Mengajukan Diri

1006 Kata
Nasima menatap Iron dan Nayla bergantian. "Aku akan bicara dengan pemilik tanah itu melalui ponsel. Kita bisa menggunakan aplikasi meeting."  Iron tidak sependapat. "Mereka hanya ingin bertemu ibu langsung!"  Nasima terdiam. Ia paham maksud Iron, hanya saja ia memang harus mengikuti saran tim dokter.  Nayla melingkarkan lengan ke bahu Nasima, memberi kekuatan. Ia teringat dengan usulan Iron. "Aku bisa membantu kalau diperlukan."  Nayla menoleh. "Terima kasih, Nay, tapi ini persoalan rumit dan penuh intrik."  Nayla memang tidak setuju kepada usulan gila Iron soal peran pengganti walikota. Namun melihat situasi yang semakin rumit, ia mulai mempertimbangkannya.  Jika ayahnya mengizinkan, Nayla mau menjadi pemeran pengganti walikota. Ia berpikir kalau hanya satu hari saja, ia siap melakukannya.  Nayla menatap Nasima gugup. "Aku sudah mendengar dari Iron soal pemeran pengganti walikota."  Nasima kaget. Ia mematung, menatap Nayla dengan perasaan tidak enak hati. Sejurus kemudian ia menatap Iron tajam.  Iron kelabakan. Ia harus menjelaslan agar Nasima tidak salah paham. "Aku memang pernah menceritakannya kepada Nayla, tapi setelah itu kami sepakat berhenti membahasnya."  "Kalau kamu nggak mau membahasnya lagi, seharusnya nggak usah memberitahu Nayla." Nasima menyalahkan.  Iron menunduk, merasa bersalah. "Iya, aku salah. Maafkan aku."  "Aku mau kok!" ujar Nayla agar Nasima berhenti menyalahkan Iron.  Spontan, Nasima dan Iron menatap Nayla dengan ekspresi tidak percaya.  Nayla tersenyum. "Cuman menemui lima belas orang kan?"  Nasima menggeleng. "Enggak, kamu nggak akan melakukannya."  Nayla meraih jari-jemari Nasima. "Aku bisa melakukannya!"  "Sudahlah, Nay, sebaiknya jangan bahas itu lagi." Iron merasa tidak enak hati.  "Aku nggak mau kamu terlibat cara-cara tidak baik itu." Nasima menatap Nayla, penuh permohonan."  "Biarkan aku membantumu, Nasima!" bujuk Nayla. "Cuman sehari dan semua akan kembali normal. Kamu nggak bisa berada di dua tempat secara bersamaan."   Nasima terdiam. Ia memang pernah mempertimbangkan usulan Iron perihal pemeran pengganti walikota. Dalam keadaan terdesak dan tidak ada jalan lain, ia akan memohon kepada Nayla agar mau menjadi pemeran pengganti walikota selama beberapa hari. Namun, setelah merenungkannya, ia merasa itu tidak pantas dilakukan seorang walikota dan tidak etis dilakukan seorang saudara kandung.  Sekarang situasinya berbeda. Nayla mengajukan dengan kerelaan sendiri untuk berperan sebagai walikota, menggantikan dirinya yang memang tidak bisa berada di dua tempat secara bersamaan.  "Kenapa kamu tiba-tiba mau melakukannya?" tanya Iron kepada Nayla, merasa heran.  "Aku ingin membantu Nasima, karena aku yakin jika tidak karena terpaksa, ia tidak ingin meninggalkan pekerjaannya," dalih Nayla. "Lagipula cuman menemui pemilik tanah itu saja kan?"  Nasima mengusap rambut Nayla lembut. "Aku nggak mau merepotkanmu."  Nayla menggeleng. "Enggak repot kok. Aku menganggapnya tantangan."  Nasima mendengus pelan. "Tapi itu berarti kita membohongi warga."  "Kita nggak berniat membohongi mereka," sanggah Nayla. "Kehadiranku di sana adalah penyambung lidah walikota yang tidak bisa berada di dua tempat secara bersamaan."  Nasima menunduk. Ia masih merasa tidak tega jika Nayla melakukannya.  "Ayolah, biarkan sekali ini saja aku membantumu. Kamu sudah banyak membantuku dan ayah." Nayla menatap Nasima, memohon.  Iron geleng-geleng kepala atas sikap mengejutkan Nayla. Dalam hati ia sebenarnya mendukung, tapi tetap saja ia merasa bersalah karena situasi ini membuat Nasima galau.  Suasana menjadi hening. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Nasima merasa bimbang harus menyetujui tawaran Nayla atau tidak. Nayla sendiri sebenarnya ragu apakah dirinya mampu atau tidak. Sedangkan Iron berharap Nasima menyetujuinya karena hanya itu satu-satunya cara untuk menyelesaikan dua masalah Nasima secara bersamaan.  Cukup lama susana kamar Nasima dicekam hening dan baru terpecahkan ketika Muna datang. Asisten pribadi walikota itu berdiri di depan pintu sambil memandang bingung ke dalam kamar.  Muna menjadi serba salah. Ia terlanjur menjadi pusat perhatian. "Maaf, saya dimintai tolong Pak Mahdi untuk menyampaikan pesan kepada Nona Nayla."  Nayla turun dari tempat tidur. "Ada pesan apa, Mun?"  Muna melangkah ke dalam kamar, mendekati Nayla. "Pak Mahdi tadi mencari nona karena tidak ada di kamar. Beliau ingin mengajak nona untuk menemui ibu."  "Oke, makasih, Mun. Saya akan ke sana," ucap Nayla.  Muna mengangguk. "Sama-sama, Nona. Kalau begitu saya permisi."  Sepeninggal Muna, Nayla menoleh kepada Nasima. "Aku akan ke kamar ayah. Tolong pertimbangkan baik-baik tawaranku."  Nasima mengangguk. "Sebaiknya kamu minta izin dulu saya ayah. Keputusan beliau adalah keputusanku."  Nayla tersenyum senang. Ia melangkah menuju pintu. Sebelum meninggalkan kamar, ia sempat melirik Iron yang juga melirik ke arahnya.  Ada debaran aneh dalam hati Nayla saat kedua matanya bersirobok dengan mata Iron, sampai-sampai ia salah tingkah dan kakinya nyaris terserimpet. Beruntung ia masih bisa menguasai diri. Ia pun segera menuju kamar ayahnya.  Iron menatap Nasima aneh. "Kamu yakin dengan ucapanmu tadi?"  "Ucapan yang mana?" Nasima balik bertanya.  "Keputusan Pak Mahdi adalah keputusanmu." Iron mengingatkan. Nasima tersenyum. "Aku yakin ayah nggak akan mengizinkan Nayla. Aku bahkan ragu Nayla berani menceritakannya kepada ayah soal pemeran pengganti walikota."  Iron tidak sepedapat. "Kamu sangat yakin seolah kamu telah mengenal Nayla sejak lama."  "Feeling saja sih sebenarnya," ujar Nasima.  Iron tersenyum aneh. "Feeling kamu bisa saja salah."  Nasima mengedikkan bahu, sangat yakin Mahdi tidak akan mengizinkan Nayla.  "Bagaimana kalau ternyata Pak Mahdi mengizinkannya?" Iron menatap Nasima lekat-lekat. "Itu berarti kamu menyetujui usulanku itu dan menerima tawaran Nayla."  Nasima terdiam. Sekarang ia menjadi gelisah setelah mendengar ucapan Iron tadi.  "Kamu harus konsekuen dengan ucapanmu!" Iron mengingatkan.  "Aku selalu konsekuen dengan ucapanku!" sergah Nasima. Sungguhpun begitu dalam hati ia berdoa semoga Mahdi tidak mengizinkan Nayla.  "Baguslah!" Iron tersenyum senang. Perasaannya berkata kalau Mahdi akan mengizinkan Nayla.  Nasima menatap Iron gelisah. "Apa Nayla mirip banget sama aku?"  Iron menangkap kegelisahan Nasima. "Dari segi wajah kalian sangat mirip. Tinggi kalian selisih satu senti. Berat badanmu lebih berat dua kilogram. Kalau Nayla didandani baju walikota maka ia akan mirip banget denganmu."  Nasima mengerjap. "Serius?"  Iron menunjukkan sebuah video dalam ponselnya. Nasima menontonnya dengan seksama. Ia geleng-geleng kepala, takjub dengan apa yang dilihatnya.  "Gimana?" tanya Iron.  "Aku melihat diriku dalam dirinya!" jawab Nasima. Ia mengembalikan ponsel kepada Iron. "Sepertinya kami kembar identik."  Baru saja Iron akan merespon kalimat Nasima, tiba-tiba Nayla datang bersama Mahdi.  "Ayah?" Nasima ingin turun dari kasur kalau tidak ingat bahwa ia sedang cidera kaki.  Iron memberikan kursi yang didudukinya kepada Mahdi. "Silakan duduk, Pak Mahdi."  Mahdi melirik Iron. "Terima kasih, Pak Baeni." Ia duduk.  Nayla duduk di sebelah Nasima. "Kamu pasti penasaran, apakah ayah mengizinkanku atau enggak, iya kan?"  Nasima tersenyum berdebar. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN