SORENESS 06

2136 Kata
Regha terbangun duluan, kepalanya terasa sangat pusing dan berat. Ia hendak bangun namun merasa lengannya sangat berat, Regha melihat ke samping dan terkejut melihat Hazel tertidur di sebelahnya dan berbantal lengannya. Ia memutar otak untuk mengingat ada kejadian apa semalam, semalam ia mabuk, lalu pergi ke kamar untuk tidur, lalu ia ingat bahwa Hazel masuk ke kamarnya dan mereka membicarakan sesuatu. Lalu mereka.. sial! Regha menarik dengan kasar lengan yang menjadi bantal untuk Hazel. Hazel terbangun karena tarikan kasar itu, ia melihat Regha menatapnya dengan tatapan.. jijik? Hazel mencoba duduk, menarik selimut untuk menutup dadanya. “Dasar murahan! Kamu manfaatin aku yang mabuk buat berhubungan sama kamu! Kamu gila ya?” tuduh Regha. Hazel tahu ini akan terjadi, seharusnya ia menolak dengan keras dan bukannya luluh. Jujur, Hazel sangat lelah untuk berdebat di pagi hari, biarlah Regha berpikir dirinya ini murahan dan memanfaatkan situasi Regha yang sedang mabuk. “Maaf” ucap Hazel. “Keluar dari kamar aku sekarang! Jangan pernah kamu masuk ke sini lagi, aku jijik sama kamu! Perempuan murahan” hina Regha. “Kak, aku ini istri kamu.. aku berhak dapetin ini, aku bukan perempuan murahan” ucap Hazel, suaranya bergetar menahan tangis. “Istri? Aku gak pernah menganggap kamu sebaga istri aku! Dan anak itu, aku juga gak menganggap dia anak aku!” ucap Regha. “Kak Regha!” “Keluar dan jangan pernah masuk ke kamar aku lagi” ucap Regha, lalu ia pergi ke kamar mandi untuk mandi. Dari balik pintu, Regha mendengar suara tangisan Hazel. Regha mengusap kasar wajahnya, ia sebenarnya ingat apa yang terjadi semalam, dirinya lah yang memaksa Hazel walaupun Hazel sudah menolak berulang kali. Hanya saja Regha tidak mau mengakui itu, entah mengapa harga dirinya merasa terancam sekarang. Ya. Regha akui bahwa ia pria yang sangat b******k untuk Hazel. . . Hari ini sepertinya Hazel tidak akan pergi ke toko, lagi pula ia tidak punya janji kepada klien. Siang hari ia habiskan untuk bekerja dari rumah dan sore harinya waktunya untuk bermain bersama Harith. Di ruang tengah ia, Harith dan Wulan bermain bersama. “Loh, bi? Bawa apa itu? Kok gede banget?” tanya Hazel. “Ini bedcover dari kamar bapak, bu” jawab bibi. “Bedcover nya mau dibawa ke mana? Laundry?” tanya Hazel. “Tidak, bu.. bapak minta bedcover ini dibuang saja” jawab bibi. “Oh.. yaudah, lanjutin pekerjaan bibi” ucap Hazel dan wanita tua itu mengangguk. Sekotor itukah dirinya di mata Regha? Harapan Hazel untuk tidak membuat luka lagi di hatinya sepertinya sirna, ia tahu selama ia bersama Regha maka dirinya akan selalu terluka. Hazel menghembuskan napasnya, mengatur agar air matanya tidak keluar. “Bu..” panggil bibi. Hazel menoleh. “Ada apa, bi?” tanya Hazel. “Anu.. ada tamu, laki-laki.. katanya ingin bertemu dengan ibu” jawab bibi. “Oh ya? Kenapa engga diajak masuk?” tanya Hazel. “Sudah, bu.. tapi katanya ingin menunggu di luar saja” jawab bibi. Hazel bingung, namun ia bergegas keluar untuk menemui tamunya. Garis bibir Hazel tertarik saat melihat siapa yang datang. “Mas Hafian!” panggil Hazel. Hafian tersenyum geli saat melihat Hazel berlari kecil menghampirinya. “Kenapa gak masuk? Malah nunggu di sini” tanya Hazel. “Engga ah, ada suamimu” jawab Hafian. “Emang kenapa kalau ada suamiku??” tanya Hazel. “Males lihat mukanya, pake nanya pula kamu tuh” jawab Hafian. Hazel tertawa kecil, ah.. Hafian memang seperti anak remaja yang cemburu gebetannya punya pacar. “Kak Regha engga ada di rumah, lagi keluar” jawab Hazel. “Oh ya?” ucap Hafian. Hazel mengangguk lucu, “iyaa. Ayo masuk, sekalian makan siang di sini aja” ucap Hazel. Sebenarnya kedatangan Hafian ke sini untuk mengajak Hazel makan siang di luar sekalian dirinya hendak berpamitan. Ia akan kembali ke Paris nanti malam. “Oke” ucap Hafian. Hazel meminta Hafian untuk menunggu di ruang tengah sembari dirinya memasak, di sana ternyata ada Harith bersama susternya. Hafian menghampiri dan ikut bergabung untuk bermain bersama. Harith tampaknya mengenali Hafian, bayi kecil itu tampak semangat saat Hafian menggendong tubuh kecilnya. “Hello jagoan…” sapa Hafian dan Harith tertawa, entah dia mengerti atau hanya tertawa karena Hafian menciumi pipinya. Dari dapur Hazel bisa mendengar gelak tawa Hafian, Wulan dan juga Harith. Dirinya yang sedang memasak pun ikut tersenyum. Bibi melirik Hazel yang tersenyum, hati bibi juga ikut merasakan senang. Jujur, ia sudah bekerja di sini sejak Hazel dan Regha baru menikah dan melihat perlakuan dingin dan buruk Regha kepada Hazel. Sebagai seorang ibu dan juga wanita, bibi merasa kasihan kepada Hazel. “Bu, mendingan ibu temani tamunya saja… biar bibi yang masak” ucap bibi. “Eh? Gak apa-apa bi, saya di sini aja sama bibi” ucap Hazel. Bibi pun tidak bisa membantah lagi. Hampir satu jam lamanya ia memasak, akhirnya selesai juga. Hazel ke ruang tamu untuk memanggil Hafian dan juga Wulan untuk makan. “Mas Hafian, Wulan, ayo makan” ucap Hazel. Wulan mengambil Harith yang tertidur digendongan Hafian. “Duluan saja, bu.. saya bawa Harith ke kamar dulu” ucap Wulan. “Okey, nanti nyusul ya” ucap Hazel dan Wulan mengangguk. . Hafian berseru saat Hazel menyajikan berbagai makanan di atas meja, setahunya Hazel tidak bisa memasak dan setelah tiga tahun lamanya Hazel telah berkembang begitu banyak. Sungguh ia iri karena Regha mendapatkan Hazel sebagai istri. “Taaadaaa~ udang asem manis kesukaan kamu” Hazel meletakan sepiring udang asem manis yang besar-besar itu di hadapan Hafian. “Kamu inget” ucap Hafian. Hazel tertawa, “jelas aku inget. Kamu tuh setiap pergi makan di luar selalu nyari menu ini, kecuali kalau kita ke kafe atau toko dessert, Bunda kamu juga setiap hari selalu masak ini, sampe bosen katanya” ucap Hazel. Hafian senyum, hatinya berbunga-bunga karena Hazel. “Wow, gak sabar mau nyicip masakan kamu. Pasti enak nih, baunya aja udah harum menggoda selera” ucap Hafian. “Hehe, engga seenak udang asem manis Bundanya Mas Hafian, tapi aku jamin rasanya masih bisa terima” ucap Hazel. Hafian mengambil udang itu, lalu ia makan bersama nasi panas. “Mmmm~ ini enak, serius. Kayaknya masakan Bunda kalah deh” puji Hafian. Hazel tertawa, “aku bilangin Bundamu nanti.” “Serius deh, kamu hebat. Beruntung banget Regha dapet istri kayak kamu” ucap Hafian. Hazel hanya tersenyum tipis mendengar itu, ia lalu menaruh sesendok sayur ke piring Hafian, yang mempunyai piring langsung meringis dan menatap Hazel dengan wajah cemberut. Hazel tertawa, memang Hafian ini sangat susah makan sayur. “Ayo dong cobaaa, itu aku yang masak capcainya” ucap Hazel. Hafian mau tak mau makan sayur itu karena Hazel sudah susah payah memasak untuknya. Hazel tertawa saat melihat Hafian yang begitu susahnya menelan sayur itu. Saat sedang enak-enaknya makan, sosok yang tak ingin dilihat oleh Hafian muncul. Raut wajahnya seram sampai Hazel saja merinding, namun mengingat kejadian semalam dan tadi pagi, Hazel tidak berniat untuk menyapa dan mengajak Regha makan siang bersama. Regha dan Hafian saling menatap, lalu Hafian membuang pandangannya dan kembali fokus makan. Cih, tidak tahu malu. Pikir Regha. Regha berjalan menghampiri dua orang itu, menarik kursi di sebelah Hazel dan duduk di sana. Regha menatap Hazel yang sedang makan tanpa menawari Regha. “Sayang, aku pulang~” ucap Regha. Dalam hati Hazel menggerutu, baru tadi pagi Regha mengatakan bahwa dirinya murahan dan menjijikkan. Namun ada Hafian di sini, ia tidak mau hubungan buruknya diketahui oleh Hafian. Hazel mengatur ekspresi wajahnya, lalu ia ke dapur untuk mengambil alat makan untuk Regha. Tak butuh waktu lama ia pun kembali, menyendok nasi beserta lauk pauk dan sayur untuk Regha. Hafian memperhatikan gerak gerik Hazel yang melayani Regha dengan baik, lagi-lagi rasa iri menjalar ke hatinya. “Anak kita mana, sayang?” tanya Regha. Hati Hazel merasa sakit, kenapa Regha harus bersikap berpura-pura peduli seperti ini? Hazel takut dirinya jatuh dalam harapan atas sikap keberpura-puraan Regha. Regha pula tak sengaja melihat tangan Hazel mengepal di bawah meja, namun tidak tahu apa penyebabnya. “Ajel?” Hafian memanggil Hazel karena Hazel sudah cukup lama terdiam sejak Regha bertanya keberadaan Harith. Regha mengerutkan alisnya saat mendengar Hafian memanggil Hazel dengan nama panggilan yang biasa Mami dan Papi Hazel sebut untuk Hazel. “Ya, Mas?” Sahut Hazel. “Selesai makan siang, ada yang mau aku bicarain sama kamu” ucap Hafian. “Okey” ucap Hazel. “Oh iya Kak, Harith lagi tidur di kamarnya” ucap Hazel. Regha hanya mengangguk. Mereka bertiga melanjutkan makan siang mereka dengan hening, dengan pikiran mereka masing-masing. . . Hazel mengajak Hafian ke kolam renang di belakang rumahnya, karena Hafian ingin membicarakan sesuatu berdua saja. Tadinya Hafian ingin mengajak Hazel untuk ngobrol di luar, namun Regha melarang. Katanya nanti Harith bakalan mencari Hazel saat bangun nanti, Hazel pun setuju. Harith memang selalu mencarinya saat bangun tidur. Setelah makan siang tadi Regha pergi lagi, katanya ada urusan di kantor. Cuaca siang ini lumayan panas, Hazel dan Hafian mencelupkan kedua kaki mereka di air kolam. Cemilan dan jus juga sudah disiapkan bibi di gazebo. “Jel, sebenarnya aku bukannya mau ngobrol serius kok.. cuma mau pamitan aja” ucap Hafian. “Mas mau balik ke Paris, ya?” tebak Hazel. Hafian mengangguk, “aku berangkat malam ini. Banyak kerjaan yang aku tinggal di sana” jawab Hafian. Hmmm, gimana bilangnya ya? Hazel sedikit tidak rela? Bukan apa sih, dia cuma masih kangen aja sama Hafian dan kehadiran Hafian cukup membuat ia lupa akan prahara rumah tangganya bersama Regha. Hazel merasa punya teman yang benar-benar mengerti dirinya, namun Hezar memang sangat mengerti Hazel. “Cepet banget.. baru juga seminggu di sini” ucap Hazel. Hafian tersenyum, ia mengelus rambut Hazel. “Bagi pengusaha sibuk kayak aku, seminggu itu sudah sangat lama..” ucapnya. Hazel senyum juga, ia mengangguk mengerti. “Bakalan balik ke Indo lagi?” tanya Hazel. “Iya, aku juga ada proyek kan di sini. Lagi pula rumahku juga di sini” ucapnya sambil menatap Hazel. Hazel mengeluarkan ponsel dari saku celananya, lalu ia berikan ke Hafian. Lelaki itu mengerti dan mengetik nomernya di sana. “Hubungi aku kapanpun kamu butuh ya, aku bakalan selalu prioritasin kamu” ucap Hafian. Hazel tertawa, “enggak.. jangan.. kerjaan kamu lebih penting, Mas” ucap Hazel. Hafian hanya diam sambil tersenyum tipis. “Hati-hati ya, semoga selamat sampai tujuan” ucap Hazel sembari tersenyum. Ah, senyum ini.. Hafian sangat menyukai Hazel yang tersenyum seperti ini. “Terima kasih..” ucap Hafian. . Malam sudah larut, Harith pun sudah ditidurkan oleh Wulan. Hazel tidak bisa fokus bekerja di kamar jadi ia pindah ke ruang tengah untuk mencari suasana baru, ia memotong buah-buahan untuk menemani kerja lemburnya. Lama kelamaan mata Hazel lelah karena terus menatap layar laptop, Hazel meregangkan tubuhnya yang terasa pegal. Ia merebahkan kepalanya di meja lalu menutup mata, niatnya hanya sebentar namun Hazel kebablasan tidur. Pukul satu malam, Regha baru pulang. Dari mana dia? Tentu saja habis meluangkan waktu bersama Kalula. Regha mengerutkan alisnya saat melihat lampu masih menyala dan sayup-sayup terdengar suara televisi. Langkah kakinya berhenti di meja di mana Hazel tertidur di sana, Regha ingin sekali membangunkan Hazel untuk menyuruh wanita itu tidur di kamar namun rasa ego dalam dirinya enggan melakukan itu. Layar ipad itu mengeluarkan suara tangisan bayi, Hazel sedikit terganggu tidurnya. Cepat-cepat Regha mengambil ipad itu lalu ia bawa ke kamar Harith. Benar saja, bayi itu terbangun, mungkin sudah waktunya minum s**u. Pikir Regha. Sedetik kemudian, ia bingung bagaimana cara membuat s**u? Regha membuka ponselnya dan menonton video tutorial membuat s**u untuk bayi berusia lima bulan. Setelah mengerti ia pun bergegas membuat s**u lalu memberikannya kepada Harith. Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman saat melihat Harith dengan lahap menyantap s**u buatannya. Setelah s**u itu habis, Harith kembali tidur dan Regha kembali ke ruang tengah untuk menaruh kembali ipad itu. Masih ada Hazel di sana, ia menghela napas. Regha mengambil selimut di atas sofa lalu menyelimuti Hazel. Regha sedikit mengintip pekerjaan Hazel lalu ia menutup layar laptop itu. Cukup lama Regha diam di sana menatap Hazel yang terlelap, perasaannya campur aduk. Rasa benci, rasa marah, kasihan, dan muak menjadi satu. “Kamu gak akan bahagia sama aku” bisiknya. Setelah itu ia menaiki tangga menuju kamarnya. Pagi harinya Hazel terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya, lehernya juga sakit karena hanya beralaskan lengan. Hazel membereskan pekerjaannya lalu pergi ke kamar untuk mandi, hari ini ia punya janji dengan kliennya. Selesai mandi ia pergi ke kamar Harith, senyumnya mengembang saat melihat bayi lucu itu bermain sendiri di ranjangnya. Digendongnya Harith lalu menciumi seluruh wajah anaknya itu. “Selamat pagi, anak Ibu.. nyenyak gak tidurnya semalem?” tanya Hazel yang tidak akan dijawab oleh Harith. Hazel sedikit bingung melihat botol s**u di meja, seingatnya ia tidak bangun tadi malam untuk memberi Harith s**u, lalu matanya tertuju pada ipad di meja itu juga. Mungkin saja Wulan yang menjaga Harith semalam, pikirnya begitu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN