Akhirnya

1643 Kata
"Nayla sudah cerita semua soal ide pemeran pengganti walikota," beritahu Mahdi.  Nasima kaget karena ternyata Nayla benar-benar berani menceritakannya kepada ayahnya. Kini ia menjadi serba salah. Ia merasa tidak enak hati kepada Mahdi. Ia tidak mau dianggap memanfaatkan Nayla.  "Maaf menyela, Pak Mahdi," ujar Iron bermaksud mengklarifikasi. Ia mendekati Mahdi dan berdiri di dekat lelaki itu. "Ide itu berasal dari saya. Sejak awal ibu menolaknya karena selain menganggap itu tidak etis juga karena beliau tidak mau menyusahkan Nayla."  Mahdi menoleh kepada Iron. Ia tersenyum bijak. "Saya tahu, Pak Baeni. Nayla sudah menjelaskannya secara kronologis."  Iron tersenyum lega. Bagaimanapun juga ia punya kewajiban moral untuk menjelaskan bahwa semua itu murni ide darinya dan Nasima telah menolaknya. Ia siap dipersalahkan atas semua itu.  "Saya memahami latar belakangnya," ujar Mahdi kepada Iron dan Nasima. "Terus terang, menurut saya, apa pun alasannya, cara itu memang tidak dibenarkan."  Iron menunduk, membenarkan ucapan Mahdi.  Mahdi menepuk bahu Iron. "Barangkali jika berada di posisimu, saya pun akan mengusulkan ide yang sama. Dalam situasi yang serba sulit, kita memang harus melakukan sesuatu. Harus ada langkah untuk keluar dari situasi sulit tersebut."  Bibir Nasima bergerak-gerak, ingin mengatakan sesuatu tapi ditahan.  Mahdi melanjutkan. Ia menatap Iron dan Nasima secara bergantian "Nasima telah bersikap untuk menolak ide tersebut. Saya sangat mengapresiasinya. Sebagai walikota, beliau telah bertindak benar."  Berdasarkan ucapan-ucapan Mahdi, Iron menduga kalau lelaki itu tidak akan mengizinkan Nayla menjadi pemeran pengganti walikota.  "Setelah mendengar semua dari Nayla, saya kaget." Mahdi mengakui. "Penyebabnya adalah karena Nayla sendiri yang mengajukan diri padahal Nasima sudah menolak ide tersebut."  Nayla mengangguk sambil tersenyum kepada Mahdi.  "Ayah mana yang rela membiarkan anaknya melakukan sesuatu yang bertentangan dengan etika?" Mahdi menunduk selama beberapa detik. Sejurus kemudian ia melirik Nayla. "Sejak kecil, Nayla tidak terbiasa berbohong. Ia adalah anak yang hidupnya lurus-lurus saja, tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh. Sehingga saya sempat shock ketika ia meminta izin untuk melakukan ide itu."   Nasima menjadi merasa bersalah. Ia melirik Iron sebal karena telah lancang menceritakan ide itu kepada Nayla tanpa membicarakannya lebih dulu kepadanya.  Mahdi melanjutkan ucapannya. "Kalau menuruti kata hati, saya pasti tidak mengizinkan Nayla. Namun saya tidak buru-buru mengambil keputusan. Saya berusaha bijak dengan mempertimbangkannya secara matang."  Nayla merasa tidak sabar. Ia menganggap ayahnya bertele-tele. "Ayah bisa langsung ke point-nya, mengizinkanku atau enggak?"  Iron mengerjap. Tadinya ia menduga Mahdi sudah memberikan keputusannya kepada Nayla, mengizknkan atau tidak.  "Saya baru akan memutuskan sekarang di hadapan kalian," ujar Mahdi sambil memandang semua yang berada di sekitarnya.  Pengakuan Mahdi mengejutkan Iron dan Nasima.  "Jadi ayah belum memberi keputusan?" tanya Nasima tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.  Mahdi mengangguk. Ia menatap Nasima teduh. "Tadi saya katakan kepada Nayla baru akan memberi keputusan setelah mendengar pendapatmu."  Nasima menarik napas panjang. Ia tidak menduga akhirnya akan begini. Sebenarnya ia sudah malas membahas soal ide Iron tersebut.  "Boleh saya bertanya sama kamu?" tanya Mahdi kepada Nasima.  "Iya, silakan!" jawab Nasima. Ia semakin merasa tidak enak hati.  "Apa alasanmu menolak ide Pak Baeni?" tanya Mahdi. "Nayla dan Iron sudah menjelaskannya tapi saya perlu mendengar sendiri darimu."  Nasima menelan ludah. Ia yang terbiasa mendapat cecaran pertanyaan menyudutkan dari lawan politik dan jurnalis, tetap saja merasa gugup karena Mahdi sudah ia anggap seperti ayah sendiri.  Nasima berdeham pelan. "Setidaknya ada dua alasan, pertama adalah saya tidak mau menggunakan cara yang tidak beretika tersebut. Alasan kedua adalah, saya tidak mau melibatkan Nayla dalam masalah politik dan pemerintahan. Dua puluh sembilan tahun kami baru dipertemukan dan tiba-tiba ia harus ikut menanggung bebanku sebagai walikota. Saya tidak akan memaafkan diri sendiri jika terjadi sesuatu kepadanya."  Mahdi mengangguk paham. "Jika seandainya hanya cara itu yang bisa dilakukan, apakah kamu akan tetap menolaknya?"  Nasima terdiam sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam. "Saya pikir masih ada cara lain yang lebih baik dan benar."  "Maaf, bukan bermaksud mencampuri urusan walikota, tetapi saya ingin bertanya, apakah ada cara lain selain itu?" tanya Mahdi.  Nasima menunduk. "Sebenarnya saya belum menemukan cara lain. Saya akan tetap pada keputusan awal bahwa saya akan berangkat ke Singapura dan menunda persoalan pembebasan tanah sampai saya siap."  Mahdi mengangguk. "Saya menghormati dan memahami keputusanmu itu."  Nayla merasa cemas kalau-kalau ayahnya tidak akan mengizinkannya dengan alasan Nasima menolaknya.  "Jadi sebenarnya ayah mengizinkanku atau enggak?" Akhirnya Nayla tidak tahan untuk menunggu keputusan ayahnya.  Mahdi menatap Nayla. "Ayah mengizinkanmu jika Pak Baeni memberi jaminan bahwa semuanya akan baik-baik saja."  Nayla tersenyum senang. Ia segera memeluk Mahdi. "Terima kasih, Ayah."  Nasima mendesah resah. Ia tidak menyangka kalau Mahdi akhirnya memberi izin kepada Nayla. Itu berarti ia harus konsekuen dengan ucapannya. Ia harus menerima usulan Iron.  Nayla mendekati Nasima dan duduk di sebelah saudara kembarnya itu. "Kamu dengar kan, ayah sudah mengizinkan?"  Iron angkat bicara. "Kamu harus konsekuen dengan kata-katamu tadi. Ideku harus kamu terima."  Nasima tersenyum berat. "Aku terjebak dengan ucapanku sendiri. Oke, karena aku pantang menjilat ludah sendiri, maka dengan berat hati aku harus menyetujui idemu, Iron."  Iron tersenyum gembira. "Terima kasih, Ibu."  "Tapi...." Nasima menatap Iron tajam. "Kamu harus perhitungkan semuanya secara matang. Aku nggak mau gagal!"  Iron mengangguk senang. "Aku sudah rencanakan secara matang."  Nasima mengerjap. "Kamu dengar kan tadi ayah minta jaminan darimu?"  Iron mengangguk kepada Nasima. Sekarang ia beralih kepada Mahdi. "Saya jamin keselamatan dan keberhasilan misi ini, Pak Mahdi."  Mahdi mengangguk percaya. "Terima kasih, Pak Baeni."  "Sama-sama, Pak," sahut Iron. "Karena ibu sudah menerima usulan saya dan Nayla siap menjadi bagian misi ini, maka mulai saat ini, saya akan ambil langkah-langkah yang diperlukan."  Mahdi tersenyum. "Silakan kalian bicarakan. Saya ingin beristirahat."  Nayla bangkit dari tempat tidur. "Aku antar ayah ke kamar."  Mahdi tersenyum kepada Nasima. "Saya istirahat dulu."  Nasima mengangguk dengan perasaan campur aduk. "Iya, Ayah. Terima kasih atas waktunya. Saya minta maaf kalau persoalan ini sampai harus melibatkan ayah dan Nayla."  Mahdi mendekati Nasima. "Terima kasih juga karena sudah menganggap saya sebagai ayah."  "Doakan saya seperti ayah mendoakan anak sendiri," pinta Nasima.  "Tentu ayah mendoakanmu seperti mendoakan Nayla," ujar Mahdi. Ia berlalu dari hadapan Nasima dan meninggalkan kamar didampingi Nayla.  Sepeninggal Mahdi dan Nayla, Nasima langsung menatap Iron tajam.  Iron membalas tatapan Nasima sambil tersenyum. "Kita tidak akan memperdebatkan sesuatu yang sudah diputuskan bukan?"  Nasima mendengus sebal. "Aku masih sebal karena memberitahukan ide gilamu kepada Nayla tanpa minta izin dulu kepadaku!"  Iron mengangguk dengan mimik menyesal. "Soal itu, sekali lagi aku meminta maaf."  Nasima mendengus. "Sudahlah, semua sudah terjadi. Aku cuman mau mengingatkanmu lagi, jangan sampai gagal. Aku percayakan semua padamu."   Iron mengangguk. "Aku akan pergunakan kepercayaanmu sebaik-baiknya. Setelah ini, aku akan langsung bekerja."  Nasima mengangguk berat. "Kamu boleh pergi."  Iron mengangguk. Ia berlalu dari hadapan Nasima. Sambil keluar kamar, ia menutup pintu.  ***  Pukul 22:19 wib. Nayla keluar dari kamar menuju ruang keluarga. Ia menduga Iron sedang duduk di sana.  Dugaan Nayla terbukti. Ia melihat Iron tampak sedang sibuk mencoret-coret kertas. Ia berdeham pelan, memberitahukan kedatangannya kepada lelaki itu.  Dehaman Nayla tidak membuat Iron menoleh apalagi kaget. Lelaki itu tetap fokus pada pekerjaannya. Ia bahkan bersikap seolah tidak merasakan kehadiran Nayla ketika gadis itu duduk di sebelahnya.  "Kalau kehadiranku mengganggumu, aku akan kembali ke kamar," ujar Nayla.  Alih-alih merespon, Iron tetap sibuk dengan pekerjaannya. Nayla yang sudah memahami karakter lelaki itu pun, memakluminya.  Nayla penasaran dengan apa yang sedang dilakukan Iron. Ia mengintip coretan-coretan Iron.  Iron menghentikan kegiatannya. Ia menoleh kepada Nayla. "Kenapa kamu belum tidur?"  Nayla menjawab dengan kekehan.  "Apa telingamu bermasalah?" tegur Iron sambil melanjutkan kembali coret-coretnya.  Nayla memilih diam dan memperhatikan apa yang sedang dilakukan Iron.  Iron meletakkan pensil ke atas meja. Ia menoleh kepada Nayla. "Kamu yakin akan menjadi pemeran pengganti walikota?"  Nayla mendaratkan pandangan ke atas meja, menghindari bentrokan pandangan dengan Iron. "Iya, kenapa?"  "Yang akan kita lakukan ini sangat beresiko. Kita harus memperhitungkannya secara matang dan tentu saja tanpa keraguan sedikit pun."  Nayla mengangguk. "Iya, aku paham."  "Kapan kamu siap?" tanya Iron serius.  "Sekarang pun siap!" Nayla menjawab mantap.  Iron menganguk-angguk. "Sebaik dan sematang apa pun rencanaku, semua tergantung pada eksekusinya nanti."  "Iya," sahut Nayla paham. "Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?"  "Kamu harus mempelajari karakter Nasima sejak dari sekarang, bagaimana walikota berjalan, berbicara, berekspresi, dan semuanya." Iron menjelaskan. "Sekarang kamu istirahat. Besok setelah Nasima berangkat, kamu harus mempelajari karakter walikota ketika berada di hadapan publik. Semua akan dibantu Muna."  "Muna nggak ikut ke Singapura?" tanya Nayla.  "Muna adalah asisten pribadi Nasima sebagai walikota. Ia mengetahui semua pekerjaan Nasima. Jadi, mulai besok, ia akan menjadi asisten pribadimu."  "Lalu, siapa yang akan mendampingi Nasima?"  "Nasima sudah menyiapkan itu semua. Kamu nggak usah mencemaskannya."  Nayla merasa lega.  "Hanya lima orang saja yang tahu misi ini," beritahu Iron. "Aku, Nasima, kamu, Muna, dan Pak Mahdi. Itu berarti hanya tim dokter pribadi Nasima dan kelima orang itulah yang tahu kalau Nasima akan ke Singapura mulai besok hingga dua minggu ke depan."  "Oke," timpal Nayla. "Jadi sekarang aku harus istirahat?"  Iron mengangguk. "Iya, itu tugas pertamamu menjadi pemeran pengganti walikota."  Nayla terkekeh. "Oke, oke, aku akan istirahat, tapi kamu juga harus istirahat!"  Iron menoleh sambil mengernyit. "Selain ayah dan ibuku, baru kamu yang berani menyuruhku untuk beristirahat."  Nayla mengerjap. "Memangnya Nasima enggak pernah?"  Iron menggeleng. "Nasima tidak pernah menunjukkan perhatian klise seperti yang biasa dilakukan seorang perempuan pada umumnya."  "Tidak harus menjadi perempuan untuk menyuruh orang beristirahat!" Nayla tidak terima.  "Sebaiknya tidak perlu membahas hal kecil seperti ini," saran Iron. "Itu prinsip yang selalu dipegang Nasima. Ia selalu menghindari perdebatan, meskipun tahu ia akan memenangkannya."  Nayla mengangguk. Pemberitahuan Iron menjadi pelajaran pertama baginya untuk mempelajari karakter Nasima.  "Kamu boleh beristirahat sekarang!" ucap Iron. "Itu juga salah satu ucapan yang sering dilakukan Nasima, seperti ucapan: kamu boleh pergi, kamu boleh meninggalkanku, dan sebagainya."  Nayla mengangguk paham. "Kalau begitu aku ke kamar." Ia berdiri dan melangkah.  "Satu lagi!" ujar Iron.  Nayla menghentikan langkah. Ia menoleh.  Iron menatap Nayla. "Nayla selalu betah mendengar orang lain bicara, bahkan ia tidak menyela meskipun merasa tidak nyaman dengan lawan bicaranya. Itu yang membuatnya dihormati banyak orang dan disegani lawan."   Nayla mengangguk. "Terima kasih atas pelajarannya."  Iron tersenyum. "Caramu mengucapkan terima kasih sedikit mirip dengan Nasima."  Nayla tersenyum. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN