Daya Tawar

1635 Kata
Sebelas menit lagi pukul delapan malam. Nasima duduk di tepi kasur sambil memandang koper-koper yang telah disiapkan para asistennya. Di dalamnya telah terisi baju-baju dan semua keperluan yang akan dibawa ke Singapura besok pagi Kurang dari dua belas jam lagi, Nasima akan meninggalkan kota ini untuk menjalani operasi lanjutan. Hatinya semakin gelisah. Ia tidak tenang harus meninggalkan setumpuk persoalan politik dan pemerintahan.  Jika bisa, Nasima sebenarnya ingin memilih memundurkan jadwal operasinya. Sayangnya tim dokter menyarankan sebaliknya. Ia harus menjalani operasi cidera kaki segera karena kalau kelamaan bisa mempengaruhi saraf-sarafnya. Nasima tidak begitu paham semua penjelasan medis itu, tapi ia tahu bahwa jika ia mengabaikan saran dari tim dokter, cidera di kakinya bisa permanen. Resikonya ia akan tergantung pada kruk atau kursi roda.  Yang paling membuat hati Nasima gelisah adalah, ia merasa menjadi manusia egois, lebih mementingkan kesehatan dirinya ketimbang tugas dan kewajibannya. Itu membuatnya tidak berhenti menyalahkan diri sendiri.  Tok! tok!  Nasima terkesiap. "Masuk!"  Pintu terbuka. Tadinya Nasima mengira Muna yang datang, termyata bukan.  Nasima buru-buru menyungging senyum ketika melihat Nayla berada di ambang pintu. "Kemarilah, Nay!"  Nayla melangkah dan menutup kembali pintu kamar. Ia memandangi koper-koper yang sudah berjejer rapi di dekat pintu.  Nayla mengalihkan pandangan ke segala arah. "Kamarku mirip sekali dengan kamarmu ini!"  Nasima memang mendisain kamar yang ditempati Nayla agar mirip dengan kamar yang ditempatinya. Ia telah menyiapkannya berbulan-bulan lalu ketika Iron berhasil menemukan Nayla.  "Aku nggak tahu selera kamu, jadi aku disain kamar kamu agar mirip dengan kamar ini," ujar Nasima. "Kalau kamu ingin merubah sesuai keinginanmu silakan, nanti aku panggilkan kontraktor langgananku."  Nayla menggeleng. "Aku suka kok, jadi nggak perlu diubah."  Nasima menepuk kasur, memberi isyarat agar Nayla duduk di dekatnya. "Aku ingin kita duduk sebelahan."  Nayla mengangguk. Ia duduk di sebelah Nasima.  "Ayah bilang, kamu akan ke Singapura besok," ujar Nayla.  Nasima mengangguk sedih. "Iya, tadi aku memberitahu ayah sekalian minta doa beliau. Aku juga tadi mau memberitahumu tapi kata Muna kamu lagi facial."  Nayla terkekeh. Ia merasa geli mengingat momen tadi sore. "Kamu tahu nggak kalau aku ini tomboy?"  Nasima mengerjap sambil mengangguk. "Tahu dari Iron."  Nayla membetulkan posisi duduk. "Dulu, jangankan perawatan wajah dan kulit, memakai baju perempuan saja rasanya aneh."  Nasima mengangguk paham. Ia menghargai keterusterangan Nayla. "Namun belakangan ini aku menjadi akrab dengan hal-hal feminisme. Tadinya aku merasa menjadi orang lain, namun lama-lama aku penasaran juga bagaimana sih rasanya menjadi perempuan feminin?"  "Kamu nggak harus melakukan itu," timpal Nasima. "Tapi kalau kamu memang menginginkannya juga nggak papa. Kamu nggak perlu ke salon. Aku punya tim khusus untuk itu."  Nayla tersipu. "Iya, makasih ya, Nasima? Aku menjadi tertantang untuk melakukan hal baru."  Nasima memperhatikan penampilan Nayla dari atas sampai bawah. "Kamu sadar nggak sih kalau penampilanmu berubah signifikan dari ketika Iron menemukanmu?"  Nayla menggeleng. "Enggak begitu."  "Iron mengirimiku video saat kalian berada di kafe," beritahu Nasima. "Itu saat kalian baru bertemu bukan?"  Nayla mengernyit kaget. "Jadi Iron merekamnya?"  Nasima tidak kalah kaget. "Kamu nggak tahu?"  Nayla menggeleng. Serta merta ia kesal kepada Iron.  "Video itu memang yang merekam karyawan kafe. Itu atas suruhan Iron," beritahu Nasima.  Nayla menepuk jidatnya. "Astaga, menyebalkan sekali makhluk itu!"  Nayla mengerjap. "Iron maksudnya?"  Nayla menggeram pelan. "Siapa lagi?"  Nasima terkekeh. "Perlakuannya sama kamu tu belum seberapa menyebalkan ketimbang yang sering ia lakukan padaku."  "Oh ya?"  Nasima mengangguk sambil terkekeh. "Yang sabar ya?"  Nayla mendesah sebal.  "Iron memang menyebalkan tapi ia sangat baik."  Nayla mengangguk sepakat. "Kamu beruntung mengenal Iron sejak kecil."  "Bukan hanya mengenal. Kami kan saudara angkat!"  Nayla tertawa geli. "Aku nggak bisa bayangkan betapa mengenaskannya hari-harimu bersama Iron."  Nasima tertawa ngakak sambil menutupi mulut. Ia sudah lupa kapan terakhir kali bisa tertawa selepas ini.  Iron memang seringkali memancing tawanya tapi belum pernah membuatnya tertawa selepas tadi. Itu karena ia terlalu serius menjalani kehidupannya. Bahkan dulu ketika masih memiliki suami pun, ia jarang tertawa.  Nasima berpikir, barangkali sekarang tekanan batinnya berkurang drastis sejak bertemu saudara kembar yang telah terpisah selama dua puluh sembilan tahun.  Lebih dari separuh usia yang dijalaninya, Nasima menggunakan waktunya untuk mencari keberadaan kedua orang tua dan saudara kembarnya. Sekarang ia sudah bertemu Nayla. Itu membuatnya sangat bahagia. "Meskipun menyebalkan, Iron tipe orang yang ngangenin," ujar Nasima.  Nayla terdiam. Dalam hati ia sepakat dengan pernyataan Nasima tadi. Iron memang menyebalkan, tapi ketika lelaki itu tidak berada di dekatnya, ia merasa ada sesuatu yang kurang.  Nasima merengkuh bahu Nayla. "Doakan aku agar proses operasinya lancar ya?"  Nayla mengangguk. "Aku doakan perjalananmu dilancarkan, operasinya berhasil dengan baik, dan kamu bisa berjalan tanpa rasa sakit seperti biasanya."  "Aamiin!" ucap Nasima. Ia menatap Nayla terharu. "Terima kasih ya, Nay."  Nayla memeluk Nasima erat. Mereka larut dalam kebahagiaan dan keharuan.  Tok! Tok!  Nayla melepas pelukan demi mendengar ketukan pintu.  "Masuk!" sahut Nasima. Ia menduga itu Muna.  Pintu terbuka. Ternyata dugaan Nasima salah. Iron berdiri di ambang pintu.  "Ada apa, Iron?" Nasima cemas melihat wajah serius Iron.  Iron mematung, memandang Nayla dan Nasima secara bergantian. "Aku paling benci menyampaikan kabar buruk."  Nasima menarik napas dalam-dalam. Ia selalu berusaha bersikap tenang. Mendapat berita buruk sudah biasa baginya. "Sampaikan saja, apa kabar buruknya?"  Iron masuk hanya untuk mengambil kursi, kemudian kembali ke dekat pintu. Ia duduk di sana dengan tetap membiarkan pintu terbuka.  "Ada apa, Iron?" Nasima menjadi tidak sabar.  Iron menarik napas dalam-dalam. "Keempat pemilik tanah yang semalam dikabarkan menolak menjual tanah, sekarang berubah pikiran lagi. Mereka mau menjual tanahnya."  Nasima mengerjap. "Bagus dong!"  "Tapi mereka meminta harga yang gila-gilaan kalau kita mau membeli tanah mereka," sergah Iron.  Nasima tersenyum masam. "Bagiku itu kabar bagus, Iron!"  Iron menggeleng. "Aku melihat itu bukan sebuah penawaran tentang harga tanah tapi mereka sepertinya sengaja mempermainkan kita."  Senyum masam Nasima berubah kekehan sumbang. "Biarkan saja. Sementara ini kita ikuti saja permainan mereka."  Iron yakin Nasima punya rencana tersendiri. "Aku belum paham maksud ibu."  Nasima terdiam sejenak. Ia melirik arloji pada pergelangan tangan. Sekarang pukul 20:02 wib. Ia sedang menunggu laporan dari Arhan. Penanggung jawab pembebasan tanah untuk proyek pembangunan stadion baru itu janji akan melaporkan hasil tugasnya sebelum pukul 21:00 wib.  Nasima melirik Nayla. "Boleh minta tolong?"  Nayla mengangguk. "Minta tolong apa?"  "Tolong ambilkan ponselku!" Nasima menunjuk ponsel di atas meja.  Nayla beringsut mendekati meja. Ia mengambil ponsel dan menyerahkannya kepada Nasima.  Nasima mencari kontak Arhan. Setelah menemukannya, ia menelepon bawahannya tersebut.  Panggilan telepon Nasima langsung dijawab Arhan.  "Selamat malam, Bu. Saya punya kabar baik buat ibu. Cuman sekarang saya masih berada di rumah Koh Ahong. Beliau adalah putra Sulung Babah Lee, pemilik tanah yang akan kita jadikan opsi buat sebagai lokasi proyek," beritahu Arhan. "Sebentar lagi saya meluncur ke kediaman ibu."  Nasima tersenyum lega. "Bapak pasti sangat capek. Siang malam bekerja, meninggalkan keluarga. Saya sangat bangga dan berterima kasih atas dedikasi bapak."  "Itu sudah menjadi kewajiban saya, Bu."  "Setelah urusan di sana selesai, bapak boleh langsung pulang ke rumah," ujar Nasima.  "Tapi saya harus melaporkan berita baik ini kepada ibu sesegera mungkin."  "Kamu sampaikan lewat telepon saja."  "Mmhh, baik, Bu!" Arhan merasa senang. "Intinya adalah keluarga besar Babah Lee akan menjual tanah mereka kepada kita. Semua ahli waris telah menyepakatinya. Soal harga, mereka minta kita membayar sesuai NJOP."  "Bapak sudah memberitahu mereka kalau tanah mereka sebenarnya hanya opsi saja?" tanya Nasima.  "Sudah, Bu, mereka memahaminya," jawab Arhan.  Nasima menarik napas lega. "Bapak luar biasa. Terima kasih ya, Pak Arhan?"  "Sama-sama, Bu!"  "Kalau begitu bapak boleh langsung beristirhat di rumah. Sampaikan salamku buat istri dan anak-anak bapak."  "Baik, Bu, nanti saya sampaikan."  "Selamat malam, Pak Arhan."  "Selamat malam, Bu."  Nasima mengakhiri panggilan telepon dengan perasaan lega.  Iron dan Nayla penasaran. Mereka menatap Nasima.  Sadar sedang menjadi pusat perhatian, Nasima menyungging senyum manis. "Kalian penasaran?"  Nayla tersenyum sambil mengangguk.  Iron menatap Nasima dengan ekspresi datar. "Saya tebak, ibu baru saja mendapat kabar baik."  Nasima mengangguk. Senyumnya terus terkembang. "Kita akan punya daya tawar lebih tinggi terhadap para pemilik tanah yang plin plan itu!"  Iron bisa menduga maksud Nasima, tapi ia harus memastikannya. "Daya tawar?"  "Sekarang total ada lima belas pemilik tanah yang mengajak kita bermain-main. Kalau mereka menolak harga tanah yang sudah kita tetapkan, maka kita harus menggertak mereka." Nasima mengatakannya dengan berapi-api.  "Ibu akan menggertak apa?" tanya Iron.  "Aku punya opsi lokasi proyek lain yang lebih luas dan harganya jauh lebih murah," beritahu Nasima. "Kita hanya perlu memperbaiki jalan menuju lokasi tanah itu."  Tebakan Iron benar. "Lokasinya di mana?"  "Memang jauh dari pusat kota, tapi itu nggak masalah. Di tempat lain, banyak sekali stadion besar yang lokasinya jauh dari pusat kota," ujar Nasima. "Itu hanya opsi karena bagaimanapun juga aku masih berharap stadion baru kita berlokasi di dekat pusat kota."  "Lalu bagaimana cara kita menggertak kelima belas orang itu?" tanya Iron.  "Kita punya influencer. Mereka akan mengangkat isu lokasi alternatif. Dengan begitu para provokator akan sadar bahwa kita nggak bisa mereka permainkan." Nasima mengerjap.  "Tapi mereka akan melancarkan manuver lain menyerang ibu. Mereka akan membandingkan kedua lokasi tersebut." Iron cemas.  Nasima tersenyum. "Aku nggak peduli seberapa kuat mereka menyerangku, selama para investor tetap percaya dan proyek pembangunan stadion berjalan sebagaimana mestinya."  "Iya memang sih," ujar Iron sependapat. "Hanya saja, akan lebih elegan kalau ibu sendiri yang menemui kelima belas pemilik tanah itu."  "Bagaimana caranya?" tanya Nasima.  Iron menatap Nasima penuh harap. "Ibu bisa undur keberangkatan sehari. Besok temui mereka satu per satu."  Nasima terdiam.  Nayla yang sejak tadi diam, menyimak obrolan Nasima dengan Iron, akhirnya angkat bicara. "Tapi Nasima harus berangkat sesuai jadwal."  Iron mengangguk kepada Nayla. "Iya, aku tahu itu. Operasinya kan masih tiga hari lagi. Kalau keberangkatannya diundur sehari, ibu masih punya waktu dua hari mempersiapkan diri buat menjalani operasi."  "Nasima butuh tiga hari buat mempersiapkannya. Itu nggak bisa ditawar, Iron," sergah Nayla.  "Dokter pasti akan memahaminya." Iron tidak mau kalah.  "Sudah-sudah," lerai Nasima agar perdebatan antara Nayla dan Iron tidak berlanjut. "Nayla benar, aku harus mengikuti saran tim dokter tapi saran Iron juga benar. Aku akan tetap menjalankan keduanya, berangkat tepat waktu dan berbicara langsung kepada para pemilik tanah itu."  "Bagaimana caranya?" tanya Iron. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN