Sebuah mobil jenis jip, baru saja masuk area parkir minimarket. Mobil itu berhenti di sebelah kanan mobil sedan pabrikan Eropa.
Tiga orang keluar dari dalam jip. Mereka masuk ke dalam sedan Eropa, satu duduk di jok depan dan dua di jok belakang.
Yang berada di jok depan adalah Heri. Ia mengangguk hormat kepada pemilik mobil sedan Eropa yaitu Sisca yang duduk di balik kemudi. "Bos, saya mengajak dua orang profesional, satu seorang detektif dan satu seoang yang memiliki kapasitas selevel detektif. Beliau ada di jok belakang."
Sisca melirik spion dalam yang tergantung di plafon depan. Ia menyapa kedua orang yang dimaksud Heri dengan mengulas senyum.
Seorang detektif bernama Sony memperkenalkan diri. "Nama saya Sony. Saya seorang detektif independen. Di sebelah saya adalah Gery. Beliau bukan detektif tetapi sering terlibat dalam pekerjaan detektif."
Melalui spion dalam, Sisca tersenyum. "Saya Sis. Sebut saja begitu. Terima kasih atas kesediaan Pak Sony dan Pak Gery. Mohon maaf kalau penyambutan kami tidak sopan. Saya sengaja mengajak kalian bertemu di dalam mobil karena saya tidak mau kerjasama kita diketahui orang lain. Saya harus katakan bahwa ini adalah pertemuan rahasia."
"Tidak apa-apa, Ibu Sis," timpal Sony. "Kami memahami situasinya. Sebelumnya Pak Heri sudah menjelaskannya kepada kami."
"Terima kasih atas pengertian Pak Sony dan Pak Gery," ucap Sisca. "Heri sudah menjelaskan semuanya kepada saya dan saya harap juga sudah menjelaskan secara garis besar apa yang menjadi poin dari kerjasama kita. Selanjutnya, kalian bisa menghubungi Heri."
"Baik, Ibu Sis. Kami siap bekerjasama," tukas Sony.
Sisca mengambil amplop tebal dari dalam tas. Ia menyerahkannya kepada Sony. "Ini sebagai DP. Selanjutnya nanti urusan keuangan biar melalui Heri. Saya lebih memilih uang tunai, meskipun ribet tapi tidak meninggalkan jejak transaksi."
Sony menerima amplop tebal berisi uang belasan juta. "Terima kasih, Ibu Sis."
"Barangkali Pak Sony dan Pak Geri masih ada keperluan lain." Itu cara halus Sisca mengakhiri pertemuan.
Sony tanggap. "Baik, kalau begitu kami pamit."
"Silakan!"
Sony dan Geri keluar dari mobil Sisca dan masuk kembali ke mobilnya. Keduanya menunggu Heri yang masih berada di mobil Sisca.
Di dalam mobil, Sisca menatap Heri tajam. "Aku harus akui kali ini kamu bekerja cepat. Semoga dua orang itu juga orang yang tepat untuk menjalankan semua rencanaku. Kamu yang menghandel mereka. Aku hanya ingin mendengar laporan keberhasilanmu saja. Kalau mereka gagal, berarti kamu juga gagal. Paham?"
Heri mengangguk senang. "Paham, Bos."
"Jangan memanggilku dengan sebutan bos ketika berada di depan umum!"
"Baik, Bos!"
Sisca mengusap layar. Ia membuka aplikasi M-Banking dan mentransfer sejumlah uang.
"Kalau begitu saya pamit, Bos!"
"Tunggu sebentar!" suruh Sisca sambil sibuk dengan ponselnya.
Heri mengangguk. "Baik."
"Sekarang cek notifikasi pada ponselmu," suruh Sisca. "Aku barusan transfer ke rekening kamu. Anggap itu sebagai bonus. Saranku, jangan pijat plus-plus dulu selama sebulan ke depan."
Wajah Heri memerah. "Iya, Bos."
"Jangan cuman iya iya saja!" Sisca memperingatkan. "Aku tidak melarang kamu bersenang-senang. Itu hak kamu. Namun aku perhatikan sejak kamu pijat plus-plus, kinerja kamu jadi nggak becus. Kalau dalam sebulan kerajaanmu baik, maka kamu boleh melakukannya lagi."
Heri menunduk. "Siap, Bos."
"Tatap mataku kalau sedang bicara!" tegur Sisca.
Heri beranikan diri menatap Sisca. "Baik, Bos."
Sisca memberi isyarat tangan agar Heri keluar dari mobil.
"Kalau begitu saya permisi, mau mengantar kedua orang itu."
Sisca mengangguk malas.
Heri keluar dari dalam mobil Sisca.
Sepeninggal Heri, Sisca menyalakan mobil. Ia keluar dari area parkir menuju ke jalan raya. Ia berharap tidak ada yang tahu kalau dirinya baru saja bertemu dengan dua orang detektif, terutama Amando.
Sisca bertekad untuk membalas dendam kepada Naya. Gadis tomboy itu telah dua kali menyakiti hatinya. Pertama ketika dulu gagal mendapatkan cinta Amando. Kedua beberapa hari lalu ketika gadis itu menjebaknya di rumah sakit.
Sisca baru akan merasa puas jika balas dendamnya terlampiaskan. Ia telah menyewa seorang detektif bernama Sony dan seorang lagi temannya untuk menjalankan serangkaian rencana jahat.
Hal pertama yang ingin dicapai Sisca adalah ia harus mendapatkan informasi keberadaan Nayla dan ayahnya. Informasi itu sangat krusial baginya untuk menentukan jenis pembalasan apa yang paling pedih.
Beberapa kali Sisca gagal membalaskan dendamnya kepada Nayla. Ia yakin itu diakibatkan bukan hanya karena Heri tidak becus menjalankan perintahnya, tapi juga karena ada kekuatan besar yang melindungi gadis tomboy itu.
Jika benar ada kekuatan besar yang melindungi Nayla, Sisca harus tahu siapa aktor di balik itu. Apakah orang itu adalah salah satu rival politik yang memanfaatkan situasi ataukah karena sebab lain.
Sisca tidak habis pikir kenapa ada orang dengan kekuatan besar melindungi Nayla. Dalam pandangannya Nayla tidak memiliki sesuatu yang bisa dimanfaatkan. Gadis tomboy itu hanya berasal dari keluarga miskin. Oleh karena itu ia curiga orang yang melindungi Nayla memiliki motif politik.
"Tapi untuk apa?" Sambil menyetir, Sisca bertanya kepada dirinya sendiri.
Kecurigaan Sisca masih belum kuat. Jika Nayla dijadikan alat untuk mencapai tujuan politik, maka ia belum menemukan benang merah antara melindungi gadis tomboy itu dengan isu politik yang sedang berkembang saat ini. Kalau hanya sekadar untuk menjegal popularitas Amando menurutnya itu juga nyaris mustahil karena hubungan antara Amando dengan Nayla tidak diketahui publik. Seandainya benar sekalipun, itu tidak cukup signifikan pengaruhnya.
"Pak Baeni!" Sisca memukul setir. Ia geram kenapa asisten walikota itu bisa mengenal gadis tomboy seperti Nayla.
Kemarin Sisca melihat dengan mata kepala sendiri betapa mesranya Baeni dengan Nayla. Pemandangan itu sangat mengejutkannya, mengingat selama ini asisten pribadi walikota itu nyaris tidak pernah diketahui dekat dengan perempuan kecuali Nasima.
Sisca memang tidak begitu mengenal sosok Baeni. Ia hanya beberapa kali pernah berbincang secara basa-basi. Ia bahkan tidak tahu kalau Baeni memiliki panggilan Iron. Namun dari desas-desus di kalangan para politisi perempuan lelaki ganteng dan berpostur atletis itu ia mendengar bahwa Baeni tidak pernah tampak dekat perempuan kecuali Nasima. Dari desas-desus yang berkembang itu, beberapa orang curiga kalau asisten pribadi walikota itu tidak menyukai lawan jenis.
Kini ketika melihat sendiri Baeni bermesraan dengan Nayla di tempat umum, Sisca menjadi tidak yakin kalau lelaki itu tidak menyukai lawan jenis. Kemesraan keduanya tampak natural, sama sekali tidak mengesankan kalau itu setingan.
Namun pertanyaan besar di benak Sisca adalah kenapa Baeni dekat dengan Nayla hingga begitu kuat melindungi gadis tomboy itu? Apakah murni karena motif asmara ataukah ada motif lain? Jika ada motif lain apakah ada kekuatan yang lebih besar terlibat?
"Huft!" Sisca pusing memikirkan itu semua.
Sisca tidak punya masalah personal dengan Baeni. Lelaki itu juga tidak memiliki kepentingan politik. Sehingga ia merasa harus mencurigai Nasima. Namun jika walikota berada di balik kuatnya perlindungan terhadap Nayla, Sisca menjadi semakin pusing karena buat apa walikota melakukan itu?
Dalam pemikiran Sisca, bisa saja Nasima memanfaatkan Nayla untuk menjegal popularitas Amando, namun ia tidak yakin karena walikota tidak mungkin akan membuang waktu dan energi hanya untuk melakukan manuver yang sama sekali tidak memberi pengaruh signifikan.
Pada saat sedang pusing memikirkan itu semua, tiba-tiba ponsel Sisca berdering. Amando meneleponnya. Ia memasang handsfree pada telinga kemudian menjawab panggilan telepon dari calon tunangannya tersebut.
"Halo, Sayang!" sapa Sisca manja.
"Sayang, kamu ada di mana?" Amando terdengar kesal. "Chat-ku sejam lalu masih centang satu. Tumben kamu tidak online."
"Masa aku tidak online?" Sisca berlagak bingung. Padahal ia memang sengaja mematikan data internet agar pertemuannya dengan detektif tidak terganggu panggilan video dari Amando.
Bukan karena ingin menghindari Amando ia mematikan data internet. Ia hanya tidak mau calon tunangannya itu melakukan panggilan video pada saat ia sedang bertemu detektif Sony. Bisa gawat kalau Amando mengetahui itu.
"Apa mungkin secara tidak sengaja kepencet?" tebak Amando berusaha berprasangka baik.
"Bisa jadi," timpal Sisca. "Ada apa, Sayang?"
"Bisa aktifkan data internetnya? Aku mau video call."
"Aku lagi nyetir, Sayang."
"Owalah."
"Memangnya kamu sekangen itu ya, sampai-sampai baru dua jam lalu kamu video call sekarang mau video call lagi?" pancing Sisca. Ia ingin mendengar Amando mengucapkan kata kangen kepadanya.
"Iya dong!" sambar Amando bohong. Ia tidak pernah kangen kepada Sisca.
"Masa?"
"Pastilah! Aku selalu kangen sama kamu."
"Gombal ah!" Meskipun tidak yakin tapi Sisca tetap senang mendengarnya.
"Duh, tidak percayaan!"
"Sejujurnya antara percaya dan tidak. Tapi kurasa itu tidak penting untuk dibahas."
"Terserah kamulah," desah Amando. Ia juga tidak peduli apakah Sisca percaya atau tidak.
"Dih, ngambek!"
"Aku ngambek karena kamu terdengar meragukan perasaanku." Amando merasa geli sendiri mengucapkan kalimat dusta tersebut.
"Cowok kok ngambekan!"
"Itu karena aku sayang sama kamu!"
Hati Sisca berbunga-bunga, sampai-sampai ia mengabaikan perasaan ragunya. "Aku juga sayang kamu. Jadi jangan ngambek lagi ya?"
"Aku percaya sama kamu. Jadi kamu juga harus percaya juga sama aku."
"Iya, aku percaya kok."
"Syukurlah!" Amando pura-pura merasa lega.
"Kamu meneleponku hanya ingin mengatakan rasa kangen saja?"
"Itu yang paling penting."
"Memangnya ada lagi selain itu?"
"Mmhh, ada tapi lebih enak kalau kita bertemu untuk membahasnya."
"Aku mau ada rapat setengah jam lagi." Sisca memberi opsi. "Kalau nanti malam gimana?"
"Aku ada acara keluarga."
"Yah, berarti besok saja kita membahasnya."
Amando tidak bisa menunggu selama itu. Ia ingin membahas sesuatu yang sangat penting dan mendesak. "Kamu harus mengetahui informasi ini sekarang."
Sisca penasaran. "Informasi apa?"
"Begini saja, kalau kamu sedang menyetir, sebaiknya menepi dulu. Cari tempat parkir yang nyaman." Amando memberi saran. "Kamu harus tahu ini sekarang."
"Oke." Sisca melirik spion dan menyalakan sein kiri. Ia menepi dan berhenti di bahu jalan.
"Gimana, sudah menepi?" Amando memastikan.
"Sudah," jawab Sisca. Ia merekam percakapan teleponnya dengan Amando. "Aku penasaran. Sebenarnya informasi apa yang ingin kamu sampaikan?"
Amando menarik napas dalam-dalam. "Sejam lalu, orangku memberi kabar kurang mengenakan. Ia bilang pagi tadi walikota menemui salah seorang pemilik tanah."
Sisca menduga hal buruk. "Orang itu mau menjual tanahnya?"
"Kalau itu masih bisa kita kondisian," tukas Amando. "Masalahnya lebih buruk dari itu."
Sisca semakin penasaran. "Jadi masalahnya apa?"
"Walikota mendatangi pemilik tanah bernama Mahmudah untuk bernegosiasi. Mahmudah menolak dengan alasan ia tidak berani membahas soal tanah tanpa suaminya yang sedang merantau di Jakarta. Tidak disangka, walikota bersikap tegas. Ia tidak mau membeli tanah dengan harga di atas nilai jual objek pajak."
"Keras kepala itu walikota!" umpat Sisca. "Aku sudah mempelajari site plan pembangunan stadion baru. Lokasi tanah milik Mahmudah sangat penting karena menjadi akses utama. Kalau ia menolak menjualnya stadion itu nggak akan punya jalan keluar masuk."
"Nah itu masalahnya," timpal Amando. "Walikota menegaskan kepada Mahmudah bahwa stadion baru masih bisa mencari lokasi lain."
"Apa?" Sisca kaget. Sejurus kemudian ia tertawa. "Bisa saja itu cuman gertakan. Memanhjay ia mau cari lokasi lain di mana? Itu akan memakan waktu lama dan belum tentu berhasil. Walikota lagi mabuk kayaknya. Hahaha!"
"Kalau ternyata itu bukan gertakan bagaimana?" Amando mengingatkan.
Tawa Sisca berhenti. Ia tersadar dengan pertanyaan Amando. "Iya juga sih. Kalau walikota tidak sedang menggertak, berarti ia punya opsi lain."
"Kalau punya opsi lokasi lain, seharusnya anggota dewan tahu."
Sisca meluruskan. "Anggota dewan hanya berkepentingan mengawal penggunaan dana. Persoalan teknis menjadi kewenangan pemerintah kota."
"Tapi aku tidak yakin walikota akan bisa mendapatkan lokasi lain," ujar Amando.
"Kenapa?"
"Karena walikota hanya pandai menggandeng pihak swasta tapi tidak bisa meyakinkan warganya." Amando berargumentasi. "Ia tipe pemimpin feodal. Tidak cocok menjadi walikota di zaman demokrasi."
"Benar. Bernegosiasi dengan Mahmudah saja gagal. Hahaha." Sisca tertawa mencemooh.