Perjalanan Dimulai

580 Kata
Didampingi Iron, Nayla melangkah menuju mobil. Dua orang berbadan kekar yang mengenakan batik, berjalan di belakang mereka. Keduanya adalah pengawal internal. Muna telah menunggu di dekat mobil. Ia mengulas senyum kepada Nayla yang setengah mati berusaha menetralisir perasaan gugupnya. Asif membukakan pintu untuk Nayla. "Silakan, Ibu!" Nayla tersenyum kepada Asif. "Terima kasih, Pak Asif." Ia pun masuk ke mobil dan duduk di jok belakang kiri. Selepas menutup pintu, Iron segera masuk ke mobil dari sisi depan kiri. Menyusul kemudian Muna yang duduk di sebelah kanan Nayla. Dengan cekatan, Asif segera masuk ke mobil. Ia duduk di balik kemudi. Lewat pesawat radio, ia memberitahu kepala protokol perjalanan bahwa mobilnya siap berjalan. Melalui spion dalam, Asif melirik Nayla. "Mohon maaf, Ibu, sabuk pengamannya belum dipakai." Buru-buru Nayla menarik sabuk pengaman. Muna membantunya mengatur posisi sabuk pengaman tersebut. Dalam hati Nayla merasa malu karena lupa mengenakan sabuk pengaman. Ia menyalahkan diri sendiri yang begitu kampungan. "Maklum jarang naik mobil mewah." Muna mengangguk, memaklumi sambil menahan senyum. "Sepertinya ibu gugup," tebak Iron. "Ibu kan baru kemarin sore naik mobil ini." Nayla melirik Iron sekilas, kemudian membuang pandangan ke luar jendela. Mobil bergerak meninggalkan rumah dinas walikota dikawal mobil polisi. Sirine meraung-raung seiring rombongan walikota melesat di jalan raya. Kemewahan mobil dinas walikota tidak lantas membuat Nayla merasa tenang. Perasaan gugupnya semakin terasa. Dalam hati ia berdoa agar tugas pertamanya ini berjalan lancar. "Ibu walikota biasanya mengunyah permen rasa kopi setiap kali merasa gugup. Ibu mau coba?" Muna menawarkan sekotak permen kepada Nayla. Nayla menggeleng. "Terima kasih, Muna, tapi aku nggak suka permen kopi." Muna mengangguk paham. "Mungkin ibu mau cokelat rasa jambu mete?" Nayla menyukai cokelat, tapi saat ini ia tidak menginginkan apa-apa. Ia hanya ingin perasaan gugupnya hilang. Melihat Nayla diam, Muna tanggap. "Baiklah, kalau butuh sesuatu ibu bisa sampaikan kepada saya." Nayla menoleh kepada Muna. "Terima kasih ya, Muna?" Muna mengangguk. "Sama-sama, Ibu." Mobil terus bergerak cepat, melesat di jalan raya. Suara sirine terus meraung-raung. Mendengar itu membuat Nayla semakin gugup. "Pak Asif," panggil Nayla. "Apa bisa sirinenya dimatikan saja?" "Bisa kalau ibu yang menyuruh," jawab Asif. Iron tanggap. Ia segera meraih radio yang tergeletak di atas dasbor. "Mohon untuk mematikan sirine. Ibu walikota merasa terganggu." Tidak sampai satu menit, sirine berhenti berbunyi. Nayla menarik napas lega. Perasaan gugupnya sedikit berkurang. Ia menoleh kepada Muna. "Masih berapa lama lagi kita sampai lokasi?" "Maaf, Bu, saya tidak tahu. Biar Pak Baeni saja yang menjawabnya." Muna menyiratkan perasaan menyesal. "Sekitar sebelas menit lagi," sahut Iron sambil menoleh kepada Nayla. "Polisi pengawal nggak akan ikut mendekat ke lokasi kan?" tanya Nayla gelisah. "Protokoler hanya akan mengantar kita sampai parkiran saja, Bu," jawab Iron. "Hanya ibu, saya, dan Muna saja yang akan ke lokasi." "Oke," sahut Nayla merasa lega. "Tapi perlu saya beritahukan kepada ibu, di beberapa titik sudah bersiap beberapa petugas pengamanan. Penampilan mereka tidak akan mencolok. Saya pastikan mereka tetap siaga menjaga ibu meskipun tidak melekat." "Syukurlah," desah Nayla. Perasaan Nayla sedikit lebih baik. Selama perjalanan ia berdoa dalam hati dan memupuk rasa percaya diri. Tiba-tiba Nayla teringat kepada Nasima. Ia belum mendapat kabar dari saudara kembarnya itu. "Pak Baeni, sudah ada kabar dari Nasima?" tanya Nayla berharap. "Sejak berangkat kemarin pagi, belum ada kabar darinya." "Ibu nggak usah cemas. Nasima sudah sampai Singapura semalam dalam keadaan baik-baik saja," jawab Iron. "Menurut asisten beliau, Nasima baru akan menelepon ibu sore nanti." "Kenapa nggak langsung mengabari?" keluh Nayla. "Saya kurang tahu," sahut Iron. "Nanti saya cari tahu. Sekarang kita fokus saja pada agenda." Nayla mendengus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN