Nayla bisa membedakan antara kegugupan Nurdin di awal dan saat sekarang. Di awal, ia bisa merasakan kalau petani itu gugup karena kaget kedatangan tamu. Sedangkan sekarang ia menangkap kesan Nurdin gelisah karena menyembunyikan sesuatu.
"Saya harap kita rileks saja, Pak Nurdin," ujar Nasima. "Namanya juga musyawarah, tidak selalu harus menemukan kesepakatan. Saya tidak mungkin memaksakan kehendak, begitupun bapak."
Nurdin tersenyum kaku. Ia merasa malu telah salah persepsi. Selama ini ia termakan isu tentang image walikota yang tidak merakyat. Sekarang ia telah membuktikan sendiri pandangan itu salah.
Nurdin sadar ia hanya warga kebanyakan. Di kampungnya ia bahkan dianggap kaum kecil. Namun walikota mau mendatanginya di sebuah gubuk persawahan tanpa protokol berlebihan dan tanpa media sama sekali. Itu membuatnya percaya, kedatangan walikota bukan sekadar pencitraan tapi menawarkan solusi.
"Jika kehadiran saya membuat Pak Nurdin dan Ibu Azmiyah menjadi tidak nyaman, maka saya permisi saja," ucap Nayla karena memperhatikan Nurdin lebih sering diam sejak tadi.
"Tidak kok, Bu!" sanggah Azmiyah buru-buru. Ia tidak mau momen kedatangan walikota cepat berlalu. "Saya merasa tersanjung ibu berkenan singgah di gubuk kami."
Nurdin mengangguk, sepakat dengan ucapan istrinya.
"Saya merasa tidak enak hati karena sejak tadi lebih menguasai pembicaraan. Seharusnya pertemuan ini terasa menyenangkan antara dua pihak yang saling membutuhkan." Nayla menatap sepasang suami istri di depannya secara bergantian. "Sebagai walikota saya harus melayani warga. Sebagai warga, bapak dan ibu berhak menyampaikan keluhan. Saya pasti akan mendengarkannya dengan serius. Setelah itu kita cari solusinya bersama-sama. Jika solusi yang saya tawarkan tidak tepat, maka bapak dan ibu bisa mengusulkan kepada saya kiranya apa solusi yang tepat."
Azmiyah melirik suaminya yang tampak gugup. Ia harus melakukan sesuatu agar suasananya menjadi cair. "Izinkan saya berbicara, Bu Walikota."
Nayla menatap Azmiyah. "Silakan, Bu."
Azmiyah merasa gembira diberi kesempatan berbicara. "Saya hanya ingin minta maaf karena tidak bisa menjamu tamu dengan baik."
Nayla tersenyum bijak. "Jangan meminta maaf, ibu dan bapak kan tidak tahu kalau kami akan datang. Justru saya senang berada di sini. Saya bisa melihat langsung keseharian bapak dan ibu."
"Saya sebenarnya tidak ikut bertani, Bu," ujar Azmiyah. "Saya ke sawah setiap menjelang siang untuk membawa bekal makan siang suami."
"Ibu sangat luar biasa!" puji Nayla tulus. "Tahu tidak, Bu? Di balik keberhasilan seorang suami, di situ ada peran besar seorang istri. Contoh paling dekat adalah Ibu Azmiyah."
Pipi Azmiyah merona merah, mendapat pujian walikota. "Saya hanya memasak dan mengantarkan makanan saja kok, Bu."
"Justru itu peran yang sangat penting," timpal Nayla. "Coba bayangkan seandainya ibu tidak mengantarkan bekal makan siang. Suami ibu pasti akan kerepotan mencari makanan. Saya perhatikan tidak ada warung makan dalam radius satu kilometer dari sini."
Azmiyah mengangguk, membenarkan argumen Nayla. "Iya juga sih, Bu."
"Baru beberapa menit di sini, saya sudah mendapatkan pelajaran berharga." Nayla tersenyum.
Azmiyah mengerjap, penasaran kiranya pelajaran berharga seperti apa yang dimaksud walikota.
Nayla melanjutkan. "Saya menjadi semakin sadar bahwa kita tidak boleh mengecilkan peran pihak lain. Contohnya Bu Azmiyah yang berperan penting dalam menyediakan BBM buat suami."
"BBM?" Azmiyah bingung. Dalam pemikirannya BBM adalah bahan bakar minyak.
Nayla terkekeh anggun. "Bahan bakar makanan."
Azmiyah tergelak mendengar candaan walikota. "Bahan bakar mulut ya, Bu?"
"Iya," sahut Nayla.
Nurdin ikut tergelak. Ia merasa lega karena istrinya bisa menghidupkan suasana.
