Jadi apa yang harus kita lakukan?" Nayla menatap Muna dan Iron secara bergantian.
Muna melirik Iron. Meskipun ia banyak mengetahui persoalan yang dihadapi walikota, namun pada situasi genting seperti kali ini dibutuhkan ide cemerlang. Itu domain Iron.
Iron menunduk cukup dalam. Ia memeras otak. Walikota dalam keadaan tidak bisa dihubungi. Muna yang mendapatkan kewenangan untuk mengambil keputusan darurat justru menyandarkan semua kepadanya. Sementara malam ini juga ia dan Muna harus melakukan sesuatu yang sangat krusial.
Ini adalah situasi paling berat yang harus Iron hadapi. Biasanya yang ia hadapi hanyalah sebatas persoalan teknis yang sesuai dengan kapabilitasnya. Sementara malam ini ia harus memberikan solusi yang bersifat kebijakan untuk dimintakan persetujuan kepada Muna atas nama walikota.
Suasana ruang keluarga menjadi hening. Iron masih berpikir keras sambil menundukkan kepala. Di kanan kirinya, Muna dan Nayla menunggu sambil menahan kantuk dalam suasana menegangkan.
"Apa yang harus kita lakukan?" Nayla semakin tegang.
Iron mengangkat dagu. Ditatapnya Nayla lekat-lekat. "Aku punya ide tapi tidak tega mengatakannya."
"Katakan saja!" desak Nayla.
Muna mengangguk, sepakat dengan Nayla.
Iron menggeleng. "Tapi sebaiknya kita cari cara lain saja!"
"Katakan saja dulu ide yang sudah kamu dapat!" Nayla menjadi tidak sabar.
Iron menggeleng. "Ibu tidak akan setuju dengah ideku ini jika beliau ada di sini."
Nayla mendengus. "Kalau ada Nasima, aku dan Muna tidak akan memintamu berpikir seberat itu!"
Muna angkat bicara. Ia menoleh kepada Nayla. "Nona Nayla, saya memahami, ini sangat berat buat Pak Baeni."
"Ini sangat berat buatmu, Muna!" sanggah Iron. "Aku hanya memikirkan solusi. Kamulah yang diberi wewenang untuk memutuskannya."
Muna mengangguk. "Iya saya tahu itu. Namun ibu memberikan saya wewenang karena mempertimbangkan ada Pak Baeni yang akan selalu mem-back-up saya."
Iron mengusap wajah menggunakan kedua telapak tangan. "Waktu kita tinggal beberapa jam lagi. Besok pagi kita harus memberi perintah kepada Pak Arhan."
Muna melirik Muna. "Kamu punya ide?"
Muna mendesah perlahan. "Saya hanya berani bermain aman."
Iron menoleh kepada Muna. "Katakan saja!"
Muna merapatkan sweternya. Ditariknya napas dalam-dalam. "Kita tunggu sampai ibu walikota bisa berkomunikasi dengan Pak Arhan."
"Tapi Nasima sudah tidak bisa diajak berkomunikasi." Nayla mengingatkan. "Tim dokter pasti sudah menyuruhnya beristirahat total."
Muna mengangguk. "Benar, tapi kita masih punya harapan bisa berkomunikasi dengan walikota."
"Bagaimana caranya?" tanya Nayla.
"Kita menghubungi walikota secara sembunyi-sembunyi. Jangan sampai tim dokter mengetahuinya." Muna menatap Iron dan Nayla, meminta pertimbangan.
Iron mengerjap. "Kamu akan menelepon asisten ibu dan meminta agar meneruskannya kepada walikota?"
Muna mengangguk. "Kita harus mencobanya dulu. Tim dokter tidak akan mengawasi ibu seperti seorang polisi yang mengawasi tahanan."
Iron mengangguk. "Meskipun aku pesimis, tapi tidak ada salahnya dicoba."
Nayla diam. Meskipun berharap cara itu akan berhasil tapi sebenarnya ia sangat yakin itu akan gagal. Nasima sudah pernah memberitahunya bahwa menjelang pelaksanaan operasi, saudara kembarnya itu akan dijauhkan dari alat komunikasi. Tim dokter paham benar siapa Nasima yang tidak akan bisa menjauhkan diri dari tugasnya.
"Saya coba dulu ya?" Muna meminta pertimbangan Iron dan Nayla.
Iron mengangguk. "Cobalah!"
"Terima kasih, Pak." Selepas mengatakan itu kepada Iron, Muna menoleh kepada Nayla. "Bagaimana menurut Anda, Nona?"
Nayla menatap Muna. "Silakan lakukan yang menurutmu terbaik, Muna. Saya doakan itu akan berhasil.
"Terima kasih, Nona Nayla," ucap Muna. "Sekarang di sana sudah pukul setengah dua belas malam."
Muna menelepon salah atu asisten pribadi Nasima yang berada di Singapura. Panggilannya berdering tapi belum terjawab. Ia melakukannya sampai tiga kali tapi hasilnya sama saja.
"Gimana?" Nayla menatap Muna. Ia berharap-harap cemas.
"Belum dijawab," jawab Muna. "Saya akan menelepon asisten satunya lagi."
"Semangat, Muna!" Nayla menyemangati.
"Terima kasih, Nona." Muna menelepon asisten Nasima yang lain.
Seperti kepada asisten yang pertama, panggilan telepon Muna kepada asisten yang kedua juga tidak terjawab meskipun nadanya berdering.
"Sama saja," keluh Muna.
"Coba dengan pesan teks!" Iron memberi alternatif.
Muna mengangguk. Ia mengirimkan pesan kepada kedua asisten pribadi Nasima agar mau menyampaikannya kepada walikota. Pesan tersebut terbaca tapi sampai dua menit tidak membalasnya.
"Belum dibaca?" tanya Nayla cemas.
"Sudah, tapi belum dijawab," beritahu Muna.
"Aku yakin para asisten itu sudah dikondisikan tim dokter agar menjauhkan ibu dari alat komunikasi," ujar Iron curiga.
"Kenapa?" gugat Nayla kesal. "Bukankah sudah menjadi hal wajar kalau seorang walikota harus memiliki akses kepada orang-orang yang terkait dengan pemerintahan?"
Iron memberi pemahaman agar Nayla tenang. "Tim dokter pasti berpikir bahwa meskipun walikota sedang beristirahat total tapi masih ada pejabat lain yang bisa menggantikannya. Itulah kenapa istirahat ibu menjadi prioritas bagi mereka."
"Benar, Pak Baeni," timpal Muna. "Tim dokter tidak tahu ada hal-hal politis yang bisa saja terjadi dan itu tidak bisa diambil alih oleh wakil walikota atau pejabat berwenang lainnya."
Meskipun bisa memahami penjelasan Iron dan Muna, tapi Nayla tetap kesal. Ia memilih diam agar emosinya tidak terpancing.
"Sejak awal sebenarnya saya sudah menduga, ibu walikota memberikan wewenang kepada saya itu karena beliau tahu tidak bisa lagi berkomunikasi dengan dunia luar sampai operasinya selesai," ujar Muna.
"Sekarang kita harus memikirkan cara lain," sarsn Iron. Ia menatap Muna. "Kamulah yang memutuskannya!"
Muna menarik napas dalam-dalam. "Pak Arhan tidak tahu ibu sedang menjalani operasi di Singapura. Beliau sangat berharap ibu akan bersedia bertemu dengan pihak keluarga Babah Lee. Itu sangat krusial. Meskipun tanah itu hanya opsi, tapi melihat situasi sekarang ini, bisa jadi tanah itu akan menjadi opsi penting."
"Seandainya Nayla menggantikan peran Nasima, keluarga Babah Lee memang tidak akan bisa menyadari kalau walikota yang ia temui bukanlah Nasima. Namun Pak Arhan pasti akan tahu. Jadi kuncinya sekarang ada di dua orang," ujar Iron.
Dahi Nayla berkerut. "Dua orang?"
"Iya," sahut Iron. "Dua orang itu adalah kamu dan Pak Arhan."
"Aku siap!" ucap Nayla mantap. "Sekarang tinggal kita pikirkan bagaimana caranya agar Pak Arhan bisa memahami misi kita."
"Maksud nona kita akan berterus terang kepada Pak Arhan?" Muna memastikan.
"Iya," jawab Nayla. "Aku pikir kita tidak punya banyak waktu untuk memikirkan cara lain selain melibatkan beliau dalam misi ini."
Muna menatap Nayla dengan sorot keberatan. "Ibu walikota tidak akan menyetujui jika kita melibatkan para pejabat."
"Kenapa?" tanya Nayla.
"Ibu walikota tidak mau mengambil resiko sekecil apa pun," jawab Muna.
"Apa Pak Arhan tidak bisa dipercaya?" tanya Nayla.
Iron bantu menjawab. "Ini bukan soal percaya atau tidak, Nayla. Ini tentang meminimalisasi resiko."
Nayla mematung. Ia bisa memahami penjelasan Iron. Hanya saja ia berpikir melibatkan satu orang terpercaya tidak akan berbahaya. Apalagi ini berkaitan dengan tugas Pak Arhan.
"Pak Arhan adalah pejabat jujur dan berdedikasi tinggi," beritahu Iron kepada Nayla. "Beliau sangat menentang praktik kecurangan. Meskipun beliau tidak akan memberitahukan misi kita kepada pihak lain, tapi beliau pasti tidak akan setuju jika kita melibatkan beliau dalam misi kita."
Muna menimpali. "Pak Arhan tidak akan ragu untuk mengundurkan diri dari jabatannya jika beliau tidak bisa menghentikan praktik kecurangan di depan matanya. Jika dilibatkan dalam misi ini, saya yakin beliau akan menolak. Bahkan jika itu yang meminta adalah walikota sekalipun."
"Luar biasa!" puji Nayla.
Iron menambahkan. "Begitu jujurnya Pak Arhan, sampai kekayaan beliau kalah jauh dengan anak buahnya. Jika mau, beliau sudah menjadi sekretaris daerah sejak dulu. Tapi beliau memilih berkarir secara jujur dan menghindari KKN."
Nayla tidak tahu harus senang karena masih ada pejabat seperti Arhan ataukah bersedih karena belum menemukan cara untuk menyikapi situasi yang sedang berkembang.
Nayla melirik Iron. "Sebenarnya ide apa yang ingin kamu sampaikan tadi tapi tidak jadi?"
Iron terdiam sejenak. Sejurus kemudian ia menatap Nayla dan Muna bergantian. "Kalau berjumpa langsung dengan Nayla, Pak Arhan akan sadar kalau yang ada di hadapannya bukan Nasima. Itu akan mengacaukan situasi. Bisa-bisa misi kita gagal. Oleh karena itu sebaiknya kita adakan pertemuan antara keluarga Babah Lee, Pak Arhan, dan walikota yang diperankan Nayla secara online saja. Kita bisa beralasan walikota sedang sakit. Aku optimis itu akan berhasil."
Muna berpikir, mempertimbangkan ide yang disampaikan Iron.
"Memangnya kalau secara online, Pak Arhan tidak akan tahu kalau walikotanya palsu?" tanya Nayla.
"Nanti kamu hanya bicara seperlunya saja dan setelah itu kita atur sedemikian rupa agar seolah sinyal jelek yang membuat walikota terpaksa harus mengakhiri meeting." Iron menjelaskan idenya. "Atau dengan cara yang sedikit lebih dramatis. Walikota pura-pura sakit atau mengalami sesuatu yang membuatnya terpaksa meninggalkan meeting."
Muna mengerjap, merasa sedikit keberatan. "Jika begitu, ada kemungkinan nanti Pak Arhan atau keluarga Babah Lee minta diadakan meeting ulangan."
"Tidak masalah!" tukas Iron. "Paling tidak kita bisa mengulur waktu sampai walikota yang sesungguhnya siap."
Muna mengatupkan bibir. Badannya sudah cukup lelah. Pikirannya juga sudah tidak bisa berpikir secara maksimal. Itu membuatnya sulit mencari ide lain. "Aku rasa itu cukup aman."
"Jadi kamu setuju menggunakan cara itu?" Iron memastikan.
"Iya," jawab Muna. Ia menoleh kepada Nayla. "Bagaimana menurut Anda, Nona Nayla?"
Nayla tersenyum sepakat. "Itu kewenanganmu untuk mengambil keputusan, Muna. Jika kamu oke, maka aku akan menyiapkan diri untuk menjalankan peranku."
Muna balas tersenyum. "Terima kasih, Nona Nayla. Kemungkinan besar meeting akan diadakan paling lambat sebelum jam satu siang. Saya akan koordinasikan dulu dengan Pak Arhan mengenai meeting tersebut."
Iron menari napas lega karena meskipun ia merasa cara itu bukan yang terbaik tapi paling tidak bisa mengulur waktu sampai Nasima bisa dihubungi.
Tanpa Iron sadari, Nayla mencuri pandang ke arahnya.
"Ada yang ingin ditanyakan?" Muna menatap Nayla dan Iron bergantian.
Nayla menggeleng. "Aku rasa semua cukup jelas."
Iron menimpali sambil melirik Nayla. "Iya, aku merasa lega sekarang karena sudah menjelaskannya."
Sontak pipi Nayla merona merah. Ia yakin ucapan Iron tadi ditujukan kepadanya.
"Baik, kalau begitu rapat berakhir. Terima kasih, Pak Baeni dan Nona Nayla. Selamat malam semuanya." Muna tersenyum kepada Iron dan Nayla.
"Selamat malam, Muna!" balas Nayla.
Muna berdiri. Ia mengangguk kepada Iron dan Nayla, sebelum akhirnya meninggalkan ruang keluarga.
Iron melirik Nayla.
Nayla menunduk, pura-pura tidak menyadari sedang dilirik.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Iron meninggalkan ruang tengah.
Nayla bengong. Ia memandang punggung Iron yang bergerak semakin menjauh sambil menahan kesal. "Oh Tuhan, belum jadi pacarnya saja sudah dibikin kesal begini," keluhnya lirih.