SORENESS 05

2295 Kata
Hazel mengitari ballroom yang didekor dengan indah, tadi ia sudah mengucapkan selamat kepada Anya dan sang suami. Sekarang pasangan suami istri itu sedang berkeliling menyapa para tamu. Hazel sembari menggendong Harith pergi ke bagian belakang untuk mencari udara segar. Di dalam terlalu banyak orang dan Harith sepertinya merasa tidak nyaman. "Ajel" Hazel berbalik, jantungnya berdegub kencang saat melihat pria yang sudah tiga tahun lamanya tidak pernah ia lihat. "Mas Ian.." ucap Hazel pelan. Hafian berjalan menghampiri Hazel, "hai? Gimana kabar kamu?" Tanyanya. "Baik, Ma sendiri gimana? Udah tiga tahun.." Ucap Hazel. "Ya, tiga tahun udah berlalu dan aku masih mencintai kamu" ucap Hafian langsung ke intinya. Hazel hanya diam, seketika suasana menjadi canggung. Hazel baru tahu kalau Hafian menyukainya saat Hafian menyatakan cinta, namun ia terlalu egois. Hazel tidak ingin pertemanan mereka renggang hanya karena perasaan Hafian, maka dari itu Hazel selalu menghindari jika Hafian membicarakan perasaannya. “Maaf karena pergi dan gak pamitan sama kamu, hati aku terlalu sakit waktu denger kamu mau menikah sama Regha” ucap Hafian. Hazel senyum, ini bukanlah salah Hafian. Seharusnya pria ini tidak perlu meminta maaf, Hazel tidak berhak untuk marah hanya karena Hafian tidak berpamitan kepadanya. Hazel tahu dirinya terlalu jahat pada Hafian. “Kamu gak perlu minta maaf, Mas.. aku yang berhutang maaf sama kamu, maaf aku gak pernah bilang kalau aku menyukai orang lain. Harusnya aku bilang dari awal supaya kamu gak punya perasaan untuk aku” ucap Hazel. Hafian menggeleng, “meskipun kamu kasih tahu aku, kalau kamu suka sama orang lain, itu gak akan mengubah apapun.” “Gimana kalau kita jangan bahas masa lalu dulu? Hari ini hari bahagia untuk Anya” ucap Hazel. Hafian mengangguk, selalu begini, Hazel akan menghindari topik ini. “Kamu makin ganteng” ucap Hazel. Hafian tertawa kecil, dari dulu Hazel selalu memujinya ganteng. Dari sekian banyak wanita yang memujinya tampan, hatinya hanya berdebar saat Hazel yang memujinya. Tidak pernah berubah, bahkan sampai sekarang. “Lebih ganteng mana? Aku atau Regha?” Hazel tertawa mendengar pertanyaan yang kekanak-kanakan itu. “Anakku yang paling ganteng” ucap Hazel. Hafian tersenyum dan mengangguk setuju. Rengekan kecil nan lembut itu mengalihkan perhatian dua orang dewasa, Hafian mengelus pipi Harith dengan jari telunjuknya. "Siapa namanya?" Tanya Hafian. "Harith" jawab Hazel seadanya. "Aku boleh gendong?" Tanya Hezar, Hazel mengangguk kaku. Hafian dengan hati-hati mengambil Harith dari gendongan Hazel. Hafian mengajak Harith bermain sehingga membuat bayi itu tertawa menujukkan gusinya, Hazel merasa senang sekaligus sedih. Ia merasa sedih karena Regha tidak pernah bermain dengan Harith. Mereka mengobrol cukup lama sampai Hazel menyadari bahwa Harith terlelap. "Waduh, Harith tidur. Sini, mas.. Biar aku gendong aja" ucap Hazel. "Gak usah, gak apa-apa. Gimana kalau Harith tidur di kamarku dulu? Ntar kalau kamu mau pulang baru dijemput" ucap Hafian. "Ngerepotin" ucap Hazel. Tangan Hafian terangkat untuk mengelus rambut Hazel, namun tangan itu terhenti di udara saat menyadari wanita di depannya ini sudah berstatus istri orang. "Kayak sama siapa aja" ucap Hafian. Setelah mengantar Harith dah Wulan ke kamar. Hafian dan Hazel kembali ke aula pesta, masih terlalu dini untuk pulang, puncak pestanya pun baru akan dimulai. Mereka mengobrol sembari menikmati cemilan dan minuman yang tersedia, suasana tidak secanggung awal bertemu tadi. Mereka tertawa bersama saat menceritakan masa-masa kuliah dulu, setelah Hazel ingat-ingat.. Begitu banyak kenangan membahagiakan bersama Hafian. "Dulu kamu tuh susah banget dideketin. Aku sampai pake cara jahat buat dapetin nomer hape kamu" ucap Hafian. "Ah, Mas Ian waktu itu marahin aku di depan mahasiswa lainnya karena aku telat masuk ke barisan. Terus kamu hukum aku, nyuruh aku buat keliling gedung sambil bawa tulisan 'SAYA TIDAK DISIPLIN WAKTU' yang kamu buat. Malu banget aku dilihatin orang-orang" ucap Hazel. "Makanya jangan terlambat" ucap Hafian. "Aku cuma terlambat dua menit????" ucap Hazel. "Iya, akunya yang caper sama kamu" ucap Hafian. “Cih, kayak anak SMA aja pake caper-caper segala” ucap Hazel. Tes.. Tes.. Obrolan mereka terhenti karena suara seseorang yang sedang mengetes microphone. "Selamat malam para tamu undangan yang berbahagia.. Selamat malam juga untuk Raja dan Ratu sehari kita, di malam yang indah ini sayang banget kalau kita cuma sekedar mengobrol dan makan cemilan..” “Hem, kalau kamu udah ngomong begini pasti kamu punya ide yang menarik. Ide apa tu??” ucap MC perempuan. “Yes!! Bener banget, gimana kalau kita dansa dengan pasangan masing-masing??” “Waahhh ide bagus, tapi gimana sama undangan yang gak bawa pasangan??” ucap MC perempuan. “Tenang, ada saya. Hehehe” Para tamu undangan tertawa kecil, kini mereka fokus kepada kedua MC yang sedang berbicara. “Gimana kedua pengantin? Setuju gak kalau kita dansa bersama?” Anya dan sang suami mengangguk. “Okee, akang gendang… mainin musiknya” Lagi-lagi tamu tertawa, tidak ada akang gendang di acara ini. Ada-ada saja. Alunan musik pun dimainkan, mereka yang membawa pasangan sudah saling merangkul dan mengambil posisi untuk berdansa. Hazel yang sedari tadi hanya diam terkejut saat Hafian mengulurkan tangannya. “Mau jadi pasangan dansaku?” tanya Hafian. Hazel mengangguk dan menerima uluran tangan Hafian, karena kenapa tidak? Ia sudah mengenal Hafian dari lama dan tidak ada aturan sepasang teman tidak boleh berdansa bersama kan? Hafian membawa kedua tangan Hazel untuk mengalungi lehernya, lalu kedua tangannya merangkul pinggang Hazel. Mereka bergerak ke kanan dan ke kiri, maju lalu mundur. Mata mereka saling menatap, Hafian yang menatapnya dengan penuh cinta dan kesedihan sedangkan Hazel yang tersenyum tanpa tahu perasaan yang berkecamuk di hati Hafian. Pikiran Hazel melayang, membayangkan jika pria yang ia nikahi adalah Hafian, jika itu terjadi maka Hazel yakin ia akan menjadi wanita yang paling bahagia. Namun pikiran gila itu langsung ditepis oleh Hazel, ia tidak boleh memikirkan itu, ia sudah menikah dan ia bahagia walau belum mendapatkan cinta dari Regha. “Jel, hari ini aku ngelakuin hal yang kekanak-kanakan banget” ucap Hafian. “Kamu ngapain emangnya?” tanya Hazel. “Aku ngerebut kerjaan yang harusnya punya Regha, harusnya mereka bisa mengambil tender ini dengan mudah. Tapi aku dateng dan mengacaukannya, kamu mau tahu kenapa aku ngelakuin ini?” tanya Hafian. Hazel menggeleng sebagai jawaban. Hafian tersenyum kecil, “karena aku masih belum terima kamu menikah sama dia.” “Kerjaan ini penting?” tanya Hazel. Hafian mengangguk, “hm, ini proyek terbesar J&D corp di tahun ini.” Jujur, Hazel tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Ia tidak mengerti pekerjaan Regha maupun Hafian, tapi ia tahu bahwa Regha pasti sangat kesal kepada Hafian sehingga pria itu melampiaskan kekesalannya kepada Hazel dan juga Harith. “Pantesan dia pulang dalam keadaan kesal” ucap Hazel. “Maaf, dia pasti lampiasin ke kamu ya?” Hazel menggeleng, “engga kok..” “Tapi, Mas.. kalau perusahaan itu mutusin untuk kerja sama dengan kamu, itu artinya kamu lebih baik dari perusahaannya Kak Regha. Kamu bilang ini proyek terbesar mereka kan? Engga mungkin mereka milih kamu gitu aja. Walaupun mungkin kamu dapet kerja sama ini dengan cara kurang baik. Hehehe” lanjut Hazel. Hafian tertawa, “kamu gak marah? Suami kamu aku rebut kerjaannya” tanya Hafian. Hazel menggeleng kecil, “kenapa aku harus marah? Kamu ni ada-ada aja deh.” Hafian menarik Hazel sehingga tubuh mereka sangat dekat sekarang. “Ajel, tolong ijinkan aku untuk tetap mencintai kamu ya? Jangan suruh aku untuk cari orang lain karena aku pasti akan ngelakuin itu kalau cintaku ke kamu sudah aku relakan, tolong biarkan aku terus nunggu kamu.. Dan kalau suatu hari kamu berpisah sama dia, tolong menikah sama aku, ya?” Hazel diam, mereka masih terpaku saling menatap, tidak sadar bahwa musik sudah berhenti dan lampu sudah dinyalakan kembali. Anya dan sang suami dan juga para tamu undangan memandang Hazel dan Hafian. “Ehem…” deheman MC menyadarkan keduanya. Mereka memisahkan jarak, canggung saat tahu mereka menjadi tontonan orang-orang. Hazel mengatur napasnya, jujur, saat ini jantungnya sedang berdebar-debar. Begitupun dengan Hafian, wajahnya memerah karena malu. Anya menghampiri dua orang itu, “waduhhh, pelan-pelan kalian berduaa” ucapnya. “Apaan sih” ucap Hafian. Anya tertawa, “ayo, Abang berdiri paling depan soalnya aku mau lempar bunga.” “Apa hubungannya?” tanya Hafian. “Biar cepet nikah dan move on” jawab Anya. “Siapa juga yang mau move on” gumam Hafian. Hazel tertawa mendengar itu. . . Malam sudah larut saat Hazel pulang, Harith sudah dibawa ke kamar oleh Wulan. Hazel duduk sebentar di sofa, ia melihat ada banyak botol whisky di sana. Hazel menghela napas, Regha pasti minum untuk menghilangkan kemarahannya. Hazel pergi ke dapur, mengambil segelas air putih dan pergi ke kamar Regha. Pintu itu tidak tertutup rapat, Hazel pikir pasti Regha sangat mabuk sehingga tidak menutup pintu dengan benar. “Kak Regha??” Hazel masuk, ia menutup hidungnya karena bau alkohol sangat menyengat. Air putih yang ia bawa ditaruh di atas meja, Hazel menghampiri Regha yang terbaring tak beraturan. Ia menghela napas, dengan susah payah membenarkan posisi tidur Regha, karena kalau tidak dibenarkan maka besok pagi ketika bangun tubuh suaminya itu akan sakit-sakit semua. “Hmmhh..” Regha melenguh karena tidurnya terusik. Hazel bergidik saat hembusan napas hangat Regha mengenai lehernya, dengan buru-buru ia meletakan bantal ke kepala Regha dan menyelimuti pria itu. Saat hendak pergi, tangannya dicengkram erat. Hazel menoleh ke belakang, Regha mengedipkan matanya beberapa kali. “Maaf.. aku cuma benerin posisi tidur kamu, silahkan lanjutin tidurnya” ucap Hazel, namun Regha tidak kunjung melepas tangannya di pergelangan milik Hazel. Rahang Regha mengeras, ia menarik tangan itu dengan keras sehingga tubuh Hazel terjatuh di atas ranjang. Hazel meringis karena merasa sakit di bagian yang dicengkram Regha. Badum… badum… badum… Entah suara jantung siapa itu, tapi bisa dipastikan bahwa itu milik Hazel.. atau bahkan keduanya? “Semuanya karena kamu, aku kehilangan proyek ini karena kamu” ucap Regha pelan. “Maaf… kalau bisa aku akan ngomong ke Mas Ian, tapi maaf sekali lagi, aku gak mau ngelakuin itu kalaupun bisa” ucap Hazel. Regha tertawa sarkas, ia bangun dan membalik posisi menjadi Hazel yang berbaring di bawahnya. Regha mencengkram rahang Hazel dengan keras. “Mas Ian??” ucap Regha. “Sakit, Kak.. tolong lepas..” ucap Hazel. Regha tidak mengindahkan ucapan Hazel, ia hanya menatap mata istrinya dan tanpa sadar mencium bibir Hazel. Yang dicium membeku, dalam dua tahun.. ini adalah ciuman pertama mereka, dulu saat proses membuat Harith, Regha tidak sudi mencium Hazel. Selama berhubungan pun Regha selalu mengucapkan kata hinaan untuk Hazel. “Kak Regha… kamu mabuk, plis jangan gini.. aku gak mau kamu nyesel nanti kalau udah sadar” ucap Hazel. Hazel tidak ingin mendengar hinaan yang keluar dari mulut Regha lagi, sudah cukup untuknya saat itu. Hinaan itu sungguh membuat luka besar di hati Hazel, ia tidak kuat jika harus membuat luka itu semakin besar. “Harusnya kamu seneng, kalau aku sadar aku gak akan menyentuh kamu kayak gini.. kenapa gak mau sekarang? Ah.. apa karena hari ini ketemu sama mantan?” ucap Regha. Hazel menggeleng, “Kak.. lepasin aku.. pliss” Regha entah mengapa merasa marah dengan penolakan Hazel. Tanpa banyak bicara lagi Regha mencium paksa bibir Hazel, menggigit bibir Hazel untuk membuat mulutnya terbuka. Begitu bibir Hazel terbuka, lidah Regha masuk kedalam, membuat Hazel kewalahan. Hazel menepuk-nepuk punggung Regha, ia kehabisan napas sekarang, namun Regha masih fokus beradu lidah dengan milik Hazel. Penyatuan bibir mereka terlepas, Hazel mengambil napas sebanyak mungkin. “KAMU GILA?!” ucap Hazel. Regha diam, ia fokus memandang Hazel. Menatap betapa berantakkannya Hazel sekarang, bibirnya yang bengkak, air liur mereka yang bercampur sehingga meninggalkan bekas disudut bibir Hazel. Hazel mendorong Regha sekuat tenaganya, setelah berhasil ia buru-buru bangkit untuk keluar dari kamar itu. “Kenapa kamu jual mahal sekarang, hm??” Lagi-lagi Hazel kalah cepat, Regha kini memeluknya dari belakang, menempelkan bibirnya di pundak Hazel, menggigit hingga membuatnya berbekas. Tangannya tak tinggal diam, mengerayangi seluruh inci tubuh Hazel, lalu Regha membuka resleting belakang di gaun Hazel. Hazel menyerah, ia membalikan badannya menatap wajah Regha. Wajah itu sudah memerah karena napsu yang menggebu, tak ada gunanya melawan atau menolak, lagi pula Regha adalah suaminya, kan? “Maaf..” cicit Regha. Hazel diam, tidak tahu untuk apa Regha meminta maaf. “Maaf karena menyebut Harith anak sialan.. aku gak bermaksud, beneran..” lanjutnya. Hati Hazel meluluh, ucapan maaf itu terdengar sangat tulus. “Aku maafin, tolong jangan ngomong gitu lagi ya? Sekesal apapun kamu, semarah apapun kamu, sebenci apapun kamu sama aku. Aku engga bisa kalau anak aku dapet perkataan kasar apalagi dari Ayahnya sendiri” ucap Hazel. Regha hanya mengangguk, entah dia sadar atau tidak, Hazel tidak peduli lagi. Regha kembali mencium Hazel, kali ini Hazel membalas ciuman lembut itu. Perlahan Regha membawa Hazel untuk berbaring di ranjang, Regha membuka kaos dan celana trainingnya, lalu ia membuka gaun Hazel dan dibuang sembarangan. “Emmmhh…” Hazel melenguh saat lidah Regha menjilati lehernya, menyesap hingga meninggalkan bekas kemerahan. “Ahh.. pelan-pelan, Kak..” lirih Hazel. “Mmhh.. kamu cantik banget, Hazel..” puji Regha. Desahan dan erangan membuat suasana semakin panas, suara kotor penyatuan mereka menambah semangat Regha. Hazel di bawahnya hanya pasrah, sesekali ia mencakar punggung Regha saat pria itu melakukannya dengan kasar. “Aku mau keluar di dalem…” lirih Regha. “Terserah..” ucap Hazel, toh mereka sudah menikah. Cairan hangat itu memenuhi bagian dalam tubuh Hazel, setetes air mata turun dari sudut matanya. Boleh kah dirinya berharap Regha akan selalu seperti ini bahkan saat dirinya tidak mabuk. . . Helaan napas panjang keduanya menandakan berakhirnya kegiatan panas itu, Hazel melirik Regha yang berbaring menimpanya. Dadanya turun naik sebab kelelahan, Hazel risih karena milik Regha masih berada di dalam miliknya. “Kak, lepasin dulu, aku mau mandi” ucap Hazel. Regha kini berada di samping Hazel, ia menarik tubuh Hazel dan memeluknya. “Besok aja mandinya, sekarang tidur” ucap Regha. Hazel tidak punya tenaga untuk melawan, ia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka lalu ikut terlelap bersama Regha. Berdoa agar besok pagi tidak ada hinaan untuk dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN