SORENESS 04

2142 Kata
Hari resepsi Anya telah tiba, seperti yang Hazel janjikan, ia akan datang bersama Harith. Demam Harith juga sudah membaik, hari ini Hazel tidak pergi ke toko karena ia ingin menyimpan tenaga untuk nanti malam. Karena jika hari ini pergi bekerja maka ia akan menyibukkan diri sampai lelah. Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, namun Regha belum juga pulang. Ini memang bukan yang pertama kalinya Regha tidak pulang, jadi Hazel tidak terlalu memikirkannya. Hazel memilih bermain bersama Harith di ruang tengah, bayinya ini sangat menggemaskan dan pintar. Harith tidak rewel sama sekali, kecuali jika bayi itu sedang sakit. BRAKK!! Pintu utama dibuka lalu dibanting dengan keras, suara itu mengagetkan Harith sampai bayi itu menangis. Hazel melihat Regha yang memasuki ruang tengah dengan wajahnya yang memerah dan pakaiannya yang kusut. "Kak, kenapa pintunya dibanting? Dedek kaget" ucap Hazel. Ia menepuk-nepuk punggung Harith agar anaknya itu tenang. "Berisik! Diemin anak sialan lo itu" ucap Regha. Hazel tidak pernah merasa sesakit ini dengan ucapan Regha, ia tidak pernah sesesak ini. Napasnya seperti berhenti di tenggorokan, air matanya mengalir tanpa diduga. 'Anak sialan' dua kata yang sangat Hazel benci sampai mati. Ia bisa menahan diri ketika Eyang mengatakan itu, namun ini Regha? Mengatakan kata sialan itu untuk anaknya sendiri. Regha juga sadar apa yang ia katakan sangat tidak pantas, ia menatap Hazel yang menangis dalam diam sembari menatapnya juga. "Maaf, aku gak bermaksud-" “Kamu boleh hina aku, kamu boleh benci aku, tapi aku engga terima kamu menghina anak aku. Aku ngerti kamu pasti tersiksa dengan pernikahan ini, tapi aku mohon.. tolong jangan benci Harith, dia gak salah apa-apa. Dia anak kamu walaupun kamu engga mau mengakui! Aku mohon sama kamu, jangan panggil anak aku dengan sebutan sialan lagi!” Regha melihat sorotan mata itu sangat terluka, suaranya bahkan bergetar. “Maaf, aku-“ Hazel berlalu pergi tidak mau mendengarkan apa yang ingin Regha katakan. Regha membanting dirinya ke atas sofa, memijit pangkal hidungnya. Hari ini benar-benar hari yang sial untuknya. . . Beberapa jam yang lalu, di perusahaan J&Dcorp. Setelah hampir satu jam akhirnya Regha sampai di sebuah perusahaan yang sedang ia targetkan untuk bekerja sama. Regha berjalan cepat menuju ruang meeting karena ia sudah terlambat sepuluh menit, sesampainya di ruangan itu ia melihat wajah yang sangat ia kenali dan sudah lama tidak ia lihat, pesaingnya yang akan merebut kontrak kerja sama ini. Pria itu adalah Hafian Kalendra Yudhistira dan seorang wanita, Regha tebak bahwa itu adalah Sekretarisnya. Regha menarik kursi di sebelah Natha yang sudah tiba lebih dulu, beruntung karena pemimpin perusahaan ini belum berada di ruang meeting. Regha dan Natha tampak cemas, berbeda dengan pesaingnya yang tampak biasa saja seakan ia akan memenangkan tender ini. "Jangan gugup, kalau udah rejeki tender ini bakalan jadi milik anda" ucap Hafian. "Lama tidak bertemu, saya penasaran hal apa yang membuat Pak Hafian kembali ke Indonesia dan berniat merebut proyek perusahaan saya" ucap Regha. Hafian terkekeh, "kedatangan saya cuma mau menghadiri pernikahan Adik. Yah.. Siapa sangka ada tawaran masuk dari perusahaan J&D corp" ucap Hezar. Regha hanya menatap tajam ke arah Hafian, namun dibalas tatapan remeh oleh Hafian. Pintu ruangan terbuka dan menampilkan Jonathan dan Sekretarisnya, mereka langsung mengambil duduk dan meeting pun dimulai. Natha yang presentasi pertama sementara Regha mengawasi, ruangan begitu hening, mereka dengan serius dan fokus mendengarkan presentasi dari pihak Regha. Hafian mengangguk-angguk mendengarkan presentasi itu, ia akui bahwa Galaxy Group memang perusahaan property terbaik di Jakarta. Namun dirinya tidak kehilangan percaya diri, pemimpin J&D corp sudah jatuh hati pada rencana proyek yang Hafian jelaskan. Presentasi itu selesai dan mereka yang berada di ruangan kompak bertepuk tangan, Natha kembali ke kursinya dan menghela napas lega. Ia yakin bahwa dirinya dan Regha akan berhasil memenangkan tender besar ini. Kini giliran Hafian yang maju untuk presentasi, ia menjelaskan dengan detail. Cara penjelasannya mudah dimengerti sehingga mereka yang mendengarkan tidak perlu menebak maksud dari ucapannya. Natha sempat terkesima dengan cara penjelasan Hafian, tentu saja. Hafian adalah orang hebat di negeri orang. Presentasi itupun selesai, mereka kembali bertepuk tangan. Kali ini Jonathan bertepuk tangan dengan senyum yang merekah, Hafian kembali ke tempat duduknya dengan senyum penuh kepuasaan. Lampu ruangan kembali di nyalakan, Jonathan dan Sekretarisnya tampak berdiskusi. "Konsep dari Pak Regha memang tidak pernah mengecewakan, tapi sudah banyak hotel dan apartemen mewah yang mempunyai konsep itu. Saya ingin membangun sebuah hotel yang berbeda dan unik, saya rasa konsep yang ditawarkan oleh Pak Hafian adalah yang saya butuhkan" ucap Jonathan. Wajah Regha sudah mengeras melihat senyum remeh yang tak pernah hilang dari wajah Hafian sedari tadi. "Jadi sudah saya putuskan, bahwa J&D corp akan bekerja sama dengan H&H corp, semoga kerja sama kita yang pertama akan berjalan lancar dan sukses" ucap Jonathan. "Tapi kita sudah lebih dua kali bekerja sama pak, dan Pak Jonathan selalu suka sama konsep yang perusahaan kami berikan" ucap Natha. "Karena itu saya ingin mencoba hal yang baru" ucap pria paruh baya. "Baiklah, saya menerima keputusan bapak" ucap Regha. "Selamat ya Pak Hafian dan Miss Stela" ucap Regha dan mengulurkan tangan untuk bersalaman. Hafian dan Stela membalas uluran tangan Regha dan bersalaman bergantian, mereka yang berada di ruangan itu saling berjabat tangan. Lalu Regha dan Hafian meninggalkan ruangan itu duluan. "Bagaimana rasanya kalah untuk pertama kalinya?" tanya Hafian ketika mereka berada di dalam lift. Regha tersenyum miring, "jangan merasa di atas angin dulu, kita lihat aja. Apakah kerja sama kalian akan berhasil sukses" ucap Regha, walau dirinya sendiri yakin kerja sama ini akan sangat sukses. "Bagaimana kabar Hazel?" Tanya Hafian. Regha kini bisa tersenyum mengejek Hafian. "Istri saya sangat baik" jawab Regha. Hafian hanya mengangguk. “Pasti dia makin cantik, gak sabar mau ketemu” monolog Hafian, sengaja agar Regha dengar. Pintu lift terbuka di lobby, Regha keluar duluan dengan langkah terburu-buru. Hafian tersenyum puas melihat Regha yang kesal seperti itu, selama ini dirinya memang ingin mengalahkan Regha setelah ia berhasil menjadi CEO sukses di negeri orang. Sudah lama ia menantikan ini, ia tahu bahwa Regha tidak mencintai Hazel sampai sekarang. Hafian merasa marah akan hal itu. .. Regha sampai di kantornya, ia berjalan dengan raut wajah yang menyeramkan. Bahkan para karyawannya hanya bisa menundukkan kepala tanpa berani menyapa atau menatap. Ia berjalan menuju ruangannya, Ella berdiri hendak menyapa namun ia akhirnya hanya menundukkan kepala. Regha membuka pintu dengan kasar, sebelum masuk ia berpesan pada Ella. "Suruh Natha masuk kalau dia udah datang" ucap Regha lalu ia masuk dan membanting pintu ruangannya. Ella berjengit kaget. Di dalam Regha langsung melempar jasnya ke sofa dan melonggarkan dasinya yang kini terasa mencekik dirinya. Di koridor lantai sepuluh Natha tampak berlari kecil, ia melihat raut wajah Ella yang cemas. "Pak Bos ada di dalam?" tanya Natha. Ella mengangguk, "pak Bos minta pak Natha masuk" ucap Ella. Natha hendak masuk namun ponselnya berdering, ia segera menjawab panggilan itu karena Tio yang menelpon. "Halo Pak" ucap Natha. (Bagaimana hasilnya? saya dengar kalian kalah. Apa itu benar?) tanya Tio. "Benar Pak" jawab Natha. (Saya akan ke kantor, pastikan Regha tidak pergi) ucap Tio dan panggilan itu terputus. Natha mengetuk pintu terlebih dahulu lalu ia masuk, ia melihat Regha yang tertunduk frustrasi di mejanya. "Reg, ini memang berat. Tapi kita harus menerima kekalahan" ucap Natha. Regha menggeleng, "gue gak nyangka kita kalah dari Hafian" ucap Regha. Natha mengangguk, "oh iya, bokap lo tadi nelpon gue. Beliau mau datang dan minta lo buat nunggu beliau di sini" ucap Natha. Regha hanya mengangguk. “Hafian dari dulu udah luar biasa, tapi sekarang dia jauh lebih luar biasa. Lo lihat tadi penampilan dia? Gilaaaa, cakep abiss” ucap Natha. Ia tidak berbohong atau melebih-lebihkan, Hafian memang tampak luar biasa. “Kaga usah muji-muji dia di depan gue!” Kesal Regha. Natha terkekeh, “berat nih saingan lo” “Ck, kalau dia mau ngerebut Hazel gue bakalan berterima kasih” ucap Regha. “Jangan nyesel, ye. Udah gue ingetin dua kali ni” ucap Natha. “Berisik lo, keluar deh gue mau istirahat” ucap Regha. Natha keluar dari ruangan Regha dan kembali ke mejanya, sudah ada Ella yang menatap meminta penjelasan atas kemarahan Regha. "Kita kalah sama H&H corp" ucap Natha. Ella menganga saking tidak percayanya, "pantes aja bos kelihatan marah banget" ucap Ella. Natha menghela napasnya dan mengusap wajahnya kasar. Tak lama kemudian Tio sampai di kantor, setelah hampir satu tahun ia hanya bekerja dari rumah kini ia menginjakkan lagi kakinya di perusahaan yang ia bangun dari nol. Begitu memasuki lobby ia langsung di sambut oleh para satpam dan karyawan, tanpa berlama lagi ia pun masuk ke lift menuju ruangan Regha. Sampai di lantai sepuluh ia di sambut oleh Natha dan Ella, tidak ada karyawan yang bekerja di lantai sepuluh. Hanya ada dua sekretaris Regha. Natha dan Ella sedikit membungkuk menyapa Tio. Lalu pria paruh baya itu masuk ke ruangan anaknya. Kacau! itulah pemandangan yang ia lihat ketika membuka pintu ruangan Regha, pria itu menyandar di kursi kebesarannya sembari menutup mata. "Kemana kamu semalam? Kenapa tidak pulang?" Tanya Tio. Regha membuka matanya. "Abraham menelpon Ayah, nanyain apa kamu beneran lembur di kantor. Sekarang Ayah tanya, kamu beneran lembur di sini?" Tanya Tio. "Engga" jawab Regha, mau berbohong pun percuma. Ayahnya pasti tahu kalau ia tidak lembur. "Jadi di mana kamu semalaman?" Tanya Tio. "Nginep di Kalula" jawab Regha santai. PLAK! Satu tamparan keras mendarat di pipi Regha. "Keterlaluan! Semalaman istri kamu tidak bisa tidur karena Harith demam, dan kamu enak-enakan berzina dengan wanita lain. Di mana otak kamu, Regha!" Tio sangat marah, intonasi nadanya datar dan raut wajahnya memerah. "Yah, jangan bahas ini dulu. Aku lagi pusing karena kalah tender" ucap Regha. "Inilah balasan karena kamu menyakiti istri dan anakmu. Ayah kecewa sama kamu, Regha. Ayah juga merasa malu untuk bertemu Hazel dan kedua orangtuanya" ucap Tio. “Iya! Ini memang karena Hazel, karena dia aku kehilangan tender besar ini. Ayah mau tahu siapa orang yang merebut kerja sama ini? Hafian, dia dan aku dulu satu kampus dan angkatan. Dia ngelakuin ini pasti karena aku menikah sama Hazel, dia itu suka sama Hazel” ucap Regha. “Lalu kenapa kalau dia menyukai Hazel? Ini tidak ada hubungannya sama kamu yang kehilangan tender ini, Pak Jonathan sudah memberitahu Ayah terlebih dahulu kalau dia akan memililh perusahaan asal Paris itu. Kamu pikir kenapa selama ini kamu selalu bisa bekerja sama dengan Pak Jonathan? Itu karena Ayah! Beliau tidak percaya sama kerja kamu tapi beliau percaya sama Ayah!” ucap Tio. “Regha, kalau kamu tidak cepat-cepat mengakhiri perselingkuhan kamu ini, Ayah yang akan turun tangan sendiri” ancam Tio. Regha menatap nyalang kepada sang Ayah, “Ayah ngancem aku? Apa yang mau Ayah lakuin? Menyakiti Kalula?” Tio menggeleng, “kamu pikir Ayah ini apa? Lihat saja nanti, kamu tidak perlu tahu.” “Lihat diri kamu, sungguh berantakan. Pulang sana, minta maaf sama Hazel dan juga anakmu” ucap Tio. Regha hanya diam, ia tidak punya tenaga untuk membalas perkataan Ayahnya. . . Sore harinya, Hazel bersiap-siap untuk menghadiri resepsi Anya. Harith juga sudah mandi dan didandani, bayi lima bulan itu tampak sangat tampan. Sejak kejadian siang tadi, Hazel mendiamkan Regha. Hatinya masih sakit dan sepertinya ucapa Regha tadi siang akan selalu menjadi luka untuk dirinya. Saat melewati ruang tengah, ada Regha di sana yang sedang berkutat dengan laptop. Regha menyadari bahwa Hazel dan Harith berpakaian sangat rapih. "Mau kemana kamu?" Tanya Regha. Hazel diam, ia terus berjalan sampai suara bentakkan menghentikan langkahnya. "HAZEL!" bentak Regha. Hazel meminta Wulan untuk menunggunya di mobil, setelah Wulan dan Harith pergi, Hazel barbalik menatap Regha. "Tolong jangan berteriak di depan anak aku, nanti dia nangis dan kamu bakalan terganggu" ucap Hazel. Regha menghampirinya, ia menatap Hazel dari ujung kepala sampai kaki. Sangat rapi dan cantik, walaupun hanya memakai gaun sederhana berwarna merah jambu yang menampakan lekuk tubuh Hazel. "Mau kemana? Kenapa Harith dibawa? Sebentar lagi malam" tanya Regha. "Apa peduli kamu?" Regha menghela napas, "Hazel." "Aku mau ke resepsi pernikahan temen" ucap Hazel. tersenyum mengejek, "oh, mau ketemu pria yang sangat memuja kamu itu?" "Bagus kalau kamu udah tahu" ucap Hazel dan langsung berbalik pergi. Regha menarik pergelangan tangan Hazel sampai Hazel terhuyung ke belakang. "Apaan sih!" ucap Hazel. "Aku gak izinin kamu pergi" ucap Regha. "Aku gak butuh izin dari kamu. Lepas!" Ucap Hazel. "Aku suami kamu dan aku BERHAK untuk melarang kamu pergi" ucap Regha. Harusnya Hazel senangkan mendengar ucapan Regha barusan? Tapi kenapa hatinya tidak merasakan apapun? "Kamu pernah bilang kan? Jangan campuri urusan masing-masing, di perjanjian juga tertulis kalau aku gak BERHAK untuk melarang kamu dan kamu juga gak ada hak untuk melarang aku. Ini kan yang selama ini kamu mau? Oke, aku bakalan coba jalani pernikahan kita sesuai dengan isi pra-nikah yang kita tanda tangani bersama" ucap Hazel. Regha menatap tak percaya, ternyata Hazel bisa setegas ini. Selama ini ia hanya melihat Hazel yang lembut dan selalu mengalah. Hazel menarik paksa tangannya, Regha tidak bisa menahan Hazel lagi. Benar, inilah yang dirinya inginkan? Tapi kenapa ia merasa tidak terima dengan perubahan Hazel ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN