Sialan!" umpat Sisca. Ia meremas ponselnya kuat-kuat. Belum puas, ia membanting ponselnya ke atas kasur.
Sisca sangat kesal setelah melihat postingan video yang sedang trending di i********: dan sedang menjadi perbincangan hangat di Twitter. Video itu pertama kali diposting akun @azmeeyaa118. Dalam waktu kurang dari lima jam sudah mendapatkan lebih dari 25 ribu like dan ribuan komentar. Bahkan sebuah stasiun televisi nasional sempat memberitakannya. Sehingga dalam waktu kurang dari delapan jam sudah menjadi perbincangan skala nasional.
Video itu menampilkan momen walikota Nasima--sebenarnya Nayla--sedang menikmati makan siang menggunakan alas daun di sebuah gubuk persawahan bersama sepasang suami istri petani. Efek dari viralnya video itu, siaran langsung yang dilakukan seorang tukang siomay pun ketiban berkah dengan ikut viral. Sontak nama Nasima menjadi terkenal.
Beragam respon dari masyarakat membicarakan sosok Nasima. Sebagian besar menjadi kagum kepada walikota tersebut, meskipun tidak sedikit juga yang merespon secara negatif. Pro dan kontra pun tidak terelakan. Bagi yang pro, mereka salut kepada cara pendekatan yang dilakukan Nasima menyikapi penolakan beberapa pemilik tanah. Sedangkan bagi yang kontra, mereka menganggap itu hanya pencitraan.
Sudah pasti Sisca adalah pihak yang menganggap itu pencitraan semata. Hanya saja ia masih sulit mempercayai kenapa walikota bisa melakukan itu? Selama ini Nasima dikenal sebagai pribadi yang tidak gemar melakukan pencitraan. Walikota itu bahkan tidak peduli meskipun banyak pihak yang menuduhnya kurang merakyat.
Semenjak dilantik menjadi walikota, Nasima sering mendapatkan kritikan tajam karena jarang turun langsung ke masyarakat. Ia tipe pemimpin yang bekerja secara efektif. Baginya lebih baik memiliki bawahan yang bekerja secara profesional ketimbang sering melakukan 'blusukan'. Sungguhpun begitu ia tetap turun ke bawah jika dirasa perlu, seperti meninjau warga korban bencana, meninjau pasar-pasar tradisional, dan menghadiri kegiatan sosial.
Kesan bahwa walikota Nasima kurang merakyat tidak lepas dari framing yang dilakukan lawan-lawan politiknya. Mereka menggunakan jasa buzzer untuk menyudutkan, bahkan cenderung memfitnah dan memframing kalau walikota bukan pemimpin yang memahami kebutuhan warga. Namun Nasima menyikapinya dengan santai. Ia lebih memilih melawan framing tersebut dengan prestasi.
Sebagai bagian dari lawan politik Nasima, Sisca mengakui banyak prestasi yang ditorehkan walikota. Hanya saja ia dan fraksinya tetap berusaha mencari kelemahan-kelemahan walikota sebagai bagian dari rivalitas politik.
Perihal viralnya momen pendekatan walikota dengan pemilik tanah yang menjual tanahnya, Sisca merasakan kejanggalan. Alasannya adalah itu bukan gaya Nasima yang lebih mempercayai urusan seperti itu kepada anak buah. Kedua ia percaya Nasima bukan tipe pemimpin yang suka melakukan pencitraan. Sehingga ia sempat kaget ketika pertama kali menonton video tersebut.
"Huft!" Sisca menghempaskan p****t di kasur. Ia merasa pusing memikirkan itu semua.
Baru saja ingin merebahkan badan di atas kasur, ponsel Sisca berdering. Ia hanya meliriknya saja. Mood-nya sedang jelek. Ia malas melakukan apa pun selain melampiaskan kekesalan.
Karena tidak menjawabnya, sehingga panggilan telepon tersebut berakhir dengan sendirinya. Namun tidak lama kemudian ponselnya kembali berdering.
Dengan kesal Sisca mengambil ponsel. Ia melirik layar. Ternyata Amando yang meneleponnya. Seharusnya ia merasa senang mendapatkan panggilan telepon dari calon tunangannya tersebut. Namun karena suasana hatinya sedang buruk maka ia menjawabnya dengan lesu. "Halo!"
"Kamu baik-baik saja?" tanya Amando dengan nada sok cemas. "Suaramu kok terdengar parau."
Sisca menarik napas dalam-dalam. "Bagaimana mungkin aku akan baik-baik setelah menonton video walikota."
"Seperti dugaanku, kamu pasti sudah menontonnya," desah Amando.
"Bagaimana aku tidak menontonnya kalau video itu ada di mana-mana!" Sisca semakin kesal. "Kamu merasakan hal yang sama sepertiku tidak sih?"
"Iya, aku merasakan hal yang sama sepertimu. Aku mencintaimu dan merindukanmu."
"Astaga, Amando, bukan itu yang kumaksudkan!"
Amando terkekeh. "Maaf, kirain itu."
"Aku merasakan keanehan!" ungkap Sisca. "Sejak kapan walikota mau menemui warga secara langsung? Mana di gubuk sawah pula!"
"Iya, aku juga merasa heran, Sayang," timpal Amando. "Itu bukan gaya Nasima banget!"
"Maka itu!"
"Tapi faktanya seperti itu," ujar Amando. "Mungkin karena sekarang mendekati pilkada. Ia pasti ingin membuang stigma negatif yang menempel padanya agar elektabilitasnya semakin bertambah."
"Pencitraan maksudmu?"
"Bisa jadi!"
"Aku nggak yakin!"
"Kenapa?"
"Nasima bukan tipe orang seperti itu, Amando!"
"Memang, tapi bukan berarti ia tidak bisa melakukannya bukan?"
"Aku tetap nggak yakin!" keluh Sisca. Ia merebahkan diri di kasur sambil tetap menempelkan ponsel ke telinga.
"Sepertinya kamu sangat mengenalnya," seloroh Amando.
"Aku mempelajari karakter dan latar belakangnya," tukas Sisca. "Ia bukan tipe orang yang mudah mengubah kebiasaannya. Untuk melakukan pencitraan ia harus belajar dulu dengan ahlinya. Yang kulihat pada video itu ia tampak natural melakukannya."
"Memang," timpal Amando. "Walikota terlihat tidak risih duduk di atas bambu. Ia begitu menikmati nasi terbungkus daun pisang. Ia bahkan tidak mendapatkan pengawalan secara melekat."
"Maka itu!" Sisca semakin kesal. "Kalau berniat melakukan pencitraan, pasti ia mengundang wartawan, atau paling tidak timnya akan merekamnya menggunakan kamera yang bagus. Kenyataannya video itu direkam dari kamera ponsel dengan resolusi rendah. Satunya lagi bahkan lebih parah, ada tukang siomay melakukan siaran langsung segala."
"Menurutku itu semua memang sengaja didisain seperti itu." Amando curiga. "Walikota ingin memberi kesan semuanya tampak spontan padahal semuanya setingan."
"Aku tidak yakin!" desah Sisca ngotot. "Akun Azmiyah dan tukang siomay itu followernya bisa dihitung dengan jari. Jika dijumlahkan follower keduanya tidak sampai tiga ratus."
Amando mendesah tertahan. Ia sebenarnya sebal atas kengototan Sisca, tapi ia berusaha sabar. "Follower sedikit kalau postingannya dibagikan akun besar, maka efeknya juga besar. Kupikir mereka cukup jeli mendisain itu semua."
"Terserahlah!" Sisca tidak mau terlalu jauh berdebat. "Yang pasti itu merugikan kamu!"
Amando tertawa. "Hal-hal seperti itu sudah aku duga sebelumnya. Tenang saja, elektabilitasku trennya naik. Sementara Nasima sebaliknya. Kalaupun pencitraan itu akan memiliki pengaruh, aku yakin tidak akan signifikan. Warga kota ini cerdas-cerdas, bisa membedakan mana yang setingan dan mana yang bukan. Justru yang aku khawatirkan adalah para pemilik lahan itu akan terbujuk walikota. Ingat, ia adalah negosiator hebat."
"Aku pusing!" Sisca mendengus.
"Biar tidak pusing, bagaimana kalau kita makan di luar?"
Sisca melirik jam dinding. "Sudah malam!"
"Baru jam delapan lebih sedikit," bujuk Amando. Ia ingin meminta tolong Sisca membujuk papinya agar segera memberi kepastian kapan dirinya akan ditetapkan sebagai kandidat dari partainya pada pilkada tahun depan.
"Aku capek, Sayang. Lain kali saja ya?"
Amando mendesah kecewa. Namun ia belum menyerah. "Sebentar saja, kan aku yang nyetir."
"Yang capek pikiranku, bukan badanku!"
"Justru itu, aku mengajakmu keluar biar kamu menemukan suasana lain. Kalau di kamar terus takutnya mood kamu semakin jelek."
"Tapi aku malas banget, Sayang!"
Amando tidak berani meneruskan bujukannya. Ia takut itu akan membuat suasana Sisca semakin jelek. "Ya sudah, nggak papa."
Sisca menjadi merasa bersalah. "Maafkan aku ya, Sayang?"
"Iya, nggak papa," sahut Amando bohong. "Kamu istirahat saja. Lupakan dulu video itu biar malam ini kamu bisa tidur. Besok kamu harus keluar kota bukan?"
Sisca semakin merasa bersalah. Tadi siang ia telah berbohong kepada Amando. Ia pura-pura minta doa karena akan keluar kota besok. Padahal ia akan melakukan meeting dengan Sony dan rekannya.