Di mata Mahdi, Nayla adalah anak yang ceria. Sesusah apa pun kondisi perekonomian mereka dan seberat apa pun masalah yang dihadapi, Nayla jarang menampakkan wajah sedih. Sehingga ketika melihat anak gadis semata wayangnya itu tampak murung, Mahdi menjadi cemas.
Sejak siang tadi, Mahdi memperhatikan Nayla mengurung diri di kamar. Sekalinya keluar, wajah anak itu tampak murung. Bahkan ketika makan malam. Nasima tampak lebih banyak diam.
Selepas salat isya, Mahdi berniat menanyakannya tapi Nayla tidak berada di kamar. Ia pun mencarinya ke taman dan mendapati anak itu sedang duduk sambil melamun di gazebo.
Mahdi mendekati Nayla. Ia duduk di sebelah anak itu.
Menyadari kehadiran Mahdi, Nayla buru-buru menyungging senyum. "Ayah belum tidur?"
Mahdi balas tersenyum. "Baru jam setengah delapan."
Nayla hanya mengangguk.
Mahdi membelai rambut Nayla. "Kamu baik-baik saja?"
Nayla mengangguk sambil tersenyum dipaksakan. "Baik kok!"
"Tapi ayah perhatikan kamu mengurung diri di kamar sejak sore. Keluar cuman buat ke dapur sama makan malam. Wajah kamu juga ditekuk sedemikian rupa." Mahdi merapikan poni Nayla. "Ayah cemas kamu sedang ada masalah."
Nayla menggeleng. "Nggak ada kok!"
Mahdi tersenyum. "Nggak biasanya kamu murung."
Nayla menarik napas panjang. Ia memang jarang menampakkan wajah sedih di hadapan ayahnya, bahkan ketika putus dengan Amando pun ia berhasil pura-pura baik-baik saja meskipun hatinya sedang remuk.
Kali ini Nayla susah menyembunyikan perasaan gelisahnya sejak tahu Iron pernah mengusulkan ide gila kepada Nasima.
Nayla juga heran kenapa soal itu bisa membuatnya merasa segelisah ini. Padahal kalau ia pikir-pikir, itu bukan masalah besar. Ia sudah tegas meminta Iron untuk tidak lagi membahasnya. Seharusnya persoalan sudah selesai, tapi kenyataannya hatinya menjadi gelisah.
Kegelisahan Nayla disebabkan karena ini menyangkut dengan Nasima. Benar bahwa saudara kembarnya itu menolak usulan Iron dan Iron berhenti untuk membahasnya, tapi justru karena itulah ia menjadi tidak tega kepada Nasima.
Ada perasaan bersalah di hati Nayla karena ia tidak bisa membantu kesulitan yang sedang dihadapi Nasima. Sedangkan ia tidak mungkin menerima usulan Iron.
Sejak sore tadi, Nayla memikirkan sesuatu yang sekiranya bisa mengurangi beban Nasima. Namun sekeras apa pun berpikir, pada akhirnya ia sadar bahwa dirinya tidak punya kapabilitas untuk memikirkan peihal pemerintahan dan politik.
Nayla gelisah karena ia merasa tidak berguna, sementara Nasima telah banyak membantunya.
"Tuh kan melamun lagi?" Mahdi mengacak rambut Nayla dengan lembut.
Nayla terkesiap. Buru-buru ia tersenyum.
"Kamu biasanya selalu terbuka sama ayah. Meskipun ayah tahu kamu sering bersikap seolah semua baik-baik saja setiap ada masalah, tapi kamu tetap bercerita kepada ayah."
"Aku nggak punya masalah kok, Yah." Nayla buru-buru mengklarifikasi. "Aku hanya merasa tidak enak hati karena tidak bisa membantu Nasima. Ia sedang tidak bisa berjalan dengan baik dan harus menjalani serangkain operasi. Pada saat yang bersamaan ia juga dihadapkan dengan masalah pekerjaannya yang sangat rumit. Sementara aku hanya makan tidur saja di rumahnya."
Mahdi memahami kegelisahan Nasima. "Nasima orang baik. Ia senang kita berada di sini. Kita adalah bagian keluarganya. Jadi kamu nggak usah berpikir yang enggak-enggak."
"Iya, aku tahu itu, Ayah. Masalahnya adalah ia membutuhkan dukungan kita."
"Persoalan yang ia hadapi itu di luar kemampuan kita. Kita lakukan saja apa yang bisa kita lakukan: mendoakan dan mendukungnya. Lagipula ayah perhatikan Nasima tampak bahagia dengan kehadiran kita." Mahdi merengkuh bahu Nayla. "Kata Muna, Nasima tampak lebih bersemangat sejak kita berada di sini."
Nayla menunduk. Ia bimbang apakah perlu atau tidak menceritakan soal usulan Iron kepada Nasima.
Mahdi menyangga dagu Nayla agar tegak. "Ayo senyumlah. Kalau kamu murung begitu, Nasima bisa cemas."
Nayla memaksakan tersenyum meskipun itu tidak bisa mengurangi perasaan gelisahnya.
"Ayah sebenarnya kangen rumah, cuman Nasima meminta kita untuk tetap menemaninya. Ia sedang butuh semangat untuk menjalani operasi di Singapura. Jadi ayah harus pandai-pandai menahan kerinduan pada rumah."
Nayla merasa tidak mungkin menceritakan soal betapa bahayanya jika mereka kembali ke rumah. Ayahnya akan tahu kalau dirnya sedang menghadapi ancaman berat dari Sisca. Itu berbahaya bagi kesehatan ayahnya yang sedang membaik.
"Aduh, malah melamun lagi!" Mahdi merengkuh bahu Nayla. "Jangan biarkan senyum hilang dari wajahmu."
Nayla tersenyum dipaksakan. Ia tidak tahu akan sampai kapan meninggalkan rumah. Sisca terbukti sangat jahat. Ia khawatir masalah ini akan terus berlarut-larut.
"Udaranya sangat dingin di sini. Sebaiknya kita ke dalam saja," ajak Mahdi.
Nayla mengangguk. Ia turun dari gazebo. "Aku ingin ngobrol dengan ayah di kamar."
Mahdi mencium gelagat kalau Nayla ingin menceritakan sesuatu yang sifatnya pribadi.
Nayla membantu Mahdi berdiri. "Ayah belum mengantuk kan?"
"Belum!" Mahdi mengangguk. Ia merangkul Nayla. Mereka berjalan menuju kamar Mahdi.
Sampai di ruang keluarga, mereka berpapasan dengan Muna yang tergopoh menuju kamar Nasima sampai-sampai tidak menyadari keberadaan Mahdi dan Nayla.
Mahdi cemas ada sesuatu yang gawat. Muna selalu menyapanya setiap kali papasan, kali ini tidak. Ia menduga anak itu akan mengabarkan sesuatu yang sangat penting dan mendesak kepada Nasima.
Bukan hanya Mahdi yang cemas, Nayla pun merasa begitu.
"Muna kayak orang mau kebelet buang air besar," canda Nayla agar Mahdi tidak cemas.
Mahdi senyum dipaksakan. Ia mencemaskan Nasima. Sayangnya ia tidak berani untuk terlalu jauh ingin tahu urusan walikota.
"Ayo, Yah!" Nayla menggandeng Mahdi, meneruskan langkah menuju kamar ayahnya.
Selama perjalanan menuju kamar, Mahdi terus berpikir, menduga-duga kiranya ada persoalan apa sehingga Muna tampak tergesa-gesa menuju kamar Nasima.
Nayla dan Mahdi masuk kamar. Selama beberapa saat mereka saling terdiam. Mereka sama-sama sedang memikirkan kejadian saat berpapasan dengan Muna yang tampak tergesa-gesa tadi. Hanya saja baik Nayla maupun Mahdi sama-sama tidak ingin membahasnya.
Mahdi duduk di tepi kasur. Nayla mengambil kursi agar bisa duduk di depan ayahmya itu.
"Sepertinya ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan," tebak Mahdi.
Nayla mengangguk. "Aku mau menceritakan sesuatu sama ayah."
"Soal apa?"
Nayla menatap Mahdi. "Soal Nasima dan Iron."
Mahdi mengerjap. Ia menduga itu soal asmara. "Apa mereka ada hubungan dekat?"
Nayla mengernyit. Sejurus kemudian tertawa karena sadar ayahnya sedang salah duga.
"Kok malah tertawa?" Mahdi heran.
Tawa Nayla berhenti. "Bukan itu. Mereka nggak ada hubungan asmara jika itu yang ada di pikiran ayah. Mereka kan saudara angkat. Nggak mungkinlah kalau saling jatuh cinta."
Mahdi terkekeh, menyadari kalau dirinya salah duga.
Nayla tersenyum maklum. Ia menggeser kursi lebih mendekat kepada Mahdi.
"Jadi apa yang ingin kamu ceritakan?" Mahdi mengusap rambut Nayla lembut.
Nayla menatap Mahdi sejenak, lantas menunduk. "Tadi siang Iron bercerita tentang betapa dilemanya Nasima berada pada dua pilihan sulit."
Mahdi mengerjap prihatin.
Nayla melanjutkan. "Dalam waktu yang bersamaan, Nasima harus melakukan dua hal yang sama-sama beresiko jika salah satunya ditinggalkan."
Mahdi menjadi penasaran. "Apa itu?"
Nayla menarik napas dalam-dalam. "Nasima harus menjalani operasi lanjutan di Singapura. Dokter menyarankan agar jangan menundanya karena beresiko. Iron nggak menjelaskannya secara mendetail tapi aku percaya itu memang beresiko."
Mahdi mengangguk. Nasima pernah menceritakan hal itu kepadanya.
"Sementara itu, Nasima harus menghadapi masalah soal pembebasan lahan untuk pembangunan stadion baru." Nayla menatap Mahdi sedih. "Masih ada sebelas pemilik tanah yang menolak untuk menjual tanahnya. Ada dugaan kuat mereka dihasut lawan politik Nasima. Tujuannya agar proyek itu mangkrak dan mereka bisa menyerang Nasima secara politik. Itu bisa menghancurkan reputasi Nasima."
Mahdi teringat kepada kejadian dua malam lalu ketika secara tidak sengaja ia mendengar percakapan tamu bernama Arhan dengan Nasima. Mereka membahas soal beberapa pemilik tanah yang menolak menjual tanahnya.
"Kata Iron, pemilik tanah itu masih bisa diajak bicara tapi harus walikota sendiri yang melakukannya," jelas Nasima.
Mahdi menarik napas berat. Ia prihatin dengan situasi berat yang sedang di hadapi Nasima. "Lalu apa sikap Nasima?"
Nayla mendesah berat. "Nasima terpaksa memilih menjalani operasi di Singapura meskipun resikonya pembangunan stadion itu akan mangkrak."
Mahdi bisa memahami pilihan walikota. "Ayah yakin, Nasima telah memperyimbangkannya secara matang."
Nayla mengangguk. Ia berpindah duduk dari kursi ke tepi kasur, bersebelahan dengan Mahdi.
Nayla meraih telapak tangan Mahdi. "Ada lagi yang ingin aku ceritakan, masih berkaitan dengan cerita tadi."
Mahdi menoleh. "Apa itu?"
Nayla diam, mencari kalimat yang tepat untuk memulai cerita. "Iron pernah memberi usulan kepada Nasima. Ia punya ide agar aku menjadi pemeran pengganti walikota."
Mahdi mengernyit bingung. "Maksudnya?"
Nayla menatap Mahdi teduh. "Intinya pada ide itu, aku berpura-pura menjadi walikota, melakukan pendekatan kepada para pemilik tanah itu."
Mahdi tercengang. Betapa terkejutnya ia hingga sampai menahan napas selama beberapa detik. Setelah itu ia menghembuskannya secara perlahan sambil berusaha memahami maksud usulan Iron kepada Nasima.
"Aku menolaknya, Yah!" ujar Nayla. "Aku meminta Iron untuk tidak lagi membahas soal itu."
Mahdi mengangguk, menghargai sikap Nayla. "Lalu apa reaksi Nasima mendengar usulan Iron?'
"Nasima menolak!" jawab Nayla. "Hanya saja menurut Iron, Nasima pernah beberapa kali menanyakan perihal usulan itu. Iron menduga Nasima bimbang. Satu sisi Nasima tidak mau menyusahkan aku, di sisi lain ia menghargai usulan Iron."
Mahdi menarik napas dalam-dalam. Sebagai seorang ayah, ia tidak mau Nayla terkait dalam membohongi publik. Namun ia berusaha melihat itu dari sudut pandang Iron dan posisi Nasima yang serba salah.
"Menurut ayah bagaimana?" tanya Nayla ingin tahu komentar ayahnya.
Mahdi menatap Nayla lekat-lekat. "Apa pun alasannya, berbohong adalah suatu yang nggak boleh dilakukan. Ayah pikir ide itu sangat beresiko jika dilakukan."
Nayla sepakat dengan Mahdi. "Iya."
Mahdi merengkuh bahu Nayla. "Ayah berusaha melihatnya dari sudut pandang Iron. Ayah yakin Iron nggak bermaksud membohongi publik. Ia hanya ingin kamu menjadi penyambung lidah Nasima. Semua juga demi kemanfaatan banyak orang bukan?"
Nayla mengernyit. "Kok ayah terkesan membenarkan ide Iron?"
Mahdi tersenyum bijak. "Ayah tidak membenarkan ide Iron, hanya berusaha melihat dari sudut pandangnya."
Nayla menyandar kepala ke bahu Mahdi. "Aku sebenarnya tidak setuju dengan ide gila Iron tapi kadang aku merasa bersalah telah menolak ide itu."
"Kenapa merasa bersalah?" tanya Mahdi.
"Karena aku nggak bisa berbuat apa-apa ketika Nasima sedang mengalami ujian berat." Nayla mendesah berat. "Aku ingin membantu Nasima tapi nggak tahu harus melakukan apa."
Mahdi mengelus rambut Nayla. Ia memahami kegelisahan Nayla.
Nayla menegakkan kepala. Ditatapnya Mahdi. "Yah, seandainya aku mau menjadi pemeran pengganti walikota, apa ayah akan mengizinkan?"
Mahdi terhenyak. Ditatapnya Nayla lekat-lekat. "Entahlah."