Begitu keluar dari kamar Mahdi, Nasima mendengar kegaduhan yang berasal dari ruang keluarga. Ia tidak kuasa untuk menahan rasa penasaran. Maka ia mendekati ruang keluarga.
"Asif, sejak kapan kamu berani membantahku!" Nasima menatap Asif sambil matanya terbelalak.
"Maaf, Bu, saya tidak bermaksud membantah ibu." Asif menunduk takut. Wajahnya pucat. "Saya hanya mencemaskan ibu."
"Siapkan mobil!" Nasima menunjuk muka Asif. "Sekarang juga kita ke rumah mereka."
Asif beranikan diri menatap Nasima. "Apa tidak sebaiknya kita menunggu Pak Baeni dulu?"
Nasima marah. "Kalau kamu menolak, saya akan cari sopir lain!'
Asif menunduk gelisah. "Saya akan mengantar ibu tapi...."
Nasima mengangkat telapak tangan, meminta Asif menghentikan ucapan. Ia melirik Muna. "Muna kamu telepon Pak Arhan. Suruh beliau menemani saya sekarang!"
Muna gelisah. "Pak Arhan dalam perjalanan ke sini, Bu."
"Sekarang telepon sopir lain yang sanggup mengantar saya malam ini!" perintah Nayla.
Muna mengangguk. "Baik, Bu!"
Meski tidak mendengarkan percakapan di ruang keluarga secara utuh, tapi Nayla bisa menebak Nasima sedang bersikeras untuk keluar malam ini.
"Biar saya saja yang mengantar, Bu!" Asif akhirnya mengalah.
Nasima mengabaikan Asif. Ia lebih memilih memandang Muna yang sedang menelepon.
Nayla melangkah ke ruang keluarga. Ia mendekati Nasima. Ia harus menenangkan hati saudaranya itu.
"Maaf kalau aku ikut nimbrung." Nayla menatap Nasima, sedikit takut dengan mimik marah saudara kembarnya itu.
Nasima tersenyum dipaksakan. "Kamu belum tidur?"
Nayla menggeleng. Ia balas tersenyum. "Boleh aku memelukmu?"
Nasima mengangguk. Nayla segera melingkarkan lengan ke bahu Nasima. Tidak ada kata di antara mereka. Hanya peluk erat dan perasaan haru yang bicara.
Sepasang mata Nasima sembab. Ia sangat terharu mendapat pelukan hangat dari Nayla. Sejak bercerai dengan mantan suaminya, baru kali ini ia merasa sebahagia ini. Ia merasa diperhatikan, dipahami, dan disayang sepenuh hati.
Segala amarah yang menguasai hati Nasima luruh seketika, berganti dengan perasaan bahagia dan kedamaian, meskipun tetap saja ia merasa gelisah.
Muna dan Asif saling pandang. Mereka terharu melihat sepasang saudara kembar saling berpelukan.
Selain merasa terharu, Asif merasa lega karena Nasima berhenti marah-marah. Momen pelukan itu juga bisa mengulur waktu sampai Iron datang.
"Aku ada buat kamu. Kamu ada buat aku," bisik Nayla. "Aku nggak akan bisa tidur melihatmu seperti ini."
Air mata Nasima mengalir. Kata-kata Nayla membuatnya larut dalam keharuan.
"Aku akan menemanimu malam ini," ucap Nayla. Matanya sembab.
Nasima terisak. Tenggorkannya tercekat, ingin mengucapkan sesuatu tapi tidak bisa.
"Aku yang nyetir!" bisik Nayla. Ia melepas pelukan. "Aku akan bawa ke mana saja kamu menginginkannya."
Telapak tangan Nasima mengusap pipi Nayla. Air matanya kembali mengalir. "Kamu sangat baik, Nay. Aku bangga punya saudara sepertimu. Andai saja sejak kecil kita selalu bersama pasti sangat indah."
Nayla tersenyum sambil menitikkan air mata. "Dan mungkin juga sering berantem."
Nasima tersenyum. Ia mengusap air mata di pipi Nayla. "Malam ini kamu di rumah saja ya. Ini tugas walikota, bukan tugas Nasima. Kamu harus bisa bedakan keduanya."
Nayla menggeleng. "Sepertinya kamu sedang mengajak berantem karena aku nggak sependapat denganmu."
Nasima mendesah pelan. "Aku tahu kamu mencemaskanku. Tenang saja, aku pergi bersama pengawal dan orang-orang terpercaya. Aku akan baik-baik saja."
"Tapi kamu harus ingat, ada lelaki tua yang akan gelisah menunggumu pulang. Aku pastikan beliau tidak akan bisa tidur sampai kamu pulang dalam keadaan baik-baik saja."
Nasima terdiam. Ia paham, lelaki tua yang dimaksudkan Nayla adalah Mahdi.
"Karena itulah kamu di rumah saja. Kalau kita pergi bersama-sama, beliau akan lebih cemas," dalih Nasima.
Nayla menggeleng. "Justru kalau aku ikut bersamamu, ayah akan sedikit tenang."
Nasima terdiam. Ia yakin Nayla tidak akan mau mengalah. Jika diteruskan mereka akan terus berdebat.
"Pak Baeni datang, Bu!" beritahu Muna kepada Nasima.
Nasima menoleh ke arah pintu. Iron tampak tergesa mendekatinya.
"Ibu memanggilku?" tanya Iron begitu sampai di hadapan Nasima.
Nasima mendengus sambil melirik Asif. Ia yakin Iron datang karena Asif yang menelepon.
"Kamu istirahat saja di rumah!" suruh Nayla kepada Iron. "Kalau aku memanggilmu, pasti aku menyuruh Muna, bukan Asif."
Iron tahu itu. Ia berlagak bingung agar bisa tetap berada di sini. "Sebenarnya ada apa?"
Nasima diam. Ia sengaja tidak memberitahu Iron bahwa dirinya akan menemui para pemilik tanah malam ini. Iron pasti akan mencegahnya.
Tadi Nasima mendengar laporan dari Muna bahwa sekarang bertambah lagi empat orang pemilik tanah yang menolak menjual tanahnya. Keempat orang itu tadinya adalah orang-orang yang sudah menyepakati harga. Sekarang mereka berubah pikiran. Itu membuat Nasima berang. Tanpa berpikir panjang, ia menyuruh Asif untuk mengantarnya menemui keempat orang tersebut.
Asif tahu Nasima mengambil keputusan secara emosional. Ia meminta Nasima untuk menunggu kedatangan Iron. Akibatnya ia dimarahi karena dianggap membantah.
Tidak ditanggapi, Iron mendekati Muna. "Ada apa, Muna?"
Muna menunduk serba salah. Jika ia menjelaskan pasti akan mendapatkan marah dari Nasima.
Iron memaklumi sikap diam Muna. Ia pun mendekati Nayla. "Ada apa, Nay?"
Nayla mengedikkan bahu.
Iron beralih ke Asif, padahal tadi saat ia dalam perjalanan, Asif sudah menjelaskannya. "Ada apa Asif?"
Asif melirik Nasima takut. "Maaf, Pak Baeni, ibu meminta saya mengantar beliau menemui pemilik tanah sekarang. Ada empat orang lagi yang tadinya sudah menyepakati harga tapi sekarang menolak menjual tanahnya."
Iron mengerjap, pura-pura kesal. "Lalu kenapa nggak kamu antar beliau?"
Asif menunduk. "Maafkan saya, Pak, situasinya sangat berbahaya jika ibu menemui para pemilik tanah malam ini. Kita belum menyeterilkan lokasi. Kita juga belum menghubungi pihak kepolisian untuk pengawalan. Juga kita belum mendapatkan data siapa saja keempat orang tersebut dan di mana rumahnya."
Iron mendesah panjang. "Jadi bertambah lagi empat orang?"
"Iya, Pak," jawab Asif.
"Itu laporan dari mana?" tanya Asif.
Asif menggeleng. "Saya tidak tahu, Pak."
Iron beralih kepada Muna. "Laporan dari siapa, Muna?"
Muna melirik Nasima takut-takut.
"Katakan saja!" desak Iron tidak sabar.
Muna menjadi serba salah.
"Apa pendengaranmu bermasalah?" Iron menaikkan intonasi.
"Mmhh, itu laporan dari Pak Arhan," jawab Muna merasa bersalah kepada Nasima.
"Pak Arhan ke sini?"
Muna menggeleng. "Enggak, Pak. Beliau sedang berada di luar kota saat menelepon tadi. Sekarang beliau dalam perjalanan menuju ke sini."
Iron yakin, Arhan mendapatkan kabar dari anak buahnya. Ia menatap Nasima. "Saran saya, sebaiknya kita menunggu kepastian dari Pak Arhan."
Nasima diam. Ia sadar telah mengambil keputusan secara emosional. Tadi ia tidak berpikir panjang karena pikirannya kacau. Hatinya juga sedang tidak keruan. Sekarang hatinya berangsur tenang sejak dipeluk Nayla. Pikirannya pun kembali jernih.
Nasima melirik Muna. "Pak Arhan sudah sampai mana?"
"Saya coba hubungi dulu, Bu." Muna mengusap layar ponsel. Ia menelepon Arhan.
Panggilan Muna belum terjawab. Ia mencobanya lagi.
"Halo, Muna!" Arhan menjawab panggilan Muna.
"Ibu tanya, bapak sudah sampai di mana?"
"Saya sudah sampai. Sekarang sedang memarkir mobil."
"Baik, Pak, saya akan sampaikan kepada ibu. Terima kasih, Pak Arhan."
"Iya, Mun, sama-sama."
Muna mengakhiri panggilan telepon. Ia menatap Nasima. "Pak Arhan sudah sampai. Beliau sedang memarkirkan mobil."
Nasima menarik napas lega. "Kalau begitu bawa aku ke ruang tamu!"
Muna mengangguk. "Baik, Bu!"
Nayla buru-buru mencegah Muna. "Biar aku saja!"
Nasima melirik Nayla. Ia tersenyum terharu. "Terima kasih, Nay!"
Nayla mengangguk. Ia mendorong kursi roda Nasima menuju ruang tamu.
"Di sini saja!" pinta Nasima kepada Nayla. Perasaannya semakin membaik. Hanya sebuah dorongan dari Nasima saja telah berhasil menumbuhkan semangatnya.
Tidak berselang lama terdengar pintu diketuk.
"Aku saja yang buka!" Iron membukakan pintu.
Di depan pintu, Arhan mengangguk ramah kepada Iron.
Iron balas mengangguk. Ia membuka pintu lebar-lebar. "Silakan masuk, Pak Arhan."
Arhan mengangguk ramah kepada Nasima. Ia segera menuju kursi.
"Duduk, Pak Arhan!" suruh Nasima.
"Terima kasih, Bu!" Arhan duduk di sofa.
Nasima melirik Muna. "Ambilkan minum untuk Pak Arhan, sekalian untuk sopir beliau."
"Saya menyetir sendiri, Bu, tidak sama sopir," ujar Arhan.
Nasima mengerjap kaget.
"Sopir saya sedang sakit. Kalau mencari sopir lain takutnya kelamaan," dalih Arhan.
Nasima merasa heran. "Bukannya tadi bapak sedang berada di luar kota?"
Arhan mengangguk. "Benar, Bu. Saya mengajak sopir ke luar kota. Di sana asam lambungnya kambuh, jadi saya mampir ke dokter dan memutuskan untuk pulang saja dan mengantar pulang sopir saya. Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya mendapat laporan kalau ada empat orang lagi yang menolak menjual tanahnya. Keempat orang itu sebelumnya sudah menyepakati harga dan siap menjual tanahnya."
Nasima mengatupkan bibir. Ia yakin ini ulah lawan politiknya. "Alasan mereka menolak apa, Pak?"
"Mereka membatalkan kesepakatan dan meminta harga tanahnya dinaikkan," jawab Arhan. "Kenaikan harga yang mereka ajukan tidak masuk akal, hampir mencapai satu juta per meternya."
Nasima mendengus. "Bapak sudah mengidentifikasi nama-nama mereka?"
"Sudah, Bu. Mohon maaf saya tidak sempat print-out. Bagaimana kalau saya kirimkan file-nya via email?"
Nasima mengangguk. "Ke email saya langsung!"
"Baik, Bu!" Arhan mengirim file ke alamat email Nasima. "Silakan dicek, Bu!"
Nasima melirk Muna. "Kamu buka email saya. Buka surel dari Pak Arhan. Cetak lima rangkap sekarang."
Muna mengangguk. "Baik, Bu!" Ia pamit, menuju ruang kerja Nasima.
Nasima melirik Iron dan Nayla yang berdiri bersebelahan. "Kalian mau berdiri saja?"
Nayla tersenyum. "Aku ke dalam saja ya?"
Iron menoleh kepada Nayla. "Aku temani!"
Nayla mengernyit.
"Kami ke dalam dulu, Bu!" pamit Iron.
Nasima mengangguk. Nayla dan Iron berlalu dari ruang tamu.
"Semua ini salah saya, Pak Arhan." desah Nasima.
"Salah kenapa, Bu?"
Nasima menatap Arhan dengan raut menyesal. "Bapak dulu pernah mengusulkan lokasi stadion baru itu, tapi saya menolaknya karena lokasinya jauh dari pusat kota."
Arhan tersenyum bijak. "Itu bukan kesalahan ibu. Lokasi yang saya usulkan memang jauh dari pusat kota."
Nasima berpikir sejenak. "Tanah di lokasi itu ada berapa pemilik?"
"Tanah itu milik satu orang, Bu," jawab Arhan. "Cuman memang sudah terbagi menjadi lima sertifikat hak milik."
Nasima mengerjap gembira. Ia memiliki ide. "Beneran satu orang?"
Arhan mengangguk. "Benar, Bu. Cuman memang pemiliknya sudah meninggal. Beliau memiliki lima orang hak waris, yaitu istri dan keempat anak. Itulah kenapa sertifikatnya dipecah menjadi lima."
Nasima menarik napas lega. Ia menatap Arhan sambil tersenyum gembira. "Seandainya tanah itu kita jadikan lokasi buat stadion baru, kira-kira berapa banyak kenaikan anggarannya?"
Arhan terkejut. "Jadi lokasinya akan diganti?"
Nasima mengedikkan bahu. "Itu baru wacana saja, Pak Arhan. Saya harus punya banyak opsi dalam menyikapi dinamika yang terjadi."
Arhan mengangguk sepakat. "Saya paham, Bu."
Nasima mengajukan kepala ke arah Arhan. "Jadi menurut bapak, anggaran yang kita perlukan akan membengkak menjadi berapa milyar?"
Arhan tersenyum semangat. "Lokasi itu jauh dari pusat kota. Akses menuju ke sana juga cukup terjal di beberapa titik. Kita harus menambah biaya untuk memperbaiki jalan menuju ke sana. Namun harga tanah di sana jauh lebih murah ketimbang di dekat kota. Jadi menurut prediksi saya, kita tidak membutuhkan banyak tambahan anggaran."
"Jadi menurut prediksi bapak, biaya perbaikan jalan menuju ke lokasi itu bisa ditutupi dari harga tanahnya yang jauh lebih murah?" Nasima memastikan.
"Benar, Bu," jawab Arhan. "Selain itu, karena pemiliknya adalah satu keluarga, itu akan memudahkan kita dalam bernegosiasi soal harga."
Wajah Nasima seketika cerah. "Ini memang baru wacana, Pak, tapi saya ingin Pak Arhan melobi mereka besok."
"Siap, Bu!" sahut Arhan. "Tapi bagaimana dengan investor?"
Nasima tersenyum. "Saya bisa handle mereka, Pak. Namun saya baru akan mengutarakan opsi itu kepada para investor jika sudah mendapat kabar pasti dari Pak Arhan."
"Siap, Bu, saya akan bergerak cepat dan segera melaporkannya kepada ibu." Arhan merasa senang karena jika opsi itu dipilih maka ia tidak akan mengalami banyak kendala.
Nasima mengangguk. "Tapi itu baru opsi, Pak Arhan. Saya masih berharap pembebasan lahan di lokasi yang di dekat kota itu segera selesai seratus persen."
"Iya, Bu, saya paham."
"Tadi saya panik sekali. Saya emosional dan hampir saja nekat menemui para pemilik tanah itu. Beruntung Asif menelepon Iron sehingga saya bisa berpikir jernih." Nasima terkekeh, menyalahkan diri sendiri.
"Syukurlah, Bu."
Nasima menarik napas lega.
Sementara itu, di balik tembok ruang tamu, Nayla dan Iron sedang menguping pembicaraan Nasima dengan Arhan sejak tadi.
Iron mengerjap kepada Nayla. Ia berbisik kepada gadis itu. "Alhamdulillah ibu nggak jadi nekat."
Nayla mengangguk senang.