Tidak sesuai dengan rencana, pertemuan Nayla dengan empat pemilik tanah gagal. Ia hanya bertemu dengan Mahmudah. Itu pun mengalami deadlock.
Ketiga orang yang gagal ditemui itu adalah saudara kandung Mahmudah. Tempat tinggal mereka berdekatan satu sama lain, sehingga sebelum kedatangan Nayla, mereka kompak untuk menghindar. Mereka meninggalkan rumah secara diam-diam.
Meskipun kecewa, Nayla harus menerima kenyataan itu. Ia kembali ke mobil dan meneruskan perjalanan. Masih banyak pemilik tanah yang harus ia temui.
"Ketiga saudara Mahmudah sepertinya sengaja menghindar," ucap Iron. "Menurut informasi tim pemantau, saat kita sampai di rumah Ibu Mahmudah, rumah mereka masih terbuka. Namun tidak lama kemudian mereka satu per satu meninggalkan rumah."
"Satu per satu?" tanya Nayla.
"Mereka meninggalkan rumah tidak secara bersamaan. Aku menduga mereka tidak ingin menarik perhatian," jelas Iron.
"Itu berarti mereka menutup pintu negosiasi," timpal Nayla. "Seandainya bertemu pun percuma, kemungkinan besar deadlock, seperti Ibu Mahmudah."
"Keempat bersaudara ini memang yang paling keras," keluh Iron. "Mereka ini sebenarnya orang-orang miskin. Pekerjaan mereka saja serabutan. Mereka punya tanah hasil warisan orang tua, tapi tidak bisa mengelolanya dengan baik Sehingga alih-alih menjadi petani mereka lebih memilih menjadi kuli bangunan."
"Aku pikir piihan mereka realistis!" komentar Nayla. "Hasil pertanian mereka tidak seberapa. Gabah mereka dibeli tengkulak dengan harga murah sedangkan ketika mereka membeli beras harganya sangat mahal."
Iron mendengus. Persoalan itu sudah puluhan kali ia bahas dengan Nasima. Betapa ironinya nasib para petani. Pada saat harga beras melambung, gabah mereka justru hanya dibeli murah.
"Persoalan harga pangan tidak bisa hanya dikendalikan walikota seorang," ujar Iron. "Itu persoalan nasional yang sangat pelik. Bahkan pemerintah pusat saja kadang kewalahan menghadapi ulah para kartel."
Nayla mengangguk. "Tapi paling tidak walikota harus meningkatkan daya beli masyarakat dan mengurangi angka pengangguran."
"Benar!" timpal Iron. Ia menoleh. "Kamu pantas jadi walikota."
Nayla terkekeh. "Gombal!"
"Aku nggak pernah menggombal kepada walikota!" Iron tidak terima.
"Tapi aku bukan walikota."
"Sekarang kamu sedang berperan menjadi walikota. Sehingga aku harus bersikap sebagai asiten pribadi yang profesional."
"Begitu ya?" Nayla mengangguk-angguk, menirukan gaya Nasima.
Iron mendengus. "Astaga, kamu mirip banget dengan Nasima. Caramu mengucapkan itu dan cara kamu menghindari perdebatan nyaris sama."
"Aku sampai tidak bisa tidur mempelajari itu!" timpal Nasima sambil terkekeh.
"Kamu hebat, Nay!" puji Iron.
Nayla melengos. Ia lebih memilih melihat pemandangan di luar jendela. Ia tidak mau rona merah di pipinya terlihat Iron.
"Dua kilometer lagi kita akan sampai di sawah Pak Nurdin," beritahu Muna.
Nayla sudah mempelajari orang-orang yang akan dikunjunginya. Ia tahu Nurdin adalah salah seorang yang memiliki tanah persawahan paling luas. Lokasinya dekat jalan raya.
"Kita akan ke rumahnya atau ke sawahnya Pak Nurdin?" tanya Nayla.
"Kita langsung ke sawah!" jawab Muna. "Tim kita memberi informasi kalau Pak Nurdin dan istrinya sekarang sedang berada di sawah. Para penjaga juga sudah bersiap di sana sekarang."
Nayla mengerjap tanda siap. Ia telah melakukan negosiasi dengan Mahmudah. Meskipun buntu tapi itu cukup menumbuhkan rasa percaya diri bahwa ia bisa melakukan peran ini.
Rombongan Mobil kunjungan walikota bergerak dengan kecepatan sedang menuju sebuah area persawahan. Masih dua kilometer lagi jalan yang harus ditempuh. Itu bukan jarak yang jauh, tapi medannya cukup terjal.
"Sebenarnya aku penasaran, apa sih inti dari negosiasi ini?" tanya Iron. "Sejak tadi aku ingin bertanya tapi kupikir itu tidak etis. Sehingga kamu tidak perlulah memberitahuku."
Nayla mengerjap heran. "Kamu belum tahu?"
Iron mengangguk. "Iya."
"Kok aneh ya?"
"Aneh kenapa?"
"Kamu kan dekat dengan Nasima. Bagaimana mungkin kamu tidak diberitahu substansi dari apa yang sedang kita lakukan ini?"
Iron tersenyum aneh.
Nayla menjadi semakin heran. "Lagipula kenapa kamu merasa tidak etis untuk menanyakannya?"
Iron mendesah perlahan. "Aku ini hanya kepala staf asisten pribadi. Kami hanya mengurusi keperluan teknis walikota, tidak pernah berani masuk ke ranah kebijakan karena ada tenaga ahli untuk itu."
Nayla paham maksud Iron tapi ia masih merasa heran. "Memangnya Nasima tidak pernah curhat soal pekerjaannya?"
"Hanya yang menyangkut dengan urusan tugasku saja ia mau curhat," jawab Iron. Ia melirik Muna. "Kalau soal pekerjaan, Muna yang lebih banyak tahu."
Muna angkat bicara. "Benar kata Pak Baeni, Bu. Meskipun bukan introvert tapi walikota tipe orang yang tidak mudah mencurahkan isi hatinya kepada orang lain. Kalaupun selama ini sedikit banyak saya mengetahui beberapa hal, itu semua masih dalam konteks pekerjaan."
Nayla mengangguk. Ia merasa dirinya memiliki kemiripan perihal keterbukaan kepada orang lain. Selama ini ia juga tidak mudah mengungkapkan isi hatinya kepada orang lain, bahkan kepada ayah angkatnya sekalipun.
"Berarti soal strategi negosiasi juga walikota tidak membicarakannya kepada kalian?" Nayla memandang Iron dan Muna secara bergantian.
"Ibu hanya bilang kalau ia sudah punya opsi lain jika pembebasan tanah untuk stadion mengalami kebuntuan. Namun ibu tidak menjelaskannya secara mendetail." Iron berujar.
Muna menimpali. "Soal itu, ibu memang memberitahuku. Mungkin karena aku menjadi penghubung dengan beberapa stake holder, seperti Pak Arhan, anggota dewan dan pihak swasta."
Nayla mendesah. Ia menatap Iron. "Aku pikir kamu harus tahu, Iron."
Iron tersenyum. "Jangan beritahukan sesuatu yang ibu tidak ingin memberitahukannya padaku. Kamu harus pahami itu."
"Tapi kamu yang bertanggung jawab atas pelaksanaan negosiasi ini, Iron," tukas Nayla.
Iron tersenyum. "Aku hanya bertanggung jawab pada pelaksanaannya saja, bukan pada hasilnya. Itu domain kamu, Nay."
Kebat-kebit hati Nayla mendapatkan senyum dari Iron. "Oke, kalau begitu aku tidak perlu memberitahumu soal strategi itu. Setidaknya untuk saat ini."
"Kamu telah bersikap secara benar, Nay." Senyum Iron semakin terkembang.
Nayla tidak berani menatap wajah Iron. Ia tidak mau jantungnya berdetak kencang melihat senyum lelaki itu. "Tapi apa kamu tidak merasa penasaran?"
"Penasaran sih, tapi aku selalu bisa mengatasi rasa penasaran itu. Aku sangat mengenal Nasima. Sehingga aku bisa memahaminya," ujar Iron menjelaskan.
"Mohon maaf, satu kilometer lagi kita akan sampai di lokasi," beritahu Asif.
"Aku harap kita tidak mengundang perhatian umum secara mencolok," ujar Nayla kepada Asif.
"Baik, Bu," sahut Asif.
"Aku memastikan itu tidak akan terjadi, Bu." Iron menegaskan. "Lagipula kita akan berada di tengah persawahan, jauh dari permukiman."
"Baguslah!" tukas Nayla. Ia menoleh kepada Iron. "Kenapa sih kamu tidak konsisten memanggilku? Kadang ibu kadang nama."
Iron menatap Nayla. "Aku harus memposisikan diri kapan berbicara kepada kamu sebagai Nayla dan kapan kamu sebagai pemeran walikota."
"Tapi kita hanya berempat," tukas Nayla.
"Memang tapi aku harus disiplin," jelas Iron. "Nantinya, ketika kita berada di luar rumah, aku akan lebih sering memanggilmu dengan sebutan ibu."
"Baiklah," ujar Nayla berusaha memahami. Sebenarnya ia ingin menyanggah ucapan Iron, tapi ia harus terbiasa memerankan karakter Nasima yang selalu menghindari perdebatan.
Rombongan telah sampai di tujuan. Ketiga mobil sedan menepi. Mereka parkir secara berbaris di bahu jalan, agar tidak mengganggu pengendar lain.
Iron keluar dari dalam mobil. Ia segera membukakan pintu untuk Nayla. "Silakan, Bu. Saya harap ibu menunggu di sini dulu sampai semuanya siap."
Nayla merespon dengan anggukan. Ia keluar dari mobil dan berdiri di dekat Iron. Pandangannya berkeliling ke area persawahan. "Padinya sudah menguning. Bagus sekali ya, pemandangannya?"
Iron menyahut. "Iya, diperkirakan dua atau tiga minggu lagi padi akan dipanen."
Muna memekarkan payung. Ia merapat kepada Nayla.
Nayla menoleh. "Payung itu kamu saja yang pakai, Muna. Saya caping saja kalau ada."
"Baik, Bu!" Muna mengangguk. Ia segera memberi isyarat kepada Asif untuk membuka bagasi belakang.
Muna mengambil caping dari bagasi yang telah disiapkan tim. Ia mengutuk diri sendiri yang tidak begitu tanggap menyediakan keperluan walikota. Padahal sejak kemarin ia sudah memeriksa semuanya. Hanya saja ia tidak begitu memahami pada situasi kapan saja barang-barang keperluan itu digunakan.
Selama hampir empat tahun mendampingi walikota, baru kali ini ia ke area persawahan. Itu membuatnya belum berpengalaman pada situasi seperti ini.
Berdialog dengan pemilik tanah bukanlah kali ini saja dilakukan walikota, namun baru kali ini dilakukan di area persawahan.
Muna bergegas. Ia memberikan caping kepada Nayla. "Silakan, Bu."
Nayla mengenakan caping pemberian Muna. Ia menunggu kode dari Iron, kapan harus turun ke sawah.
Nayla melihat Iron sedang berteleponan dengan koordinator protokoler. Sengatan matahari cukup membuatnya kepanasan. Beruntung caping di atas kepalanya sedikit mengurangi panas.
Iron mendekati Nayla, masih dalam posisi menempelkan ponsel ke telinga. "Kabar baik, pematang sawah dalam keadaan kering. Sepatu yang ibu pakai aman buat melintasinya."
Nayla menunduk, memperhatikan sepatu kets di kakinya yang dipilihkan Vee. "Jadi kapan kita turun?"
"Ibu sudah siap?" Iron memastikan.
"Siap!" Nayla menarik napas. Sebagai orang kota pinggiran, Nayla belum pernah menginjakkan kaki di pematang sawah. Ini akan menjadi pengalaman pertama baginya.
Iron mengulurkan tangan kepada Nayla. "Silakan pegang tanganku!"
Dengan perasaan canggung, Nayla meraih telapak tangan Iron. Mereka melangkah pelan menuju tepian sawah.
Iron melepas pegangan tangan Nayla. Ia turun dulu ke pematang. Setelah itu ia mengulurkan tangan kembali kepada Nayla.
Nayla memegangi tangan Iron kuat-kuat. Dengan perlahan dan berhati-hati ia menuruni jalan menuju pematang.
"Kamu boleh melepaskan tanganku, Iron!" perintah Nayla menirukan aksen Nasima.
Iron melepaskan tangan Nayla. "Ikuti aku secara perlahan. Pematang ini tidak memungkinkan untuk jalan berdampingan." Ia berjalan lebih dulu.
Nayla mengekor Iron, menyusuri pematang sawah. Muna menyusul di belakang mereka. Sengatan matahari semakin terasa di area persawahan ini. Sesekali angin bertiup sepoi-sepoi, sedikit mengurangi hawa panas.
Sampailah Iron, Nayla, dan Muna di sebuah gubuk kecil. Atapnya terbuat dari rumbia, ditopang empat batang bambu. Lantainya berupa tanah liat yang sudah mengeras.
Dua orang lelaki dan perempuan yang berada di dalam gubuk itu menoleh kaget, melihat kedatangan tamu yang tidak diundang. Mereka adalah sepasang suami istri, pemilik sawah. Yang lelaki bernama Nurdin, berusia tiga puluh sembilan tahun. Sementara yang perempuan adalah Azmiyah, istrinya, berusia sembilan tahun lebih muda dari suaminya.
Nayla mengulas senyum kepada sepasang suami istri tersebut. "Assalamu alaikum, Bapak dan Ibu!"
"Wa laikum salam." Nurdin berdiri, menyambut tamunya. Ia menjadi gugup, tidak menduga akan kedatangan walikota di tempat seperti ini. "Maaf, tempat duduknya hanya bambu saja. Silakan jika berkenan singgah."
"Silakan!" Azmiyah berdiri, memberi tempat duduk kepada tamunya. Berbeda dengan suaminya yang merasa gugup, ia justru merasa senang bisa bertemu dengan pejabat nomor satu di kota ini.
Azmiyah sejatinya ibu rumah tangga. Kedatangannya ke sawah hanya untuk mengirimkan makanan dan menikmatinya bersama suami. Seringkali ia mengunggah kegiatannya di sawah ke i********:. Meskipun hanya seorang istri petani tapi ia tetap berjiwa muda dan eksis di media sosial. Sehingga ia selalu membawa ponsel ke mana-mana, termasuk ke sawah.
Azmiyah mengambil kain lap yang sedianya akan ia pergunakan sebagai tisu selepas makan. Sekarang ia menggunakannya untuk mengelap kursi bambu yang akan diduduki walikota.
"Terima kasih. Mohon maaf kalau mengganggu aktivitas bapak dan ibu." Nayla meletakkan p****t di kursi bambu tanpa takut celananya akan kotor.
"Tidak mengganggu kok," ujar Nurdin dengan nada bergetar. Ia masih merasakan kegugupan. "Kebetulan sekarang kami sedang beristirahat."
Nayla mengulurkan tangan kepada Nurdin. "Perkenalkan, saya walikota. Kalau saya tidak keliru, bapak bernama bapak Nurdin Hidayat bukan?"
Nurdin menjabat tangan Nayla canggung. Ia tidak menyangka walikota bisa mengetahui namanya. "Iya, saya Nurdin. Maaf tangan saya kasar. Maklum petani."
Nayla tersenyum. "Tidak apa-apa, Pak."
Azmiyah deg-degan, berharap akan disalami walikota juga.
NayIa beralih menjabat tangan Azmiyah. "Dan ibu pasti bernama Azmiyah, istri Pak Nurdin."
Azmiyah sangat antusias menjabat tangan Nayla. "Iya, saya Azmiyah. Saya dulu memilih ibu waktu pilkada. Hehehe."
Nayla tersenyum haru. "Terima kasih atas kepercayaannya."
Iron dan Muna memperhatikan momen itu dari ambang gubuk. Meskipun masih ada ruang untuk duduk, keduanya memilih untuk berdiri saja.
Nayla melepas caping dan meletakkannya di tanah. Ia melihat satu set rantang masih tertutup rapat. Ia melirik arloji di pergelangan tangan. Waktu menunjukkan pukul 12:08 wib. Ia tanggap situasi. "Sekali lagi, saya minta maaf karena mengganggu waktu istirahat bapak dan ibu. Barangkali sekarang saatnya bapak dan ibu menikmati makan siang."
"Tidak apa-apa, Bu," ujar Nurdin. "Kami bisa makan siang nanti."
"Kalau begitu, kami akan kembali lagi nanti setelah bapak dan ibu makan siang." Nayla menunjukkan sikap merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Bu," ujar Nurdin. Ia mengusap dahi yang dipenuhi keringat menggunakan lengan baju. Ia menduga walikota ingin membahas perihal harga tanah. "Kiranya ibu walikota ada keperluan apa sehingga berkenan berkunjung ke gubuk reot ini?"
Nayla tersenyum bijak. "Saya mewakili pemerintah kota ingin bermusyawarah dengan bapak perihal penawaran harga tanah ini."
Nurdin menelan ludah. Keringatnya semakin bercucuran. Dengan lutut gemetar ia duduk di kursi bambu.
"Saya mendapat laporan kalau bapak menolak menjual sawah ini." Nayla mengucapkannya dengan senyum terus terkembang. "Saya menghargai sikap bapak. Hanya saja terus terang saya cukup kaget karena sebelumnya bapak sudah sepakat untuk menjual sawah ini. Namun kami mencoba interospeksi. Barangkali kami sebagai pemerintah kota telah mengecewakan bapak dan ibu. Jika benar demikian, kami mohon maaf."
Nurdin menelan ludah. Ia merasa bersalah karena telah berubah pikiran. Pada awalnya ia sepakat untuk menjual sawahnya kepada pemerintah kota. Harga yang ditawarkan padanya cukup tinggi. Saat itu ia merasa senang akan mendapatkan uang yang sangat banyak. Dengan uang itu ia bisa membeli sawah lagi di tempat lain dan sisanya bisa ia pergunakan sebagai modal usaha warung di rumah.
Namun suatu malam, ia didatangi beberapa orang yang mengatasnamakan paguyuban petani menolak ekploitasi tanah persawahan. Mereka mendesaknya untuk menolak menjual sawah. Jika ia tidak kompak, paguyuban itu mengancam tidak akan mengalirkan irigasi ke area sawahnya.
Posisi Nurdin menjadi serba salah. Jika tidak mengindahkan orang-orang yang mengatasnamakan paguyuban itu, maka ia tidak bisa bertani. Sementara saat itu dari pihak pemerintah kota sepertinya tidak bisa memberi kepastian. Oleh karena itu, ia akhirnya ia menuruti paguyuban dan menqndatangani penolakan menjual sawah.
"Kalau boleh tahu, apa yang menyebabkan bapak berubah pikiran?" tanya walikota dengan nada santai. Senyumnya terus terkembang.
Nurdin terdiam bingung. Jika harus menjawab jujur, maka ia akan berhadapan dengan orang-orang yang mengatasnamakan paguyuban tani itu. Namun jika tidak berterus terang, ia bingung harus memberi penjelasan apa.
"Pak Nurdin berhak untuk tidak menjawabnya. Saya akan menghargai itu. Namun saya mohon, jika kami dari pemerintah kota punya kesalahan atau pernah mengecewakan bapak, kami minta maaf. Itu maksud kedatangan kami sebenarnya." Nayla membetulkan posisi duduk. "Namun jika bapak ingin menyampaikan sesuatu, jangan ragu. Kami pasti akan mendengarkannya."
Keringat di dahi Nurdin semakin banyak, keluar melalui pori-pori. Sementara di sebelahnya, Azmiyah sudah tidak sabar untuk meminta izin selfi dengan walikota. Ia yakin followernya akan bertambah drastis jika memposting foto bersama walikota.