Semalaman Heri dipusingkan oleh perintah Sisca untuk mencari orang yang punya kemampuan selevel detektif. Itu membuatnya tidak bisa tertidur hingga jam dua dinihari.
Heri tidak memiliki kenalan seorang yang memiliki kemampuan seperti itu. Teman-temannya kebanyakan adalah para bodyguard bayaran yang mengandalkan kekuatan fisik.
Jam setengah tujuh pagi, Heri terbangun dengan menanggung perasaan gelisah. Waktunya tinggal sebelas setengah jam lagi untuk segera mendapatkan dua orang yang memiliki kemampuan selevel detektif. Jika tidak bisa, ia terancam kehilangan pekerjaan.
Bagi Heri yang mantan bodyguard, mencari pekerjaan lain memang bukan perkara sulit. Ia punya banyak koneksi dan kenalan para pejabat. Namun, mendapatkan gaji besar hanya bisa ia dapatkan dari Sisca. Jika ia sampai dipecat maka ia akan kehilangan sumber pendapatan besar.
Pada saat Heri berada pada puncak kegelisahan, tiba-tiba sebuah ide melintas di benaknya. Ia akan meminta bantuan seorang detektif swasta profesional. Apalagi Sisca sudah menjamin akan sanggup membayar berapa pun biayanya.
Maka di sinilah Heri, di sebuah kantor jasa detektif swasta. Ia ditemui seorang agen detektif bernama Sony.
Sony adalah seorang detektif muda berbakat. Tiga bulan lagi usianya berkepala tiga. Ia orang yang ramah kepada siapa saja. Reputasinya sebagai detektif cukup mengesankan. Ia menjadi salah satu agen detektif pada sebuah kantor jasa detektif paling terkenal di kota ini.
Sony mengulas senyum ramah kepada Heri. "Jadi apa yang bisa saya bantu, Pak Heri?"
"Begini, Pak Sony, saya diminta bos saya untuk mencari seorang yang punya kemampuan selevel detektif," ucap Heri mulai menjelaskan. "Saya diberi waktu sampai jam enam petang nanti. Jika tidak bisa menemukannya, saya terancam dipecat. Maka itu, saya ke sini, meminta kesediaan Pak Sony agar mau bekerjasama dengan bos saya."
Sony mengangguk paham. "Saya bisa menangkap maksud Pak Heri. Pada prinsipnya saya siap bekerjasama dengan siapa pun, termasuk dengan bos Pak Heri. Namun agar obrolan kita lebih terasa akrab, saya minta dipanggil 'Sony' tanpa embel-embel 'pak' atau apa pun. Saya rasa usia bapak lebih dewasa dari saya."
Heri terkekeh. Beban yang sejak kemarin petang ia tanggung kini terasa lebih ringan.
"Usia saya masih dua puluh sembilan tahun, Pak, masih jomblo pula. Hehehe." Sony terkekeh.
Heri ikut terkekeh. "Baiklah, Sony."
Sony mengangguk. "Baiklah, silakan lanjutkan."
"Intinya bos saya membutuhkan seorang yang bisa menyelidiki sesuatu atau seseorang," ujar Heri. "Saya pikir, kamulah orangnya."
"Terima kasih atas kepercayaan bapak," ucap Sony. "Hanya saja saya ingin meminta kejelasan, yang bapak cari adalah orang yang berkemampuan selevel detektif ataukah detektif beneran?"
Pertanyaan Sony menyadarkan Heri bahwa yang dicari Sisca adalah orang berkemampuan selevel detektif, bukan detektif. Sekarang ia menjadi bingung sendiri.
"Kalau yang diminta adalah seorang detektif, maka saya siap," ujar Sony.
Heri menelan ludah, merasa gelisah. "Bos saya memang hanya menyebutkan orang yang memiliki kemampuan selevel detektif, bukan detektif, tapi menurut dugaan saya, beliau tidak peduli apakah orangnya detektif atau bukan, yang penting bisa diajak bekerjasama."
Sony memahami maksud Heri. Ia memberi solusi. "Saya bisa membantu bapak. Kalau yang dibutuhkan bukan detektif, saya akan bantu mencarikannya. Bapak membutuhkan dua orang bukan?"
Heri tersenyum senang. Kegelisahannya teratasi berkat Sony. "Dulu saya punya partner. Beliau tadinya seorang detektif handal, namun sudah tiga tahun ini beliau berhenti karena suatu alasan. Saya akan bujuk beliau agar siap bekerjasama dengan Pak Heri."
"Terima kasih, Sony. Saya sangat berharap kepada kamu." Heri berterus terang.
Sony mengangguk. "Saya punya banyak pandangan. Intinya saya akan tetap mencarikannya untuk Pak Heri. Beri saya waktu sampai tengah hari. Nanti saya kabari."
Heri merasa lega. "Saya percayakan kepada kamu, Sony. Nanti kamu bisa membahas soal biaya administrasi atau segala sesuatunya langsung kepada bos saya."
Sony tergelak. "Itu soal gampang, Pak."
Heri ikut tergelak. "Kalau begitu saya permisi. Saya tunggu kabar dari kamu ya?"
Sony mengangguk. "Siap, Pak."
***
Pukul 07;22 wib, di Rumah Dinas Walikota.
Nayla baru saja selesai mengenakan baju dinas walikota lengkap dengan hijab dan bros. Beruntung sepatu yang ia pakai bukanlah tipe high heels, hanya sepatu berhak tebal. Model sepatu itu sudah biasa ia pakai, dulu ketika belajar menjadi feminin atas permintaan Amando.
Nayla mematutkan diri di depan cermin. Ia tertawa geli melihat penampilannya sendiri. Badannya memutar ke kanan dan ke kiri, memastikan penampilannya sudah oke.
"Ibu sangat cantik!" puji Vee yang berdiri di samping Nayla.
Nayla menoleh. "Ibu?"
Vee mengangguk geli. "Nona Nayla kan sekarang menjadi ibu walikota."
Nayla terkekeh. "Iya, iya, kamu benar Vee."
"Karena itu, mulai sekarang saya akan memanggil Nona Nayla dengan sebutan 'ibu'.
Nayla mengerjap, masih merasa geli karena tiba-tiba menjadi walikota.
"Saya merias ibu seperti ketika saya merias Ibu Nasima. Kalian sangat mirip dan susah sekali dibedakan," komentar Vee.
Pengakuan Vee membuat Nayla lega. Ia sangat takut penyamarannya akan terbongkar hanya karena tidak mirip dengan Nasima.
"Perbedaannya, ibu sedikit lebih langsing ketimbang ibu Nasima," ujar Vee.
"Tapi kulitku lebih gelap, Vee!" keluh Nayla.
Vee menggeleng. "Hanya sedikit saja bedanya. Kulit Ibu Nasima tampak lebih terang dan wajahnya glowing karena selalu melakukan perawatan kulit. Tapi, saya yakin orang umum nggak bisa melihat perbedaan itu."
Nayla mengerjap. "Kamu nggak sedang menghiburku kan, Vee?"
Vee menggeleng. "Enggak, Nona, eh, Ibu. Saya berkata apa adanya."
Ucapan-ucapan Vee sedikit mengurangi perasaan gugup Nayla.
Vee mendekati Nayla. Ia membetulkan bros pada hijab gadis itu. "Ini bros yang wajib dikenakan walikota. Saya nggak tahu kenapa bisa begitu. Sepertinya bros itu memiliki historis tersendiri, entahlah. Saya hanya menduga-duga saja."
Nayla menatap wajahnya sendiri melalui cermin. Tanpa sadar ia mengelus-elus pipinya. Ia mengakui make up Vee sangat bagus.
Sekarang Nayla menjadi lebih bersemangat untuk terbiasa dengan make up dan penampilan feminin. Ia akan belajar make up dengan Vee, nanti setelah tugasnya selesai.
"Pak Baeni sudah menunggu ibu," beritahu Vee.
Nayla mengangguk. "Iron menunggu di mana?"
"Di ruang kerja walikota," jawab Vee. "Mari saya antar!"
Nayla mengangguk. Ia keluar ruangan rias menuju ruang kerja walikota yang hanya berjarak beberapa meter saja. Vee mengikutinya.
Begitu memasuki ruang kerja walikota, Nayla terpana melihat penampilan Iron. Lelaki itu tampak lebih tampan dari biasanya dengan jas hitam dan dasi warna merah. Tatanan rambutnya juga klimis dan rapi.
Iron tidak kalah terkejut dengan penampilan Vee. Ia mematung sambil menatap wajah Nayla yang jauh lebih cantik dari biasanya.
Beberapa hari lalu, Iron memang sudah pernah melihat penampilan Nayla yang mengenakan baju dinas walikota, tetapi kali ini ia merasa penampilan Nayla lebih anggun dari waktu itu.
"Silakan, Bu!" Iron menyiapkan kursi untuk Nayla.
Nayla menahan senyum. Ia tidak boleh tertawa meskipun ingin. Ia sedang memerankan diri sebagai walikota sehingga mulai sekarang ia dan Iron harus mengikuti peran yang telah digariskan.
Nayla berjalan anggun menuju kursi. Ia sudah mempelajari cara berjalan Nasima. Memang ia merasakan masih kaku tapi ia akan berusaha keras agar bisa menirukannya.
Nayla duduk di kursi. Ia menatap Iron. "Bagaimana kesiapan protokol perjalanan?"
Iron balas menatap Nayla, seperti ketika ia menatap Nasima. "Semua sudah siap, Bu."
"Kalau begitu kita berangkat sekarang!" perintah Nayla.
Iron mengangguk. "Silakan, Bu!"
Nayla berdiri. Ia menarik napas dalam-dalam. Mulai detik ini ia harus memerankan sebagai walikota dengan sebaik-baiknya.
Sampai di pintu, Nayla menoleh kepada Iron. "Kalau di luar, Nasima biasanya memanggilmu dengan sebutan apa?"
"Di hadapan publik, walikota memanggilku dengan sebutan 'Pak Baeni'," jawab Iron.
Nayla mengangguk. Ia tersenyum geli. "Sekarang aku adalah walikota."
"Iya, Bu," sahut Iron.