Tidak terasa lima bulan di tahun 2017 sudah terlewati dengan segala suka duka yang menyertainya. Memasuki bulan Juni hati Naya mulai merasa tidak tenang. Karena pada bulan itu akan dilaksanakan Ujian Nasional. Ujian yang akan menentukan lulus atau tidaknya dia dari Sekolah Menengah Atas ( SMA ).
Materi ujian sudah dia pelajari dengan sungguh-sungguh dari bulan-bulan sebelumnya. Bahkan tiga bulan sebelum Ujian Nasionla dilaksanakan, sekolah Naya melaksanakan program tambahan jam pelajaran. Setiap hari Naya dan teman-temannya harus pulang menjelang maghrib, karena mengejar materi yang akan diujikan pada saat Ujian Nasional.
Capek, pusing, takut, ragu, bimbang, pasti dirasakan oleh Naya di bulan-bulan menjelang dilaksanakannya Ujian nasional. Tapi dia tidak bisa menyerah begitu saja, dia harus berjuang untuk memperjuangkan masa depannya dan membahagiakan kedua orang tuanya.
Tanggal 11 Juni 2017 adalah satu hari menjelang dilaksanakannya Ujian Nasional. Ujian Nasional itu akan dilaksanakan selama tiga hari yaitu tanggal 12, 13, dan 14 Juni 2017.
Hari itu dimanfaatkan Naya untuk belajar dengan sungguh-sungguh, berlatih mengerjakan soal, dan memahami materi yang belum dia kuasai. Naya merasa sangat nervous, saat belajar pun dia tidak bisa tenang dan tidak bisa fokus untuk mempelajari materi. Hingga suara ketukan pintu kamarnya mengagetkan Naya.
“Naya,” teriak ibunya dari luar kamar Naya.
“Iya, Mah, masuk aja,” sahut Naya.
“Eh, kamu belum tidur, Nak,” tanya Rosalinda.
“Belum, Mah, Naya masih belajar buat ujian besok,” jawab Naya dengan raut wajah lelah.
“Ini, mamah bawain teh hangat buat kamu, diminum ya biar nggak tegang,” Rosalinda sangat mengetahui keadaan anaknya, dia berusaha untuk menenangkan anaknya agar kegelisahan bisa hilang dari diri Naya, sehingga dia bisa fokus untuk belajar.
“Iya, Mah, makasih,” jawabnya, sambil memberikan senyum manis kepada Rosalinda.
“Ya udah, mamah keluar dulu, ya, kalau udah capek istirahat, jangan terlalu dipaksa, biar besok bisa fokus ngerjain ujiannya,” ucap Rosalinda kepada Naya.
“Iya, Mah.”
Saat jam menunjukkan pukul 22.00 WIB Naya menyudahi belajarnya. Dia pegi ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan kemudian beranjak untuk tidur.
Keesokan harinya, 12 Juni 2017 adalah hari saat Naya akan melaksanakan Ujian Naional. Hari itu Naya bangun lebih pagi. Sebelum adzan subuh berkumandang dia sudah bangun dan sudah berkutik dengan buku latihan soalnya.
Dan saat adzan subuh berkumandang dia bergegas untuk mengambil wudhu dan kemudian melaksanakan salat subuh. Setelah itu, karena dirasa masih ada waktu, dia kembali berkutik dengan buku latihan soalnya.
Ketika jam di ponselnya menunjukkan pukul 05.30 WIB, Naya menyudahi belajarnya dan bersiap-siap untuk mandi.
Hari itu Naya sudah jauh lebih tenang dari semalam, ketakutan dan kegelisahan pada dirinya sudah berhasil dia atasi. Naya sudah siap untuk melaksanakan Ujian Nasional, berbagai usaha sudah dia lakukan, materi pelajaran sudah dia pelajari semuanya. Hari itu dia hanya perlu mengerjakan soal Ujian Nasional dengan sungguh-sungguh, dan menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Tuhan. Naya percaya apapun hasil yang nantinya dia dapatkan tidak akan pernah menghianati usaha yang sudah dia lakukan.
Setelah selesai bersiap-siap, dan memastikan semua buku dan kartu ujian sudah dia masukkan ke dalam tas, Naya langsung turun menuju meja makan.
“Pagi, Mah, Pah, Sha,” sapa Naya kepada orang tua dan adiknya.
“Pagi, Sayang,” sahut Adrian dan Rosalinda.
“Pagi, Kak,” sahut Resha.
“Sini sarapan dulu, biar makin semangat ngerjain ujiannya,” perinta Rosalinda kepada Naya.
Mereka sarapan sambil sesekali memberikan semangat kepada Naya agar tidak nervous saat melaksanakan ujian.
Selesai sarapan, Naya berangkat ke sekolah bersama dengan Adrian. Mereka hanya berangkat berdua karena hari itu kelas 1, dan 2 belajar di rumah, Karen dikhawatirkan akan mengganggu siswa kelas 3 yang akan melaksanakan ujian.
“Mah, Naya berangkat dulu, ya, doain semoga ujiannya lancar,” ucap Naya saat berpamitan dan meminta doa kepada orang tuanya.
“Iya, mamah selalu doain yang terbaik buat kamu, Nak,” sahut ibunya.
Naya pun berangkat ke sekolah dengan penuh rasa semangat.
Sesampainya di sekolah Naya langsung menuju ke ruang ujian. Di sana sudah ada teman-teman Naya yang sedang duduk di luar ruangan sambil menunggu waktu ujian dimulai.
Lima belas menit Naya menunggu di luar ruangan, akhirnya bel tanda masuk berbunyi. Pengawas pun mulai menuju ruang ujian dan membuka ruang kelas tersebut.
Para siswa masuk ke ruang ujian dengan muka tegang. Begitu pun dengan Naya, saat di rumah dia masih bisa mengendalikan ketegangannya, tapi saat dia mulai memasuki ruangan dan soal ujian sudah mulai dibagian seketika ketegangan dan kecemasan menyelimuti dirinya.
Tetapi Naya berusaha untuk mengendalikan itu semua dan fokus untuk mengerjakan soal.
Dua jam waktu ujian berlalu dengan begitu saja, hingga tak terasa waktu ujian tersisa 5 menit lagi.
Naya merasa sangat gugup karena masih ada satu soal yang belum dia kerjakan karena menurut dia itu adalah soal yang sulit. Dan di detik-detik terakhir waktu ujian, Naya menjawab asal soal ujian itu.
Setelah semua soal dikerjakan dan waktu ujian juga sudah habis Naya dan teman-temannya menyerahkan lembar ujian ke pengawas dan kemudian bergegas untuk keluar ruangan.
“Aduh, gila sih, waktu 2 jam rasanya cepat banget,” gerutu Cika saat sudah keluar dari ruangan.
“Iya, sih, gila, soalnya panjang-panjang banget lagi, males banget bacanya nggak sih,” sahut Dea salah satu teman kelas Cika dan Naya.
“Emang ,iya, aku aja tadi waktu kurang 5 menit masih ada yang belum dikerjain,” sahut Naya.
“Aduh, mantap banget sih emang soalnya. Udah deh kita pulang aja yuk capek,” ajak Cika kepada Dea dan Naya.
“Yuk,” sahut Dea dan Naya bersamaan.
Sesampainya di rumah Naya langsung menuju ke kamarnya untuk beristirahat, ujian hari pertamanya benar-benar membuat dia merasa capek dan tertekan.
Di hari kedua Ujian Nasional berlangsung, Naya sudah sedikit lebih tenang. Hari kedua, Naya melaksanakan ujian Matematika. Bagi sebagian orang pelajaran matematika adalah pelajaran yang paling tidak disukai karena susah dan rumit. Tapi bagi Naya ujian Matematika adalah salah satu ujian yang dia sukai, karena menurut dia matematika adalah pelajaran yang cukup menantang.
Dan ujian matematika hari kedua pun berlangsung dengan lancar.
Di hari ketiga Naya melaksanakan ujian Bahasa Inggris, mata pelajaran yang bagi dia cukup sulit untuk dipelajari. Tapi dia bisa mengerjakannnya dengan baik.
Saat waktu ujian kurang 10 menit Naya sudah berhasil, menyelesaikan 50 soal Bahasa Inggris itu. Walaupun sebenarnya ada sedikit keraguan di hatinya atas jawaban-jawaban yang sudah dia tulis di lembar jawabnya.
Ketika waktu ujian kurang 3 menit, Naya dan teman-teman yang lainnya menyerahkan lembar jawab itu kepada pengawas. Mereka keluar dari ruang ujian dengan wajah sumringan dan perasaan yang lega.
“Yeaayyyyy, akhirnya selesai juga,” teriak Dino, teman kelas Naya.
“Yuhuuu, selesai dong,” timpal teman lainnya.
“Lega deh rasanya, “ ucap Cika.
“Iya, nih Alhamdulillah, ahhh seneng banget deh akhirnya selesai juga,” sahut Naya.
“Ya udah kita ke kantin aja yuk, makan, laper nih,” ajak Cika kepada naya dan teman lainnya.
“Ayo,” sahut teman-teman lain dengan penuh semangat.
Naya dan teman-temannya merasa sangat lega karena sudah berhasil melaksanakan Ujian Nasional itu. Kebahagiaan terpancar dari muka Naya dan teman-temannya. Sudah berbulan-bulan mereka terus-terusan belajar untuk mendapatkan nilai yang bagus saat Ujian Nasional. Dan hari itu mereka berhasil menyelesaikan soal Ujian Nasional dengan baik. Sekarang mereka tinggal menunggu hasil dari kerja keras yang selama ini mereka lakukan.