Selevel Detektif

1301 Kata
Nayla duduk di kursi menghadap sebuah papan putih yang dijadikan layar proyektor. Di dekat papan ada sebuah kursi di mana Muna sekarang duduk menghadap dirinya.  Di hadapan Muna ada sebuah meja yang di atasnya terdapat sebuah laptop. Nayla merasa seolah dirinya sedang mengikuti mata kuliah di sebuah kelas yang terdiri dari satu mahasiswi dan satu dosen.  "Selamat siang, Nona Nayla," ucap Muna berlagak seperti seorang dosen.  "Siang, Muna," jawab Nayla sambil menetralisir debaran hatinya.  Mempelajari karakter orang lain seharusnya bukan hal menakutkan bagi Nayla. Masalahnya adalah dalam waktu singkat ia harus bisa mendalami karakter yang akan dipelajarinya, kemudian memerankannya nanti saat dibutuhkan.  Muna beranjak dari kursi. Ia berdiri di dekat papan putih. "Saya hanya akan menyampaikan sebuah presentasi yang sudah dikonsep Pak Baeni. Sehingga saya tidak akan memberitahukan hal selain yang sudah digariskan."  Nayla mengagumi cara Muna berbicara di depan umum, meskipun sebenarnya yang dimaksud 'umum' hanyalah dirinya seorang.  "Pertama yang perlu Nona pelajari adalah bagaimana ibu walikota tersenyum. Tampaknya sepele, tapi sesungguhnya tidak mudah menirukannya," ujar Muna. Ia menekan sebuah tombol pada keyboard. "Silakan menyimak video berikut ini."  Di layar tertayang sebuah rekaman video yang menampilkan beberapa adegan ketika Nasima sedang tersenyum kepada orang lain. Nayla menyimak dengan seksama sampai video di-pause Muna.  "Ibu walikota adalah seorang yang mudah tersenyum. Dari beberapa adegan tadi, satu senyum dengan senyum yang lain tampak sama, namun kalau kita perhatikan lebih dalam ada perbedaan satu sama lain tergantung situasi."  Nayla belum menemukan perbedaan di antara senyum pada satu adegan dengan senyum pada adegan lain.  Muna kembali melanjutkan pemutaran video. "Ini adegan ketika ibu walikota berada di sebuah forum di mana semua pandangan memusat kepada beliau."  Nayla kembali fokus pada layar. Di sana sedang tayang adegan ketika Nasima baru saja masuk ke dalam sebuah ruangan rapat.  "Sambil Nona memperhatikan layar, saya akan menjelaskannya," ujar Muna. Ia menghadap layar. "Coba perhatikan saat ibu walikota berjalan memasuki ruangan. Wajah beliau dihiasi senyum. Itu selalu ia lakukan ketika bertemu orang lain di mana saja, dengan siapa saja, pada situasi apa saja, dan kapan saja."  Nayla memperhatikan layar, adegan ketika Nasima duduk di kursinya sampai ketika menyapa seseorang di sebelahnya. Menurut Nayla senyum Nasima tampak datar.  "Coba perhatikan ketika nanti ibu walikota merespon ucapan seseorang di sebelahnya," pinta Muna. "Nah, senyum beliau berubah, terasa lebih tulus ketimbang sebelumnya. Itu adalah momen ketika seseorang di sebelah beliau menyampaikan sesuatu yang menggembirakan beliau."  Nayla mulai paham bahwa pancaran senyum Nasima akan berbeda tergantung situasinya. Menurut Nayla itu manusiawai karena setiap orang pun akan seperti itu. Sungguhpun begitu, Nayla tetap fokus.  Muna melanjutkan. "Sekarang coba Nona perhatikan beberapa adegan yang lain, di mana suasana hati beliau sedang tidak nyaman atau reaksi beliau ketika mendengar sesuatu yang tidak menyenangkan."  Nayla terus fokus pada layar, memperhatikan dengan seksama adegan demi adegan ketika Nasima sedang tersenyum.  Semakin lama, Nayla semakin merasa bosan. Hampir satu jam ia menonton adegan Nasima tersenyum dalam segala situasi kemudian Muna memintanya menirukannya.  Kebosanan Nayla mulai berkurang ketika Muna menayangkan rekaman adegan ketika Nasima berjalan di hadapan publik.  Nayla mulai tertarik dengan adegan ketika Nasima sedang berbicara dan mendengar. Ia membuktikan sendiri ucapan Iron semalam bahwa Nasima seorang pendengar yang baik. Saudara kembarnya itu betah mendengarkan lawan bicara dan tidak menyela sampai lawan bicaranya selesai. Ekspresi Nasima sangat antusias dan terlihat penuh perhatian.  Tidak terasa empat jam sudah Muna menyampaikan materi tentang karakter Nasima berdasarkan cara tersenyum, berbicara, mendengar, merespon situasi, dan cara membawa diri di muka umum. Nayla menyimaknya dengan seksama.  Yang paling menyenangkan Muna adalah ketika ia diminta untuk menirukannya. Awalnya ia gugup, namun lama kelamaan ia menjadi rileks. Semua karena kepandaian Muna dalam menyampaikan materi dan membantu Nayla mempraktekkannya.  Harus Nayla akui, ia masih belum begitu mirip dalam menirukan karakter Nasima. Sungguhpun demikian ia merasa puas, apalagi ketika Muna memberikan pujian kepadanya.  Dari sana, sedikit banyak Nayla mulai mengenal karakter saudara kembarnya itu.  Selepas sholat zuhur, Nayla dan Muna makan siang bersama. Secara santai Muna menceritakan pengalamannya selama mendampingi walikota.  Berdasarkan cerita Muna, Nayla akhirnya tahu bahwa Nasima adalah orang yang sangat tenang dan anggun di hadapan publik. Itu membuat Nayla tertantang untuk bisa mendalami karakter saudara kembarnya tersebut.  Selepas makan siang, Nayla tidur siang di kamar Nasima. Selepas sholat asar nanti ia akan melanjutkan belajar mengenal dan menirukan karakter Nasima pada situasi yang lain lagi.  Selepas isya, Iron akan memberikan materi dasar praktis tentang tugas walikota. Nayla semakin tidak sabar untuk segera berperan sebagai walikota.  ***  Pukul 18:12 wib, di teras rumah Sisca.  Sisca menyilangkan kaki. Ia menghunus tatapan tajam kepada Heri yang duduk di depannya. "Aku sebenarnya bosan lihat tampang sok polos kamu. Kerjaanmu nggak pernah becus akhir-akhir ini."  Heri cengar-cengir.  "Aku punya ratusan alasan untuk memecatmu," ujar Sisca memberi penekanan pada kata terakhir. "Namun aku cuman punya satu alasan untuk mempertahankanmu."  Heri mengangkat dagu, memberanikan diri memandang Sisca dengan wajah berharap.  "Demi keberhasilan-keberhasilanmu dulu dan demi rasa kemanusiaan, suka nggak suka, mau nggak mau, terpaksa aku harus mengabaikan seratus alasan memecatmu demi satu alasan untuk memberi kesempatan lagi padamu, yaitu kesetiaan!"  Heri tersenyum lega. "Terima kasih, Bos!"  "Aku belum selesai bicara. Jangan menyelaku!" hardik Sisca galak.  Heri menunduk. "Maaf, Bos!"  Sisca mendengus. "Aku minta kamu bekerja secara efektif. Kamu harus pilih anak buah yang kompeten. Aku nggak butuh orang berbadan kekar tapi otaknya kosong. Paham?"  Heri mengangguk. "Paham, Bos!"  "Aku butuh orang-orang yang punya visi, bukan sekadar menuruti perintahmu saja!" lanjut Sisca. "Paling tidak kamu harus punya dua anak buah yang bisa melakukan penyelidikan layaknya detektif. Kamu bisa merekrut orang seperti itu?"  Heri mengangguk. "Bisa, Bos!"  Sisca menggebrak meja pelan. "Tapi kenapa enggak kamu lakukan sejak dulu?"  Heri beranikan diri menatap Sisca. "Maaf, Bos, tapi orang seperti itu akan minta bayaran mahal."  "Nggak masalah!" potong Sisca. "Sebutkan saja berapa biayanya, aku pasti kasih asal pekerjaannya beres!"  Heri mengangguk.  "Apa aku sendiri yang harus mencarinya?" Sisca menatap Heri tajam. "Kalau aku yang mencari, percuma aku menjadikanmu orang kepercayaanku!"  Heri menunduk.  "Seingatku kamu dulu cerdas," ujar Sisca. "Sejak sering pijat plus-plus, otakmu menjadi bodoh!"  Heri menelan ludah.  "Kalau kamu masih mau menjadi orang kepercayaanku, kurangi senang-senang bersama para pemuas nafsumu itu. Kamu boleh mendapatkan itu tapi nggak setiap hari!"  Heri mengangguk. "Iya, Bos, maaf."  "Sekarang jam berapa?" tanya Sisca, memancing jawaban Heri.  Heri melirik layar ponselnya. "Sekarang pukul 18:19, Bos."  Sisca menatap tajam Heri. "Itu berarti kamu punya waktu dua puluh tiga jam empat puluh satu menit buat membawa kedua orang yang punya kemampuan selevel detektif ke hadapanku di sini. Terlambat satu menit saja, aku akan mencari orang buat menggantikanmu!"  Heri kaget hanya diberi waktu sehari semalam saja. Ia ingin protes tapi percuma. Itu hanya akan membuat kredibilitasnya semakin anjlok. "Baik, Bos!"  "Kalau butuh apa-apa, kamu tinggal telepon aku saja," ujar Sisca.  "Iya, Bos."  Sisca berdiri, menatap Heri sejenak, kemudian berlalu dari teras, meninggalkan Heri tanpa sepatah kata pun.  Heri sudah terbiasa dengan sikap Sisca itu. Ia memakluminya. Jika sekarang wajahnya cemberut itu karena ia pusing harus mencari dua orang yang memiliki kemampuan selevel detektif kurang dari dua puluh empat jam.  Heri memandang kosong ke arah meja yang hanya terdiri dari vas bunga dan satu boks tisu, tanpa makanan dan minuman.  "Kamu belum pergi?"  Heri terkesiap mendengar pertanyaan dari Sisca yang tahu-tahu berdiri di dekatnya sambil bersedekap. Ia menjadi merasa tidak enak hati karena belum pergi.  Heri berdiri. "Ini mau pergi, Bos."  "Butuh uang bensin enggak?" Sisca menepuk-tepuk amplop berisi uang ke telapak tangannya.  Mata Heri menjadi berbinar. Ia cengar-cengir sambil berharap. "Mau, Bos!"  Sisca menyodorkan amplop berisi uang kepada Heri. "Kalau besok kamu gagal, anggap ini sebagai pesangon."  Heri menerima uang dari Sisca dengan perasaan campur aduk. "Terima kasih, Bos."  "Sebaiknya kamu pergi sekarang. Jangan membuang-buang waktu!"  Heri mengangguk. "Baik, Bos. Kalau begitu saya permisi."  "Satu lagi!" cetus Sisca.  Heri urung berdiri. "Iyw, Bos, ada apa?"  "Kalau besok malam ada Armando di sini. Kamu jangan pernah menyebut nama Nayla atau Pak Baeni." Sisca mengingatkan.  "Iya, Bos." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN