Segelas s**u dan Sebuah Buku

1724 Kata
Hampir seperempat jam Nayla menumpahkan air matanya. Bantalnya basah karena beberapa kali ia membenamkan wajah ke sana. Tangisannya lebih kepada menyalahkan diri sendiri yang sulit meredam gejolak perasaannya. Kini ia baru yakin kalau dirinya memang sudah jatuh cinta kepada Iron. Sejak kecil, ini kali pertama Nayla menangis dengan durasi lama. Jika selama ini penderitaan hidup mampu membuatnya tegar, kini hanya karena ucapan seorang pria telah mampu meremukkan perasaannya. Nayla terkesiap ketika ponselnya yang berada di atas meja rias berdering. Ia menduga itu pasti telepon dari Iron yang akan memastikan dirinya baik-baik saja. Oleh karena itu ia mengabaikannya. Dua kali ponselnya berdering. Dua kali pula Nayla mengabaikannya. Besok jika bertemu Iron ia akan berdalih sudah tidur ketika lelaki itu menelepon. Selama beberapa menit, ponsel Nayla tidak berdering lagi. Sampai akhirnya sebuah ketukan pintu terdengar secara pelan. Nayla mengabaikan ketukan pintu itu. Sekarang sudah hampir jam sepuluh. Ia menduga itu Iron yang cemas karena tidak menjawab panggilan teleponnya. Ia malas bertemu lelaki itu sehingga lebih memilih untuk pura-pura sudah beristirahat. Ia punya alasan kuat untuk tidak membukanya. Ketukan pintu terdengar lagi. "Nona Nayla!" Nayla mengerjap. Ia memasang pendengarannya baik-baik. Suara yang memanggil namanya tadi bukanlah milik Iron. "Nona Nayla, saya Muna!" Nayla menarik napas lega. Ia bangkit dari kasur menuju pintu. Ia berdeham beberapa kali agar suara paraunya hilang. Namun ia sadar tidak bisa menyembunyikan bengkak pada matanya akibat kebanyakan menangis. "Ada apa, Muna?" tanya Nayla berusaha agar suaranya terdengar normal. Ia memilih untuk tidak membuka pintu. "Maaf, Nona, saya mendapatkan perintah dari Ibu Nasima untuk memastikan nona dalam keadaan baik-baik saja," beritahu Muna dari depan pintu. Membuncah hati Nayla mendengar nama Nasima disebut. Wajah muramnya berubah cerah. "Aku baik-baik saja, Muna. Tolong sampaikan itu kepada Nasima." "Baik, Nona. Tadi Ibu Nasima dua kali menghubungi nona tapi tidak dijawab." Nayla kaget campur bahagia. "Oke, Muna. Nanti aku telepon balik Nasima. Ada lagi yang ingin kamu sampaikan?" "Sudah tidak ada lagi, Nona." "Kalau begitu kamu boleh kembali ke kamarmu. Terima kasih ya, Muna?" "Baik, Nona." Nayla menarik napas lega. Ia kembali ke kasur dan duduk di tepiannya. Tangannya meraih ponsel. Ternyata benar, Nasima yang tadi dua kali mencoba menghubunginya. Nayla segera menelepon balik Nasima. Panggilan teleponnya langsung terjawab. "Apa kabar saudara kembaraku?" tanya Nayla begitu panggilan teleponnya terjawab. "Aku menunggu telepon dari kamu sejak pagi tadi." "Kabarku baik, Nay," jawab Nasima. "Maaf ya, aku baru boleh memegang ponsel. Tim dokter memintaku beristirahat total selama 24 jam. Jadi aku baru bisa menghubungimu malam ini." "Kamu itu walikota. Jangan mau disuruh-suruh!" Nayla sebal manja. Nasima tertawa ringan. "Dalam situasi ini bosnya adalah para dokter itu, Nayla. Kalau aku tidak menuruti nasehat mereka, maka aku bisa dipecat jadi pasien." Nayla tertawa mendengar candaan Nasima. "Bisa saja!" "Suara kamu kok agak parau. Kamu habis menangis?" Nasima terdengar cemas. Nayla terkekeh. Terpaksa ia harus menutupi kenyataan. Ia tidak mau Nasima sedih jika mengetahui fakta yang sebenarnya. "Mungkin karena aku bangun tidur." "Kamu sedang tidur ketika aku menelponmu?" "Iya," jawab Nayla bohong. Lagi-lagi ia terpaksa melakukannya demi kondisi kesehatan Nasima. "Wah, kalau begitu maafkan aku. Aku pikir kamu belum tidur. Tahu begitu aku tadi tidak menyuruh Muna buat menyampaikan pesanku." Ada rasa penyesalan dari ucapan Nasima tadi. "Nggak papa, Nasima. Aku malah senang karena akhirnya bisa mendengar suaramu lagi," ujar Nayla. "Bagaimana keadaan Singapura? Apakah banyak singa di sana?" Nasima tertawa. "Banyak. Singanya tampan-tampan. Di sini aku merasa menjadi kucing. Hehehe." "Kucing yang imut, cantik, dan pasti menggemaskan." "Juga manja!" Nayla dan Nasima tertawa secara bersamaan. "Doakan ya, dua hari lagi aku akan menjalani operasi," pinta Nasima. "Doaku selalu untukmu, Nasima." "Iya, aku tahu itu." "Kamu harus rileks. Jangan memikirkan hal lain dulu." "Itu sulit, Nay," tukas Nasima. "Bagaimana kegiatanmu seharian ini?" Nayla mendesah. "Barusan aku minta agar kamu tidak memikirkan hal lain. Ternyata kamu bandel juga ya?" "Aku mengkhawatirkanmu!" "Aku baik-baik saja dan semuanya masih on the track." Nayla meyakinkan. "Syukurlah. Aku masih tidak enak hati karena kamu harus terlibat dalam urusan berat itu." "Hey, kamu ngajak aku berantem ya?" Nayla pura-pura marah. "Sudah kubilang jangan memikirkan hal lain!" Nasima terkekeh. "Berantem di telepon nggak asyik!" "Makanya kamu harus segera pulih biar cepet pulang dan kita bisa berantem!" "Jadi menurutmu aku menjalani serangkaian operasi di Singapura hanya agar bisa berantem sama kamu?" "Iya. Hahaha!" "Astaga, Nayla. Apa tidak ada hal lain selain mengajakku berantem?" Nasima tertawa lebih lebar dari sebelumnya. "Misalnya membahas Iron dan masa depan kalian. Bukankah itu topik yang asyik?" Seketika wajah cerah Nayla meredup mendengar nama Iron disebut. Beruntung ia dan Nasima mengobrol via telepon. Jika tidak, pasti saudara kembarnya itu akan cemas kepadanya. "Aku perhatikan Iron sepertinya menyukaimu," tebak Nasima. "Jangan ngomong ngelantur!" Nayla sebal. "Oke, maaf. Sepertinya kamu sedang tidak mood buat membahas soal Iron." "Tidak juga sih," sangkal Nayia. "Aku hanya ingin kita tidak membahas orang lain. Aku kangen sama kamu tahu!" "Sama, aku juga kangen. Pengennya ngobrol sampai pagi, tapi kamu pasti harus istirahat." "Kamu juga harus istirahat." "Iya." "Besok kita lanjut lagi." "Oke." "Salam buat ayah ya?" "Iya, nanti aku sampaikan." "Assalamu alaikum." "Wa alaikum salam." Percakapan kedua saudara kembar berakhir. Perasaan Nayla jauh lebih baik setelah mendengar suara Nasima. Nayla melirik jam dinding. Sekarang pukul 09:58 wib. Ia masih belum juga mengantuk. Ia menjadi teringat, dulu setiap kali tidak bisa tidur selalu meminum s**u. Maka ia pun bangkit, keluar kamar menuju dapur. Sebenarnya bisa saja Nayla menyuruh asisten rumah tangga untuk menyediakan segelas s**u untuknya, tapi ia tidak sampai hati karena sekarang sudah cukup malam. Toh ia bisa melakukannya sendiri. Nayla kaget ketika melewati ruang keluarga. Ia melihat Iron sedang duduk sendirian sambil melamun. Ia sedang malas bertemu dengan lelaki itu. Maka ia pun membalikkan badan, berniat kembali ke kamar. Soal minuman s**u terpaksa ia harus menyuruh asisten rumah tangga melalui telepon. "Nay!" Spontan Nayla menghentikan langkah. Ia mematung, bimbang apakah akan meneruskan langkah menuju kamar atau menoleh. "Aku sungguh minta maaf!" ucap Iron. Nayla berpikir, jika ia menghindari Iron maka akan menimbulkan kesan kalau dirinya kecewa kepada lelaki itu. Ia tidak mau menunjukkan perasaan itu. Ia harus bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Nayla menarik napas dalam-dalam. Ia menoleh kepada Iron. "Memangnya kamu salah apa, sampai harus minta maaf segala?" Iron mendesah pelan. "Aku merasa bersalah soal ucapanku kepadamu tadi." "Itu sudah lewat. Aku bahkan sudah lupa apa yang kamu ucapkan tadi." Nayla tersenyum getir. Ia mengalihkan topik. "Jam segini para asisten rumah tangga pasti sudah istirahat kan?" "Kamu membutuhkan apa?" tanya Iron. "Cuman segelas s**u saja. Aku tidak tega menyuruh mereka. Aku bisa membuatnya sendiri." Nayla akhirnya memutuskan untuk ke dapur. Karena tidak fokus, alih-alih menuju dapur, Nayla malah menuju ruang perpustakaan. "Kamu mau bikin s**u apa mau baca buku?" tegur Iron. Nayla mendengus, mengutuk dirinya sendiri yang tidak fokus. Namun ia berdalih. "Aku juga membutuhkan sebuah buku buat pengantar tidur." Sudah terlanjur, Nayla meneruskan langkah menuju perpustakaan. Ia akan memilih salah satu buku secara acak, baru kemudian ke dapur. Sampai di ruang perpustakaan, Nayla menuju rak tengah. Ia mengambil sebuah buku secara acak. Begitu melihat judulnya, keningnya langsung berkerut. Buku yang ada di tangannya adalah novel berbahasa Inggris. Ia pun mengembalikannya ke tempat semula. Nayla perhatikan di rak tengah bukunya kebanyakan berbahasa asing. Ia heran kenapa Nasima menyukainya. Novel berbahasa Indonesia saja ia malas membacanya. Ia lebih menyukai komik atau buku-buku yang berkaitan dengan olahraga. Nayla pindah ke rak sebelah barat. Di sana ia tidak menemukan jenis bacaan yang disukainya. Ia pun berbalik arah menuju rak sebelah timur. Namun ia buru-buru kembali ke rak tengah untuk bersembunyi karena melihat Iron sedang berjalan menuju perpustakaan. Terlambat, sebelum Nayla berhasil menyembunyikan dirinya, Iron terlebih dulu mengetahuinya. "Ada yang bisa aku bantu?" tanya Iron. Nayla mendengus sebal pada situasi yang tidak menguntungkannya ini. Ia menoleh kepada Iron. "Tentu saja ada!" "Jadi apa yang bisa kubantu?" Iron mengerjap kaku. Nayla menarik napas dalam-dalam, sekadar cara mengurangi perasaan sebal. Ia menatap Iron tajam. "Beneran kamu mau membantuku?" Iron mengangguk. "Oke!" Nayla berkacak pinggang. "Bantulah aku agar bisa mencari buku tanpa terganggu orang lain." Iron menatap Nayla datar. Sejurus kemudian ia mengangguk. "Oke, kalau begitu aku akan menyuruh diriku sendiri untuk pergi dari hadapanmu." Nayla mengerjap. "Terima kasih atas bantuannya." "Sama-sama." Iron membalikkan badan. Namun baru berjalan dua langkah ia berubah haluan. Ia membalikkan badan lagi. Iron kembali ke perpustakaan. Ia melewati Nayla begitu saja dan menuju ke sebuah rak. Nayla mendengus. Ia tidak tahu apa sebenarnya yang sedang dilakukan Iron. Ia hanya berharap lelaki itu segera berlalu dari hadapannya. Namun melihat Iron masih berada di perpustakaan, maka ia memilih untuk ke dapur saja. Di dapur, Nayla melihat seorang asisten rumah tangga sedang memasak sesuatu. Menyadari kedatangan Nayla, asisten rumah tangga itu mengangguk hormat. "Nona membutuhkan sesuatu?" Nayla mengangguk. "Kamu sedang apa?" "Merebus mie instan, Nona." "Bisa minta tolong?" Asisten mengangguk. "Apa yang bisa saya bantu, Nona?" "Tolong buatkan aku segelas s**u panas," pinta Nayla. "Baik, Nona," respon asisten. "Ada lagi yang bisa saya bantu?" "Sudah itu saja," ujar Nayla. "Tolong nanti antarkan ke kamar ya?" Asisten mengangguk. "Baik, Nona." "Terima kasih," ucap Nayla. "Sama-sama, Nona." Nayla berlalu dari dapur. Ia berjalan gontai menuju kamarnya. Melewati ruang keluarga, ia melirik ke arah barat di mana perpustakaan berada. Ia mencari sosok Iron, namun lelaki itu tidak tampak. Nayla tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Pada saat Iron di dekatnya, ia menginginkan lelaki itu menjauh darinya. Kini saat Iron tidak tampak, ia mencarinya. Nayla melanjutkan langkahnya. Sampailah ia di kamar. Ia duduk di tepi kasur, menunggu asisten rumah tangga mengantarkan segelas s**u kepadanya. Kurang dari empat menit kemudian, pintu kamar Nayla diketuk. Ia beranjak dari kasur, kemudian membuka pintu. Spontan wajah Nayla pucat ketika melihat sosok Iron sedang berdiri di depan pintu. Lelaki itu membawa baki berisi segelas s**u dan sebuah buku. Iron menyerahkan baki kepada Nayla. "Tadi aku melihat seorang asisten membawa baki ini. Karena kutahu ia sedang merebus mie, maka aku berinisiatif membantunya agar mie yang direbusnya tidak gosong." "Terima kasih!" Nayla menerima baki dari Iron. "Kamu baik sekali sampai begitu perhatian sama nasib mie instan yang direbus salah satu asisten rumah tangga. Meskipun sebenarnya mie itu tidak akan gosong seandainya ia terlambat meniriskannya." Iron mengerjap. "Begitu ya?" "Iya." Nayla menutup pintu menggunakan kakinya. Kedua tangannya sedang ia pergunakan untuk menyangga baki. "Selamat malam, Nayla!" teriak Iron dari depan pintu yang sudah tertutup rapat. Nayla menarik napas dalam-dalam. Ia tidak tahu harus merasa senang mendapatkan ucapan selamat malam, atau tetap kesal dengan semua sikap Iron yang mengesalkan tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN