Perbedaan Semut Cowok dan Cewek

1638 Kata
Sisca sedang menunggu kedatangan Amando di ruang tamu ketika tiba-tiba Heri datang. Tadinya ia pikir orang kepercayaannya itu akan memberinya kabar baik, ternyata hanya melaporkan kegiatannya mengawasi rumah Iron.  "Pak Baeni tampak berbincang sama Nayla di teras, kemudian masuk lagi," lapor Heri.  Sisca terbelalak. "Hanya sekali?"  Heri mengangguk. "Iya, Bos."  "Setelah itu nggak pernah tampak lagi?"  Heri menggeleng. "Enggak, Bos."  Sisca kesal. "Kalau cuman mau melapor begitu doang, kenapa nggak telepon saja? Ketimbang kamu buang-buang waktu ke sini, kan lebih baik kamu awasi anak buahmu itu!"  Heri menelan ludah. Pekerjaan tanpa kesalahan saja tidak pernah dihargai apalagi kegagalan.  "Aku sedang menunggu calon tunanganku." Sisca menyilangkan kaki sambil terus menatap Heri, kesal. "Kalau ia datang kamu masih di sini, aku harus menjawab apa kalau ia menanyakanmu?"  Heri melirik Sisca sekilas. Menurutnya aneh kalau calon tunangan Sisca akan cemburu kepadanya. Ia tidak tampan, hanya menang kekar saja.  "Kalau kamu mengira calon tunanganku akan cemburu, kamu salah!" ujar Sisca seolah bisa menebak jalan pikiran Heri. "Bukan itu yang membuatku cemas, tapi aku nggak mau kalau ia tahu aku benci sama Nayla."  Heri melirik Sisca. "Iya, Bos, saya paham."  "Kamu tahu nggak?" Sisca mengerjap galak kepada Heri. "Calon tunanganku itu bernama Amando. Ia adalah mantan pacarnya Nayla. Kalau ia tahu aku membenci Nayla, bisa gawat!"  Heri mengangguk tanda paham.  Sisca melirik arloji di tangannya. Sekarang baru pukul 18:11 wib. Amando janji akan datang beberapa menit sebelum isya.  "Kamu nggak bisa berlama-lama di sini!" Sisca mengingatkan.  "Iya, Bos."  "Sekarang apa lagi yang ingin kamu laporkan?"  Heri beranikan diri menatap Sisca. "Sementara hanya itu saja, Bos."  Sisca mendekatkan wajah ke arah Heri. "Kamu nggak curiga kenapa Iron nggak pernah keluar dari rumah itu?"  Heri mengangguk. "Curiga sih, Bos, tapi memang ia nggak tampak keluar dari rumah sejak masuk ke rumah itu."  Brakk! Sisca menggebrak meja. Ia sangat kesal.  Gebrakan meja Sisca tidak begitu keras tapi mampu membuat Heri kaget.  "Aku heran sama kamu kenapa bodoh masih saja dipelihara!" Sisca melotot.  Heri menunduk.  "Pak Baeni nggak mungkin keluar dengan jalan kaki. Seharusnya kamu awasi juga mobil yang keluar masuk rumah itu!"  Heri menelan ludah. Ia mengaku salah karena tidak berpikir sejauh itu, hanya fokus mengawasi rumah saja.  "Kamu nggak mengawasi mobil yang keluar masuk?" Wajah Sisca merah menahan marah.  Heri menggeleng. "Maaf, Bos, saya salah."  "Kamu memang jarang sekali bener, selalu saja salah!" maki Sisca. "Bener sekali, salahnya sebelas kali!"  Heri menunduk semakin dalam.  "Kamu pikir, Pak Baeni akan memberitahumu saat ia mau keluar, hah?"  Heri cengar-cengir saja.  Sisca geregetan melihat wajah sok polos Heri yang dijadikan tameng setiap kali pekerjaannya tidak beres.  Sisca mendengus. Sudah terlalu sering ia memarahi bahkan mencaci maki Heri. Kini ia merasa bosan melakukannya.  "Jadi pekerjaanmu selama dua puluh empat jam ini apa saja?" Sisca mengucapkannya lirih tapi penuh tekanan. "Mengawasi rumah itu dari kejauhan, hah?"  Heri terus menunduk.  "Tatap mataku!" suruh Sisca.  Meski takut, Heri menatap mata Sisca.  "Nggak mungkin Pak Baeni di rumah terus. Pekerjaannya banyak dan bisa sehari semalam berada di luaran. Jadi nggak masuk akal kalau ia terus berada di dalam rumah."  Heri kembali menunduk. "Iya, Bos."  "Kamu harus identifikasi setiap mobil yang keluar masuk rumah itu. Pastikan siapa saja yang berada di dalam mobil tersebut. Kalau perlu kamu buntuti!"  Heri mengangguk.  "Kamu paham?"  "Paham, Bos."  "Ada yang ingin ditanyakan?"  "Enggak, Bos."  "Kalau perlu, kamu tambah anak buahmu. Cari yang berpengalaman. Jangan yang bodoh sepertimu!"  Heri menelan ludah sambil mengangguk.  "Aku bosan lihat wajahmu!" maki Sisca. "Kamu boleh pergi!"  Heri mengangguk. "Baik, Bos, kalau begitu saya pamit."  Sisca melengos kesal.  Heri bangkit dari duduk. Ia berlalu dari hadapan Sisca.  Ketika Heri baru beranjak sejauh tujuh langkah, ia berpapasan dengan mobil Amando yang baru saja memasuki halaman rumah Sisca.  Heri menduga itu adalah Amando. Sebelum melewati pintu gerbang, ia menoleh ke arah mobil yang baru saja terparkir. Ia penasaran seperti apakah wajah calon tunangan Sisca itu.  Amando keluar dari mobil. Ia berjalan santai menuju teras. Bersamaan dengan itu, Heri keluar dari rumah Sisca.  Amando mendekati Sisca sambil menyungging senyum. "Hai, Sayang!"  Sisca balas tersenyum. Perasaan kesalnya kepada Heri, seketika sirna. Ia berdiri menyambut Amando. "Hai juga!"  Sisca dan Amando cipika cipiki.  "Mau di dalam atau di luar?" tanya Sisca.  Amando tersenyum m***m. "Kalau di dalam harus pakai pengaman kan?"  Sisca kaget, kemudian tertawa. Ia paham maksud candaan Amando. "Harus dong, kecuali kalau nanti kita sudah resmi."  Amando mengerjap genit. "Kemarin malam kok nggak pakai pengaman?"  Sisca tersipu sambil meninju lengan Amando pelan. "Kemarin kan di luar, jadi nggak masalah."  Amando tertawa geli. "Jadi enaknya di dalam apa di luar nih?"  Alih-alih menjawab, Sisca tertawa sambil menutup mulut. Ia menjadi teringat dengan momen indah bersama Amando kemarin malam di kamar calon tunangannya itu.  "Di sini aja ya?" Amando duduk di sofa.  "Boleh." Sisca duduk di sebelah Amando.  Amando menoleh ke pintu gerbang. "Lelaki itu tadi siapa?"  Sisca menjadi salah tingkah. Ia tidak mau Amando tahu kalau Heri adalah orang kepercayaannya yang sedang ditugaskan untuk terus mencari tahu keberadaan Nayla.  "Kamu cemburu ya?" Sisca sengaja bercanda untuk menutupi salah tingkahnya.  "Jangankan lelaki, semut cowok pun aku pitas kalau berani mendekatimu," ujar Amando membalas candaan Sisca.  "Memangnya kamu bisa bedakan mana semut yang cowok dan mana yang cewek?" Sisca sengaja membahas hal tidak penting ini agar Amando tidak membahas soal kedatangan Heri tadi.  "Tahu dong!" jawab Amando asal-asalan.  Sisca mengerjap manja. Ia melingkarkan lengan ke pinggang Amando. "Coba apa bedanya?"  Amando pura-pura berpikir keras. "Mmhh, kalau cowok punya kumis."  Sisca tergelak, merasa lucu. "Kalau cewek?"  Amando kembali purah-pura berpikir. "Kalau semutnya cuman satu, aku nggak bisa tahu kalau itu cewek, minimal dua."  Sisca mengernyit sambil bergelayut manja. "Memangnya kalau dua bisa?"  Amando mengangguk. "Kalau ada dua, kita suruh saja mereka berantem. Kalau mereka jambak-jambakan rambut berarti cewek semua."  "Hahaha!" Sisca tertawa sambil membenamkan wajah ke bahu Amando.  Amando senang melihat Sisca tertawa. Ia ingin menunjukkan kepada Ferdy kalau ia bisa membahagiakan putri semata wayangnya.  Sementara itu, Sisca bersyukur karena sejauh ini Amando tidak membahas soal Heri.  "Tumben ngabari dulu mau datang," tegur Sisca. "Kamu juga datang lebih cepat dari yang dijanjikan."  "Ada hal penting yang harus kita bahas," ujar Amando serius.   "Soal apa?"  Amando menatap Sisca lekat-lekat. "Ini soal politik."  Sisca mengerjap kaget. "Kenapa nggak di kantor saja?"  Amando terdiam sejenak. "Ini cukup rahasia. Resiko kalau kita bahas di kantor."  Sisca penasaran. "Kok aku deg-degan ya?"  Amando membelai rambut Sisca. "Memang serius sih, tapi kita membahasnya secara santai saja."  Sisca melepaskan gelayutannya. "Oke, jadi apa yang ingin kamu bahas."  Amando menatap Sisca sejenak, memikirkan kalimat yang pas untuk memulai. "Aku tahu, kalian di fraksi sedang melakukan manuver terhadap isu proyek pembangunan stadion. Sejauh ini aku mengapresiasi keberhasilan kalian yang berhasil menghasut para pemilik tanah. Bahkan kudengar sekarang bertambah empat orang lagi yang menolak menjual tanahnya."  Sisca bisa menebak ke arah mana pembahasan Amando.  "Semua sangat halus dan terkesan alami. Itu luar biasa!" puji Amando.  Sisca tersenyum senang, mendapatkan pujian. "Aku motor dari itu semua."  Amando tersenyum kagum. "Kamu luar biasa!"  Sisca tersipu. "Kamu bisa saja!"  Amando berhasil mengondisikan situasi. Ini saatnya ia mengutarakan maksudnya. "Nasima akan jatuh. Semua tinggal menunggu waktu saja."  "Kamu yang diuntungkan!" Sisca mencubit ujung hidung Amando pelan.  "Iya memang, tapi fraksi juga diuntungkan. Daya tawar kalian menjadi tinggi. Fraksi pendukung walikota tidak akan lagi menganggap remeh kalian."  "Sejak dulu mereka nggak pernah menganggap remeh kok." Sisca meluruskan.  Amando mengangguk, tidak mau berdebat soal itu meskipun ia bisa menilai kalau fraksi yang dipimpin Sisca selalu kalah dalam banyak isu.  Amando melanjutkan. "Seperti kalian ketahui, aku adalah kandidat tunggal yang akan maju dalam pemilihan walikota tahun depan dari fraksi kita. Jadi, seharusnya kita bersinergi. Maksudku, libatkan aku juga dalam manuver kalian, terutama dalam isu pembebasan tanah buat proyek pembangunan stadion baru."  Sisca menangkap maksud Amando. "Begini, Sayang, fraksi pasti akan melibatkan siapa pun kandidatnya. Kalau selama ini kami masih berjalan sendiri itu karena belum ada mandat resmi dari ketua umum siapa kandidatnya."  "Tapi aku sudah mendapatkan restu dari ketua umum," sergah Amando. "Kamu sudah mendengar sendiri dari papi kamu kan?"  Sisca mengangguk. "Benar, tapi itu baru restu secara lisan. Kami juga tahu kok kamu sudah mendapatkan restu dari ketua umum. Jadi, kamu bersabar dulu ya, Sayang?"  Meskipun kecewa, Amando berusaha tampak bijak menerimanya. "Aku memahaminya. Aku membahas ini juga sebagai bentuk dukungan kepada kalian di fraksi. Aku ingin sedikit memberi kontribusi."  Sisca merasa lega. "Terima kasih kamu mau memahaminya. Ngomong-ngomong apa maksudmu ingin memberi kontribusi."  Amando tersenyum. "Aku siap membayar buzzer buat memperkuat manuver kalian."  Sisca keberatan. "Tapi nanti itu akan membuat manuver kami tidak tampak alami lagi. Warga bisa membedakan mana buzzer dan mana suara publik."  Amando menyergah. "Walikota juga punya buzzer, Sayang. Kita harus melawan buzzer mereka."  Sisca menggeleng, tidak sependapat. "Walikota menggunakan influencer, bukan buzzer. Mereka orang-orang yang memiliki pengaruh di masyarakat. Kalau kamu mau berkontribusi, saranku kamu carilah influencer, jangan buzzer."  Amando menghindari debat dengan Sisca karena ia yakin, jika ada masalah pada hubungan mereka pasti akan sampai ke telinga Ferdy.  Untuk mengurangi kekecewaannya, Amando mengalihkan pembicaraan. "Betewe, siapa lelaki tadi itu?"  Sisca kelabakan. "Mmhh, itu anu, salah satu orang yang aku tugaskan untuk menjalankan manuver isu pembebasan lahan."  Amando menangkap kegugupan Sisca. Meskipun begitu ia sebenarnya tidak peduli siapa lelaki itu. Ia tidak mencintai Sisca, sehingga tidak ada perasaan cemburu ketika melihat calon tunangannya itu bersama lelaki lain.  "Tampangnya seperti nggak asing," ujar Amando mengarang, padahal ia sama sekali belum pernah bertemu dengan Heri.  Mendengar ujaran Amando membuat Sisca cemas kalau-kalau lelaki itu pernah melihat Heri sebelumnya. Bisa gawat kalau tahu Heri adalah orang yang ia tugaskan untuk menjalankan rencana jahatnya kepada Nayla.  "Kalau dilihat dari postur tubuhnya, orang itu pantas menjadi penjaga pribadi bayaran." Amando terus mengoceh tanpa arah.  Sisca semakin cemas. "Orang yang nggak penting dalam kehidupan kita. Jadi nggak usah dibahas."  Amando memaksakan tersenyum, padahal ia sangat kecewa karena usulannya soal buzzer ditolak Sisca.  Jika usulan Sisca diterima, rencananya ia akan menggunakan buzzer itu untuk menaikkan popularitasnya agar elektabilitasnya meningkat. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN