Pagi menjelang siang ini langit sangat cerah. Angin kemarau menampar-nampar dedaunan hingga beberapa di antaranya terlepas dari ranting, melayang, kemudian jatuh ke tanah.
Di sebuah ruas jalan kampung yang aspalnya sudah mengelupas, tiga mobil sedan bergerak lambat. Paling depan adalah mobil pengawalan dari kepolisian yang membiarkan lampu rotari dan sirinenya menganggur. Di tengah adalah mobil dinas walikota dan paling belakang adalah mobil yang membawa tim walikota. Ketiganya memasuki sebuah lapangan bulutangkis yang sekarang disulap menjadi tempat parkir.
Di pinggir lapangan bulutangkis ada empat pedagang keliling yang sudah biasa mangkal di sana. Pelanggan mereka kebanyakan anak SD yang gedungnya berada tidak jauh dari lapangan tersebut. Pada saat jam pelajaran seperti sekarang ini, mereka hanya bengong. Ada yang mainan ponsel, melamun, dan kadang saling bercanda di antara mereka.
Perhatian para pedagang keliling itu teralihkan kepada ketiga mobil sedan yang baru saja parkir di lapangan bulutangkis. Mereka penasaran, ada apakah gerangan? Salah satu dari mereka berharap rombongan itu adalah tim dari sebuah acara reality show sebuah stasiun televisi nasional yang setiap episodenya membagikan uang kepada orang-orang pinggiran.
Dari dalam mobil dinas walikota, Iron segera turun. Ia bergegas membukakan pintu belakang kiri. Nayla yang sedang berperan sebagai walikota keluar secara perlahan. Sesuai dengan ketika latihan, ia menyungging senyum khas walikota, meskipun tidak banyak yang memperhatikannya.
Iron menutup kembali pintu mobil. "Yakin kita hanya akan bertiga saja?"
Nayla mengangguk anggun. "Tentu saja, Iron." Ia mengucapkannya dengan aksen dan gestur khas Nasima yang sudah dipelajarinya.
"Mari!" Iron berada di depan, memandu Nayla dan Muna.
Iron berjalan mendahului Nayla dan Muna. Pandangannya beredar ke kanan dan ke kiri, memastikan para pengawal pribadi yang bertebaran sepanjang rute dalam kondisi siaga. Para pengawal itu menyamar dengan menjaga jarak namun tetap siaga.
Seorang pedagang siomay membelalakkan mata ketika sadar kalau di dalam rombongan yang sedang diperhatikannya ada walikota. Matanya berbinar menatap kecantikan Nayla. Sungguh ia tidak menyangka akan melihat walikota sedekat ini. Spontan ia mengambil ponsel dan merekam video. Tanpa mempedulikan gerobak dagangannya, ia mengikuti rombongan tersebut.
"Rumah mereka di sebelah barat SD itu, Bu!" beritahu Muna.
Nayla mengangguk saja. Ia merasa gugup. Sampai-sampai lututnya terasa lemas. Beruntung ia masih bisa mempertahankan senyum, sehingga tampak rileks.
Tukang siomay lebih mendekat. Ia memfokuskan kamera ke sosok Nayla, sambil menarasikan situasi. Ia memang hanya pedagang keliling, tapi rajin memposting konten pada aplikasi jejaring sosial. Bahkan saat ini ia sedang menyiarkan langsung.
Tukang siomay tidak menyadari kalau ada empat penjaga yang sedang mengawasinya dari jarak ideal. Keempatnya telah bersiap menghadapi segala kemungkinan, termasuk jika ia dianggap sebagai ancaman.
Menyadari ada orang asing mendekati mereka, Iron tanggap. Sambil tersenyum bijak ia mendekati tukang siomay. "Maaf, bapak sedang apa?"
Tukang siomay berhenti memberikan narasi pada siaran langsungnya. Ia menjawab pertanyaan Iron. "Saya sedang live, Pak."
"Tolong agak menjauh sedikit ya?" pinta Iron dengan nada sopan.
"Saya nggak akan mengganggu kok, Pak," ujar tukang siomay.
Iron mengangguk, masih berusaha ramah. "Saya mengerti, Pak, jadi tolong bapak menghargai privasi kami."
Tukang siomay sadar, lelaki di depannya bisa bersikap tegas jika ia ngeyel. "Saya mohon izinkan saya melakukan siaran langsung ini, Pak."
Iron sudah terbiasa menghadapi orang-orang ngeyel pada setiap kali mendampingi walikota. Ia selalu berhasil mengatasi situasi dengan damai tanpa mengurangi sikap tegas. Sikap tukang siomay di dekatnya itu ia anggap masih bisa ditoleransi. "Saya izinkan tapi tolong beri narasi yang sesuai fakta ya?"
"Baik, Pak!" Tukang siomay merasa senang. Ia melanjutkan narasinya sambil terus berjalan mengikuti rombongan walikota dari samping.
Dialog antara Iron dan tukang siomay menarik perhatian Nayla. Ia bertanya kepada Iron. "Siapa dia?"
"Warga yang sedang membuat konten di media sosial," jawab Iron. "Tampaknya tidak mengganggu."
"Biarkan saja," suruh Nayla lirih. "Ia akan memberitakan kegiatan kita secara natural."
"Baik, Bu."
Nayla terus berjalan dengan gaya yang biasa Nasima lakukan. Iron yang tadinya berada di depan, kini lebih merapat kepada walikota, mengantisipasi segala kemungkinan buruk.
Rombongan walikota melewati depan gedung SD. Seorang guru muda berhijab yang sedianya akan masuk kelas, mengurungkan niatnya demi melihat kedatangan walikota. Ia berlari mendekati rombongan.
Melihat situasi tersebut, semua penjaga yang sedang menyamar memasang kewaspadaan tingkat tinggi.
Iron memasang badan ketika guru muda itu berjarak lima meter dari Nayla.
"Bu walikota!" teriak guru muda itu histeris. Ia merangsek mendekati Nayla. Sayang badannnya terhalang Iron. "Bu, saya mau bicara!"
Nayla melempar senyum ramah kepada guru muda itu.
"Bu walikota!" guru muda itu terus berteriak histeris, tidak peduli badannya terhalang Iron.
"Biarkan ia mendekat, Pak Baeni!" suruh Nayla.
Meskipun keberatan, tapi Iron tidak mungkin membantah Nayla yang sedang berperan sebagai walikota di depan publik. Ia menggeser badan, agar guru muda itu mendapatkan jalan. Namun ia terus memasang kesiagaan tingkat tinggi.
Begitu mendapat jalan, guru muda itu langsung mengajak Nayla salaman.
Nayla menghentikan langkah. Ia bersalaman dengan guru muda itu sambil terus mengulas senyum.
Guru muda itu enggan melepas jabatan tangannya. "Bu, saya mau bicara."
Nayla mengangguk ramah. "Ada yang ingin ibu sampaikan kepada saya?"
Mendapatkan kesempatan langka, membuat guru muda itu girang bukan kepalang. "Saya mau curhat. Hehehe."
Nayla mengerjap sambil terus mempertahankan senyum ramah. "Silakan. Nama ibu siapa?"
"Khusnul, Bu."
"Ibu Khusnul mau curhat apa?"
"Saya sudah lima tahun menjadi guru honorer. Tapi gaji yang saya dapatkan setiap bulannya jauh dari cukup. Saya tidak menuntut jumlah besar tapi paling tidak layak untuk membuat saya terus bersemangat mengajar." Guru muda itu berbicara dengan napas memburu dan mengucapkannya dengan tempo cepat. "Mewakili para guru honorer, saya mohon ibu memikirkan kesejahteraan kami."
Nayla mengangguk paham. "Baik, Ibu Khusnul. Saya memahami itu dan sadar benar tunjangan kesejahteraan guru honorer belum cukup. Anggaran untuk pendidikan di kota ini memang masih kurang. Sehingga kami akan terus berkomunikasi dengan anggota dewan agar ke depannya anggarannya ditambah. Sehingga kami bisa menyediakan gaji yang layak."
"Secepatnya ya, Bu?"
Nayla mengangguk. "Pasti, Bu. Kalau boleh tahu ibu mengajar di mana?"
Guru muda itu menoleh ke belakang sambil menunjuk gedung SD tempatnya mengajar. Di depan setiap ruang kelas telah berkerumun para guru dan siswa-siswi. Beberapa di antaranya melambai-lambaikan tangan kepada Nayla.
Nayla balas melambaikan tangan ke arah gedung SD. Sejurus kemudian ia menatap Khusnul. "Ibu Khusnul, terima kasih sudah menjadi bagian penting dalam mencerdaskan generasi muda di kota ini. Ibu luar biasa. Saya sangat mengapresiasinya."
"Iya, Bu." Khusnul merasa senang keluhannya direspon, juga karena mendapatkan pujian dari seorang walikota. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan langka ini, ia mengambil ponsel. "Bu, boleh selfi?"
Nayla mengangguk. "Silakan."
Tanpa membuang waktu, Khusnul merapat ke badan Nayla. Ia mengarahkan kamera dan mengambil gambar berkali-kali.
Iron mendekati Khusnul. Ia harus segera mengakhiri momen ini. Walikota harus melanjutkan perjalanan. Sebelum ia sempat menegur guru muda itu, Nayla keburu memberi isyarat agar ia diam saja.
"Sudah cukup ya, Bu? Ibu Khusnul sudah ditunggu para siswa," pinta Nayla sopan. "Salam kepada bapak kepala sekolah, guru-guru, dan semua siswa dan karyawan sekolah."
"Baik, Bu." Meskipun masih ingin berdekatan dengan walikota, namun Khusnul harus segera menyingkir. "Terima kasih, Ibu Walikota!"
"Sama-sama, Ibu Khusnul."
Dengan sikap halus dan sopan, Iron mengarahkan Khusnul agar memberi jalan kepada rombongan.
Nayla melanjutkan perjalanan didampingi Iron dan Muna. Sementara para penjaga yang sedang menyamar merasa lega karena situasi terkendali.
Berjarak tidak jauh dari rombongan, tukang siomay terus mengikuti dan melakukan siaran langsung pada aplikasi jejaring sosialnya. Ia sedang mendapatkan kesempatan langka. Sehingga ia tidak mempedulikan gerobak jualannya.
Rombongan walikota menelusuri jalan sempit menuju permukiman. Tidak butuh waktu lama, sampailah mereka di depan sebuah rumah yang akan menjadi lokasi kunjungan pertama.
"Itu rumah pertama yang akan kita kunjungi, Bu." Muna menunjuk sebuah rumah bercat biru yang warnanya sudah pudar.
Nayla memandang ke arah rumah tersebut. Di teras tampak seorang ibu muda sedang menyuapi anak balitanya. Perempuan itu menoleh kaget. Ia tidak menyangka akan kedatangan walikota.
Nayla mendekati rumah tersebut. Ia melempar senyum kepada ibu muda yang sedang memandangnya dengan ekspresi terkejut.
Tukang siomay bergerak cepat. Ia lebih dulu mendekati ibu muda dan balita tersebut. Kamera ia arahkan kepada ibu walikota yang sedang mendekat.
"Assalamu alaikum, Ibu." Nayla menyapa ramah.
Ibu muda itu meletakkan piring ke atas meja. Ia berdiri, membiarkan anak balitanya duduk sendirian. "Wa aikum salam."
Nayla mengulurkan tangan. "Apa kabar ibu?"
"Baik." Ibu muda itu menjabat tangan walikota dengan canggung.
Nayla menoleh ke anak perempuan berusia dua tahun yang memeluk ibunya karena takut dengan kedatangan orang-orang asing. Sebutir nasi menempel di pipi anak itu. "Ini putri ibu?"
Ibu muda itu mengangguk, masih canggung dan bingung harus bersikap apa.
"Berapa usianya?"
"Dua tahun, Bu."
Nayla berjongkok agar wajahnya sejajar dengan anak balita tersebut. "Adek namanya siapa?"
Alih-alih menjawab, anak balita itu membenamkan wajah pada paha ibunya.
"Naura, Bu!" Ibu muda bantu menjawab.
Nayla menegakkan badan. "Gadis kecil yang cantik," pujinya.
Iron dan Muna saling pandang. Selama mendampingi walikota, baru kali ini mereka menyaksikan pemandangan seperti ini. Nasima jarang bertemu warga dalam situasi bersilaturahmi seperti yang dilakukan Nayla sekarang ini.
"Kedatangan kami ke sini untuk bersilaturahmi," ujar Nayla. "Kalau boleh tahu, siapa nama ibu?"
"Mahmudah."
"Saya Na ... " Hampir saja Nayla menyebutkan nama aslinya. Beruntung ia sempat menghentikan ucapannya. "Saya Nasima!"
"Iya, saya tahu ibu adalah walikota," ujar Mahmudah. "Silakan duduk, Bu. Maaf, tempatnya berantakan."
"Terima kasih." Tanpa ragu Nayla menuju kursi untuk duduk.
"Sebentar, Bu, saya ambilkan alas dulu. Kursinya berdebu. Maklum dekat jalan." Mahmudah berniat masuk ke rumah.
"Tidak apa-apa, Bu Mahmudah. Kelihatannya bersih kok." Nasima duduk di kursi busa yang mirip sofa. Ia tidak takut roknya akan kotor.
Khusnul urung masuk ke rumah. Ia ikut duduk di sebelah Nayla. Ada perasaan gugup karena ia dan suaminya adalah salah satu pemilik tanah yang menolak menjual tanahnya. Ia merasa yakin kedatangan walikota berkaitan dengan persoalan tersebut.
"Selain ingin bersilaturahmi dengan ibu sekeluarga, kedatangan saya juga ingin bermusyarawah mengenai penawaran kami terhadap tanah milik ibu. Namun barangkali kedatangan saya kurang tepat karena saya pikir suami ibu saat ini mungkin sedang tidak ada di rumah." Kalimat itu sudah Nayla siapkan sejak berada di dalam mobil. Ia bersyukur mengucapkannya dengan lancar dan meyakinkan.
Nayla sudah mempelajari profil setiap keluarga yang akan didatangi. Ia tahu suami Mahmudah tidak sedang berada di rumah karena merantau ke Jakarta. Ia juga mendapatkan informasi kalau suami ibu muda itu menyerahkan semua urusan tanah itu kepada istrinya karena memang tanah itu milik Mahmudah, warisan dari orang tua.
Nayla sudah menyiapkan rencana, mengantisipasi segala situasi jika Mahmudah enggan membahas persoalan tanah dengan alasan suaminya sedang tidak berada di rumah.
"Suami saya sedang tidak berada di rumah, Bu," beritahu Mahmudah. "Jadi mohon maaf, saya tidak berani membahasnya sekarang tanpa melibatkan suami."
Nayla tersenyum. "Saya kagum kepada Ibu Mahmudah karena meskipun memiliki hak untuk menentukan nasib tanah itu sendiri tapi masih tetap meminta pertimbangan suami."
Mahmudah menunduk gelisah, tidak berani menatap Nayla.
"Oleh karena itu saya yakin ketika ibu dan saudara-saudara ibu mengajukan harga baru kepada Pak Arhan, pasti sebelumnya sudah mendengar pertimbangan dengan suami bukan?" Nayla mengerjap sambil terus tersenyum.
Mahmudah menelan ludah. Ia semakin gelisah. Ketika ia dan saudara-saudaranya mengajukan penawaran harga baru kepada Arhan, suaminya tidak dilibatkan. Ia takut walikota mengetahui itu.
"Tapi barangkali Ibu Mahmudah ingin menelepon suami dan mengabarkan kalau saya sedang berada di sini?" Nayla memberi solusi sekaligus perangkap. Ia mengeluarkan ponsel dan meletakkannya di atas meja. "Ibu boleh menggunakan ponsel ini."
Mahmudah menjadi salah tingkah. Percuma ia menelepon karena suaminya tidak mau ikut sampur urusan tanah warisan mertuanya. "Suami saya susah ditelepon ketika sedang bekerja."
"Kalau boleh tahu apa pekerjaan suami ibu?"
"Suami saya buruh pabrik, Bu."
Nayla menganguk-angguk. "Baiklah, barangkali nanti ketika ibu berkomunikasi dengan suami, ibu boleh menyampaikan kepada beliau kalau kami dari pemerintah kota tetap komitmen kepada harga awal. Mohon maaf, kami tidak bisa menawarkan dengan harga lebih tinggi lagi dari itu. Kalau ibu dan suami menerimanya, kami akan melakukan pembayaran sesegera mungkin. Namun jika harga dari kami tidak sesuai harapan ibu dan suami, berarti kami harus ikhlas jika seandainya tidak berhasil membeli tanah ibu."
Mahmudah tercengang. Ia tidak menyangka kalau walikota akan menolak harga terakhir yang ia ajukan. Tadinya ia menyangka walikota akan menawarnya lagi karena tanpa tanah itu, stadion tidak akan bisa dibangun segera.
"Kami membeli tanah itu menggunakan dana APBD. Itu uang rakyat kota ini," ujar Nayla. Ia akan menggertak Mahmudah secara halus tapi mematikan. "Kami harus mempertanggungjawabkan setiap satu rupiah yang kami belanjakan termasuk membeli tanah. Jika kami membeli tanah lebih mahal dari nilai jual objek pajak, maka berarti kami telah melakukan pemborosan uang rakyat. Oleh karena itu, kami akan mencari solusi lain. Jika stadion tidak bisa berdiri di atas lahan ibu, maka kami harus mencari lokasi lain."
Mahmudah menelan ludah. Jika tanahnya tidak jadi dibeli pemerintah kota, maka ia akan rugi karena jika dijual kepada pihak lain harganya jauh lebih murah. Sebenarnya ia sepakat dengan harga awal yang ditawarkan pemerintah kota. Harga itu sangat tinggi. Namun ia tidak berani menentang saudara-saudaranya yang memaksanya agar kompak menawarkan harga sangat tinggi.
Melihat wajah pucat Mahmudah, Nayla merasa yakin gertakan halus tapi mematikan-nya berhasil.