Berangkat ke Singapura

1448 Kata
Nayla kaget ketika selepas subuh seisi rumah tampak sibuk. Beberapa asisten rumah tangga terlihat mondar-mandir ke sana kemari. Sedangkan Iron dan Mahdi tampak sedang berbincang di ruang keluarga.  Nayla mendekati Iron dan Mahdi. Ia duduk di sebelah ayahnya.  "Ada apa, Yah?" tanya Nayla cemas.  "Nasima akan berangkat," jawab Mahdi.  Nayla kaget karena sebelumnya mengira kalau Nasima akan berangkat selepas sarapan. "Pesawatnya kan take off jam sepuluh!"  Iron angkat bicara. "Nasima akan take off dari bandara internasional di Jakarta. Ia akan melakukan perjalanan darat dulu menuju bandara."  Nayla menduga pasti Nasima menghindari publik.  "Hanya tim dokter yang tahu perjalanan ini," ujar Iron.  "Dan kelima orang tentu saja," timpal.Nayla.  "Lima orang?" Mahdi bingung.  "Iya, Yah. Lima orang itu Nasima, Iron, Muna, dan kita," jawab Nayla.  Mahdi mengernyit. "Para asisten rumah tangga di rumah ini tahu juga kan?"  Nayla baru terpikir tentang itu. Ia membenarkan ayahnya, para asisten rumah tangga di rumah ini pasti tahu, begitu pikirnya.  "Asisten rumah tangga itu pengecualian," tukas Iron. "Mereka sudah menjadi bagian keluarga. Mereka selalu menjaga privasi dan tidak akan memberitahukan perihal perjalanan walikota kepada siapa pun."  Nayla menatap Iron ragu.  "Kamu nggak usah khawatir," ujar Iron menangkap keraguan Nayla. "Para asisten rumah tangga di sini adalah asisten rumah tangga keluarga kami dulu. Mereka sudah bekerja selama belasan tahun, ada juga yang sudah bekerja selama dua puluh tiga tahun. Mereka sudah seperti keluarga."  Nayla mengangguk lega. "Syukurlah. Kalau Asif gimana? Nggak mungkin kan kalau ia nggak tahu?"  "Asif juga sebelumnya adalah sopir keluarga kami. Ia serba bisa dan berdedikasi tinggi," jawab Iron.  Kecemasan Nayla seketika sirna. Ia percaya bahwa Asif dan para asisten rumah tangga di sini bisa menjaga rahasia. Ia sudah membuktikannya sendiri. Asif, Vee, dan yang lainnya tidak berani membuka mulut meskipun untuk informasi tidak penting sekalipun.  "Kalau Vee, apa ia juga dulu bekerja pada keluarga kalian?" tanya Nayla penasaran.  Iron mengangguk. "Sewaktu masih hidup, ibuku adalah perias artis. Vee adalah salah satu asisten yang bekerja sejak lulus SMP."  Nayla kaget. "Sejak SMP?"  "Iya, ibuku membiayai SMA Vee. Sepulang sekolah ia membantu ibu." Iron menjelaskan. "Setelah ibuku meninggal, Vee sebenarnya punya kesempatan menjadi perias artis, meneruskan ibuku tapi ia lebih memilih menjadi asisten pribadi Nasima."  "Vee sudah berumah tangga?" tanya Nasima.  Iron mengangguk. "Vee sudah punya anak satu. Suaminya seorang tentara."  Nayla mengangguk-angguk.  Mahdi yang sejak tadi menyimak, akhirnya angkat bicara. "Kok saya nggak pernah melihat Vee?"  Nayla terkekeh. "Vee lebih sering berada di rumah dinas walikota, Yah."  "Benar, Pak Mahdi. Vee berada di rumah dinas walikota," timpal Iron membenarkan ucapan Nayla. "Ia yang mengurusi kostum dan make up walikota."  Mahdi mengangguk tanda paham.  Nasima keluar dari kamar. Ia menuju ruang keluarga dan langsung mendekati Mahdi.  Nayla meraih tangan Mahdi dan mencium telapak lelaki itu bolak-balik. "Ayah, aku berangkat dulu. Doakan agar semuanya lancar."  Mahdi mengusap kepala Nasima yang terbungkus hijab dengan canggung. "Ayah doakan perjalanannya lancar, operasinya berjalan sebagaimana mestinya dan kamu bisa berjalan seperti biasanya."  "Aamiin," ucap Nasima, Nayla, dan Iron hampir bersamaan.  Nasima beralih ke Nayla. "Aku akan merindukanmu."  Nayla mengangguk saja sambil berkaca-kaca. Ia bangkit dari duduk, kemudian memeluk sudara kembarnya itu erat-erat.  "Telepon aku kapan saja kamu mau. Jangan ragu untuk mengabariku apa saja," ucap Nasima.  Nayla mengangguk. Ia melepas pelukannya. "Hati-hati ya?"  Nasima tersenyum. Ia menolah kepada Muna. "Mana brosnya?"  Muna memberikan bros kepada Nasima. "Ini, Bu!"  Nasima memberikan bros itu kepada Nayla. "Aku selalu memakai bros ini setiap kali melakukan kunjungan kerja."  Nayla menerima bros dari Nasima. Ia mengusap-usapnya dengan lembut. "Aku akan jaga bros ini dengan baik dan memakainya seperti biasa kamu memakainya."  Nasima beralih ke Iron. "Aku titipkan Ayah dan Nayla kepadamu."  Iron mengangguk. "Iya, aku akan menjaganya dengan baik."  Nasima memberi isyarat kepada Muna untuk membawanya menuju mobil. Iron, Mahdi, dan Nayla mengantarkannya hingga masuk mobil.  Begitu masuk mobil, Nasima langsung menyuruh Asif untuk segera berangkat. Tidak ada say goodbye berlebihan. Nasima tidak terbiasa melakukan hal-hal melankolis seperti itu. Keberangkatannya menuju Singapura pun tidak ubah seperti keberangkatannya saat akan bekerja.  Iron menoleh Nayla yang tampak berkaca-kaca. "Begitulah Nasima. Ia orang yang tidak menyukai hal-hal yang mengundang keharuan, apalagi drama. Ia orangnya simpel dan sedikit kaku."  Nayla menyeka air matanya. "Iya, itu informasi berharga buatku untuk mempelajari karakter Nasima."  Iron menggeser posisi berdiri agar bisa berhadapan dengan Nayla. "Tapi kamu tidak harus terpaku dengan karakter itu. Kamu bisa berimprovisasi jika dibutuhkan."  Nayla mengangguk. "Iya."  "Kita kembali ke ruang keluarga!" ajak Iron. Ia berjalan menuju ruang keluarga.  Nayla dan Mahdi mengikuti Iron. Mereka duduk di ruang keluarga.  Iron menatap Mahdi. "Pak Mahdi, mulai detik ini saya akan mempersiapkan misi itu. Mohon pengarahannya."  Mahdi tersenyum kepada Iron. "Lakukan apa yang menurutmu harus dilakukan."  "Iya, Pak Mahdi," sahut Iron.  "Pak Baeni pasti nggak menyangka kalau saya mengizinkan Nayla bukan?" tebak Mahdi.  Iron tersenyum. "Sejujurnya saya bisa menduganya, Pak Mahdi."  Mahdi mengernyit. "Masa?"  Iron tersenyum. "Feeling saja sih sebenarnya."  Mahdi masih belum puas atas jawaban Iron. "Anda selalu bekerja secara terukur. Sehingga agak kurang logis kalau Anda menduga hanya berdasarkan feeling saja."  Iron mengerjap sambil berpikir. "Mungkin karena saya berpikir kalau di antara Pak Mahdi dan Nayla satu pemikiran. Maksud saya, Nayla tidak akan berani meminta sesuatu yang kemungkinan besar akan ditolak."  Jawaban Iron memuaskan Mahdi. "Kalau itu baru logis."  Iron tersenyum. Dalam hati ia berkata bahwa ternyata Pak Mahdi kritis juga dan cerdas.  "Kalau boleh tahu sebenarnya alasan apa yang membuat Pak Mahdi akhirnya mengizinkan Nayla?" Iron penasaran.  Mahdi mendesah pelan. Ia tersenyum. "Ada satu alasan yang tidak mungkin saya katakan di depan Nasima."  Iron mengerjap semakin penasaran.  "Saya pernah berjanji kepada diri sendiri dan pernah juga saya sampaikan kepada Nasima bahwa saya akan melakukan apa saja jika Nasima berhasil menemukan saudara kembar Nayla." Pak Mahdi gelak lirih. "Termyata saudara kembar Nayla itu Nasima. Hehehe."  Iron mengangguk-angguk. Kini ia mengerti kenapa Mahdi mengizinkan Nayla.  Nayla yang sejak tadi sibuk dengan lamunannya, akhirnya angkat bicara. "Jadi karena itu ayah mengizinkanku?"  