Selepas meneguk separuh s**u hangat, Nayla meletakkan gelas ke atas baki. Pandangannya tertambat kepada sebuah buku kumpulan cerpen karya seorang penulis terkenal di negeri ini. Ia pernah membaca buku itu dulu ketika masih SMA. Buku adalah itu satu-satunya prosa fiksi yang ia baca. Ia memang kurang menyukai cerpen dan novel. Ia lebih menikmati karya puisi.
Sebuah pertanyaan mendarat di benak Nayla, apakah itu sebuah kebetulan atau memang Iron sudah tahu kalau ia pernah membaca buku itu?
"Sepertinya Iron memang tahu," ucapnya pada diri sendiri.
Iron mengetahui banyak hal tentang diri Nayla. Itu alasan yang membuat Nayla menduga kalau Iron sengaja memilihkan buku itu untuknya. Hanya saja sekarang timbul pertanyaan baru dalam hatinya, apa maksud lelaki itu?
Tidak mau berspekulasi lebih jauh, Nayla mengambil buku itu. Baru membuka sampulnya, ia dibuat kaget karena mendapati sebuah lipatan kertas di dalam buku tersebut.
Sekarang Nayla mendapatkan jawaban atas pertanyaan dalam hatinya tadi: Iron menggunakan buku itu sebagai media untuk mengirimkan sebuah pesan, lebih tepatnya surat.
Dengan perasaan membuncah, Nayla mengambil kertas tersebut dan meletakkan buku ke atas baki.
Nayla membuka lipatan kertas. Dengan perasaan dag dig dug, ia membacanya:
Teruntuk Nayla.
Sebelum pena ini berkelana terlalu jauh, izinkan aku memohon maaf kepadamu atas kebodohanku tadi. Seandainya kamu belum bisa memaafkan, aku bisa menerimanya karena sejujurnya aku pun sulit untuk memaafkan diriku sendiri. Namun, ada secercah asa dalam hatiku mengingat kamu adalah seorang pemaaf.
Nayla, jika kamu masih sudi membaca surat ini sampai akhir, izinkan aku untuk menjelaskan duduk permasalahannya, kenapa aku bisa melakukan hal bodoh tadi. Namun jika kamu tidak berkenan meneruskan kalimat ini, maka aku ikhlas. Itu hakmu dan aku wajib memahamimu.
Semua yang kukatakan kepadamu tadi adalah sebuah kebenaran, kecuali pengakuanku bahwa semua itu hanya bercanda. Aku memang tidak bisa tidur karena senyummu mondar-mandir di mataku, bahkan ketika aku terpejam. Selama menjadi manusia, itu pertama kali aku merasakan kegelisahan yang teramat sangat. Hatiku berbisik, aku sudah jatuh hati padamu, namun telingaku pura-pura tuli. Beruntung otakku cukup bijak untuk membujuk diri ini agar segera mengungkapkan perasaanku padamu.
Maka, kukumpulkan semua keberanian yang kupunya untuk menemuimu. Kuketuk pintu kamarmu, berharap kamu akan membuka hati untukku. Sayangnya lidah ini tidak pernah sekolah, sehingga tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan perasaan secara puitis. Kata-kata itu mengalir tanpa kendali. Dalam keadaan panik, akhirnya aku membuat sebuah kesalahan paling fatal sejak Adam dan Hawa memakan buah khuldi yang mengakibatkan keduanya tergelincir ke bumi.
Seharusnya aku tidak mengatakan bahwa semua itu hanya bercanda. Seharusnya dengan tegas aku katakan bahwa aku mencintaimu. Namun semua itu sudah terjadi. Aku hanya bisa menyesali kebodohan sendiri.
Aku mungkin bodoh dalam segala hal, tapi kamu harus tahu aku cukup pandai dalam memilih perempuan yang terbaik buatku, yaitu kamu. Maukah kamu menjadi bodoh dengan menerima cintaku?
Dari lelaki pintar.
Baeni Khaeroni.
Melambung angan Nayla selama membaca surat itu. Serasa kakinya tidak memijak bumi. Perasaannya melayang-layang dan ia menikmatinya. Ternyata lelaki yang ia sukai memiliki perasaan yang sama.
Nayla memejamkan mata. Dalam kegelapan, satu per satu momen bersama Iron berdesakan dalam ingatannya. Ia masih ingat ketika pertama kali melihat wajah tampan itu di depan pintu sel tahanan polisi. Ia begitu tersihir dengan kharismanya sehingga tidak begitu peduli meskipun sikap lelaki itu menyebalkan. Ia juga masih mengingat dengan jelas, aroma mint di leher lelaki itu ketika tanpa sengaja dirinya berada dalam dekapan lelaki itu di rumah sakit. Ia bahkan masih mengingat semua kenangan bersama lelaki itu dengan baik. Semua itu membuatnya tanpa sadar tersenyum-senyum sendiri.
Nayla mencium kertas tersebut, seolah surat itu adalah Iron. Masih dikuasai perasaan berbunga-bunga, ia mendekap surat itu erat-erat.
Nayla terkesiap ketika ponselnya berdering. Diliriknya layar, ternyata Iron yang memanggilnya. Hatinya semakin berbunga-bunga. Ia menebak lelaki itu akan menanyakan perihal surat itu. Dengan tangan gemetar ia meraih ponsel dan menjawab panggilan telepon tersebut.
"Nayla, kamu sudah tidur?" tanya Iron dengan nada sedikit bergetar.
"Kalau sudah tidur mana mungkin aku menjawab panggilan teleponmu." Nayla tersenyum-senyum sendiri.
"Aku menunggumu di depan pintu."
Nayla merasa senang karena menduga Iron akan membahas soal surat. Namun ia ia harus memastikannya dahulu. "Ada apa?"
"Nanti kujelaskan."
"Oke."
Nayla merapikan baju tidurnya. Sambil berjalan ke pintu ia menyisir rambut menggunakan jari-jari tangan.
Nayla membuka pintu kamar. Ia melihat Iron berdiri masih mengenakan singlet dan celana pendek.
"Kita ke ruang keluarga sekarang!" pinta Iron.
Melihat wajah tegang Iron, Nayla menduga ada hal penting yang ingin disampaikan lelaki itu. Oleh karena itu ia segera mengikuti langkah Iron menuju ruang keluarga.
Muna sudah lebih dulu duduk di sofa ruang keluarga. Matanya merah, tampak sekali baru bangun tidur. Nayla duduk di sebelah asistennya itu.
Iron meletakkan selembar kertas ke atas meja, kemudian duduk. Wajah tegangnya semakin jelas.
"Maaf, Nona Nayla, dengan kewenangan yang diberikan Ibu Nasima, saya terpaksa harus mengadakan pertemuan ini. Malam ini juga kita harus memutuskan sesuatu." Muna membetulkan posisi kacamatanya.
"Ada apa, Muna?" Nayla penasaran sekaligus cemas.
Muna menjawab. "Beberapa menit yang lalu Pak Arhan menelepon saya. Beliau meminta disambungkan dengan walikota. Saya bisa mendengar percakapan itu."
"Kamu mendengarkan semua?" Nayla heran.
"Saya diberi wewenang untuk mendengarkan dan merekam percakapan itu, Nona," jawab Muna.
Nayla mengangguk mengerti. "Oke, lanjutakan!"
"Substansi dari percakapan itu adalah Pak Arhan memberikan dua informasi penting. Pertama beliau memberitahukan bahwa bertambah dua orang lagi yang menolak menjual tanahnya. Kedua beliau mengabarkan perkembangan negosiasi dengan keluarga Babah Lee."
"Siapa Babah Lee?" tanya Nayla.
"Babah Lee adalah pemilik tanah yang lahannya dijadikan opsi kedua sebagai lokasi pembangunan stadion baru." Muna menjelaskan.
Nayla mengangguk. "Soal opsi lokasi lain saya memang tahu."
"Saya lanjutkan ya?" pinta Muna.
Nayla dan Iron mengangguk, hampir bersamaan.
"Pak Arhan memberi tahu bahwa dari pihak keluarga Babah Lee sudah menyepakati harga dan kapan saja siap menjual tanahnya. Hanya saja mereka ingin bertemu langsung dengan ibu walikota." Muna menyiratkan wajah bingung. "Pihak keluarga Babah Lee hanya ingin kepastian saja, tidak ada maksud lain."
Iron bertanya kepada Muna. "Lalu apa respon ibu?"
"Ibu belum bersikap. Beliau meminta Pak Arhan untuk menunggu sampai besok pagi," jelas Muna. "Setelah itu, ibu menyuruh saya untuk melakukan pertemuan ini."
"Ibu tidak ikut pertemuan ini?" tanya Iron. "Kan bisa pakai aplikasi meeting!"
Muna menatap Iron dengan sorot penyesalan. "Dokter tidak mengizinkan beliau berkomunikasi dengan orang lain pada jam segini."
"Kenapa aku diajak meeting? Bukankah ini urusan pemerintahan?" tanya Nayla.
Muna tersenyum kaku. "Maaf, Nona, pertemuan antara pihak keluarga Babah Lee dengan walikota adalah sebuah keharusan. Sementara nona tahu sendiri, situasinya tidak memungkinkan."
Nayla menangkap maksud Muna. "Iya, saya siap berperan sebagai walikota. Jadi kapan saya harus menemui keluarga Babah Lee?"
Sebelum Muna menjawab, Iron lebih dulu angkat bicara. "Nay, pertemuan dengan Babah Lee itu seseuatu yang mudah. Mereka hanya mendengar ingin keputusan verbal dari walikota. Yang menjadi masalah adalah bagaimana caranya agar Pak Arhan tidak ikut pertemuan itu."
"Kenapa?" tanya Nayla.
Iron melirik Muna.
Muna bantu menjawab. "Pak Arhan sudah sangat mengenal sosok Ibu Nasima. Kalau Nona Nayla menemui beliau sebagai walikota, kemungkinan besar, beliau akan tahu."
"Akan tahu kalau aku bukan Nasima?" tebak Nayla.
Muna mengangguk. "Benar, Nona."
"Kalau begitu jangan libatkan Pak Arhan dalam pertemuan walikota dengan keluarga Babah Lee," saran Nayla.
"Itu juga tidak mungkin!" ujar Iron. "Pak Arhan harus terlibat dalam pertemuan itu."
Nayla mengatupkan bibir. Ia menjadi pusing.