Nayla melirik satu set rantang yang tergeletak di atas tanah. "Masakan Bu Azmiyah pasti lezat!"
"Saya hanya asal masak saja kok, Bu." Azmiyah merendah. "Kebetulan suami saya tidak menuntut yang aneh-aneh."
"Ibu merendah," tukas Nayla. "Saya menjadi penasaran dengan hasil masakan Bu Azmiyah."
Serta merta wajah Azmiyah semringah. "Saya ingin menawarkannya kepada ibu tapi saya sadar diri. Sudah pasti itu akan jauh dari ekspektasi."
Nayla mengerjap gembira. "Jika ditawari, maka dengan senang hati saya akan menikmatinya."
"Benar, Bu?" Azmiyah kaget, tidak percaya.
Nayla mengangguk mantap. "Iya."
Mendengar begitu cairnya percakapan antara istrinya dengan walikota membuat Nurdin mulai merasakan kenyamanan. Ia yang suka bercanda akhirnya terpancing. "Silakan kalau ibu berkenan. Tapi mohon jangan kaget kalau istri saya akan memfoto dan memvideo hasil masakannya sebelum disantap."
Nayla mengerjap. "Di-posting ke i********: juga?"
Azmiyah mengangguk sambil cengar-cengir.
"Kalau begitu saya akan mereview-nya. Bagaimana?" Nayla mengerjap, meminta persetujuan.
"Benar, Bu?" Azmiyah sulit mempercayainya.
"Iya." Nayla mengangguk mantap.
"Saya siapkan dulu ya, Bu?" Dengan perasaan berdebar-debar Azmiyah membuka tutup rantang. "Tapi saya tidak membawa piring dan sendok. Adanya cuman daun pisang."
Nayla tersenyum. "Tidak apa-apa, Bu, seadanya saja."
Azmiyah semakin bersemangat. Ia menyobek daun pisang menjadi lima bagian. Selanjutnya ia menuangkan nasi ke atas daun. Dengan canggung ia menyerahkannya kepada Nayla. "Maaf, silakan lauknya pilih sendiri di rantang, Bu."
Nayla menerima daun pisang berisi nasi yang masih hangat. "Terima kasih, Bu Azmiyah."
Azmiyah kembali menyendokkan nasi ke atas daun pisang. Ia memberikannya kepada Iron, Muna, dan Nurdin.
"Silakan ambil sendiri lauknya di dalam rantang." Azmiyah mempersilakan ketiga tamunya.
Muna dan Iron merapat. Keduanya duduk mengapit walikota.
"Mohon izin untuk mengabadikan momen ini." Azmiyah menyiapkan ponselnya.
"Silakan, Bu Azmiyah," ucap Nayla.
Azmiyah gembira bukan main. Tidak mau membuang kesempatan lebih lama, ia langsung memvideo aktivitas Nayla yang sedang mengambil sepotong paha ayam goreng beserta sambal dan lalapannya.
Nayla mencuil daging ayam sedikit. Ia mencocolkannya ke sambal, lalu memasukannya ke dalam mulut. Sambil mengunyah ia tersenyum puas. "Ayamnya enak. Kematangannya sempurna. Sambal tomatnya pedas dan merangsang selera makan."
Membuncah hati Azmiyah mendengar pujian Nayla yang terdengar tulus. Ia terus memfokuskan kamera video ke arah walikota.
Nayla menyendok nasi menggunakan jari-harinya. Ia memasukannya ke dalam mulut. Senyum kepuasannya bertambah. "Nasinya pulen. Enak sekali. Saya jadi takut tidak bisa berhenti menikmatinya."
Perasaan Azmiyah melambung tinggi. Seumur-umur baru dua orang yang memuji masakannya, yaitu suaminya dan walikota. "Saya terbang tinggi nih, Bu. Hehehe."
"Saya berkata apa adanya lho!" ujar Nayla dengan mulut penuh makananan. "Di sini saya tidak bisa jaim."
Nurdin merasa bangga karena masakan istrinya dipuji walikota. Ia yakin pujian itu tulus karena ia mengakui masakan istrinya memang selalu enak.
Nayla melirik Iron. "Pak Baeni, Anda kan terbiasa makan di restauran mahal. Saya ingin mendengar komentar Anda soal masakan Bu Azmiyah ini."
Iron menelan kunyahan di mulut. Ia menoleh kepada Nayla. "Dari satu sampai sepuluh, saya memberi penilaian delapan, Bu Walikota."
Gemetar tangan Azmiyah, membuat ponselnya sedikit bergoyang karena angannya semakin melayang.
Nayla melirik Muna. "Kalau kamu komentarnya apa, Muna?"
Muna tersenyum. "Enak, Bu!"
"Kamu jujur kan?" Nayla memastikan.
"Iya, Bu. Saya berkata apa adanya," jawab Muna tulus.
"Tuh kan, berarti bukan hanya saya saja yang mengatakan masakan Bu Azmiyah enak," ujar Nayla.
"Terima kasih atas pujiannya." Dahi Azmiyah berkeringat, efek dari detak jantungnya yang semakin cepat.
Iron menoleh kepada Nayla. Ekspresinya memberi pesan agar Nayla mengendalikan diri dengah tetap sesuai dengan karakter Nasima.
Nayla tanggap. Ia sadar, semangatnya telah membuatnya lupa kalau sedang memerankan diri sebagai walikota. Buru-buru ia mengendalikan diri.
"Izin memposting video tadi ke i********: ya, Bu?" Azmiyah tersenyum memohon.
"Silakan, Bu Azmiyah!" Nayla kembali ke karakter Nasima. Ia menghabiskan sisa makanannya.
"Mohon maaf, kami tidak membawa gelas. Biasanya kami menggunakan tutup teko buat wadah teh tawar," beritahu Nurdin, merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Pak Nurdin," timpal Nayla. "Kami membawa air mineral."
Buru-buru Muna membuka tas. Ia mengeluarkan lima botol air mineral dan membagikannya kepada semua yang ada di dalam gubuk.
"Bukannya kami tidak mau meminum air teh tawar yang dibawa Bu Azmiyah. Saya menyediakan air mineral sebagai bentuk gotong royong. Bu Azmiyah menyediakan makanannya dan kami air minumnya," ucap Nasima.
Nurdin tersenyum lega. Kegugupannya menjadi sirna. Jika ada yang sedang menggelisahkannya itu hanyalah perasaan bersalah karena menyembunyikan sesuatu kepada walikota.
Matahari baru saja tergelincir ke arah barat. Suhu di dalam gubuk semakin panas. Beruntung angin kemarau sesekali berhembus, sedikit mengurangi panas.
Acara makan bersama selesai. Azmiyah merapikan rantang dan mengumpulkan sampah daun pisang dan botol air mineral untuk ia buang di tempat sampah. Sementara Muna sibuk teleponan, berkoordinasi dengan para rombongan, memastikan mereka sudah makan siang.
"Ini acara makan siang paling berkesan bagi saya, Pak," ujar Nayla. "Sebagai wujud terima kasih, saya ingin mengundang Bapak Nurdin dan Ibu Azmiyah untuk makan malam di rumah saya."
Nurdin dan Azmiyah saling pandang. Mereka merasa terkejut.
"Kalau bapak dan ibu berkenan, nanti kami berikan kabar kapan waktunya dan sopir kami akan menjemput."
"Sungguh itu kehormatan buat kami," ucap Nurdin merasa terharu. "Ibu walikota masih bersikap sangat baik kepada kami setelah kami menolak menjual tanah itu."
Nayla tersenyum bijak. "Dalam jual beli, kesepakatan harga sangatlah penting. Jika tidak ada kecocokan itu hal biasa. Seperti tanah ini misalnya, kami sangat mengharap Pak Nurdin berkenan menjualnya. Itu bukan untuk saya, tapi demi kepentingan pembangunan stadion."
Nurdin menunduk. Perasaan bersalahnya semakin besar.
"Seperti bapak ketahui kota kita memiliki klub sepakbola yang memiliki prestasi bukan hanya level nasional tapi juga Asia. Kita butuh stadion bertaraf internasional. Diharapkan keberadaannya nanti bukan hanya akan melengkapi fasilitas olahraga, tapi sekaligus akan menambah nilai ekonomi." Nayla menjelaskan sesuai dengan konsep yang telah dipelajarinya. "Kalau boleh tahu, apakah bapak menyukai pertandingan sepakbola?"
Nurdin mengangguk. "Saya menyukainya, Bu."
"Hobi kita sama." Nayla mengerjap gembira. "Jika stadion itu berhasil kita bangun, kota ini akan berterima kasih kepada orang-orang yang terlibat dalam pembangunannya, termasuk kepada Pak Nurdin yang telah menyediakan lahannya."
Nurdin mengangguk. Ia tidak berani menatap wajah walikota karena merasa bersalah telah berubah pikiran dari yang tadinya menyepakati penjualan tanah menjadi menolak.
"Namun kami tidak mungkin memaksa bapak untuk menjual tanah ini." Nayla menarik napas dalam-dalam. Sejurus kemudian ia tersenyum. "Oleh karena itu, jika bapak masih tetap menolak menjual tanah ini, maka kami akan bersikap realistis. Mungkin kami akan memikirkan opsi lain, misalnya dengan memindahkan lokasi stadion."
Reflek Nurdin mengangkat dagu. Ia kaget mendengar pengakuan Nayla. Selama ini ia mendengar walikota sudah mantap akan menggunakan area persawahan di sekitar sini sebagai lokasi stadion.
"Saya mohon maaf telah berubah sikap." Nurdin akan merasa bersalah jika terus bungkam. Sehingga ia harus mengemukakan alasannya, meskipun ia tidak akan menyebut orang-orang yang mengatasnamakan paguyuban. "Saya mendukung program pembangunan stadion. Itulah kenapa di awal saya langsung menerima penawaran harga yang diajukan pemerintah kota. Tadinya saya mengira semua lahan sawah yang saya punya akan dibeli. Setelah tahu bahwa tanah yang akan dibeli adalah sesuai kebutuhan lokasi stadion saya menjadi ragu."
Nayla menatap Nurdin teduh. Ia mendengarkan lelaki itu dengan baik dan baru akan bicara setelah petani itu selesai menjelaskan.
"Lahan sawah saya masih tersisa sepertiga dari luas keseluruhan. Itu membuat saya merasa dilema," lanjut Nurdin. "Jika menjual sawah ini, maka saya akan membeli sawah di tempat lain. Itu akan membuat saya memiliki dua lokasi sawah yang berbeda. Saya merasa akan kerepotan mengolah dua lahan yang saling berjauhan lokasinya."
Nasima terus mendengarkan secara antusias.
"Itu kegelisahan saya," ujar Nurdin. "Barangkali ibu walikota punya solusinya?"
Nasima menarik napas dalam-dalam. "Baik, saya memahami kegelisahan Pak Nurdin. Saya akan mempelajari keseluruhan lokasi milik bapak. Apakah bapak menginginkan semua lahan sawah ini kami beli?"
Nurdin melirik istrinya meminta persetujuan. Ia merasa lega telah mengungkapkan kegelisahannya. Selama ini yang ia takutkan adalah jika menjualnya, maka sisa lahan sawahnya di sini tidak akan mendapatkan aliran irigasi seperti yang diancam paguyuban. Jika pemerintah kota mau membeli semua lahannya sesuai yang tertera pada sertifikat, maka ia tidak akan lagi berurusan dengan orang-orang yang mengatasnamakan paguyuban.
Azmiyah mengangguk tanpa ragu, sebagai bentuk dukungan kepada suaminya. Jika menjual semua sawah ini, mereka bisa membeli lahan sawah di tempat lain yang luasnya sama bahkan lebih. Sisa uangnya masih bisa mereka pergunakan untuk modal usaha.
"Iya, Bu. Saya menginginkan pemerintah kota membeli semua lahan sawah saya tanpa sisa," jawab Nurdin kepada Nayla.
Nayla menoleh kepada Muna.
Muna tanggap. Ia mengambil map berisi denah sawah milik Nurdin dan memberikannya kepada Nayla. "Silakan, Bu."
Nayla tidak begitu paham soal tanah. Meskipun begitu ia membuka map tersebut dan berlagak mempelajarinya dengan serius. Satu menit kemudian ia menatap Nurdin. "Berikan kami waktu untuk mempertimbangkannya. Kami akan mengabari bapak dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam."
Nurdin menarik napas lega. Ia memiliki harapan besar pemerintah kota akan mau membeli semua lahan sawahnya. "Terima kasih ibu mau mempertimbangkannya."
Nayla menutup map. Ia menatap Nurdin lekat-lekat. "Namun saya perlu menegaskan kepada Pak Nurdin bahwa kami akan mengikuti harga seperti yang sudah bapak sepakati di awal."
Nurdin mengangguk. "Baik, Bu. Itu tidak masalah."
Nayla tersenyum lega. Satu orang berhasil ia yakinkan untuk menjual tanahnya. Ia berharap ini akan menjadi awal yang baik.
"Baik, Pak Nurdin dan Bu Azmiyah. Kalau begitu kami permisi," ucap Nayla. "Terima kasih atas waktunya menerima kami dengan hangat. Kami tidak akan melupakan momen ini."
"Kami juga mengucapkan terima kasih," balas Nurdin.
Nayla bangkit dari tempat duduknya. Ia memberi kode kepada Iron bahwa kunjungan ini selesai.
Iron tanggap. Melalui pesan singkat, ia segera menginstruksikan kepada ketua protokoler untuk bersiap.
"Maaf, Bu." Azmiyah mendekati Nayla. "Boleh kami selfi?"
Nayla menoleh. "Silakan!"
Azmiyah merasa gembira bukan main. Terbayang bagaimana hebohnya para netizen berkomentar jika nanti video dan foto-fotonya bersama walikota ia posting ke i********:.