Mahdi mengacak rambut Nayla pelan. "Iya. Kalau bukan karena itu, ayah tidak punya alasan untuk memberi izin kepadamu."  "Pantesan!" gerutu Nayla.  Mahdi terkekeh melihat wajah cemberut Nayla. Selepas itu, ia menoleh dan menepuk bahu Iron. "Saya harap alasan saya itu tidak sampai ke telinga Nasima."  Iron mengangguk. "Baik, Pak Mahdi."  "Sama ayah kok, kamu nggak nyebelin?" Nayla meledek Iron.  "Cuman kamu sama Nasima saja yang menganggapku menyebalkan!" Iron tidak mau kalah. "Oh iya, ayo kita harus bergerak cepat mempersiapkan misi."  "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Nayla berdebar.  "Kita ke balaikota sekarang," ajak Iron. "Kita akan ajak Muna sekalian."  Nayla mengangguk, semakin berdebar.  ***  Sisca memarkir mobil di depan sebuah minimarket yang berada persis di seberang rumah Iron.  Melihat kedatangan Sisca, Heri yang sedang ngobrol dengan tukang parkir segera mendekat.  Sisca membuka jendela kaca. "Masuk!" suruhnya kepada Heri.  Heri masuk ke mobil. Ia duduk di jok depan, di sebelah Sisca.  Sisca mendengus kesal melihat tampang Heri. "Bagaimana pekerjaanmu, beres?"  Heri mencium gelagat akan kena marah Sisca. "Mmmhh, sejak kemarin saya sudah mengidentifikasi setiap mobil yang keluar masuk ke rumah itu. Saya menggunakan teropong. Selain itu saya juga mengikuti mobil-mobil itu."  Sisca membelalakkan mata. "Apa hasilnya?"  Heri menjadi gugup. "Pak Baeni tidak tampak berada di mobil-mobil itu."  "Artinya Pak Baeni masih di dalam rumah itu sejak beberapa malam terakhir?" Sisca mendengus.  Heri menelan ludah. "Pak Baeni tidak tampak keluar masuk rumah itu."  Sisca memukul setang stir, kesal. "Apa menurutmu Pak Baeni dan Nayla terus berduaan di dalam rumah itu tanpa pernah keluar rumah sekali pun?"  Heri menunduk, tidak bisa menjawab pertanyaan Sisca.  "Sudah kubilang, nggak mungkin Pak Baeni terus berada di dalam rumah itu. Ia harus bekerja!" Intonasi Sisca meninggi. Ia menatap tajam Heri. "Kamu nggak tahu kan kalau Pak Baeni sekarang berada di balaikota?"  Heri terkejut.  "Kamu nggak tahu kan?" bentak Sisca.  Heri menunduk semakin dalam. Ia merasa kecolongan.  "Temenku mengabarkan kalau dirinya baru beberapa menit yang lalu mengobrol dengan Pak Baeni," dengus Sisca semakin kesal. "Sekarang jawab pertanyaanku, apa kamu melihat Pak Baeni keluar dari rumah itu?"  Heri menggeleng, merasa bersalah.  Sisca menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan emosi. "Sekarang hentikan mengawasi rumah itu. Kalian gagal total!"  Heri mengangguk gelisah. "Baik, Bos."  "Tarik semua anak buahmu dari sini," suruh Sisca. "Nanti malam kamu datanglah ke rumahku. Aku sudah siapkan pesangon buat kalian!"  Heri kaget. Ia menoleh dengan ekspresi memohon. "Mohon, jangan pecat saya, Bos!"  Sisca melengos. "Kamu sudah aku beri banyak kesempatan, tapi apa kamu bisa memanfaatkan kesempatan itu?"  "Saya akan bekerja lebih baik lagi, Bos!" rengek Heri.  Sisca menoleh sebal. "Menurutmu apa kamu layak diberi kesempatan lagi, hah?"  Heri mengangguk takut.  Sisca tertawa sinis. "Banyak yang ingin berada di posisimu, mendapat bayaran tinggi. Sementara kamu malah menyia-nyiakannya!"  "Saya mohon, Bos!" Heri terus merengek.  "Berhentilah merengek!" hardik Sisca. "Keluar dari mobilku dan jangan lupa nanti malam!"  Heri menelan ludah. "Baik, Bos." Ia keluar dari mobil dengan lemas. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN