Dari jendela kamar, bulan tampak bersembunyi di balik pohon beringin. Nayla membiarkan matanya pedih oleh angin malam yang tidak bosan-bosan menampar-nampar wajahnya. Baginya itu lebih baik ketimbang membiarkan air matanya mengalir. Malam ini ia merasakan ada sesuatu yang aneh. Sebuah rasa yang pernah ia kenali dulu. Hanya saja kali ini sedikit berbeda, lebih menggebu dan yang pasti lebih menyesakkan.
Seharusnya malam ini ia tidur pulas setelah seharian secara maraton ia melakukan kunjungan ke beberapa tempat. Waktu, tenaga, dan pikirannya terkuras habis demi tuntutan sebuah peran yang sedang ia lakoni. Namun anehnya bukan badan yang membuatnya lemas, tapi hatinya yang teramat letih.
Meskipun terbilang berat, memerankan tugas sebagai walikota terasa menyenangkan bagi Nayla. Ia mendapatkan pengalaman seru yang belum tentu akan ia dapatkan lagi di lain waktu. Ia merasa tertantang untuk dapat menjalaninya dengan baik.
Masih jelas dalam benaknya ketika ia mengunjungi seorang ibu muda bernama Mahmudah tadi pagi. Ia begitu percaya diri memerankan diri sebagai Nasima. Sebelumnya ia sempat dicegat seorang guru honorer yang begitu ekspresif mencurahkan isi hati perihal gaji yang belum layak. Pada kunjungan pertamanya itu, ada satu orang yang menurutnya menggelikan, yaitu tukang siomay yang rela meninggalkan gerobak jualannya demi melakukan siaran langsung di media sosial.
Saat bernegosiasi dengan Mahmudah, Nayla mampu bersikap tegas dengan tetap menjaga kesantunan sebagai walikota. Sungguh itu tugas pertama yang sangat berkesan baginya, meskipun ia gagal bertemu dengan ketiga saudara Mahmudah.
Lokasi kedua yang Nayla kunjungi adalah sebuah area persawahan. Di sana ia mendapatkan pengalaman seru, yaitu makan nasi terbungkus daun pisang di dalam gubuk bambu. Itu momen yang tidak mungkin bisa ia lupakan. Begitu menikmati suasananya sampai-samoai ia lupa sedang memerankan diri sebagai Nasima. Beruntung Iron mengingatkannya. Namun ia merasa puas karena secara keseluruhan, bisa dibilang kunjungan itu yang paling berhasil. Nurdin, pemilik sawah akhirnya bersedia menjual tanahnya.
Bertolak dari gubuk itu, Nayla dan rombongan walikota mengunjungi dua tempat lain. Sesuai tugas dan perannya, ia bernegosiasi dengan dua pemilik tanah yang menuntut harga tinggi tersebut. Meskipun pada akhirnya keduanya belum menyepakati harga yang ditawarkan Nayla, namun kabar baiknya keduanya membuka pintu untuk melanjutkan dialog.
Masih ada tujuh pemilik tanah lagi yang harus Nayla kunjungi. Rencananya itu akan dilakukan besok. Sehingga malam ini harus beristirahat agar besok bisa memerankan tugas walikota dengan baik seperti hari ini. Sayangnya hingga jam sembilan malam ini ia belum bisa tidur. Hatinya gelisah. Pikirannya kusut.
Bukan tugas memerankan walikota yang sedang Nayla gelisahkan, tetapi Iron yang mengganggu hati dan pikirannya. Ia tidak mengerti kenapa bisa begitu. Yang pasti setiap kali berusaha memejamkan mata, bayangan wajah tampan itu terus terbayang.
Beberapa kali Nayla berusaha memejamkan mata, namun tetap saja tidak mengantuk. Akhirnya ia membuka jendela kamar dan memandang keluar. Maka di sinilah ia sekarang, memandang bulan separuh yang tampak bersembunyi di balik pohon beringin.
Nayla tidak habis pikir kenapa ia terus teringat kepada Iron. Padahal sejak matahari terbit hingga tenggelam mereka selalu bersama. Ia tidak mengerti kenapa semakin sering berdekatan, semakin besar perasaan rindunya.
Nayla pernah merasakan situasi yang mirip dengan beberapa tahun lalu. Ia teringat terus kepada Amando, padahal saat itu mereka sering bertemu. Pertemuan itu terjadi karena Amando menjadikannya sebagai narasumber untuk bahan tesis S2-nya. Rasa itu begitu menggebu dan kadang menyesakkan, sampai akhirnya ia sadar sedang merasakan apa yang disebut jatuh cinta.
Kini perasaan seperti itu muncul lagi melalui kisah lain, dengan orang yang berbeda. Menggebunya mirip. Sesaknya mirip. Namun Nayla takut menyimpulkan bahwa dirinya sedang jatuh cinta kepada Iron.
Di mata Nayla, Iron adalah sosok lelaki yang menyebalkan namun baik hati. Lelaki itu memiliki semua kriteria sebagai kekasih yang sempurna. Iron berwajah tampan. Posturnya atletis. Otaknya cerdas. Visinya maju. Yang pasti lelaki itu tipe pelindung yang baik. Hanya saja ia takut untuk berharap lebih.
Nayla merasa di antara dirinya dengan Iron terdapat kesenjangan yang cukup lebar. Lelaki itu berpendidikan tinggi. Strata sosialnya tinggi. Gaya hidupnya juga terkesan mewah. Sedangkan dirinya hanya perempuan sederhana, tomboy, miskin pula.
Memang Iron pernah memuji kecantikan Nayla, pernah menyentuh tangannya, bahkan memeluknya. Namun ia tidak mau menjadikan itu semua sebagai tolok ukur bahwa lelaki itu menyukainya. Iron lelaki menarik. Iron bisa menyentuh setiap wanita yang diinginkannya, begitu pikir Nayla. Oleh karena itu ia tidak mau terjebak oleh perasaan senang sesaat.
Nayla terkesiap, mendengar pintu kamar diketuk. Buru-buru ia mengusap wajah yang kering karena terlalu sering diterpa angin malam. Ia menutup jendela, kemudian bergegas ke pintu.
Nayla membuka pintu. Seketika matanya terbelalak melihat Iron. Tadinya ia menduga yang mengetuk pintu adalah Muna.
"Gawat!" ucap Iron dengan ekspresi datar, sama sekali tidak menyiratkan kegawatan seperti yang baru saja diucapkannya.
"Gawat kenapa?"
Iron menatap Nayla lekat-lekat "Aku takut!"
Nayla menjadi cemas. Ia membayangkan hal-hal buruk. "Takut karena apa?"
"Takut akan gila!"
Nayla bingung. Kecemasannya semakin bertambah. "Jangan bertele-tele. Langsung saja katakan masalahnya!"
"Aku tidak bisa tidur," ucap Iron tanpa ekspresi berlebihan.
Nayla mulai kesal. "Lalu masalahnya di mana?"
"Tidak ada!" Iron mengatakan itu sambil membuang wajah ke samping.
Nayla bersedekap sambil menghunus tatapan sebal kepada Iron. "Kamu mengetuk pintu kamar walikota malam-malam hanya untuk nge-prank?"
"Aku tidak nge-prank!"
"Terus?"
"Aku memberi informasi yang sebenarnya."
"Informasi apa?" Nayla mengerjap gusar.
"Gawat, aku tidak bisa tidur karena takut." Iron menjelaskan.
"Takut karena apa?" Nayla semakin gusar sekaligus cemas.
"Takut jatuh cinta!"
Nayla mematung, menatap mata Iron dengan sorot kesal, namun detak jantungnya berdetak lebih kencang. Celakanya ia sulit mengendalikan gejolak perasaan dalam hatinya. Ia berharap lelaki itu jatuh cinta kepadanya. Tanpa Ia sadari sepasang pipinya bersemu merah.
Iron menatap Nayla lekat-lekat. "Aku takut jatuh cinta sama kamu!"
Deg! Irama detak jantung Nayla semakin tidak terkendali. Ia gagal untuk mencegah angannya melayang tinggi. Setengah dari kesadarannya berharap lelaki itu tidak sedang bercanda.
"Maaf, aku hanya bercanda!" Iron menunduk.
Ibaratnya Nayla sedang terbang tinggi, kemudian jatuh menghempas ke tanah, sudah sakit, malu pula.
Nayla menarik napas dalam-dalam. Perasaannya berkecamuk antara kesal, kecewa, dan ingin marah. Namun buru-buru ia tersenyum masam. "Bercandamu tidak lucu!"
Iron mengangkat dagu. "Maklum aku bukan pelawak."
Nayla mendengus. "Kamu memang bukan pelawak. Kamu lebih pantas menjadi badut yang menyedihkan karena alih-alih menghibur, kamu justru baru saja membuat orang lain naik darah!"
Iron meraih kedua telapak tangan Nayla. "Aku minta maaf."
Nayla menghempaskan pegangan tangan Iron. "Kamu tidak salah, hanya tidak lucu saja. Jadi sekarang sebaiknya kamu kembali ke kamarmu dan belajarlah keras bagaimana cara menjadi badut yang menghibur!"
Iron mematung. Ekspresinya menyiratkan perasaan bersalah. "Sekali lagi aku minta maaf."
"Sudah kumaafkan!" Nayla menutup pintu dengan kesal.
Iron hanya bisa mematung. Sejurus kemudian ia membalikkan badan, menyandarkan punggung ke pintu. Ia menyalahkan dirinya sendiri yang telah melakukan hal bodoh.
Tadi, sejak habis isya, Iron mengurung diri di kamar. Ia mengabaikan pekerjaan yang menumpuk dengan melamun di atas kasur. Ia merasakan kegelisahan yang belum pernah ia alami sebelumnya. Otaknya dipenuhi bayangan-bayangan kebersamaannya dengan Nayla selama seminggu terakhir.
Iron menyukai Nayla sejak lama, bahkan sebelum mereka bertemu. Semua bermula dari usahanya dalam mencari informasi tentang jatidiri gadis itu. Semakin dalam ia menggalinya, semakin banyak hal yang tanpa ia sadari telah menumbuhkan simpati. Dari rasa simpati itu berkembang menjadi perasaan suka. Hingga beberapa hari yang lalu ia bertemu dengan Nayla untuk pertama kalinya di sel tahanan kepolisian.
Saat itu Iron merasakan debaran aneh dalam hati. Darahnya berdesir menatap kecantikan Nayla yang natural. Ia terkesima kepada kepolosan gadis tomboy itu. Namun ia sadar, dirinya harus bersikap profesional. Sehingga ia berusaha untuk mengabaikan perasaan aneh dalam dirinya itu.
Semakin lama mengabaikan rasa aneh itu, tanpa Iron sadari justru perasaan itu semakin tumbuh subur. Semakin kuat menolaknya, semakin gelisah hatinya. Hingga sore tadi ia tersadar bahwa ia sedang menghadapi kekuatan rasa yang sulit dilawan. Itu membuatnya merasa takut. Ia takut tidak bisa membunuh perasan itu jika nanti ternyata Nayla tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.
Namun Iron sadar, ketakutan harus dihadapi, bukan dihindari. Oleh karena itu setelah memikirkannya secara mendalam, ia merasa harus mengungkapkan perasaannya kepada Nayla. Persoalan apakah gadis itu memiliki perasaan yang sama atau tidak, baginya itu hanyalah sebuah resiko.
Iron pun keluar kamar, bertekad untuk mengungkapkan perasaannya. Celakanya, tadi sesaat setelah mengetuk pintu kamar Nayla, sebuah ketakutan lain tiba-tiba menyerang hatinya. Ia takut jika ungkapan perasaannya kepada Nayla akan mempengaruhi misi yang sedang mereka kerjakan. Ia khawatir komunikasi antara dirinya dengan gadis itu akan menjadi kaku. Padahal selama menjalankan misi ini mereka harus mempertahankan kemistri yang sudah terjalin dengan baik
Itu semua membuat Iron ragu. Ia berniat mengurungkan niat menemui Nayla. Namun baru saja akan kembali ke kamarnya, gadis itu keburu membuka pintu. Ia menjadi panik, sehingga berbicara tanpa kontrol.
Semua telah terjadi. Iron harus membayar mahal semua kebodohannya. Ia yakin Nayla akan merasa dipermainkan.
Sementara itu di dalam kamar, Nayla juga sedang menyandarkan punggung pada pintu. Air matanya mengalir. Ia juga menyalahkan diri sendiri karena sempat berharap apa yang ia diucapkan Iron adalah ungkapan jujur, bukan candaan.
Baik Nayla atau pun Iron, keduanya tidak tahu bahwa masing-masing sedang menyandarkan punggung pada pintu yang sama, dari dua sisi yang berbeda. Mereka terlalu hanyut dalam menyalahkan diri mereka sendiri.