedekap. Perasaannya menjadi tidak keruan.
Iron menepuk jidatnya sendiri. Ia merasa bersalah. "Lupakan saja usulanku itu."
Nayla melengos. "Sebaiknya memang begitu."
Iron mengangguk. "iyah!"