Persiapan

1033 Kata
Iron baru saja selesai memberi materi tentang tugas-tugas walikota secara garis besar kepada Nayla. Berbeda dengan Muna, Iron menyampaikannya secara santai di ruang kerja walikota. Ia juga tidak menggunakan alat peraga atau proyektor.  "Enggak semua tugas walikota aku beritahukan kepadamu," ujar Iron. "Kamu pasti akan pusing mengingatnya."  Nayla mengerjap. "Iya juga sih."  "Yang penting adalah kita fokus pada agenda menemui para pemilik tanah itu," ujar Iron. "Jadi sekarang kita fokuskan pada agenda itu."  Nayla berdebar, membayangkan akan berperan sebagai walikota. Ada perasaan takut dalam hatinya kalau-kalau tidak bisa melakukannya dengan baik.  Iron menepuk bahu Nayla. "Kuncinya adalah pada mental. Kamu harus melakukannya dengan keyakinan kuat bahwa semua akan berjalan lancar. Jangan pernah merasa ragu sedikit pun."  Nayla mengangguk gugup. "Iya."  Iron merasakan kegugupan Nayla. Ia harus meyakinkan gadis itu. "Kamu harus percaya kalau kamu tidak sendirian. Kami semua bekerja agar semuanya lancar."  Nayla tersenyum gamang.  Iron meraih jemari Nayla. "Cobalah tarik napas dalam-dalam."  Nayla melakukan seperti apa yang disarankan Iron. Ia menarik napas dalam-dalam.  "Kemudian buang melalui mulut secara perlahan," imbuh Iron.  Nayla menghembuskan napas melalui mulut secara perlahan.  "Ulangi beberapa kali sampai kamu merasa lega," saran Iron.  Nayla mengulanginya selama tiga kali.  "Sudah lebih baik?" Iron mengerjap.  Nayla mengangguk. Buru-buru ia melepaskan tangan Iron. "Kenapa sih kamu sering menyentuh tanganku?"  Iron bungkam. Ia menatap Nayla lekat-lekat.  Perasaan gugup Nayla kembali datang. Kali ini karena ia merasa risih ditatap Iron.  "Kalau kamu merasa terganggu, aku nggak akan menyentuhmu lagi," ucap Iron lirih.  Nayla melengos. Ia merasa terganggu bukan karena tidak mau disentuh Iron tapi karena jantungnya berdetak kencang setiap kali mendapat sentuhan dan tatapan lelaki itu.  "Ya sudah, mari kita lanjutkan." Iron membetulkan posisi duduk.  "Jadi kapan aku harus menemui pemilik tanah itu?" tanya Nayla.  Iron mengerjap. "Kalau besok kamu sudah siap?"  Nayla mengangguk. Ia memang bersemangat tapi masih sedikit gugup.  "Mulai malam ini, protokoler walikota sedang mensterilkan lokasi-lokasi itu. Mereka harus memastikan walikota aman," beritahu Iron.  "Aku punya permintaan," ucap Nayla.  "Apa itu?"  "Aku nggak mau para pemilik tanah itu tahu kalau walikota akan menemui mereka," pinta Nayla. "Biarlah mereka terkejut."  Iron mengerjap. "Kenapa?"  "Aku ingin antara walikota dan mereka tidak ada pembatas, tidak ada jarak, sehingga kalau memungkinkan kunjungan itu tanpa protokoler resmi. Aku nggak mau didampingi banyak pengawal."  "Tapi walikota harus aman!"  "Kalian bisa kan mensterilkan lokasi dari radius beberapa ratus meter?" harap Nayla.  "Bisa sih," sahut Iron sedikit keberatan. "Kalau kamu mintanya begitu ya aku harus menerapkan protokoler standar sidak."  Nayla merasa senang permintaannya dikabulkan. "Aku hanya mau didampingi Muna dan kamu saja."  Iron mendesah tertahan. Permintaan itu terasa berat karena cukup beresiko. Sungguhpun demikian ia merasa harus memenuhi permintaan-permintaan Nayla agar gadis itu merasa nyaman.  Nayla beranikan diri menatap Iron meskipun itu membuat hatinya kebat-kebit. "Aku juga nggak mau ada media yang meliput. Boleh ada dokumentasi internal tapi jangan terlalu menyolok."  Iron garuk-garuk kepala. Permintaan Nayla membuatnya merasa heran. "Kehadiran media sangat penting. Publik harus tahu apa yang dilakukan walikota."  "Kalian kan punya influencer!" sergah Nayla. "Pemberitaan dari netizen itu lebih terasa natural ketimbang media mainstream. Kalau viral justru bisa menjadi nilai positif bagi walikota."  Iron tidak dalam posisi untuk berdebat. Ia harus mendengar Nayla.  "Meskipun cuman office girl tapi aku pernah bekerja di media. Sedikit banyak aku paham soal pemberitaan. Kami yang notabene media mainstream justru lebih sering mengangkat isu-isu yang sedang berkembang di media sosial."  Iron mengangguk. Ia menghargai pendapat Nayla. "Oke, aku kabulkan permintaanmu, tidak ada pengawalan melekat dan tidak ada media."  Nayla tersenyum senang. "Terima kasih ya?"  Iron mengangguk agar Nayla senang. Biarlah ia yang pusing perihal memenuhi permintaan Nayla, yang penting agenda besok lancar.  "Teknis pelaksanaannya adalah, kamu mengunjungi rumah per rumah para pemilik tanah itu. Totalnya ada sebelas rumah." Iron menjelaskan.  Nayla menyela. "Bukannya totalnya ada lima belas orang ya?"  "Iya memang. Ada beberapa orang yang tinggal satu rumah," ujar Iron.  Nayla mengangguk paham. "Oke."  "Kita nggak mungkin menemui mereka semua dalam satu agenda kunjungan." Iron mengingatkan. "Rumah mereka terpencar-pencar. Bahkan ada satu rumah yang jaraknya dari kota hampir dua puluh kilometer."  Nayla mengerjap. "Wow!"  "Maka itu aku mengagendakannya dalam tiga tahap," ujar Iron.  Nayla mengangguk. Ia mempercayakan agenda sepenuhnya kepada Iron.  Iron menjelaskan. "Berdasarkan kasusnya, kita kelompokkan menjadi dua. Pertama adalah kelompok sebelas orang yang menolak menjual tanahnya. Kedua adalah kelompok empat orang yang tadinya sudah menyepakati harga tetapi akhirnya menolak menjual tanahnya."  Nayla menyimak dengan seksama penjelasan Iron.  "Kita akan mulai dari kelompok kedua, yaitu keempat orang yang tadinya sudah sepakat soal harga tapi belakangan menolak menjual tanahnya."  "Kenapa harus memulai dari mereka?"  "Ada dua pertimbangan," jelas Iron. "Pertimbangan pertama, mereka berkerabat satu sama lain. Rumah mereka mengelompok. Itu akan memudahkan kita menemui mereka sekaligus dalam satu kali perjalanan."  Nayla mengangguk paham.  Iron melanjutkan penjelasannya. "Pertimbangan kedua adalah, kita harus mendengar alasan kenapa mereka yang tadinya sudah sepakat tapi akhirnya menolak. Menurutku ini sangat krusial. Jika mereka berhasil kita yakinkan untuk menjual tanahnya, maka aku yakin pemilik tanah lain akan merasa tertekan."  "Kita nggak akan menekan mereka kan?" Nayla cemas.  Iron menggeleng. "Nggaklah. Kita akan melakukan pendekatan humanis tetapi tetap tegas."  "Iya, aku paham," timpal Nayla.  "Besok kita akan berangkat jam delapan pagi," ujar Iron. "Jam enam kamu sudah mulai make-up."  Membayangkan akan di-make up membuat Nayla agak malas. Namun ia tidak bisa menolaknya, selain karena sudah menjadi bagian dari tuntutan peran, ia juga ingin membiasakan diri ber-make up.  Sekarang Nayla mulai tertarik untuk merias diri dan berbaju layaknya perempuan pada umumnya. Ia ingin membuktikan kepada Amando bahwa dirinya bisa feminin. Ia ingin mantan pacarnya itu menyesal telah membuatnya patah hati.  "Kamu beristirahatlah." Iron bangkit dari duduk. "Aku mau memantau situasi di lokasi besok."  Nayla mengangguk. "Selamat malam, Iron."  Iron menoleh sekilas kemudian berlalu dari hadapan Nayla tanpa merespon ucapan selamat malam dari gadis itu.  Nayla sebal sekali atas sikap Iron yang menyebalkan itu, padahal ia sudah membuang rasa malunya hanya sekadar untuk mengucapkan selamat malam.  Nayla memandangi punggung Iron yang bergerak menjauh. Sampai di ambang pintu lelaki itu berhenti dan menoleh kepadanya.  "Selamat malam, Ibu Walikota," ucap Iron meledek.  Rasa sebal Nayla menjadi teralihkan karena ledekan Iron. Ia tergelak geli disebut sebagai ibu walikota.  "Kamu boleh pergi!" balas Nayla, menirukan gaya Nasima.  Iron tersenyum. Itu membuat hati Nayla kebat-kebit. Lelaki itu jarang sekali tersenyum, sekali tersenyum membuatnya salah tingkah. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN